
Hans Alexandra dibawa oleh anggota medis geng eagle, Vegan dan para anggotanya. Dengan cepat Vegan mulai bekerja, mengeluarkan peluru dari tubuh Hans dan selesai dengan baik. Sementara itu di lokasi acara, semua orang tengah sibuk berbisik-bisik dan beberapa yang lain sudah pergi dari sana.
Melihat banyak orang yang seharusnya tidak berada disana, Edgar dengan tegas memerintahkan kepada bawahannya untuk mengosongkan gedung itu. Di tempat lain Sarah dan Vito beserta dengan beberapa anggota nya sedang mengejar pelaku penembakan.
Rossi menunggu di depan ruangan tempat ayahnya di bawa untuk di obati. Dia terlihat sangat cemas, namun mengingat posisinya. Seharusnya dia tahu apa yang harus dilakukannya.
"Aku harus menelpon Sarah," ucap Rossi sambil kembali ke ruang atas mengambil ponselnya.
Tut. Tut.
Panggilan terhubung.
"Sarah kamu dimana, kenapa aku tidak melihatmu disini?" Tanya Rossi dengan nada suara nya yang sedikit tinggi.
"Aku sedang mengejar pelaku penembakan itu, berhati-hati lah Rossi. Aku yakin sebagian dari mereka masih berada di dalam gedung itu," ucap Sarah sambil berlari mengejar pelakunya yang sedang melarikan diri.
"Dan juga, di dalam tasmu. Aku menaruh pistol untuk berjaga-jaga dan alat komunikasi dengan anggotaku yang berada di sana. Aku akan segera kembali," lanjut Sarah.
"Oke."
Dengan cepat Rossi mengambil pistol dan alat komunikasi di dalam tas itu, terletak di atas rak yang tak jauh darinya. Rossi memasangkan alat itu di telinganya. Tanpa sengaja, tatapan Rossi terhenti saat matanya melihat lurus ke depan. Seorang pria tampan berkulit putih pucat berdiri di seberang ruangannya. Dia melambaikan tangannya pada Rossi.
"Bukankah tadi ruangan itu tertutup, ternyata ada orang di sana. Tapi kenapa dia melambai ke arahku, dia-- apa jangan-jangan dia ada hubungannya dengan yang terjadi sekarang," kata Rossi meyakinkan dirinya. "Aku harus menemuinya."
Rossi keluar dari ruangan itu, dia melepaskan high heels yang di pakainya. Dengan cepat Rossi berlari menyusuri lorong ke ruangan pria yang dilihatnya.
Rossi mengancang tangannya untuk siap menembak, memperhatikan sekitar. Mempersiapkan diri jika ada sesuatu yang tiba-tiba menyerang nya. Tapi ruangan itu sudah kosong. Tidak ada siapapun disana.
Secarik kertas terletak di bawah botol anggur yang sudah kosong. Rossi melemahkan tangannya dan menjangkau kertas itu.
Satu kalimat tertulis di kertas tersebut.
[Kita akan segera bertemu 💋]
Rossi mengernyit heran membacanya.
'Bukankah dia seorang pria, kenapa ada cap bibir disini. Pria cabul,' pikir Rossi.
__ADS_1
"Tidak tidak. Sekarang tidak penting dia cabul atau tidak. Yang jelas dia bukan pria yang baik, aku harus segera menemukannya," kata Rossi keluar dari ruangan itu.
"Rossi disini. Blokir semua jalan keluar dari gedung," ucap Rossi pada alat yang tergantung di telinganya.
Di ruangan acara, seorang pria berjalan dengan begitu santai. Dia mendengar sesuatu dari alat yang berada di telinganya, suara Rossi di ruangan dia berada. Pria itu menyeringai tidak puas.
'Dia berpikir jika aku cabul?,' pikir nya.
Tak ada yang menghalangi langkahnya, perintah Rossi terlambat. Saat para penjaga itu mendengarnya. Pria itu sudah berada di dalam mobilnya.
Edgar yang baru tiba di ruang acara itu, langkahnya terhenti saat melihat Rossi berlari dari ujung lorong. Saat melintas di hadapannya, dengan cepat Edgar menahan tangan Rossi menghentikan langkah Rossi.
"Siapa yang kamu kejar, sampai seperti ini. Bahkan tidak memakai alas kaki," Edgar mengernyitkan keningnya melihat ke arah kaki telanjang Rossi.
"Lepaskan. Dia bisa pergi lebih jauh."
Dengan sekuat tenaga, Rossi berhasil melepaskan tangannya dari genggaman Edgar. Dia kembali berlari ke arah pintu keluar.
"Dasar. Kalian para wanita memang begitu berambisi, aku akan membiarkanmu kali ini. Aku harus mengurus situasi di sini dulu," ucap Edgar melihat punggung Rossi yang perlahan menjauh darinya.
Tepat saat Rossi berdiri di pintu keluar, sebuah mobil melesat pergi dengan cepat di hadapannya.
"Hentikan mobil itu," teriak Rossi pada beberapa orang yang berada tak jauh dari mobil itu.
Dor. Dor. Dor.
Tiga tembakan diluncurkan dari pistol yang berada di tangan Rossi. Memang mengenai mobil itu, tapi tidak menembusnya. Sementara beberapa orang yang lain juga tidak berhasil menghentikan mobil itu.
"Sial. Tidak bisa, aku harus mengejarnya."
Tak berselang beberapa detik, sebuah mobil berhenti di hadapan Rossi. Terlihat dari kaca jendela mobil yang terbuka, itu Joshua.
"Naiklah," pinta Joshua dari dalam mobil itu.
Tanpa berpikir panjang, Rossi langsung masuk dan Joshua juga dengan cepat melajukan mobil itu mengejar mobil lain yang berjarak cukup jauh dengan mereka.
"Siapa dia? Kenapa kamu mengejarnya," tanya Joshua tanpa melirik ke arah Rossi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tapi aku yakin dia terlibat dengan apa yang sudah terjadi," jawab Rossi.
Namun kembali, persimpangan jalan selalu saja menjadi penghalang. Tiba-tiba sebuah mobil lain melintas di depan mobil Joshua. Seakan melindungi mobil yang berada di depan. Untung saja, Joshua dengan cepat menginjak rem dan mengganti arah laju mobilnya.
"Maaf Rossi. Kita tidak akan bisa mengejarnya lagi," ucap Joshua kecewa.
"Hmmm baiklah. Tapi setidaknya kita bisa mencarinya," lanjut Rossi. "Cari keberadaan mobil dengan no.xxx, secepatnya," ucap Rossi dari alat yang terpasang pada nya.
"Lebih baik kita kembali," ucap Joshua.
Joshua kembali melajukan mobilnya ke gedung acara setelah Rossi mengangguk setuju. Sementara tak jauh dari sana, seorang pria berada di dalam mobil yang mereka kejar itu. Dia tersenyum puas melihat ke arah mobil Joshua. Pria itu hanya berhenti di bawah kegelapan.
"Dasar bodoh, dia sama saja dengan ayahnya. Mengambil milik orang lain. Brengsek itu!" Kata pria itu kesal.
Rossi kembali bersamaan dengan Joshua, melihat itu dengan cepat Edgar menghampiri Rossi dan langsung menggendong wanitanya.
"Hei. Apa yang kamu lakukan, tidakkah kamu harus mengerti situasi," kata Rossi sedikit kesal dengan perilaku Edgar padanya.
"Aku tidak akan membiarkanmu berjalan dengan kaki telanjang seperti tadi," jawab Edgar sambil melirik tajam ke arah Joshua.
Melihat tatapan Edgar padanya, Joshua hanya tersenyum kecil dan berjalan pergi meninggalkan Rossi dan Edgar.
"Oh ya tuhan, aku tidak akan mati berjalan dengan kaki ini," bantah Rossi padanya.
"Berhenti membantahku, aku akan membawamu bertemu dengan Mr Hans," lanjut Edgar. Dia berjalan meninggalkan ruangan itu sambil menggendong Rossi dalam dekapannya.
Setiba di depan ruangan tempat ayahnya, Edgar menurunkan Rossi. Mereka berdiri di depan ruangan itu, tiba tiba Vegan muncul tanpa aba-aba dari balik pintu. Mengangetkan Rossi yang akan masuk ke dalam.
Namun Vegan menghentikan langkah Rossi. Dia menghalangi Rossi dengan tubuhnya.
"Maaf nona Rossi, tapi Mr Hans berpesan jika dia ingin berbicara dengan Edgar," jelas Vegan pada Rossi. Mendengar nya Rossi langsung melirik ke Edgar yang berada di belakangnya.
"Ayahmu akan baik-baik saja," ucap Edgar sebelum masuk ke ruangan itu.
Vegan tersenyum hangat pada Rossi sebelum menutup pintu kembali. Sementara itu Rossi juga penasaran kenapa ayahnya ingin berbicara dengan Edgar.
'Bukankah hubungan mereka tidak baik, apa yang mereka bicarakan' pikir Rossi.
__ADS_1
--***