
Di kediaman Edgar, Paris.
Sebuah meja dan sepasang kursi yang terletak di tengah tengah labirin berdaun hijau. Tempat itu berbentuk seperti kotak, yang setiap sudutnya dihiasi dengan air mancur kecil. Terdapat patung di setiap air mancur yang membuat nya tampak sangat menawan.
Edgar sedang duduk disana dengan pikiran yang bercampur aduk dan dia tak bisa tenang. Dengan perasaan gelisah dan seakan tidak percaya, dia menatap sehelai kertas dan beberapa foto yang terdapat di atas map yang berada di meja.
Bunga bermekaran di sekeliling labirin hijau berdaun yang berada di sekitar Edgar. Dari yang berwarna merah, merah muda, putih bahkan biru. semuanya sangat harum, tapi tetap tidak bisa membuat pikiran Edgar menjadi tenang.
Tak lama waktu berselang, seorang pria dengan pakaian kasual hanya memakai baju kaos polos muncul dari pintu labirin yang berpagar besi ke tempat itu.
"Apa yang kau pikirkan? Kamu tidak berbicara sedikitpun semenjak pulang dari Yvelines kemarin. Ada apa?" Jeck duduk di kursi yang berseberangan dengan Edgar, "apa dia mengatakan sesuatu padamu?"
"Hmm. Entahlah, aku masih tidak percaya," Edgar mendorong berkas kertas dan foto itu pada Jeck, "Jika memang Olivia putri mr.hans bukankah seharusnya itu baik bagi pak tua itu, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahukannya padaku."
Jeck terkejut melihatnya. Kertas itu bertuliskan identitas lengkap Olivia. Dan foto foto yang terdapat bersamaan dengan kertas itu menunjukkan foto Mr.hans bersama Olivia, sangat akrab.
"Ini.. apa ini asli, bisa saja dia mengeditnya seakan benar. Edgar menurut ku sebaiknya kamu menanyakan sendiri pada ayahmu. Dia pasti tau sesuatu," Jeck memasukkan kembali berkas itu ke dalam map nya, "dan mengenai Rossi. Apa kamu ingin mendengarnya?"
"Rossi.. Ahh.. Aku hampir melupakannya," Edgar kembali tersadar bahwa dia sudah memiliki wanita baru, "Apa dia baik baik saja?"
"Hmm begini.. Jadi saat Willy dan anggotanya sampai di tempat Rossi di culik. Mereka tidak menemukan Rossi di manapun dan malah saat mereka datang sudah banyak mayat disana. Dan salah satunya wanita. Dia adala--."
"Apa maksudmu? Rossi…," Edgar langsung berdiri dari kursinya, "Tidak mungkin!"
"Hei hei tenanglah. Apa kau tidak mendengarku dengan baik, aku sudah mengatakan bahwa Rossi tidak ditemukan. Oke?" Jeck langsung menjelaskan lagi pada pria itu.
__ADS_1
"Jadi wanita itu?" Edgar kembali duduk di kursinya.
"Ha katanya wanita itu mengenal Rossi. Aku juga tidak tahu detailnya," Jeck mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Aku akan kembali hari ini ke kota S dan mencarinya sendiri," Edgar berjalan pergi meninggalkan Jeck sendirian.
Di kamar Edgar.
"Tuan. Jika tuan pergi hari ini, bagaimana dengan rapat besok. Itu adalah rapat penting. Jika anda tidak datang kemungkinan tuan Joshua akan mengambil alih," Seorang wanita berdiri di belakang Edgar.
"Biarkan saja," Edgar keluar dari kamar itu diikuti oleh dua pelayan yang membawa barang barang miliknya, "Aku akan berbaik hati membiarkannya kali ini."
Los Angeles
"Katakan saja aku tidak bisa menghadiri nya atau tunda saja," Seorang pria sedang sibuk memeriksa beberapa berkas yang berada di atas meja kerjanya, "Satu lagi. Atur keberangkatan ku besok ke kota S."
'Lebih baik aku bertemu dengan wanita itu terlebih dahulu. Pria sialan itu pasti sedang di Paris sekarang,' pikirnya.
Bandara Internasional di kota S.
Rossi berjalan dengan langkah yang sedikit lemas, di dampingi oleh sahabatnya Sarah dan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Dengan memakai kaca mata hitam dan memakai masker Rossi mulai melangkah masuk ke dalam pesawat.
Sebelumnya di dalam mobil.
Sarah fokus mengemudi dengan kecepatan sedang, lalu tiba tiba berhenti di tepi jalan di bawah pohon besar yang hampir mati.
__ADS_1
"Rossi. Di dalam kotak yang berada di sampingmu ada pakaian. Gantilah bajumu," Sarah membuka laci mobilnya, dia mengambil kotak p3k dan memberikannya pada Rossi, "dan cepat obati wajahmu itu."
Rossi masih merasa letih dan sangat kebingungan, tangannya pun masih sakit. Jejak tali yang mengikat tangannya masih berbekas jelas. Sedikit pilu.
"Ha? Kenapa? Sarah tidak bisakah kamu memberitahu kan pada ku apa yang terjadi barusan."
"Rossi ayolah. Kita tidak punya banyak waktu, pesawatnya akan berangkat sebentar lagi," Sarah melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Tunggu. Tunggu. Pesawat? Tidak, Tidak. Aku tidak akan ganti baju sebelum kamu menjelaskan semuanya padaku," Rossi berusaha menggali informasi yang membuatnya kebingungan.
"Rossi..," Sarah berbalik dan menatap mata Rossi serius, "Kita akan menemui orang tuamu. Jadi sebaiknya cepat ganti bajumu itu. Apa kamu akan bertemu mereka dengan pakaian dan penampilan seperti itu?"
"Sungguh?" mata Rossi terbelalak seakan tidak percaya. Dia bahkan tidak ingat bagaimana wajah orang tuanya. Karena dia hanya mengingat masa kecilnya yang membuatnya seakan langsung menjadi dewasa. Kehidupan remaja dan dewasanya hanya dia ketahui dari cerita Sarah, sedangkan Rossi tidak tahu apa pun.
Dengan cepat Rossi membersihkan dirinya dan berganti pakaian sementara Sarah melajukan mobilnya menuju bandara.
Di dalam pesawat.
"Hmm Sarah.. Apa mereka membenciku?" Rossi melepaskan kacamatanya dan menatap ke luar jendela, "Maksud ku apa aku boleh mengunjungi mereka seperti ini?"
"Rossi apa yang kamu bicarakan. Mereka sangat menyayangimu, aku tau itu," Sarah memberikan sebotol air mineral pada Rossi. "Minumlah. Dan berhenti berpikir yang tidak tidak."
Rossi hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian setelah Rossi meminum air yang diberikan Sarah, dia tiba tiba tertidur.
__ADS_1
"Maaf Rossi. Kamu lebih baik istirahat dan tidak banyak berpikir," Sarah memasukkan obat tidur ke dalam air itu. Dan dia pun juga memulai tidurnya.
--***