Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.20


__ADS_3

Yvelines, sebuah kota kecil di pinggiran ibu kota Prancis, Paris. Jarak Yvelines ke Paris sekitar 16 km. Kota ini hanya memiliki penduduk sekitar 9.000 orang.


Terdapat sebuah rumah mewah di kota Yvelines, kawasan Bougival, Paris. Rumah bertingkat lima dan luasnya mencapai 5.000 meter persegi. Luas rumahnya 1.000 meter persegi serta memiliki taman seluas 462 meter persegi.


Rumah mewah itu ditinggali oleh seorang pria bernama Geralderd. Yang dijaga oleh puluhan orang di setiap penjuru rumah itu. Geralderd adalah ketua mafia geng tiger, dia menginginkan semua geng mafia Asia-Eropa berada di bawah kendalinya. Hanya tersisa geng eagle dan geng lion.


"Edgar Julian Stevenson. Ketua geng Eagle yang paling ditakuti mengunjungi mansion ku sendirian," Gerald menuruni tangga, "Oh bukan, ada tikus bersamamu. Jeck. Aku tidak menyangka kamu masih ingin menginjakkan kaki mu disini."


Jeck merupakan anggota keluarga Gerald. Lebih tepatnya dia merupakan adik dari Geralderd. Awalnya Geralderd dan Jeck berjalan dalam satu alur yang sama, yaitu membentuk geng mafia yang taat hukum dan ingin menjadikan geng tiger menjadi salah satu di antara geng mafia yang setara dengan geng eagle dan lion.


Namun Geralderd dipenuhi dengan ambisi dan hasrat untuk menjadikan geng tiger satu satunya mafia di Asia-Eropa dan membuat geng lain berada dalam kendalinya. Keinginan kakaknya itu membuat Jeck berpindah alih dan bergabung dengan Edgar, karena sejak kecil dia dan Edgar sudah bersahabat. Dan tentunya Edgar tidak memiliki hasrat keji seperti Geralderd.


Edgar, Jeck dan Geralderd duduk berhadapan di tengah ruang tamu mewah kediaman Geralderd.


"Oke. Edgar apa yang kau inginkan? Kau ingin menyerahkan tikus ini kembali pada tempatnya?" Ucap Geralderd sambil menatap sinis pada Jeck, "Ha iya, atau kau sudah berubah pikiran dan ingin memberikan geng eagle padaku?"


"Jangan bermimpi. Aku kemari hanya meminta kejelasan informasi mengenai email yang kau kirimkan," Edgar menatapnya tajam, "Tentang wanita itu."


"Oh dia. Ya aku memang punya informasinya. Dan kamu pasti akan sangat berterimakasih padaku. Tapi apa yang akan kau berikan sebagai gantinya?" Geralderd menatap Edgar dengan banyak maksud di balik pertanyaannya itu.


***


Adrylin, Kota S.


Sudah banyak kursi kosong dan hanya tersisa beberapa orang dalam ruangan yang terdapat puluhan komputer yang masih menyala. Seorang wanita akhirnya berhenti menatap monitor dan pandangannya beralih ke pojok sudut ruangan.


"Ah akhirnya selesai. Tapi.." Sarah berdiri, "Kenapa dia sangat lama, ini sudah setengah jam berlalu. Lebih baik aku menyusulnya."


Sarah langsung melangkahkan kakinya ke sudut ruangan itu. Toilet. Sarah memanggil Rossi beberapa kali tapi tidak ada yang menyahut, seakan tidak ada orang disana. Sarah memeriksa tiap ruang yang ada di dalam toilet itu. Ia tak menemukan Rossi dimanapun.


"Apa ini. Kemana dia?" Sarah menjadi panik dan cemas. Dia bergegas berlari keluar sambil melemparkan banyak lembaran uang pada wanita yang sibuk dengan komputernya. Sontak membuat wanita itu terkejut dan keluar dari balik pembatas kaca itu.

__ADS_1


Sarah langsung menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya kembali ke jalanan. Ia menekan tombol layar di mobil itu, tak lama muncul peta yang menandakan keberadaan Rossi. Sudah cukup jauh dari tempatnya berada.


"Sial. Siapa yang berani!?" Sarah mengambil ponselnya dan memasang alat kecil di telinganya, "Darurat 994 (nine nine four) Vito kumpulkan anggota dan ikuti GPS Rossi segera."


Di seberang telepon. Seorang pria langsung bergegas keluar dari rumahnya dan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Selama di perjalanan dia disibukkan dengan tombol layar sentuh yang berada di hadapannya, motor yang sudah di modifikasi. Muncul peta di layar itu dan terakhir dia menekan tombol 994. Mulai muncul banyak titik merah dan satu titik biru di layar.


"Ikuti titik biru!" Ucap Vito tegas. Suara itu sampai pada motor beberapa orang lainnya.


Sementara Willy mengikuti mobil Sarah tak tahu apa yang terjadi. Namun dia sangat yakin jika terjadi sesuatu dengan Rossi. Karena Sarah keluar dari tempat itu sendirian dan sangat terburu buru.


"Hubungi tuan Edgar. Nona Rossi menghilang," Willy menekan tombol pada alat yang tergantung di telinganya.


Panggilan dari markas eagle.


"Ya?" Jeck menjawabnya.


"Nona Rossi menghilang," kata seorang pria dari seberang panggilan.


"Aku akan kembali nanti," ucap Edgar bangkit dari duduknya dan hendak berbalik pergi.


"Kau pikir semudah itu keluar masuk kediamanku?" Geralderd mengangkat tangannya. Seketika sekelompok pria mengacungkan senjata pada Edgar dan Jeck. Membuat langkah mereka terhenti.


"Aku tidak ada waktu untuk bermain denganmu," ketus Edgar.


"Oh ya? Tapi sepertinya kamu harus bermain dulu. Tentu bukan denganku, dengan mereka jika kamu ingin keluar dari sini," Geralderd bangkit dari sofa dan berbalik arah menaiki tangga. Mengacungkan jarinya seolah itu adalah pistol pada Edgar.


"Brengsek!" Edgar melayangkan tendangannya pada beberapa orang yang menghalangi langkahnya nya. Membuat senjata yang mereka pegang terjatuh ke lantai.


Dor. Dor. Dor


Beberapa tembakan meleset dari Edgar dan Jeck. Mereka sangat gesit. Edgar dan Jeck memungut pistol yang terjatuh ke lantai dan mulai menembak, bersembunyi di balik sofa dan menunggu waktu yang tepat untuk menembak. Tembakan mereka sangat gesit, semua kena sasaran.

__ADS_1


"Jeck suruh Willy mengatasi masalah Rossi. Kita akan menyelesaikan Geralderd hari ini juga," perintah Edgar pada Jeck.


Dor. dor.


Sementara Jeck menghubungi markas, Edgar menarik pelatuk pistol yang ada di tangannya.


Mengetahui perintah Edgar, Willy langsung memanggil anggotanya dan bersiap untuk menyelamatkan Rossi. Tapi di persimpangan jalan, motor Willy terhalang truk yang tiba tiba melintas di depannya. Dia kehilangan Sarah.


"Lacak mobil dengan plat nomor Xxx. Segera!" Perintahnya dari panggilan yang masih terhubung sedari awal.


Willy memarkirkan motornya ke tepi jalan sambil menunggu hasil pelacakan mobil Sarah dan anggotanya.


Di sebuah bangunan terbengkalai berdinding besi.


Seorang pria keluar dari dalam bangunan itu dengan senyum puas menaiki mobilnya. Dengan cepat mobil itu melesat dari sana. Tak terlihat.


Byur..


Semangkuk air dingin membangunkan wanita yang terikat di kursi kayu. Matanya perlahan terbuka, sekelilingnya terlihat berantakan. Banyak dedaunan kering dan tumbuhan jalar di setiap sudut.


Tiba tiba seorang wanita mencengkram dagunya dan menariknya ke atas. membuatnya tersadar total.


"Akhirnya aku bisa melihatmu lagi Rossi. sangat menyenangkan melihatmu seperti ini," ucap seorang wanita yang berada di hadapannya.


"Vera.. Apa yang kau lakukan? Lepaskan," Rossi berusaha melepaskan ikatan tangannya.


"Hahaha. Aku akan melepaskanmu setelah bersujud di kakiku. Tapi sebelum itu aku akan membalas apa yang sudah kamu lakukan padaku". Wanita itu terlihat sangat berambisi.


Plak. plak.


Dua tamparan mendarat di wajah Rossi. Menyisakan ruam kemerahan di pipinya.

__ADS_1


--***


__ADS_2