
Dengan hati-hati, kupapah badan Riki. Ya, aku tahu salah karena tak seharusnya aku berdekatan. Namun, keadaan memaksa semua ini.
"Udah bisa ke dalam 'kan Om?"
"Bisa, kau kira aku lemah?"
"Ck, iya, enggak-enggak. Tunggu bentar, ya, Caca mau ke kantin."
"Ya, jangan lama-lama."
"Siip!"
Aku keluar dari kamar setelah memastikan pintu kamar mandi di tutup terlebih dahulu, ke kantin untuk mengambil makanan.
Tak ingin terlalu berlama-lama, ketika ingin memegang knop pintu. Handphone di dalam ruanganku berbunyi menampilkan nomor asing.
"Iya, halo?" tanyaku berdiri di depan meja kerjaku.
"Halo, Ca. Ini Farhan asistennya Pak Riki."
"Eh, iya Om Farhan. Ada apa?"
"Pak Rikinya apa ada padamu?"
"Iya, ada."
"Di mana? Kenapa handphone-nya tak dapat dihubungi?"
"Hm ... Om Riki lagi ada di rumah sakit."
"Ha? Apa karena jarinya kena pisau doang harus di rawat di rumah sakit?"
"B-bukan Om Farhan."
"Terus?"
"Hmm ... ada kejadian yang membuat kakinya sampai di tembak."
"Apa? Apakah dia berantem?"
"Iya, semuanya karena Caca."
Kujelaskan secara rinci sambil melihat ke arah pintu toilet yang tak kunjung terbuka, nampan berisi makananku kuletakkan dulu di meja.
"Baiklah, semoga kakinya yang bekas tembakan bisa cepat membaik. Kasih tau jika aku menelpon Ca, ada hal yang ingin kuberi tau."
"Baik Om."
Panggilan di tutup, bersamaan dengan terbukanya pintu, "Telponan sama siapa?"
"Om Farhan. Katanya Om gak bisa dihubungi," kataku memberikan kursi roda.
__ADS_1
"Untuk?"
"Kalo Om pegangan sama Caca, bisa-bisa batal wudhunya. Jadi, pegangan aja ke kursi rodanya."
"Hmm ... baiklah."
Riki berjalan ke arah brankar menggunakan kursi roda sebagai pegangan, dia tak duduk melainkan berdiri.
"Hati-hati Om," kata Caca melihat Riki yang mulai menaikkan kakinya ke atas brankar.
Setelahnya, Riki menjalankan 4 rakaatnya dengan cara duduk. Beruntungnya, Riki memang bukan laki-laki lemah sehingga kuat langsung berjalan.
"Nih, Om. Makan," kata Caca memberikan nampan milik Riki.
"Apa kau tak ingin menyuapkan aku?"
"Lah, yang sakit 'kan kaki Om bukan tangan."
"Aw ... aw, tanganku sakit Ca," kata Riki meringis seolah kesakitan dan membuat tangannya ke belakang.
"Lebay!" Caca duduk di sisi ranjang agar bisa menjangkau mulut Riki.
Ia masukkan bubur itu ke dalam mulutnya, "Kau benar-benar tak papa Ca?"
"Iya Om, Ca gak papa kok."
"Kuharap tak akan lagi terjadi hal seperti ini."
Sedangkan di sisi lain, tanpa Farhan sadari ada seseorang yang menguping percakapan dirinya dan Caca tadi.
Wanita itu mengepal tangannya dengan kuat, ia kembali ke mobil yang sempat terparkir untuk menunggu dirinya.
"Jalan Pak!" titahnya. Sopir yang melihat ekspresinya bahkan tak berani menjawab selain hanya menjalankan perintah.
'Berani sekali anak itu membuat anakku terluka lagi!'
'Lihat saja, pernikahan akan kumajukan agar mereka segera terpisah!'
'Hama, tetap akan jadi hama tak akan pernah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.'
Berbagai macam ucapan dia ucapkan dengan tangan yang terkepal kuat dan wajah yang tampak sangar.
Hanya perlu menempuh waktu beberapa menit saja, mereka telah sampai di rumah miliknya. Wajar jika cepat, karena jalanan sudah sunyi di malam hari.
"Ma, ada apa?" tanya Papa yang melihat suaminya tidak mengucapkan salam dan masuk sedikit menghempaskan pintu cukup keras.
"Papa tau? Ternyata Riki datang ke tempat si Hama itu!" caci Mama yang ikut duduk di sofa ruang tamu bersama dengan suaminya.
"Hama? Siapa?" tanya Papa yang tak paham dengan topik pembicaraan istrinya.
"Si Caca. Riki pergi ke Amerika dan ternyata dia ditembak, kakinya kena tembakan karena lindungi Caca!"
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Tuh tapi, melindungi hama tersebut! Papa tau? Ini bukan kali pertama Riki seperti ini, dulu juga dia pernah terluka karena si Caca. Cuma, Mama pikir pasti karena ketidak sengajaan. Ternyata, emang tuh orang keknya pembawa sial. Ayahnya aja meninggalkan gara-gara nolong dia dulu."
"Astagfirullah Ma, kenapa jadi panjang begini mencaci orangnya? Ingat, Ma. Kita gak tau apa yang terjadi sebenarnya, bisa jadi ini semua ketidaksengajaan."
"Ah ... Papa bela tuh terus anak tetangga!" Mama bangkit dari tempat duduk dengan wajah yang di tekuk marah.
"Ma, mau ke mana?"
"Bukan urusan Papa."
Sesampainya di kamar, Mama langsung mencari paket dari Caca tadi. Di paket tak tertera alamat Caca kecuali negaranya doang 'Amerika Serikat.'
Namun, tentu saja nomor handphone-nya tertera di situ, "Nah, ini dia! Kamu mau main-main sama saya, ya, Caca? Saya akan buat kamu sadar akan hal ini!"
Mama langsung mengetik dan menyimpan nomor Caca, ia menghubungi wanita itu dengan cepat agar segera mengeluarkan amarah yang ada di hatinya ini.
"Ih, siapa sih yang nelpon? Mana udah malam lagi." Caca bangkit dan segera meraih handphone-nya takut jika suara dering membangunkan Riki yang sedang tertidur.
Setelah makan bubur tadi, ia langsung diminumkan obat dan ada obat tidurnya. Itu sebabnya, dirinya sangat ngantuk.
Caca keluar dari ruangan dan duduk di bangku pas depan ruangan, "Halo, siapa, ya?" tanya Caca mencoba ramah dengan nomor asing ini.
"Saya! Apa kamu ingat suara ini?" tanya orang di sebrang dengan nada tinggi.
"T-tante?" Mulut Caca di bekap tak percaya bahwa suara wanita yang lembut 4 tahun yang lalu kini menjadi semenyeramkan ini.
"Iya, kamu ingat?"
"A-ada apa, Tante?" tanya Caca dengan terbata-bata.
"Kamu sepertinya sudah tau apa salahmu sehingga nada suaramu menjadi seperti itu."
"Maksudnya Tan?"
"Gak usah sok polos, anak saya sekarang kenapa lagi? Kenapa gak sakalian kamu buat dia mati aja, ha?!" bentak Mama dengan emosi membuat Caca seketika mengeluarkan bulir bening.
"T-tante, b-bukan Caca ...." Belum sempat kalimatnya terangkum sempurna, Mama Riki sudah lebih dulu menyelanya.
"Kamu bukan apa? Bukan kamu penyebabnya atau apa? Bukan kamu yang berniat membunuhnya, gitu? Tapi anak buah kamu?"
"Ya Allah, Tante. Caca tau kalo ini emang kesalahan Caca, tapi gak semua siatuasi harus Caca yang disalahkan. Karena, Caca pun gak tau sama masalahnya Tante," jawab Caca menggigit bibirnya kembali agar tak terisak.
"Oh, berani kamu menjawab saya? Emang kamu tuh hama! Yang bisanya cuma merusak orang aja, gak ada bagusnya deket-deket sama kamu. Lagian, ya, saya heran kenapa Riki mau deket sama manusia kek kamu."
"Ayah kamu aja mati akibat ulah kamu, apalagi Riki nanti? Bisa-bisa dia juga akan mati akibat kecerobohan, sok baik dan sok polos kamu itu! Berprestasi enggak, berakhlak enggak, cantik apa lagi. Atau jangan-jangan, kamu pelet anak saya, ya? Sampe dia bukan hanya bisa berbohong tapi juga melawan saya!"
Bentakan demi bentakan diterima Caca, wanita itu tersenyum mendengar berbagai cacian yang terlontar dari mulut Mama Riki.
"Sudah, Tante?" tanya Caca dengan wajah yang penuh dengan air mata tapi bibir tersenyum, "sudah tak ada lagi cacian yang ingin Tante layangkan ke aku? Silahkan Tante, setidaknya biar Caca tau kalo itulah ungkapan yang selama ini Tante simpan demi menjaga perasaan Caca. Sekarang udah hancur Tante, tanggung banget. Sekalian aja lagi Tante."
__ADS_1