Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.42


__ADS_3

Rossi dan Edgar, di apartemen mewah milik Edgar. Mereka kembali bercinta, seperti biasa. Rossi juga belum menanyakan perihal kotak itu. Dia seakan di hipnotis untuk mengikuti semua kegiatan Edgar, lebih tepatnya menikmati.


Pagi hari, tak ada cahaya matahari yang masuk menghampiri mereka. Tirai coklat yang tergantung menutupi jendela kaca besar menghalangi cahaya yang masuk.


"Manis.." Edgar terbangun di samping Rossi, dia sengaja menghadapkan tubuhnya pada Rossi. Menikmati keindahan makhluk Tuhan yang sedang tidur di depannya.


Edgar perlahan mengelus lembut wajah Rossi dengan jarinya yang panjang dan besar. Dia tersenyum.


"Aku akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya. Sesegera mungkin," ucap Edgar sebelum mengecup kening Rossi.


Edgar hendak beranjak dari sana, dia orang sibuk. Banyak urusan yang harus dilakukan oleh seorang pengusaha sepertinya. Apalagi dia juga harus menyelesaikan masalah di geng eagle. Pamannya, Mike membuat keributan di markas besar eagle di italia.


"Tunggu.." kata Rossi lirih sambil memegangi tangan Edgar. Dia menahannya agar tetap pergi.


"Bisakah kamu tetap disini, sebentar saja," pinta Rossi padanya. Mendengar permintaan itu, Edgar kembali berbaring di samping Rossi. Dia memeluk Rossi dalam dekapannya.


"Ada yang membuatmu gelisah sayang ku?" Ucap Edgar sambil memainkan rambut panjang rosi dengan jarinya.


"Ya. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apakah boleh?" Rossi mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah tampan Edgar.


"Tentu saja, kamu bisa menanyakan banyak hal. Apa ini tentang kakakmu lagi? Kamu memikirkannya." Edgar menghentikan jarinya yang bermain di rambut Rossi, menarik tangannya dan mendarat di wajah Rossi.


"Bukan hal yang sepenuhnya berhubungan dengannya, tapi mungkin memang ada kaitannya dengannya. Kenapa ayah sangat marah padamu?" Rossi mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin melihat wajah Edgar saat mendengar pertanyaan itu darinya.


"Aku membunuh Olivia."


Sontak jawaban itu membuat Rossi langsung memandangnya kembali. Ekspresi wajah nya sangat jelas, Rossi menjadi semakin heran. 'bagaimana mungkin Edgar membunuh nya, dia bahkan sangat mencintainya. Hingga mencarinya selama ini,' pikir Rossi.


"Jangan bercanda. Itu mustahil jika kamu yang membunuh Olivia. Kamu sangat mencintainya." Rossi memelankan suaranya saat mengucapkan kalian yang terakhir. Itu cukup memberatkan dirinya.


"Apa? Kamu bahkan masih meragukan ku." Dengan mengangkat dagu Rossi dan langsung mendaratkan ciumannya di bibir Rossi. Dia menggigit Rossi.


"Ahh. Apa kamu menggigit bibirku." Rossi merasakan perih di bibirnya.


"Itu hanya hukuman kecil untukmu karena sudah meragukan ku. Aku tidak ingin kamu mengucapkan kalimat itu lagi. Dan mengenai pertanyaan yang kamu ajukan tadi. Itu lah yang dipikirkan oleh ayahmu. Aku membunuhnya."

__ADS_1


"Kenapa ayah berpikir begitu. Memangnya apa yang terjadi?"


"Aku akan menceritakan nya padamu saat aku punya bukti. Dan selama aku mencari bukti, aku hanya butuh kepercayaanmu. Percaya bahwa aku bukan pembunuh nya dan percaya jika AKU MENCINTAIMU."


Edgar memeluk erat tubuh Rossi sebelum dia beranjak dari tempat tidur itu. "Ya. Aku percaya-- (dengan ucapan yang pertama)," kata Rossi pelan.


"Terima Kasih," ucap Edgar lembut. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara Rossi berusaha untuk menjawab pertanyaan nya sendiri.


Tak berselang lama, Edgar sudah sangat rapi dan tampan. Oh tidak, dia memang selalu tampan. Bahkan bangun tidur saja aura nya tetap memancarkan ketampanannya.


"Aku ingin mengurus sesuatu, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu. Aku akan menelpon Willy kemari untuk menjemputmu nanti"


"Tidak. Tidak usah. Aku bisa menghubungi Sarah. Pergi lah, nanti kamu akan terlambat. Aku ingin istirahat sebentar lagi."


"Kelinci pemalas," ejek Edgar pada Rossi. Tapi Rossi tidak menjawabnya, dia hanya menarik selimut untuk menyembunyikan dirinya.


"Aku pergi. Jika nanti kamu membutuhkan sesuatu, hubungi aku." Edgar mengambil jas hitamnya dan pergi dari ruangan itu.


"Hmmmm.." hanya itu jawaban Rossi.


Dia menghubungi seseorang.


"Aku ingin informasi detail Edgar, Joshua, Jane, dan Clara. Semuanya, dan juga kejadian yang menimpa Olivia."


"Baik nona." Seorang pria dari seberang telepon menjawabnya segera.


Panggilannya berakhir.


"Aku akan mencari tahu semuanya sendiri." tekad Rossi sambil menggenggam erat ponsel di tangannya. Rossi tidak akan menunggu lagi, apalagi dia adalah ketua geng lion yang punya kekuatan untuk mencarinya sendiri.


Rossi menelepon Sarah untuk menjemputnya, dan tak lupa juga mengingatkan Sarah untuk membawa pakaiannya. Tidak ada pakaian wanita di sana, di lemari putih besar milik Edgar hanya menampung pakaian pria itu.


'Apa dia tidak pernah membawa wanita kesini. Mungkin Olivia?" Batin Rossi.


Tak lama kemudian, Sarah akhirnya sampai. Dia membawa baju ganti untuk Rossi.

__ADS_1


"Wow. Apa kamu pembalap, sangat cepat kamu sampai disini," ucap Rossi sambil mengambil tas berisi pakaian yang dipegang oleh Sarah.


"Apa kau tidak tahu, apartemen ini sangat dekat. Mungkin jika aku berlari kesini waktunya sama saja dengan aku menggunakan mobil."


"Ho benarkah?" Ujar rossi sambil melangkah menjauh dari Sarah. Dia ingin memakai pakaiannya, hanya handuk yang menutupi dirinya.


"Tapi aku bahkan tidak memberitahukan mu alamatnya, aku hanya menyebutkan namanya."


"Oh itu. Tentu saja aku tau, aku pernah kesini sebelumnya. Saat itu aku menjemput Olivia kesini, tapi hanya di depan gedung ini. Dia sudah menungguku disana. Ya kamu tahu Rossi, kakakmu punya kekasih. Tapi sayang sekali aku belum pernah bertemu dengannya." Sarah membaringkan tubuhnya di sofa.


"Siapa bilang kamu belum bertemu dengannya, bahkan semalam saja kamu melihatnya." Rossi tertawa kecil. Dia baru ingat jika Sarah tidak tahu Julian itu adalah Edgar.


"Hah? Benarkah? Apa dia lewat di depan villa semalam?"


"Haha. Bukan hanya lewat, dia bahkan tidur di villa itu kemarin."


"Jangan bercanda Rossi. Yang di villa kemarin hanya Edgar--. Eh tunggu, Edgar. Apa maksudmu Edgar Julian Stevenson? Mereka adalah orang yang sama?" Ucap Sarah langsung bangkit dari sofa.


"Ya. Mereka orang yang sama." Rossi menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di sana. Sudah rapi dan cantik. "Ayo kita pergi, aku lapar."


"Wah. Astaga, oh tuhan. Aku masih tidak percaya dengan apa yang ku dengar. Kekasih mu adalah Edgar dan kekasih kakakmu adalah Julian. Edgar dan Julian adalah orang yang sama. Ini hanya kebetulan atau takdir?"


Rossi tempat terhenti mendengar pertanyaan pada akhir kalimat Sarah.


"Takdir? Mungkin," jawabnya. "Berhentilah berpikir dan kita pergi sekarang. Aku sudah sangat lapar." Rossi menarik Sarah untuk segera pergi dari sana.


Di mobil, mereka sudah kembali dari sebuah restoran untuk menghilangkan laparnya. Namun Sarah masih tidak hentinya membicarakan hal yang mereka bahas di apartemen. Hingga Rossi mengubah topik pembicaraan,


"Apa kita bisa menembak disini? Rasanya aku ingin menembak bersamamu," pinta Rossi untuk membungkam mulut Sarah yang tak henti berkicau.


"Tentu saja. Aku akan menemani mu."


Akhirnya Rossi bisa merasakan ketenangan.


--***

__ADS_1


__ADS_2