Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.34


__ADS_3

Villa mewah di Italia.


Villa Cimbrone yang berlokasi di Amalfi Coast, Italia. Bangunan yang sangat mewah, sehingga dijuluki sebagai "Terrazzo dell'infinito" atau teras dengan pemandangan tak terbatas yang sangat indah. Tidak hanya itu, bangunan ini juga memiliki taman yang sangat memanjakan mata.


Villa dengan bangunan batu asli yang di bangun pada abad ke-11 di bukit yang menghadap ke laut Mediterania ini berjarak 10 menit berjalan kaki dari taman dan teras Villa Rufolo, dan 8 km dal Duomo di Amalfi.


Di bangunan ini, dengan jelas bisa melihat pemandangan laut atau taman, kamar kamar elegan dengan lantai keramik majolica antik dan memiliki mini bar.


Tepat di sebuah ruangan dengan nuansa elegan. Banyak terdapat furnitur yang tidak begitu mencolok, tapi suasananya tenang dan nyaman. Dengan dihiasi oleh langit-langit Fresco.


Sepasang kekasih menyembunyikan hampir seluruh tubuh mereka di balik selimut hangat berwarna putih polos. Terlihat pria itu memeluk wanitanya dengan sangat erat. Seakan ingin menyatukan tubuh mereka.


Edgar dan Rossi.


Mereka kembali bercinta.


"Apa kamu marah kepadaku?" Edgar mulai berbicara dengan matanya yang masih tertutup, sedangkan Rossi masih membelakanginya.


"Hmm.." Rossi masih berpikir, apa yang telah dia lakukan itu benar atau salah.


"Maaf. Saat di pekuburan, aku sungguh kesana karena mengikuti mu, dan tanpa sadar aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat disana." Edgar mempererat pelukannya.


"Benarkah? Tapi bukankah karena mengikuti ku kamu bisa tahu dimana kekasihmu," ujar Rossi sedikit kesal. 'Lagi pula, jangan membohongi perasaanmu. Untuk apa mengikuti ku. Aku tidak pernah ada di dalam sana,' batin Rossi.


"Sayang. Apa kamu cemburu. Itu adalah masa lalu, dan kamu adalah kekasihku sekarang." Edgar mengecup lembut rambut panjang yang menghalanginya. "Jadi jangan lagi berpikir jika aku memiliki wanita lain. AKU SANGAT MENCINTAIMU."


"Hmm.. Aku ingin tidur." Rossi perlahan menutup matanya. Dia lelah, lelah dengan kegiatan percintaan yang sangat agresif dari Edgar. Dan lelah untuk semua omong kosong yang didengarnya.


Dia tidak bisa percaya, dengan apa yang terjadi di pekuburan. Itu masih terlihat jelas. Bagaimana mungkin bisa melupakan seseorang hanya dalam waktu satu bulan? Sungguh naif.


"Baiklah. Tidurlah,.. Aku ingin mandi." Edgar melepaskan pelukannya, dan pergi meninggalkan Rossi di tempat tidur. Rossi hanya mengangguk.


Rossi sendirian. Dia tidak tidur, itu hanya untuk menghentikan pembicaraan yang tidak ingin dia dengar. Penjelasan singkat. Dia ingin mendengarnya. Apa Olivia masih di dalam hati pria itu atau tidak.


"Sangat mencintaiku. Omong kosong." Rossi bangkit dari tidurnya. Hendak pergi dari sana.


Ting.


Sebuah notifikasi berbunyi dari sebuah ponsel yang berada tak jauh darinya. Di atas meja. Tertulis di layar itu

__ADS_1


[Jeck {1 pesan baru}]


[Joshua sudah tahu jika…..]


Hanya itu yang ada di layar nya. Rossi melihatnya.


"Joshua?" Rossi mengambil ponsel itu dan hendak melihat lanjutannya. Namun tiba tiba ponsel itu mati. Habis baterai.


Pasti ada charger di sekitar sana. Tapi dimana. Rossi memeriksa beberapa laci meja, tak ada. Tapi dia sempat terhenti melihat kotak kecil yang indah. Terdapat pita merah muda dan dilapisi taburan glitter berkilauan.


"Apa ini. Sepertinya istimewa." Rossi penasaran dan mengambil kotak itu. Sangat ingin membukanya.


Tiba tiba ada kehangatan menghampirinya. Sepasang tangan bergelung di pinggangnya. Itu Edgar. Dia memeluk tubuh mulus Rossi yang masih telanjang.


"Apa yang kamu lakukan. Bukankah ingin tidur, tapi malah berdiri seperti ini. Ingin menarikku lagi?" Edgar berbisik di telinga wanita itu.


Dengan cepat Rossi menyembunyikan kotak itu di dalam genggamannya.


"Oh itu. Tadi aku hanya ingin peregangan saja, pinggangku sakit." Rossi tersenyum tiba tiba. Sejak mereka bertemu, Rossi tidak pernah tersenyum. Hal itu membuat Edgar sedikit curiga. Ada apa?


"Bukankah kamu ingin mandi. Mandilah." Rossi masih berada dalam pelukannya.


"Ah Edgar. Jangan lagi, aku lelah." Rossi mengelak. 'Apa pria ini tidak lelah?'


"Jangan berbohong, kamu masih bisa berdiri dengan sangat stabil." Edgar kembali tersenyum. Dengan cepat dia mengangkat Rossi di bahunya dan membawanya ke kamar mandi.


"Hei. Turunkan aku." Rossi meronta-ronta. Dia sudah lelah.


Kotak itu terjatuh entah kemana, Rossi belum tahu apa isinya. Sedangkan pria itu sangat bergairah. Lagi? Dan di kamar mandi. Mereka kembali bercinta. Sungguh kegilaan dalam bercinta.


Hari sudah pagi, seperti biasa. Hanya ada Rossi yang masih terbaring di tempat tidur, lelakinya sudah pergi. Dengan cahaya yang masuk langsung menghampiri matanya. Menyilaukan.


Rossi perlahan bangun dari sana, ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tubuhnya seperti di jepit kepiting. Ruam merah di sana sini. Pria itu sangat gila. Tidak ada pakaian wanita disana, hanya kemeja Edgar? Hanya itu. Lebih baik daripada tidak memakai apapun.


Rossi turun ke lantai bawah. Tidak ada seorang pun. Dia pergi untuk mengambil minum dan ingin bersantai di bawah cahaya mentari pagi.


Puft..


Rossi memuncratkan air yang ada di mulutnya. Tepat di wajah Sarah yang sedang tidur nyenyak di sofa. Rossi terkejut, dan tanpa sengaja dia tidak menelan minumannya.

__ADS_1


Sontak air itu membuat Sarah terbangun. Dengan wajah tak bersalah, Rossi duduk di dekat sahabatnya itu.


"Sarah. Kenapa kamu bisa ada disini?" Rossi meneguk dengan benar segelas air ditangannya.


"Oh Rossi. Kalian sudah selesai." Sarah mengucek matanya. Tunggu wajahnya basah, dan sedikit bajunya pun juga basah. "Rossi. Kau menyiramku?"


"Hei bukan. Aku tidak sengaja. Aku terkejut kamu tiba tiba ada disini." Rossi menyeringai.


"Kalian meninggalkan ku di cafe begitu saja. Untung saja aku sempat mengikuti kalian. Jika ayahmu tahu kau bersama dengan Edgar, dia pasti akan marah besar." Sarah mengelap wajahnya dengan tisu yang berada di atas meja.


"Apa? Oh tidak Sarah. Kita tidak pulang kemarin. Bagaimana ini, bahkan Joshua. Kita meninggalkan nya."


"Tenanglah. Aku sudah menelepon Nyonya besar dan mengatakan kamu menginap di rumahku." Sarah kembali berbaring di sofa. "Aku masih ngantuk. Kalian sangat berisik semalam. Aku tidak bisa tidur."


Sementara Sarah memejamkan matanya. Rossi kembali bertanya.


"Apa yang dilakukan Edgar, sehingga membuat ayahku semarah itu padanya tempo hari?"


"Aku tidak tahu soal itu. Bahkan kakak ku tidak ingin memberitahukannya padaku." Sarah menyorongkan badannya membelakangi Rossi. "Jangan ganggu aku. Aku ingin tidur. 30 menit sebelum pulang."


Rossi berjalan ke dapur, mencari sesuatu untuk dimakan. Dia kehilangan tenaga, energi nya dikuras habis semalam. Tidak ada apa pun di sana. Kosong.


Rossi menghela nafas panjang. Dan kembali hanya meminum air mineral. Hanya ada itu.


"Tunggu. Kotak itu. Aku belum sempat melihatnya." Rossi teringat kotak kecil indah yang dia pegang semalam. Rossi bergegas kembali ke kamar itu.


Sudah hampir 30 menit. Rossi tidak menemukannya.


"Dimana. Aku yakin terjatuh di sekitar sini." Rossi mencari di sekitar tempat tidur itu.


"Rossi. Apa yang kamu cari. Kita harus pulang sekarang." Sarah tiba tiba muncul di ambang pintu.


"Oh tidak ada." Rossi berjalan mendekat pada Sarah dan bergegas menariknya pergi. "Ayo pergi. Aku lapar, tidak ada yang bisa dimakan disini."


'Aku bisa menanyakan nya pada Edgar bukan,' pikir Rossi.


Sebelum pulang, mereka pergi ke toko baju. Tidak mungkin Rossi memakai kemeja besar itu kembali ke rumah. Akan membuat masalah baru. Di perjalanan, Rossi meminta Sarah untuk ikut dengannya, dia lapar. Mereka berhenti di depan sebuah cafe kecil dekat toko itu. Setidaknya dia makan sesuatu.


--***

__ADS_1


__ADS_2