
Ruangan yang begitu sederhana, hanya diisi oleh beberapa kursi empuk dengan sudut ruangan itu sengaja dikosongkan. Tempat Hans Alexandra berbaring saat ini. Tubuhnya dibalut perban, dia tidak ingin berbaring. Edgar masuk ke ruangan itu, tatapan Hans masih terlihat tidak menyukainya.
Vegan menyadari situasi yang terjadi, dia seharusnya tidak disana.
"Hmmmm.. Aku akan menunggu di luar," ucap vegan tersenyum sebelum berbalik keluar dari ruangan itu.
Edgar dan Hans tidak menjawab apa pun. Mereka hanya diam.
"Ada apa Vegan? Kenapa kamu keluar? Apa ayahku baik baik saja?" Tanya Rossi masih cemas.
"Tidak tidak. Ayahmu baik baik saja, tapi sepertinya mereka akan membicarakan hal yang serius. Jadi aku tidak seharusnya mendengar," jelas Vegan pada Rossi.
"Hmmm," gumam Rossi.
Ruangannya menjadi canggung, Edgar berdiri diam dan Hans juga diam dengan tatapannya yang lurus ke depan. Hingga Edgar membuyarkan kecanggungan itu.
"Bagaimana keadaan anda Mr Hans?" Tanya Edgar memulai pembicaraan.
"Aku baik baik saja, tembakan ini tidak berarti apa apa bagi ku," jawab Hans dengan penuh keyakinan.
"Aku tau kamu tidak bersalah, kamu juga tidak perlu menjelaskan apapun padaku atas kematian Olivia. Aku hanya tidak tahu ingin menyalahkan siapa, putri ku di tembak di depan mataku. Dan juga-- terdapat banyak luka dan memar di tubuhnya. Aku tidak bisa melupakan itu."
"Aku mengerti apa yang anda maksud Mr, tapi itu semua juga salahku. Aku tidak bisa menjaganya, jika saja aku tidak selemah saat itu. Olivia pasti masih ada sekarang," lanjut Edgar.
"Hah. Sudahlah, aku tidak akan mempermasalahkan itu sekarang. Aku yakin kamu sudah tahu apa yang terjadi, jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Rossi juga harus tau tentang perihal ini, libatkan lah dia dalam mengatasi nya. Dan juga-- jaga dia. Jika putri ku terluka lagi atau-- aku kehilangan nya, aku tidak tahu akan menyalahkan siapa. Apa diriku atau dirimu lagi," jelas Hans sambil menatap ke arah Edgar.
"Aku bisa menjaminnya. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik, dan tidak akan membiarkan dia terluka sedikitpun," kata Edgar serius.
"Aku pegang ucapanmu sebagai ketua geng eagle," Hans tersenyum padanya.
"Terimakasih Mr," balas Edgar.
Di luar ruangan itu, di depan pintu. Rossi menyandarkan kepalanya ke permukaan pintu, telinganya berusaha menangkap pembicaraan yang sedang berlangsung antara Edgar dan ayahnya.
"Apa yang mereka katakan. Aku bahkan tidak mendengar apapun," ucap Rossi kecewa.
Walaupun tahu jika dia tidak mendengar nya, rosi tetap berusaha untuk mencari tahu.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka. Rossi terdorong ke depan, untung saja Edgar dengan sigap menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.
"Apa kamu seorang penguntit?" Ejek Edgar pada Rossi.
"A-apa sih, siapa juga yang menguntit. Aku hanya menunggu di depan pintu," jawab Rossi membela diri sambil berdiri lagi dengan stabil.
"Keluar, biarkan ayahmu istirahat."
"Siapa kau melarangku," Rossi mendongakkan kepalanya, menantang Edgar.
Edgar menaikkan salah satu alisnya, kembali menatap tajam pada Rossi. Dia berjalan mendekat ke Rossi. Dan menunduk, Edgar berbisik di telinga Rossi.
"Kamu ingin aku melakukannya disini?" Goda Edgar diiringi senyum nakal di wajahnya.
"Kau!? Mesum," ucap Rossi menatap tajam ke arah Edgar.
"Ayah, apa aku--," ucapan Rossi terhenti saat melihat ke arah ayahnya. Hans sudah berbaring dan menutup matanya. Entah itu sungguh sudah tertidur atau belum. Baru beberapa menit yang lalu dia berbicara dengan Edgar, tapi sudah tidur. Mencurigakan.
"Lihat, ayahmu sudah tidur. Jadi biarkan saja dia istirahat," ucap Edgar.
Edgar mendorong Rossi keluar dan menutup pintu itu kembali. Rossi memasang wajah kesal ke Edgar.
"Hah. Baiklah, ikut denganku."
Edgar melangkah menjauh dari ruangan itu, diikuti oleh Rossi di belakangnya.
Di perempatan lorong, Rossi menabrak punggung Edgar karena pria itu tiba-tiba berhenti. Dia berbalik ke arah Rossi, dan langsung menggendongnya.
Edgar melangkah sambil menggendong Rossi dalam dekapannya.
"Sampai kapan kamu kan berjalan seperti itu," ucap Edgar ketus padanya.
"Turunkan aku, aku bisa berjalan dengan kaki ini," balas Rossi.
"Apa aku terlalu memanjakanmu, kamu menjadi sering membantahku. Bagaimana jika aku menghukummu saja."
Rossi tidak akan berdebat dengan pria itu, terlalu membebaninya. Dia hanya harus tahu apa yang terjadi.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan Edgar. Kita hanya akan membahas apa yang terjadi, dan aku tidak akan menerima hukuman dari mu lagi."
__ADS_1
"Oh ya? Benarkah? Apa kamu bisa melarikan diri dari hukumanku," ucap Edgar diiringi seringai kecil di wajahnya.
"Kau?!" Rossi tidak akan berkata lagi.
Di perempatan jalan yang tegak lurus dengan arah Rossi dan Edgar, seorang pria tengah bersandar santai di dinding lorong lain. Mendengar pembicaraan Edgar dan Rossi.
"Dia memang manja sejak kecil," ucap nya masih menatap kepergian Edgar dan Rossi yang semakin menjauh dan hilang di ujung lorong.
Pria itu berjalan ke lorong yang sudah dilalui oleh Edgar dan Rossi, ruangan Hans Alexandra berada. Tidak ada penjaga disana, sepertinya itu adalah perintahnya. Dia tidak ingin terlihat mencolok, lagi pula sudah banyak orang yang berjaga. Siapa yang dengan bodoh mengantarkan nyawanya kesana.
Pria itu masuk ke ruangan Hans tanpa mengetuk pintu atau semacamnya.
"Aku tahu kamu tidak tidur," kata nya sambil berjalan mendekat pada Hans setelah menutup kembali pintu itu.
"Bocah tengil, kamu sangat tidak tahu sopan santun. Beginikah caramu berbicara dengan orang yang sudah merawatmu selama ini," balas Hans tanpa membuka matanya.
"Ah paman. Apa aku masih terlihat seperti bocah, aku sudah tumbuh. Aku sudah setampan ini, dari sisi mana terlihat seperti bocah," jelasnya tidak suka dipanggil dengan sebutan 'bocah'.
"Kenapa kamu kembali?" Tanya Hans.
"Aku rindu padamu," goda nya.
"Berhenti bercanda Zeck, kamu tidak lihat apa yang sudah terjadi. Apa kamu tidak akan mengatasinya."
Akhirnya Hans membuka matanya, dia bangun perlahan untuk duduk dengan dibantu oleh Zeck.
Zeck Alexandra, putra dari Rosemary Allover. Kakak Hans Alexandra. Rosemary merupakan istri Demian, yang marganya diubah oleh Demian dari Alexandra menjadi Allover. Itu terjadi saat Demian membawa Rosemary secara paksa saat itu. Tepat saat pemakaman suaminya, ayah Zeck.
"Aku kembali-- tidak, aku hanya sudah menyelesaikan urusanku di Korea. Apa salahnya jika aku ingin pulang."
"Haha. Kau sangat terlihat seperti bocah saat berbohong, jujur saja. Kamu kembali karena mendengar kabar tentangnya bukan," ucap Hans serius menatap ke arahnya.
Zeck tidak menjawab, dia hanya tertunduk sebelum berjalan pergi.
"Cepat sembuh," ujarnya sambil melangkah menjauh dari Hans. Di depan pintu, langkah Zeck terhenti.
"Aku tahu kenapa kamu kembali, tapi aku ingatkan. Jika kamu ingin membalasnya, jangan balaskan dendam mu pada Joshua. Dia tidak tahu apapun," jelas Hans.
Zeck hanya diam dan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
--***