Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.57


__ADS_3

Rossi dan Edgar akhirnya berhenti, mereka lelah. Dan lagi pula mereka sudah kehabisan peluru untuk ditembakkan. Tidak ada siapapun di sekitar mereka, hanya berdua.


"Kenapa mereka tidak kembali juga?" Tanya Rossi penasaran.


"Entahlah, ayo kita lihat," ajak Edgar.


Tuk.


Kaki Rossi tersandung dahan kayu yang tumbuh melengkung di antara rerumputan. Dengan gesit Edgar menangkap Rossi dan reflek mengangkat tubuh Rossi. Sehingga membuat wanita itu berada dalam dekapannya. Mata mereka bertemu cukup lama.


"Dasar kelinci manja, berjalan saja harus digendong," ejek Edgar tersenyum puas.


"Aku tidak-- turunkan aku, lagi pula tidak ada yang memintamu untuk menggendongku."


Edgar tak menghiraukan ucapan Rossi, dia melanjutkan langkahnya ke taman bunga yang berada di sebelah tempat dimana ada Jane, Sarah, Joshua dan Zeck berada. Tapi tak jauh dari sana, mereka curiga dengan gerak-gerik Sarah.


Dengan penuh dengan pikiran yang penasaran, Edgar terus melangkah dan berhenti di samping Sarah. Dia menurunkan Rossi untuk berdiri.


"Sarah, kenapa kau seperti penguntit disini," kata Rossi mengejutkan Sarah.


"Astaga, kenapa kalian selalu muncul tiba-tiba di belakangku. Untung saja jantungku masih berada di tempatnya," balas Sarah.


"Yah kamu sih, bersembunyi seperti itu." Rossi melanjutkan.


Sarah menghela nafas panjang dan tidak menjawab lagi, dia hanya mengalihkan pandangannya kembali pada objek yang membuatnya bertahan cukup lama disana. Rossi dan Edgar mengikuti arah mata Sarah.


Buk.


Joshua memukul Zeck dengan pukulan yang cukup keras. Namun Zeck tidak membalas, dia malah meringkuh kesakitan. Melihat sudut bibir Zeck yang terluka, Jane menjadi cemas dan memberikan perhatiannya pada pria itu di depan Joshua.


"Jo, kenapa kamu memukulnya?" Ucap Jane pada Joshua sebelum menyentuh wajah Zeck, "apa kamu baik-baik saja?"


"Aish, aku baik-baik saja. Hanya sedikit perih," jawab Zeck manja pada Jane.


"Ayo kita pergi, biar aku obati dulu lukamu."


Jane membawa Zeck pergi dari sana, tapi Joshua tidak rela jika itu terjadi.


"Jane, kenapa kamu tetap bersamanya? Kamu tidak percaya dengan perkataan ku?" Tanya Joshua.


"Jo, jangan memprovokasi ku. Tepatilah perkataanmu semalam untuk tidak menggangguku, aku tau kamu bukan orang yang tidak menepati perkataan yang sudah kau ucapkan. Jadi sampai disini saja," jelas Jane pada Joshua.


Jane dan Zeck berlalu pergi meninggalkan Joshua. Zeck menyunggingkan senyum kemenangan pada Joshua. Dia cukup puas, walaupun harus merasakan pukulan Joshua.

__ADS_1


Rossi, Edgar dan Sarah masih mematung melihat pertunjukan itu. Jane dan Zeck pun juga hanya melewati mereka. Setelah mereka berdua hilang Rossi menarik diri untuk berada di dekat Sarah.


"Sarah, sebenarnya apa yang sudah terjadi tadi?" Tanya Rossi penasaran.


"Cukup menyenangkan dari pada harus melihat kalian pamer kemesraan, sini aku ceritakan padamu kronologi nya," balas Sarah.


Mereka mulai bergosip, sedangkan Edgar sudah berada di depan Joshua.


"Tenanglah, kamu tidak akan menang darinya jika urusan wanita. Dia itu rajanya, dan sekarang kau sudah lihat bukan? Jane memilihnya, jadi kamu mundur saja dan fokus untuk rencana kita nanti malam. Jangan mengacaukan nya." Edgar menjelaskan.


"Tidak bisa, aku menahan diri selama ini dengan tidak membalas cintanya karena tidak ingin dia terluka dan hidup di bawah bayang-bayang Olivia. Tapi pria itu, dia hanya bermain-main dengannya. Aku tidak bisa membiarkannya." Joshua masih kesal.


"Lalu kau ingin apa? Membuatnya berada di sampingmu lagi sebagai pajangan?"


Joshua tidak menjawab. Perkataan Edgar benar, selama ini Jane hanya menjadi pajangan yang berada di sekitarnya. Joshua tidak pernah meliriknya, seakan itu hanyalah pajangan yang mengganggu.


"Ayo pergi, kita harus mempersiapkan anggota yang lain. Aku tidak ingin rencananya menjadi kacau, karena kau berdebat dengan nya." Edgar berjalan pergi dan cukup lama barulah Joshua mengikutinya. Tepat di samping Rossi, dia berhenti. Edgar mengecup lembut pipi Rossi sebelum pergi.


"Sampai ketemu nanti malam sayang," ucap Edgar sambil tersenyum manis pada Rossi.


Rossi membalasnya dengan senyum manja. Dan Sarah tiba-tiba menarik kepala Rossi dengan kedua telapak tangannya, agar melihat lagi padanya. Dia belum selesai menceritakannya.


Edgar dan Joshua pergi dari sana. Mereka kembali ke kediaman Stevenson. Begitu juga Zeck dan Jane, mereka pergi dari sana dan kembali ke mansion besar Mafioso milik Zeck.


Menjelang malam, geng lion dan geng eagle berangkat ke lokasi. Mereka berpencar dan langsung mengambil posisi di tempat yang sudah diatur sebelumnya.


Mereka tiba di pinggiran kota, tepatnya mereka beraksi di sebuah villa mewah di sana. Villa la Lamia, tempat yang cukup luas dan butuh waktu untuk bisa masuk dan berada di dalam villa itu.


Namun tidak dengan Joshua, tidak ada yang menghentikan mobil nya yang melaju di pekarangan rumah besar itu.


Sebelumnya, Joshua sudah mengatakan jika dia akan datang.


[Joshua: Apa tawaran saat itu masih berlaku?]


[Nomor tak dikenal: Ya tentu saja, lagi pula kau anakku. Aku akan menyambutmu kapan saja]


[Joshua: Baiklah, aku ingin kita bertemu]


[Nomor tak dikenal: Oke, Villa la Lamia]


[Joshua: Oke.]


Joshua memasuki villa besar itu, langkah kakinya berhenti di depan sebuah ruangan yang sudah dituntun seseorang padanya. Sebelum membuka pintu itu, dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


Pintu terbuka.


Terlihat seorang pria tengah duduk di sebuah kursi besar bak singgasana. Dia duduk dengan begitu angkuh dengan segelas anggur di tangannya. Ditemani seorang wanita yang berpakaian terbuka di samping kursi itu.


Joshua mengenal wajah itu, walaupun sudah bertambah tua. Namun dia tidak akan melupakan wajah itu. Pria yang pergi saat kecelakaan itu dan meninggalkan ibunya. Dia kehilangan sosok wanita yang berharga.


Dengan langkah berat Joshua berusaha melangkah dekat padanya.


"Selamat datang putraku, aku sudah menduganya. Kamu akan datang dan bergabung dengan ku. Karena kamu adalah anak ku satu-satunya," ucap pria berumur itu.


"Hmmm, a-ayah. Apakah kita bisa berbicara berdua saja?" Tanya Joshua cukup berhati-hati, walaupun dia harus dengan berat hati menyebut kata ayah.


"Ya. Tentu saja."


Damian menyuruh wanita yang berdiri di sampingnya untuk pergi, sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut. Wanita itu mencium Damian. Rasanya Joshua tidak tahan melihatnya.


Beberapa detik berlalu, hanya ada Joshua dan Damian disana.


"Aku tidak tahu apakah masih berguna menanyakan ini padamu atau tidak, tapi aku akan tetap menanyakannya." Joshua memulai pembicaraan.


"Pertanyaan? Oke, kamu bisa menanyakan apa saja."


"Kenapa kamu meninggalkannya? Kamu pergi tanpa membawa ibuku. Dia masih berada di mobil, dan meledak.." Joshua rasanya tidak sanggup melanjutkan. Dia melihat dengan mata kecilnya mobil itu meledak di hadapannya.


"Aku tidak pernah meninggalkannya, saat aku akan menyelamatkannya. Mobil itu sudah meledak," jawab Damian santai seperti itu adalah peristiwa yang biasa saja.


Joshua tahu dia berbicara omong kosong, bagaimana tidak. Dia melihat bagaimana Damian pergi dari sana, dia bahkan tidak melirik ke belakang. Dia pergi. Anggota Jerome hanya sempat menyelamatkan Joshua. Tidak dengan ibunya.


Dor. Dor. Dor


Terdengar banyak suara tembakan, sepertinya sudah terjadi pertempuran di setiap sudut rumah itu.


'ternyata mereka sudah bertindak secepat ini, waktunya melakukan tugasku' pikir Joshua.


Joshua berdiri dan melihat ke luar jendela, dia memasang raut wajah geram.


"Ah sial, ternyata mereka mengikutiku," kata Joshua dengan ekspresi yang marah.


"Apa maksudmu?" Damian sebenarnya masih belum percaya dengan Joshua. Dia tiba-tiba setuju untuk bergabung, itu sangat mencurigakan.


"Kita harus pergi dari sini ayah, aku tidak ingin mengambil resiko."


Joshua berusaha meyakinkan Damian, jika dia berada di pihaknya. Dan Damian mempercayainya.

__ADS_1


--***


__ADS_2