
Pagi hari, cahaya mentari cukup ampuh membangunkan Sarah yang tertidur di kamar. Tapi itu tidak bisa membangunkan sepasang kekasih yang tidur sambil berpelukan di sofa. Ya, Rossi dan Edgar. Mereka memutuskan untuk tidur di sofa itu. Berbagi kehangatan tanpa ada selimut yang menutupi mereka, untungnya pakaian mereka masih utuh.
"Hoaaa.. Dimana Rossi, tumben sekali dia bangun lebih cepat. Apalagi sekarang hari libur, dia bahkan tidur larut tadi malam," kata Sarah dengan mata masih belum utuh terbuka, dia berusaha untuk melewati setiap anak tangga dengan baik.
Tanpa mencuci wajahnya, Sarah mengambil air mineral di dalam lemari pendingin. Dengan rambut kusut, mata sembab. Jelas sekali baru bangun tidur dan tidak mandi.
"Oh tuhan," Sarah terkejut matanya menangkap Rossi dan Edgar tengah tidur di sofa. Berpelukan. "Apa yang mereka lakukan?"
Dengan langkah lebar, Sarah berjalan mendekat pada mereka. "Manis sekali. Kalian tidur disini, dan berpelukan seperti itu di depan jomblo sepertiku."
Sarah tersenyum licik, dia punya rencana untuk membangunkan kedua orang itu. Sarah mengambil pemantik yang berada di atas meja, pasti itu milik Edgar. Sarah melemparnya ke atas, tepat di sprinkler kebakaran yang berada tak jauh dari mereka.
Byur..
Air keluar dari alat itu, membasahi Rossi dan Edgar yang masih berada di sofa. Sontak air itu membuat Rossi terbangun, tapi tidak dengan Edgar. Rossi hendak beranjak dari sana, ingin menghindari air yang terus turun membasahi nya.
"Tidak. Tetap seperti ini saja," Edgar perlahan membuka matanya dan tangannya menahan Rossi agar tidak bisa pergi dari pelukannya.
Posisinya membuat Rossi berada di atas tubuh Edgar. Melihat wajah Rossi yang basah dengan air yang selalu mengalir di sana membuat Edgar tersenyum. Bibir mungil itu tampak seperti buah cherry yang terkena embun, sangat menarik perhatiannya. Edgar tidak tahan melihat nya, bibir itu memanggilnya.
Di bawah air yang masih memancur membasahi mereka, Edgar mendorong Rossi mendekat padanya. Mereka berciuman, seolah Rossi yang terlebih dulu menciumnya. Ciumannya tidak lama, Rossi menarik dirinya untuk duduk. Tapi gagal.
Edgar malah mengganti posisi mereka, dengan seringai di wajahnya. Rossi menjadi gugup saat Edgar mendekatkan wajah mereka.
"Morning my girl." Edgar mengecup kening Rossi. Rossi menjadi terpaku tak bergerak. Dia berpikir Edgar akan melakukan hal lain. Edgar mendekatkan bibirnya ke telinga Rossi, dia berbisik disana. "Cepatlah bangun, apa kamu akan terus berada di bawahku saat temanmu melihat kita dari tadi."
Rossi tersadar bahwa mereka tidak berdua dalam rumah itu. Ada Sarah. Dengan cepat Rossi langsung mengangkat tubuhnya duduk, membuat tubuhnya dan Edgar menempel. Rossi melihat ke sekitar, tak ada siapapun. Di menghela nafas panjang.
__ADS_1
Edgar melihat Sarah, berada tak jauh dari mereka. Bahkan sejajar dengan mereka. Tentu saja Rossi tidak melihatnya, Sarah berdiri di belakang Rossi . Dia menyipitkan matanya pada Edgar.
Edgar tertawa kecil melihatnya, dia akan memberi ruang untuk Rossi.
"Bangun lah. Aku ada urusan hari ini, jadi aku melepaskan mu," Edgar beranjak dari sana dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Oh ya. Aku akan menjemputmu nanti malam. Temani aku pergi ke suatu tempat," ucap Edgar berbalik ke tempat Rossi. Dia kembali mencium Rossi, tepat di bibirnya.
"Nanti malam? Aku tidak bisa, aku--," kata Rossi, namun Edgar memotong perkataan itu dengan menutup mulut Rossi dengan satu jarinya.
"Aku tidak menerima penolakan." Edgar berjalan pergi dari sana. Keluar dengan senyum puas di wajahnya. Mobil semalam masih berada di luar, menunggunya. Sopir itu sangat peka, dia langsung terbangun begitu mendengar ada orang yang membuka pintu mobil itu. Dengan cepat dia pergi dari villa itu begitu Edgar memberi perintah.
"Woah. Kalian begitu agresif, aku bahkan tidak menyangka nya." Sarah tiba tiba muncul dan mengagetkan Rossi dari belakang. "Rossi, dimana kamu belajar itu. Kamu bahkan menciumnya duluan. Wah wah wah."
"Sarah, apa yang kamu bicarakan. Aku tidak menciumnya. Dan ini," ucap Rossi menunjuk ke arah genangan air di atas meja. "Ulah mu bukan?"
"Konyol," ucap Rossi sambil melempar bantal sofa yang basah pada Sarah.
"Hei," ujar Sarah kesal. Dia berjalan mendekat pada Rossi dengan wajah marahnya. Tentu saja dia tidak akan marah, hanya bercanda.
"Tapi.. Apa kamu akan pergi dengannya nanti malam?" Tanya Sarah sambil duduk di samping Rossi.
"Ya. Lagipula kita tidak ada kegiatan bukan nanti malam?"
"Hah? Apa kamu lupa sayang, kamu nanti malam harus menghadiri pesta itu. Ingat?"
"Bukankah pesta nya besok malam." Rossi menatap Sarah dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Ah dasar pikun. Pestanya malam ini." Sarah menarik Rossi pergi dari sana. Tempat itu lembab. Terasa tidak nyaman.
"Tunggu. Bukankah itu bagus, aku bisa pergi dengannya ke pesta itu. Lagi pula ayah tidak ada disini bukan?" Ucap Rossi sambil mengangkat alisnya pada Sarah, meyakinkan rencananya itu.
"Kamu sudah bisa memberontak sekarang ya." Sarah kembali tersenyum menatap Rossi. "Ya itu bisa saja, terserah apa mau mu. Tapi bagaimana dengan Joshua?"
"Itu--. Kakak.. Apa kamu bisa membantuku." Rossi memasang wajah manjanya pada Sarah. Berniat merayunya.
"Kamu hanya akan memanggil ku kakak jika ada mau nya saja." Sarah berjalan menjauh dari Rossi.
"Ayolah. Lagi pula, bukankah pesta itu terlihat seperti pesta yang biasa saja bagi orang luar. Bukan, Edgar juga seorang pebisnis. Dia pasti wajar ada disana. Dan kemungkinan besar dia juga mendapatkan undangannya. Kakak ku yang cantik.." Rossi mengikuti dimanapun Sarah berpindah tempat.
"Oke oke. Tapi jika nanti Mr Hans marah, aku tidak akan tanggung jawab," ucap Sarah sambil menepuk bahu Rossi dan berjalan melewatinya. Rossi hanya mengangguk, meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.
Rossi dan Sarah hanya menghabiskan waktu di rumah, mereka tidak pergi kemanapun. Rossi juga sudah meyakinkan dirinya, jika Edgar benar benar sudah tidak mencintai Olivia lagi. Butuh waktu setengah hari, Rossi tidak henti memikirkan itu dan akhirnya memutuskan untuk tetap menjalin hubungan dengan Edgar.
Malam hari, Rossi sudah berdandan. Sangat cantik, seperti seorang putri raja. Sarah memang ahli dalam mendandani seseorang.
"Jadi Sarah. Apa Joshua tidak keberatan jika aku membatalkan untuk pergi dengannya?" Kata Rossi setelah Sarah selesai merapikan gaunnya.
"Ya. Dia tidak keberatan, tapi dia ingin tahu kamu pergi dengan siapa. Mungkin dia sudah ada di bawah sekarang," ucap Sarah sambil melihat ke arah jam dinding yang berada tak jauh dari penglihatannya.
"Apa?" Rossi langsung melihat ke luar jendela, ada dua mobil di sana. Dan dua pria yang tengah berdiri berhadapan. 'Oh tidak,' batin Rossi.
Rossi bergegas menuruni tangga berniat menghampiri dua pria itu. Raut wajah mereka terlihat jelas sangat tidak bersahabat. Rossi cemas jika mereka akan berkelahi lagi. Dan ya, Rossi terlambat. Mereka sudah berkelahi.
--***
__ADS_1