Milik Tuan Kulkas Season 2

Milik Tuan Kulkas Season 2
Penjelasan


__ADS_3

"Entah sejak kapan. Namun, yang pasti. Ada perasaan tak ingin melepaskan saat kenyataan sudah kudapati bahwa kau akan pergi kembali."


Riki duduk di kursi roda, sebenarnya dirinya sangat menolak. Tapi, Caca mengancam jika tak ingin duduk di kursi roda maka sakitnya akan parah.


"Aku tidak sakit dokter Caca."


"Oh, benarkah? Kalau begitu kenapa kakimu di perban wahai tuan Riki?"


Ketika mereka tengah asyik berjalan ke koridor menuju ruang meeting, "Permisi Pak Riki," ucap seseorang yang ada di samping Caca.


"Astagfirullah!" kaget Caca yang tak tahu jika ada orang di samping mereka itu.


"Apa kau ingin mati? Kau mengangetkan wanitaku!" kata Riki dingin dan menatap tajam ke arah anak buahnya kini.


Pukulan di dapatkan Riki di bahunya, "Apaan, sih! Nyawa orang kek apaan aja!"


"Maaf, dokter Caca. Saya tidak sengaja."


"Tidak masalah."


"Ada apa?" tanya Riki sekarang.


"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan."


Riki menatap ke arah Caca, "Apa?" kata Caca yang merasa aneh melihat Riki.


"Dokter Caca silahkan duluan saja, saya nanti akan diantar oleh dia."


"Dih, emangnya aku gak boleh tau?"


"Ini urusan lelaki."


"Ck, menyebalkan!"


Caca berjalan dengan bersedekap dada dan sesekali menghentakkan kakinya berjalan lebih dulu ke arah ruang meeting.


Anak buah Riki membawa Riki ke pinggir, agar orang yang berjalan tak terganggu, "Katakan!" perintah Riki yang sudah tak sabar menunggu ucapan anak buahnya.


"Wanita itu adalah pemilik club yang ada di kota ini. Dia marah dan ingin menghabisi dokter Caca karena salah satu anak buah dia meninggal."


"Caca yang buat?" tanya Riki yang kaget.


"Bukan Pak Riki. Waktu itu, anak kecil tersebut datang ke rumah sakit ini dengan keluhan lemas dan lainnya yang menunjukkan tanda-tanda orang hamil dan yang memeriksanya adalah dokter Caca. Hingga entah apa yang terjadi, anak tersebut mengalami keguguran."


"Setelah dia keluar dari sini, dia kembali dibawa oleh wanita itu ke club. Namun, anak itu berlari dengan kencang hingga tak sadar ada mobil di depannya. Jadilah dia meninggal dunia, sedangkan anak kecil itu sudah ada laki-laki hidung belang yang menyewanya selama sebulan. Mau tak mau sekarang wanita itu harus mengganti rugi dua kali lipat."


"Berarti dia mau menculik Caca? Bukan membunuhnya?" tanya Riki yang sudah mulai memahami alur cerita.


"Iya Pak Riki, dia mau Caca yang menggantikan anak itu."


Tangan Riki kembali mengepal, "Dia masih ada di markas?"


"Masih Pak."


"Jangan biarkan dia kabur, dia harus merasakan hukuman yang setimpal."

__ADS_1


"Baik Pak."


"Sekarang, antarkan saya keruangan meeting."


Anak buah Riki hanya mengangguk dan menjalankan kursi roda Riki ke ruangan yang telah di tetapkan.


"Jangan pergi, tetap berada di luar ruangan. Saya bisa masuk sendirian."


"Baik Pak Riki."


Akhirnya, Riki hanya diantar sampai ambang pintu. Dirinya menjalankan kursi roda dengan sendirinya sedangkan anak buahnya tadi berjaga di depan ruangan.


"Apa kau baik-baik saja Ca?" tanya Aldy yang ada di sebrang Caca.


"Baik Kak. Kau sendiri? Maaf, atas kejadian kemarin."


"Bukan salahmu, ini semua sudah takdir Allah."


"Ya, tapi. Kalo gak ada aku pasti sekarang Kakak akan baik-baik saja."


"Sekarang pun aku baik-baik saja, kok."


"Maaf juga buat para tentara, ya, maafin Caca karena kalian harus jadi korban."


"Ini memang sudah tugas kami dokter. Mengabdi pada negara untuk melindungi tanah air termasuk masyarakat yang ada di dalamnya."


"Huftt ... jadi merasa bersalah, gini."


"Gak usah ngerasa bersalah, anggap aja ini memang udah takdirnya," timpal Riki yang duduk di samping Caca dengan menggeserkan bangkunya.


Semua orang yang merasa terluka dan korban mengangguk membenarkan, "Kau sudah lama di sini?" tanya Aldy yang baru melihat Riki.


"Kau juga terkena tembakan?" tanya Aldy yang memang tak tahu siapa yang menolong Caca.


"Iya, setelah kau pingsan aku datang."


"Pantasan aku tak melihatmu."


"Maaf, aku terlambat," ujar seseorang yang baru masuk membuat pandangan mereka mengarah ke pintu kecuali Riki.


Semua mengganguk, pemilik rumah sakit sudah datang bersama dengan polisi. Hari ini, Aldy, Riki juga anak buah yang ingin mencelakai Caca juga 2 orang tentara tersebut sudah boleh pulang.


Itu sebabnya kasusnya harus segera selesai, mengingat Caca dan Aldy pun sebentar lagi akan pulang ke Indonesia.


Hampir dua jam mereka menceritakan detail kejadian, sampai akhirnya polisi memberikan kunci; Aldy juga anggota tentara itu.


"Semua barang dan kerusakan sudah ditanggung oleh atasan kalian masing-masing," jelas polisi.


"Terima kasih Pak."


"Baik, rapat telah selesai. Kalian sudah bisa kembali berkemas untuk pulang ke rumah masing-masing," kata pemilik rumah sakit.


Caca bangkit dan langsung memegang belakang kursi roda milik Riki dan keluar dari ruangan, "Eh, Om ngapain di depan pintu?" tanya Caca yang kaget kembali.


Bagaimana tak kaget, laki-laki yang bajunya serba hitam hingga ke kacamatanya selalu saja datang dengan tiba-tiba.

__ADS_1


"Dia yang akan membawa kita pulang."


"Ya, Allah Om. Orang cuma deket juga."


"Emangnya kamu mau nganterin saya sampe masuk ke dalam apartemen?" tanya Riki menggoda.


"Eh, apaan sih!" ketus Caca mencoba mengalihkan degub jantungnya yang tak karuan akibat pertanyaan Riki.


"Yaudah, ambil baju dan beres-beres yuk!"


Caca diberi kesempatan cuti beberapa hari, sedangkan yang akan melanjutkan kegiatan donor darah akhirnya dialihkan.


Di sepanjang jalan menuju apartemen, mereka tertawa berdua. Sedangkan anak buah Riki tetap dengan wajah datarnya.


"Dasar, anak buah sama bos sama aja!" ketus Caca yang melihat ke arah anak buah yang berjalan di belakang mereka.


"Kenapa?" tanya Riki yang melihat ke depan.


"Sama-sama datar, kek triplek!"


"Emang sengaja seperti itu."


"Biar apa?"


"Kalau kami tersenyum apalagi ramah, bisa-bisa yang ada semua wanita akan jatuh cinta sama kami."


"Huweek ... gaya beut dah!"


Tanpa mereka sadari, ada pasang mata yang melihat mereka dari jauh, 'Melihatmu bahagia juga bisa membuatku bahagia ternyata Ca,' batin seseorang tersebut sambil tersenyum.


"Dokter Aldy kenapa?" tanya perawat pribadinya.


"Gak papa, saya berat?"


"Enggak kok dokter 'kan pakai kursi roda bukan saya gendong."


"Haha, iya kamu benar juga."


"Dokter kenapa cepat banget sih pulang ke Indonesianya?"


"Jadi, mau berapa lama saya di sini?"


"Ya ... dua tahun, gitu?"


"Haha, gak bisa dong 'kan emang di tugasnya itu sampai sebulan doang."


"Yah, saya sendirian dong."


"Enggak dong 'kan dokter yang di Indonesia akan kembali lagi ke sini. Dan, kamu akan sama dia nanti."


"Hehe, iya sih," jawab perawat Aldy dengan wajah yang tak semangat.


"Sudah, saya bisa sendiri," kata Aldy kala mereka telah masuk ke dalam ruang apartemen.


"Tapi, ini masih di loby dokter Aldy. Izinkan saya nganterin sampai depan kamar dokter, ya. Saya janji gak akan nganter sampai masuk ke kamar, kok."

__ADS_1


"Emangnya gak ngerepotin?" tanya Aldy menatap wajah perawatnya.


'Ya Tuhan, kenapa dokter Aldy malah natap aku begini? Kenapa juga nih hati malah gak karuan?' batin perawat dengan menatap Aldy tak kalah lekat.


__ADS_2