Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.10


__ADS_3

Edgar bersandar santai di bangku mobilnya. Dia berniat menelpon seseorang.


"Kirimkan boneka ke kamar ku, aku ingin sebelum aku pulang sudah ada disana," perintah Edgar.


"Baik tuan," jawab seorang pria dari seberang telepon.


Edgar mematikan panggilannya. dan beralih melihat ke dalam rumah Rossi. Dia menatap lama ke arah pintu yang terbuka sebelah, tak ada siapa pun muncul dari dalam sana.


"Apa dia sudah mati. Kenapa sangat lama."


Edgar menggerutu.


Dia turun dari mobilnya. Berjalan dengan langkah lebar ke pintu masuk. Langkahnya terhenti sesaat melihat Rossi yang turun dari arah tangga dengan dress kuning pucat menampakkan kaki jenjangnya.


"Olivia," ucap Edgar.


Tanpa sadar Edgar menyebut nama Olivia. Di matanya dia melihat wanita itu adalah Olivia. Edgar kembali tersadar saat ada seorang wanita menghampiri Rossi.


"Nona saya sudah memberitahu pak Jen untuk mengatasi kecoa nya," ucap Bi Lana tersenyum pada Rossi.


"Kecoa? Ha iya iya. Jangan sampai kecoa nya masuk lagi ya Bi, itu sangat tidak sopan."


Rossi menyadari kehadiran Edgar yang berdiri di pintu masuk dan menegaskan perkataannya.


"Pasti nona. Tapi nona ingin pergi?" Lanjutnya.


"Ya. Aku ingin pergi dengan-- ." Kata Rossi terhenti saat tangan seorang pria merangkulnya.


"Aku pikir kamu sudah mati," ucap Edgar menyeringai.


"Kamu!"


Rossi melotot menatap edgar. Ia menahan amarahnya karena tahu bahwa tak ada yang bisa berdebat dengan pria itu.


Edgar langsung menarik Rossi keluar. Rossi menyempatkan dirinya untuk melambai pada Bi Lana namun wanita itu hanya terdiam melihat mereka, tak tahu ingin berkata apa.


Di dalam mobil.


"Mesum," gumam Rossi. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.


"Apa?"


Edgar menaikkan alisnya. Dia mendengar ucapan samar dari mulut Rossi.

__ADS_1


Rossi hanya menggeleng tak ingin menjawab.


Edgar melajukan mobilnya di bawah lampu-lampu yang menyinari jalanan malam. Mereka tak mengobrol satu kata pun, hanya sibuk sendiri. Edgar sibuk mengendarai mobil dan Rossi sibuk dengan ponselnya.


Jarak kota dari mansion itu lumayan jauh, Rossi bosan. dia tertidur. Melihat Rossi yang sudah tertidur lelap, Edgar mengambil ponsel nya, ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab disana. Dia sengaja mematikan nada dering ponsel itu. Tak ingin Rossi mengetahui apa pun tentangnya. Apa lagi jika dia tahu Edgar adalah seorang mafia.


Edgar mempercepat laju mobilnya. Dengan kecepatan itu dia tidak akan butuh waktu lama untuk sampai di mansion.


Pukul 9.24 Edgar sampai di mansion nya. Rossi masih tertidur, Edgar tak langsung membawa Rossi masuk. Dia mengambil ponselnya dan keluar dari mobil, meninggalkan wanita itu sendirian. Edgar bersandar di pintu mobil hitam itu. Mulai menelepon seseorang.


"Apa?" Ketus Edgar.


"Haha akhirnya aku mendengar suaramu. Ku pikir kamu sudah mati atau jangan-jangan kamu sibuk dengan wanita barumu itu," ucap Jeck dari seberang telepon.


"Berhenti bermain dengan ku Jeck. Katakan ada informasi apa?" Lanjut Edgar kesal.


"Baiklah. Mike sudah tiba disini tadi sore, dan dia langsung ke markas eagle. Dari laporan, Mike berencana untuk menemui mu sepertinya dia sudah ada rencana, dan kemungkinan besar targetnya adalah wanita itu," jelas Jeck.


"Maksudmu Rossi?"


Edgar menyerngit kesal.


"Ya, siapa lagi," jawabnya.


Edgar mematikan panggilan itu, menyeringai seram.


Dia kembali pada Rossi, ternyata wanita itu masih saja tertidur. Edgar menatapnya lama, mulai tersenyum nakal.


Dia mencium Rossi yang tertidur itu, mengambil kesempatan. Ciuman itu membuat Rossi merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Dia melayangkan telapak tangannya tepat di wajah Edgar. Berpikir kalau ada nyamuk.


Edgar terkejut, melepaskan ciumannya.


"Dia berani menamparku," ucap Edgar kesal.


Emosinya kembali meluap, dia kembali mencium Rossi. Menggigit bibir mungil Rossi yang sudah menggodanya sedari wanita itu tertidur. Rossi merasakan sedikit perih di bibirnya, dia terbangun.


Dia berusaha melepas ciuman itu, tapi tidak bisa. Pria itu tidak akan melepaskannya. Edgar begitu bergairah disana. Membuat Rossi tidak nyaman jika harus melakukannya di mobil.


"Tidak disini.." Lirih Rossi lemas.


Edgar menghentikan kegiatannya, ia tersenyum dan menggendong Rossi masuk.


Begitu sampai di dalam. Ruangan itu begitu gelap, dan tak ada siapapun disana. Edgar sudah mengirim semua orang disana untuk kembali ke rumah besar ayahnya di pusat kota. Sehingga hanya ada mereka berdua disana.

__ADS_1


Edgar membaringkan Rossi di sofa ruang tamu. Ia langsung memakan wanita itu. Mereka meneruskan kegiatannya, dengan begitu bergairah dan panas.


Edgar kembali melucuti pakaiannya dan Rossi, sehingga mereka tak tertutup apa pun. Edgar memasuki Rossi perlahan, dan mulai memompanya. Nafas Rossi tak karuan, Edgar terus mempercepat gerakannya.


"ahhh edge aaarrr..." Erang Rossi.


Mereka mencapai *******. Namun Edgar kembali memompa Rossi tak ingin berhenti, mereka bercinta dengan begitu panas.


Dunia ini serasa sudah milik mereka berdua. Tak lagi menghiraukan bunyi telepon rumah yang terus berbunyi. Kenikmatan itu meluluhkan keduanya. Suara angin malam menyatu dengan suara burung di luar rumah bernyanyi berusaha masuk untuk mengusik mereka. Tapi suara lirih Rossi sudah memenuhi ruangan itu.


Rossi sudah terlihat tak bertenaga, tapi Edgar tak menghiraukan Rossi yang sudah kelelahan dan lemah itu. Ia meneruskannya pada beberapa ronde. Sampai pada ******* terakhir Rossi pingsan tak sadarkan diri.


Edgar memeluk Rossi dan menciumnya.


"Thank you sayang."


Edgar mengecup lembut kening Rossi.


Ia membawa Rossi ke lantai atas, kamarnya. Sudah penuh dengan banyak boneka di kamar itu, mungkin itu adalah semua boneka yang ada di toko.


Edgar menyingkirkan boneka yang menghalanginya, sedikit kesal melihatnya. Tapi boneka itu dia sendiri yang memintanya, jadi apa boleh buat. Boneka itu untuk Rossi, wanita barunya. Kekanakan.


Edgar menyelimuti tubuh mulus yang sudah memiliki banyak bekas gigitan di sekitar leher dan dada Rossi, itu adalah tanda darinya. dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi.


Kring. Kring.


Suara telepon itu terdengar nyaring daripada sebelumnya. itu sangat mengganggu. Edgar langsung Menerima panggilan itu, takut akan mengganggu Rossi.


"Ya," jawab Edgar singkat.


"Kenapa begitu sulit menghubungimu. Aku sudah menelpon ke ponsel mu dari tadi, tapi tak ada jawaban satu pun. Jadi aku menelpon saja ke telepon rumah mu dan jika tadi--" suara yang sama dengan panggilan Edgar di bawah. Jeck.


"Langsung saja, aku lelah," bentak Edgar memotong perkataan Jeck yang tak henti berbicara tidak penting.


"Aiih. Ini mengenai Olivia, tapi sebaiknya kamu melihatnya sendiri," lanjutnya.


"Dimana?"


"Hotel Xx"


Edgar memutuskan panggilan itu, bergegas memakai pakaiannya dan meninggalkan Rossi yang masih tertidur lelap. Tapi langkahnya terhenti di pintu, menatap ke arah Rossi.


'Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian disini,' batinnya. Edgar menghubungi Willy dan memintanya kembali ke sana dan menjaga Rossi.

__ADS_1


Edgar langsung pergi dan melajukan mobilnya begitu cepat meninggalkan pekarangan rumah besar itu.


--***


__ADS_2