
"Nona. Apa anda baik baik saja?," Willy melihat Rossi yang memegang kepalanya menahan sakit dari spion depannya.
"Aku baik baik saja."
Rossi berusaha tersenyum pada lelaki yang berada di kursi depan mobil.
Tapi Kepalanya masih berdenyut. Muncul bayangan kabur yang tidak dia tau kapan dan dimana itu.
Mobil silver itu sudah berada cukup dekat dengan perusahaan Xx. Rossi mengamati sekitar sebelum meminta agar mobil itu dihentikan.
"Berhenti disini saja."
Suara lembut keluar dari mulutnya. Sang pengemudi hanya menurutinya.
"Terimakasih. Aku akan turun disini."
Rossi membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
"Tapi nona.."
Rossi tersenyum dan meyakinkan Willy bahwa dia akan baik baik saja.
Rossi berjalan pelan di trotoar tepi jalan raya. Diikuti oleh Willi yang masih mengendarai mobil silver itu. Dia harus mengantarkan Rossi tepat pada tujuan dan menjaga keselamatan wanita itu.
Hingga Rossi menginjakkan kakinya di teras pintu utama yang berlapiskan keramik bening mengkilap. Sadar dengan tugasnya yang sudah selesai Willy pun berputar arah dan kembali melaju ke mansion. Rossi memasuki gedung itu dengan langkah pasti. Walaupun masih terasa nyeri di beberapa tempat.
"Oh lihat ini. Kamu memiliki muka yang tebal untuk kembali."
Suara keras dan melengking membuat semua orang yang mendengarkan mencari sumber suara itu.
Mata Rossi menyipit kesal. Dia membalikkan bola matanya. Tak menjawab apa pun.
"Lihat. Entah ranjang pria liar mana yang dinaikinya. Bahkan mengambil cuti seharian penuh kemarin."
Vera menatap Rossi dengan tatapan puas.
Merendahkan wanita itu. Membuat yang lainnya mulai berbisik bisik. Berkerumun menggosipkan model cantik itu.
Rossi hanya berdiri sambil tersenyum tak menjawab. Dia tak ingin meladeni anjing kantor yang tak sadar diri itu. Menyeringai pada vera. Menatapnya dengan tatapan jijik.
"Ada apa ini."
Tiba tiba muncul sesosok pria berjas hitam.
Melewati kerumunan. Yang diikuti oleh 2 pria dibelakangnya. Mata Rossi terbelalak melihatnya.
'Kenapa dia ada disini' Rossi berbisik dalam hatinya.
"Presdir. Dia membatalkan banyak pemotretannya kemarin. Dan sebelum itu dia pergi entah dengan pria liar mana untuk melakukan perbuatan hina." Vera bergegas mendekati pria itu.
"Pria liar? Hina?."
Edgar mengernyit kesal dan marah.
Dia mendorong wanita itu hingga terpental ke lantai. Semua orang terkejut. Edgar lalu melewatinya berjalan mendekati Rossi yang mematung sambil memegangi sekotak bekal makanan.
"Mengatasi ****** ini saja. Kau tidak bisa."
Edgar menyentil kening Rossi. Menarik wanita itu keluar dari kerumunan.
"Urus dia. Jangan sampai aku melihatnya lagi."
Dua orang itu langsung bergegas menyeret Vera keluar.
Meronta ronta meminta maaf. Sementara orang masih berkerumun. Terkejut dengan apa yang mereka saksikan.
"Pecat semuanya. Jika mereka tak ingin bekerja."
Suara lantang itu membubarkan kerumunan.
__ADS_1
Edgar memasuki lift dengan Rossi. Mendorong Rossi ke dinding dan menahannya. Sedangkan tangan yang satunya menekan tombol lift .
Rossi masih bingung dengan yang terjadi. Masih mencerna dengan baik.
"Bodoh."
Edgar mencium nya. Melekatkan bibir mereka sehingga melekat tak ada celah. Cukup lama. Kemudian melepaskannya. Nafas Rossi tak karuan.
"Apa masih tidak bisa berciuman. Itu saja kamu tidak bisa mengimbanginya."
Dia mencium Rossi lagi. Lagi. Dan lagi. Membuat wajah Rossi memerah seperti strawberry.
Pintu lift terbuka. Edgar menggendong wanitanya di lorong kantor. Semuanya menunduk untuk menyapa.
"Turunkan aku. Ini bukan rumahmu."
Rossi menutup wajah merahnya dengan kedua telapak tangannya. Edgar tersenyum nakal.
"Tapi ini kantorku."
Jawaban itu. Menjawab kebingungan Rossi. Ternyata dia adalah CEO baru itu. Rossi terdiam.
Edgar menjatuhkan Rossi di atas sofa berwarna merah maron di ruangannya. mengambil kotak bekal itu dan meletakkannya di atas meja. Mencium Rossi lagi. Tangan pria itu mulai masuk dari bawah dress merah muda yang dia kenakan. Namun kegiatan mereka terhenti mendengar suara ketukan pintu.
Tok. Tok. Tok
"Cih."
Edgar merapikan pakaiannya.
Menjauh dari Rossi dan duduk di kursinya. Sedangkan Rossi langsung berdiri. Seorang wanita berkaca mata dengan pakaian rapi memasuki ruangan itu. Sarah. Dia menunduk hormat pada Edgar sebelum menghampiri Rossi. Edgar hanya mengangguk kesal.
"Rossi apa yang terjadi. Kenapa wajahmu begitu merah? Apa kamu sakit? Apa terjadi sesuatu. Bla bla…. "
Sarah tak henti hentinya berbicara. Tak memberi kesempatan pada Rossi untuk menjawab.
"Keluar!"
Membuat dua wanita yang sibuk dengan banyak pertanyaan itu terhenti dan keluar dari ruangan itu. Di sela kekesalannya Edgar tersenyum bahagia setelah melihat sekotak bekal sarapan itu. amarahnya memudar.
Di ruangan lain.
Rossi menjelaskan setiap detailnya. Namun tentu saja melewatkan cerita beberapa jam yang dilaluinya pada malam itu. Sebenarnya pada malam Rossi meninggalkan acara itu seorang pria menghampiri Sarah dan memberikan tas Rossi padanya dan mengatakan jika Rossi pergi dengan Presdir.
Hal itu membuat Sarah terkejut. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut disampaikan pria itu. Karena bersama Edgar lah ia menjadi cemas. Takut akan terjadi sesuatu pada Rossi jika bersama dengan pria itu.
****
Hari hari mereka berlalu seperti biasanya. Rossi kembali pada rutinitasnya melakukan pemotretan. Namun lebih tenang dan damai. Tak ada yang mengusik Rossi lagi. Setelah saat itu. Vera dipecat dan dia tak pernah terlihat lagi.
Sementara itu, Edgar tak terlihat di kantor dan tak pernah menemui Rossi lagi. Ya Rossi sedikit merindukannya. Kehangatan pria itu. Hingga saat pemotretan di luar kantor. Di alam bebas. Itu adalah pemotretan pasangan.
Dikelilingi oleh rerumputan panjang berwarna kekuningan sebagai background fotonya. Semua orang tengah sibuk mondar mandir menyelesaikan pekerjaan mereka. Sedangkan Sarah sibuk mengatur busana dan riasan Rossi.
Mendekati sesi pemotretan. Semua mata tertuju mata seorang pria yang memakai kemeja putih dengan yang atasnya terbuka. Berjalan begitu tegaknya menghampiri sang model wanita. Merangkul wanitanya.
"Apa yang kamu lakukan disini."
Rossi bertanya heran sambil mendongak ke atas menatap mata pria itu.
"Aku akan berfoto dengan mu."
Semua orang terkejut.
Seharusnya model pasangan Rossi adalah Carel Fredson yang mereka undang dari Paris. Tapi malah berganti dengan Presdir mereka. Edgar.
Sebelumnya di bandara.
Beberapa pria mencegat langkah Carel. Dan membawa pria modis itu ke mobil.
__ADS_1
"Jalan."
Terdengar suara dari sebelahnya. Ia terperanjat.
"Hooo. Edgar? Kau. Kau."
Carel menahan kepalan tangannya. Sambil tertawa, dia memeluk sahabat lamanya itu.
"Menjauh dariku,"
Edgar menatapnya tajam.
"Hei. Ayolah. Aku sudah jauh datang dari Paris ke sini. Hanya untuk memenuhi permintaanmu. Apa kita langsung ke tempat pemotretannya?"
Lelaki itu terus mengoceh.
"Tidak. Antar dia ke hotel."
Carel terkejut. Bingung. Bukankah dia ada pemotretan. 'Hotel,' pikir nya.
Sampai di depan hotel.
"Turun." ketus Edgar.
Carel menolak dan masih tak ingin turun dan memanyunkan bibirnya. Hingga seorang pria berbadan tegap dengan kacamata hitam menariknya keluar.
Edgar membuka jendela mobilnya. Berbicara tanpa menoleh pada lawan bicaranya.
"Bawa dia ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar sebelum menyelesaikan tugasnya." Menutup kembali kaca itu. Mobilnya melaju cepat meninggalkan Carel yang mengumpat nya.
"Dasar bajingan picik."
Dia terus mengumpat hingga sampai di kamarnya.
****
Pemotretannya dimulai. Semuanya sudah siap. Hanya tinggal fotonya saja. Semua mata tertuju pada dua kekasih yang berdiri berhadapan. Begitu romantis. Sangat serasi.
Seorang pria memegang kamera. Tak bisa diam menghitung dan berpindah tempat.
Edgar menarik pinggang Rossi menjadi begitu dekat dengannya. Di scene yang tepat. Hitungan ketiga. 1 2 3. Edgar mencium Rossi. Sontak membuat semuanya tertegun. Hasilnya sangat cantik berkarisma. Begitu harmonis.
"Selesai."
Pemotretannya berakhir. Namun Edgar tak melepaskan pelukannya.
"Melepaskan."
Rossi memberontak mendorong tubuh pria itu.
"Apa kamu tidak merindukanku. Kelinci kecil." Senyum nakal itu muncul lagi di wajah Edgar.
"Ini tempat umum."
Rossi menyadari maksud pria itu. Edgar melepaskan pelukannya. Membiarkan kelincinya kembali pada manajernya.
"Hooo baby. Ternyata hubungan kalian begitu intim," goda Sarah padanya.
Namun Rossi hanya mengelak sambil menyunggingkan senyum manisnya. Edgar masih menatapnya dari kejauhan.
Tak lama kemudian. Semua orang bersiap untuk pulang. Edgar tak terlihat berada di sana.
'Hmm apa dia sudah pergi,' batin Rossi.
Terbesit kesedihan dalam hatinya. Kenapa dia melepaskan pelukan itu. Rossi menghela nafasnya.
"Huh."
Dia membaringkan tubuhnya di rerumputan. Menatap langit berawan itu. Terbayang awannya berbentuk Hati. Dia tersenyum. Angin berhembus menggerakkan rerumputan itu. Menari nari. Pikirannya menjadi lebih tenang. Nyaman. Hingga tertidur di sana.
__ADS_1
--***