
Di pekarangan villa tersebut, seorang wanita berusaha berlari sekencang mungkin. Namun langkahnya kalah cepat dengan Edgar yang mengejarnya. Edgar mengambil pistol yang bersemayam dalam kotak kecil di pinggangnya.
Dor.
Satu tembakan diluncurkan, tepat mengenai kaki wanita itu. Dia meringkuh kesakitan dan masih berusaha ingin pergi dari sana.
"Haha. Aku memang tidak salah, Clara. Apa yang kau lakukan disini? Ingin bunuh diri?" Tanya Edgar dengan tertawa remeh menatap Clara yang kesakitan.
"Aku kesini untukmu, aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu dariku untuk kedua kalinya," jawab Clara menahan sakit.
"Merebutku dari siapa? Dasar wanita gila, aku bahkan tidak pernah menerima obsesi mu itu. Tapi bukankah kau sudah bertunangan dengan Geralderd? Kamu kesini apa tidak ingin perusahaan ayahmu lagi? Atau dia tidak tahu, hahaha. Bagus sekali," kata Edgar berjongkok di hadapan wanita yang tergeletak itu.
Clara menatap Edgar bingung, dia tidak mengerti maksud dari tawa pria itu padanya. Tak lama terdengar suara dari alat yang menggantung di telinga Edgar.
Pip.
"Ya?"
"Kami menemukan Mike terikat disini,"
"Mike? Oke tahan dia. Dan juga kirim seseorang untuk menyusulku. Ada wanita yang tergeletak disini. Bawa dan obati dia, lalu antarkan dia ke Paris, kediaman Gerald," kata Edgar menjelaskan sambil menyeringai menatap Clara.
"Baik."
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin kesana," kata Clara.
"Kau pikir aku peduli? Oh tidak. Bye!"
Edgar pergi meninggalkannya dengan langkah santai dan tidak menghiraukan setiap ucapan yang keluar dari mulut Clara yang tidak kunjung berhenti.
Villa itu tidak besar, bahkan Edgar hanya perlu waktu singkat untuk kembali ke dalam villa tersebut. Tepat di ruangan kecil tempat Rossi meninggalkan Mike, Edgar bertemu dengan Zeck.
Edgar dan Zeck berbincang dulu sebelum melangkah pada gerakan selanjutnya. Mereka sesekali melirik pada Mike yang sudah sadar dan tak henti berkicau, Zeck menyeringai kecil melihatnya. Suasana hatinya sedang baik, jadi dia ingin bermain dengan pria itu. Sedangkan Edgar menyusul Rossi untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu.
Pintu tertutup.
Zeck mendekat pada Mike yang terikat di kursi, langkah nya diikuti oleh dua anak buahnya. Dengan angkuh dia berdiri di depan Mike, salah satu pria yang berdiri di belakang Zeck memberikan sarung tangan padanya.
__ADS_1
"Ingin bermain denganku?" Tanya Zeck menatap Mike dengan begitu senang.
"Siapa kau? Beraninya kamu bersikap seperti itu padaku. Kau tidak aku tahu siapa aku?"
Zeck menyerngit kesal mendengar perkataan Mike padanya.
"Siapa dia? Apa kalian mengenalnya?" Tanya Zeck dengan seringai kecil di ujung bibir seksinya.
"Tidak tuan, kami tidak mengenalnya," jawab kedua anak buahnya.
"Lihat? Siapa dirimu?"
"Lepaskan aku, bocah sialan!"
'Bocah? Dia berani menyebutku bocah?' batin Zeck kesal.
Anak buahnya yang satu lagi membawa koper hitam di tangannya. Zeck mengambil koper itu dan membukanya di hadapan Mike. Isinya begitu menakutkan, banyak alat tajam disana dengan berbagai bentuk. Sontak melihat Mike gelisah dan ketakutan.
"Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan aku."
Mike tak henti-hentinya berkicau untuk di bebaskan. Yang pastinya itu adalah hal yang sia-sia. Zeck tertawa kecil, dia memakai masker dan mengambil dua pisau kecil dari dalam koper tersebut.
Dua anak buahnya membaringkan Mike di lantai dengan hanya tersisa celana pendek di tubuh pria itu. Zeck mendekat dengan membawa pisau kecil di kanan dan kiri tangannya. Anak buahnya menahan Mike agar tidak bisa bergerak.
"Aakkkkhhh."
Terdengar satu teriakan dari villa itu, membuat Edgar yang masih berada tak jauh dari sana bisa mendengar teriakan tersebut dengan jelas.
"Ternyata dia benar-benar ingin bermain, suasana hatinya pasti sangat baik. Pamanku yang malang," ucap Edgar sambil tertawa puas.
Edgar mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Vegan bekerja, bukan hanya bekerja tapi rumah sakit itu memang milik Vegan. Gedung kesehatan yang cukup besar, yang berada tidak jauh dari villa tersebut.
Jeck sudah ditangani dengan baik oleh Vegan, begitu dengan Rossi. Mereka berada di dalam ruangan yang bersebelahan. Rossi ditemani oleh Sarah, sahabatnya itu tidak henti berceloteh atas kejadian tersebut. Dia terus menyalahkan dirinya dan tidak mendengar pembelaan yang dikatakan Rossi untuknya.
Setibanya di rumah sakit itu, Edgar lebih dulu melihat Jeck. Dia ingin tahu bagaimana keadaan sahabatnya, karena terakhir kali dia melihat area tubuh Jeck yang tertembak itu membiru. Itu membuatnya cemas dan curiga jika peluru itu beracun.
Sementara itu Jeck masih belum sadarkan diri, ternyata dugaan Edgar benar. Peluru itu beracun. Jika terlambat sedikit saja, Jeck pasti sudah tidak ada di dunia ini.
__ADS_1
Setelah berbicara dengan Vegan mengenai kondisi Jeck, akhirnya Edgar merasa tenang. Jika Jeck akan baik-baik saja, dia keluar dari kamar itu dan beranjak ke kamar pasien di sebelahnya. Tempat Rossi berada. Sarah yang melihat kedatangan Edgar pamit untuk pergi, dia tidak ingin menjadi nyamuk untuk yang kesekian kalinya.
"Apa kamu sudah baik-baik saja?" Tanya Edgar berdiri disamping tempat tidur sambil menggenggam erat tangan Rossi.
"Ya aku baik-baik saja, kenapa wajahmu seperti itu," jawab Rossi tersenyum manis padanya.
"Aku takut. Bagaimana aku bisa menghasilkan keturunan jika terjadi sesuatu padamu."
Edgar menatap wanitanya dengan tersenyum nakal, lalu dia mencium lembut tangan Rossi. Mendengar perkataan itu, Rossi tertawa kecil dan mengalihkan pandangannya dari Edgar. Dia menatap keluar jendela, terbayang wajah kakaknya yang tersenyum manis padanya. Sama persis dengan yang dilihat nya di mimpi.
'Jika kamu ada disini, apa semuanya akan berbeda? Tapi, terimakasih kakak. Aku tidak akan mengecewakan orang yang kamu cintai. Karena aku juga mencintainya,' batin Rossi. Seketika air mata Rossi mengalir keluar, sontak itu membuat Edgar langsung cemas dan mendekatkan wajahnya pada Rossi.
"Ada apa? Kamu terasa sakit di suatu tempat? Katakan saja padaku," ucap Edgar dengan gelisah.
"Aku tidak apa-apa, hanya-- bahagia."
Edgar ikut bahagia melihat Rossi yang menatapnya dengan ketulusan dan kasih sayang, dia berniat untuk mencium Rossi. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Edgar berjalan menjauh dari Rossi, dia berdiri di depan jendela.
Kring. Kring.
Edgar menjawab panggilan itu dengan kesal.
"Apa?"
"Maaf tuan, kami sudah mengobati lukanya. Apa langsung dibawa ke Paris?"
"Ya. Lagi pula itu hanya luka kecil, dia tidak akan mati selama perjalanan yang hanya beberapa jam. Dan satu lagi, jika sudah sampai di kediaman Gerald. Beritahukan kepadanya jika wanita itu membunuh Jeck," perintah Edgar dengan tegas.
"Baik tuan."
Edgar mengakhiri panggilan itu dan kembali berada disamping Rossi.
"Kamu habis menghubungi siapa? Dan kenapa kamu mengatakan jika wanita itu membunuh Jeck? Terjadi sesuatu?" Tanya Rossi penasaran.
"Tidak ada, Jeck baik-baik saja. Kamu istirahatlah," Edgar mengecup bibir Rossi sebelum pergi dari ruangan itu. "Selamat malam sayangku."
Rossi tersenyum bahagia, jika saya tubuhnya tidak lemas berbaring di kasur itu. Dia sudah berniat ingin melompat ke dalam pelukan Edgar.
__ADS_1
--***