
Rossi masuk ke mobil membawa buket bunga mawar putih di tangannya. Setelah cukup lama memilih di sebuah toko yang berada tidak jauh dari pekuburan.
"Nah. Ayo," Rossi sudah tidak sabar.
"Baby. Apa kamu belum pernah bertemu dengannya sebelumnya?" Sarah memulai pembicaraan.
"Hmm. Belum. Sekalipun, aku belum pernah bertemu langsung dengannya. Mungkin hanya dalam-- " Mimpi, jawab Rossi.
"Apa kamu akan mengikat rambutmu. Ku pikir itu akan cocok dengan setelan itu" Sarah mengambil ikat rambut kecil yang berada di laci mobil nya. Memberikannya pada Rossi.
Rossi mencobanya. Ya terasa lebih baik ternyata jika rambut panjang itu di ikat, dan kemeja yang dia kenakan juga membuat nya nyaman.
'Kalian mirip,' pikir Sarah tersenyum.
Mereka sampai di pekuburan. Sarah menunjukkan tempatnya dan membiarkan Rossi untuk berjalan kesana sendirian. Sarah akan memberi ruang untuk Rossi bisa berdua dengan kakaknya. Dia kembali ke mobilnya.
Rossi tersenyum. Dia meletakkan buket bunga mawar putih itu sambil berjongkok di depan batu nisan granit yang dihiasi mika. "Bagaimana menurutmu? Setelan ini cocok dengan ku, bukan?"
Hanya ada Rossi disana. Masih pagi, tidak ada orang lain disana. Angin bertiup di pundaknya. Mungkin lebih dari dua ratus batu nisan mengelilinginya. Dan satu pondok kecil dari kejauhan, sepertinya tempat penyimpanan alat alat pemeliharaan tanah.
"Entah kapan aku bisa bertemu denganmu, menghabiskan waktuku bersamamu. Kakak," Rossi memandangi sebuah tulisan yang tertera di sana. Matahari akan segera naik. Kehangatan nya mulai memudar.
"Kau tau. Aku tidak yakin kamu bisa memaafkan ku atau tidak. Tapi aku akan tetap meminta maaf padamu. Maaf mengenai Edgar. Jika aku tahu dia kekasihmu, aku tidak akan melakukan nya," Raut wajah Rossi berubah. Air matanya perlahan mengalir, jatuh ke tanah pekuburan itu.
"Tapi kakak. Seperti nya aku jatuh hati padanya. Apa aku boleh--, pasti tidak boleh bukan?" Rossi menyingkirkan air matanya dengan ujung jari mungilnya. "Jelas tidak. Maafkan aku."
Rossi sudah hidup selama tiga tahun dengan jantung Olivia yang berada di dalam dirinya. Siapa pun akan merasa bersalah jika berada di posisinya. Kenapa?
Cepat atau lambat dia memang harus melupakan Edgar. Dia tidak ingin mengkhianati pemilik jantungnya.
Rossi berdiri perlahan "Melihat kemarahan ayah tempo hari padanya. Apa hubungan kalian tidak berjalan baik," Rossi masih berdiri sedih disana. "Aku hanya ingin.. aku hanya tidak ingin kamu membenciku."
Sebuah pengkhianatan. Apa itu pantas diberikan pada seorang penyelamat hidupnya?
Rossi berbalik. Tatapannya terhenti pada seorang pria yang berdiri tidak jauh dari nya. Hanya berjarak empat batu nisan. Sangat dekat. Angin berhembus semakin kencang. Membuat beberapa dedaunan berlari mengikuti arah angin itu.
__ADS_1
'Edgar. Ternyata aku tidak salah melihatnya tadi,' batin Rossi. Saat di toko bunga, Rossi merasa ada yang memperhatikannya. Dugaan nya benar.
Dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya, Rossi berdiri mematung. Seakan ada sesuatu yang menahannya. 'Tidak. Aku tidak boleh tetap berada disini,' pikirnya.
Edgar menghampiri nya, bukan. Bukan Rossi. Tapi Olivia. Dia hanya melewati tubuh Rossi dan langsung terduduk lemas di samping batu itu.
Hanya angin dari hempasan tubuh Edgar yang datang menghampiri Rossi.
"Tidak. Ini tidak mungkin," kata Edgar, tangannya gemetar memegang tulisan yang terukir di batu nisan itu. Sudah sangat lama, sejak tangannya gemetaran seperti itu. Mungkin dia sudah lupa bagaimana caranya gemetar.
'Dia-- dia hanya melewatiku,' Rossi tersenyum. "Terimakasih." Itu sudah cukup baginya.
Sambil mengusap air mata dengan sebelah tangannya, Rossi kembali melirik ke arah nisan itu. Edgar masih tidak melihatnya, seakan dia tidak ada disana. Hanya pengganggu. Rossi bergegas pergi. Berlari meninggalkan tanah pekuburan itu.
Dia benar. Seharusnya sejak awal dia tidak berurusan dengan pria yang merindukan kekasihnya. Itu sia-sia. 'Bodoh.'
Kenyataannya dia memang tidak bisa menjadi siapapun dalam kehidupan pria itu. Bukan kekasih ataupun calon tunangannya. Hanya-- pelampiasan.
'Mungkin aku memang harus menyingkirkannya dari pikiranku,' gerutu Rossi.
Di ruang kerja Hans.
Hans bangkit dari kursinya, yang dikelilingi beberapa monitor komputer di sekitarnya. Rahel dan Hans kembali membahas hal yang serius. Kali ini mengenai Lion. Geng Lion. Yang selama ini di pimpin oleh ayah Rossi, Hans.
"Sayang. Menurutmu apa aku sudahi saja kepemimpinan geng ini?" Hans memeluk istrinya dengan begitu mesra dari belakang. "Dengan begitu, kita bisa hidup tenang dan tidak akan ada lagi yang terluka dan kehilangan."
"Aku akan mendukung semua keputusanmu."
Mereka berdua tersenyum. Saling percaya dan mempercayai sesuatu dalam hubungan itu sangat penting.
Matahari sudah hampir tenggelam. Rossi dan Sarah sudah cukup bersenang senang. Selama di perjalanan, Rossi menanyakan banyak hal pada Sarah, mulai dari pekerjaan ayahnya, geng lion, Olivia dan semua kisah itu. Rosi sudah bertekad. Sesampai di rumah.
"Ayah.." Rossi membuka pintu ruang kerja ayahnya. Terlihat ayah dan ibu nya dengan santai menikmati secangkir teh hangat mereka. Sangat damai.
"Sayang. Apa kamu sudah bersenang-senang, kemarilah. Kenapa hanya sendiri. Dimana Sarah?" Ucap Rahel sambil meletakkan cangkir teh itu kembali pada wadahnya.
__ADS_1
"Ya ibu. Aku sudah bersenang-senang, dan Sarah dia ada di bawah." Rossi berjalan mendekati mereka. Duduk di antara mereka. Sebuah keluarga, ada ayah ibu dan anak.
"Ada apa anakku? Sepertinya kamu menginginkan sesuatu. Kamu bisa meminta banyak hal." Hans membelai lembut rambut Rossi.
"Ayah. Ibu. Aku sudah memutuskan," Rahel dan Hans mendengar dengan seksama, "bahwa aku akan menjadi penerus ayah. Geng Lion!?"
"Apa? Rossi jangan bercanda, itu bukan hal yang bisa kamu putuskan begitu saja," Rahel membantahnya, "Ibu tidak setuju."
"Ibu.. aku yakin aku bisa, dan bukankah ayah juga berpikir begitu?" Rossi menatap ayahnya. Namun Hans hanya diam, sebenarnya dia memang ingin putrinya meneruskannya tapi dia tidak ingin kehilangan putri lagi.
"Hans." Rahel menghentikan lamunan Hans. "Kita sudah memutuskan nya bukan?"
"Ayah.. aku mohon," pinta Rossi.
"Tidak Rossi. Ayah juga tidak setuju, kamu bahkan tidak tahu apa pun dan kemampuan itu sangat jauh."
Dunia mafia sangat kelam, bukan dunia yang bisa dimasuki tanpa persiapan. Hans tidak akan membiarkan putrinya masuk dalam kegelapan sepertinya. Banyak strategi licik, pembunuhan, penghianatan dan kematian. Rossi belum bisa untuk itu.
"Ayah. Aku akan berlatih, aku akan mempelajari semuanya. Beri aku waktu satu bulan saja, jika nanti aku tidak memenuhi kriteria untuk jadi penerus. Aku akan mundur."
Rahel dan Hans saling menatap. Mereka masih ragu untuk meneruskan hidup bergelut dalam kegelapan. Namun melihat semangat putri mereka, ketidaksetujuan akan membuatnya kecewa.
"Baiklah. Ayah akan memberimu waktu untuk membuktikannya. Dan satu lagi, jika nanti kamu bisa mencapainya. Untuk menjadi penerusku, kamu harus punya pasangan." Hans tidak akan membiarkan gadis kecilnya berada dalam kegelapan itu sendirian.
"Pasangan?" Sontak yang terpikirkan oleh Rossi adalah Edgar. 'Tidak. Tidak bisa. Aku tidak mungkin-- dengannya,' pikir Rossi. Bayangan Edgar di pekuburan masih berbekas jelas di kepalanya.
"Baiklah ayah. Tapi aku akan tetap menjadi model," pinta Rossi. Hans mengangguk setuju.
"Terimakasih ayah, ibu.." Rossi mengecup pipi kedua orang tuanya sebelum keluar dari ruangan itu.
"Hans. Apa keputusan itu tepat? Aku takut hal yang terjadi pada Olivia---," Rahel cemas dengan keputusan itu.
"Tidak sayang. Tenang saja, semuanya akan baik baik saja." Hans yakin dengan keputusannya kali ini.
--***
__ADS_1