
Menjelang tengah malam, Rossi dan Edgar tiba di mansion nya. Mansion mewah milik Edgar. Yang awalnya tidak ada orang, tapi saat mereka datang. Sudah ada yang menyambut mereka, Bi Yona dan beberapa anggota pelayan lain yang pernah dilihat oleh Rossi saat berada di kota S.
Edgar tak ingin berlama-lama. Dengan mudahnya dia menggendong Rossi dan membawa nya ke lantai atas. Kamar tidur.
Edgar menghempaskan tubuh Rossi di atas tempat tidur. Dengan senyum nakal di wajahnya, Edgar menindih tubuh Rossi di bawahnya. Dia menghujam Rossi dari wajah hingga dadanya dengan banyak kecupan kecil.
"H-hh-hentikan," ucap Rossi mendorong Edgar menjauh darinya.
Edgar menatap Rossi bingung, apa dia melakukan kesalahan. Rossi menatapnya, lalu tersenyum. Edgar mendengarkannya.
"Lebih baik kita mandi dulu, tidak lihat badanmu berkeringat. Begitu juga denganku, lagi pula rasanya aku masih mencium bau darah." Rossi menjelaskan.
"Oke. Kupikir kamar mandi juga tempat yang cocok," balas Edgar padanya.
Edgar menyeringai puas dan mengangkat tubuh Rossi berada dalam pelukannya.
"Hei. Bukan itu maksudku, turunkan aku," ronta Rossi.
"Muach." Edgar meninggalkan kecupannya di bibir Rossi. "Kita sudah lama tidak ada melakukannya, bukankah sekarang waktu yang tepat. Tidak akan ada lagi yang mengganggu."
Dengan perasaan senang, Edgar masuk ke kamar mandi dengan Rossi yang berada dalam gendongannya. Bukannya mandi untuk membersihkan tubuh, mereka malah bermesraan di kamar mandi. Tidak bisa menahan diri.
Sementara itu di mansion lain, mansion Zeck. Dia bergegas ke kamarnya. Tempat Jane berada. Pintu itu terkunci, Jane menguncinya. Pintu itu sudah dirancang dengan keamanan pin code yang hanya bisa di buka menggunakan pin atau dibuka dari dalam. Dan akan terkunci otomatis saat ditutup.
"Apa yang dia lakukan," kata Zeck kesal saat memasukkan pin untuk membuka pintu.
Tepat saat dia masuk, dia tidak melihat Jane. Tidak ada di atas tempat tidur, juga tidak ada di kursi. Tak ada terlihat dalam pandangannya, tampak kecemasan di wajah pria itu. Dia memeriksa ke kamar mandi.
Seorang wanita yang hanya memakai handuk, tergeletak di lantai. Zeck bergegas menghampiri membawanya ke tempat tidur.
"Jane. Jane, bangun."
Zeck berusaha membuat Jane terbangun, tapi tidak berhasil. Wajah wanita itu pucat pasi, bibirnya begitu kering dan hampir menghilangkan rona merah mudanya. Zeck memeriksa nafasnya, berpikir jika Jane sudah tidak ada.
"Untung saja masih bernafas, cepat panggil Deon kemari." Zeck berteriak marah pada salah satu pelayan yang berdiri di ambang pintu. Dengan cepat dia pergi.
__ADS_1
Tak lama, seorang pria bernama Deon masuk bersama dengan satu perawatnya dan dengan segera memeriksa keadaan Jane.
"Dia kenapa?" Tanya Zeck yang duduk di atas tempat tidur. Tepat di samping tubuh Jane.
"Haha, aku pikir ada yang terluka parah atau semacamnya. Membuat kau bereaksi seperti itu," jawab Deon sebelum mengarahkan para perawat untuk memasang infus pada Jane.
Zeck tak berkata lagi, dia hanya menatap tajam melihat Deon. Dia membuat suasana menjadi begitu menakutkan dengan tatapannya itu. Deon menyerah, seharusnya dia tidak bercanda pada pria yang mencemaskan wanita.
"Oke. Oke. Dia hanya kekurangan asupan, apa kau tidak memberinya makan?" Lanjut Deon.
"Kau pikir aku kekurangan uang hingga tidak bisa memberinya makan," jawab Zeck kesal.
"Hei. Aku hanya menjelaskan, dia seperti tidak makan apapun seharian ini. Atau sejak kemarin."
Zeck menyerngit heran, bahkan dia tahu jika pelayannya selalu rajin bolak balik mengantarkan makanan untuk Jane. Karena Jane tidak ingin keluar dari kamar itu.
Dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat, Zeck keluar dan menyuruh semua pelayan yang melayani Jane ikut dengannya.
Di ruang kerjanya Zeck.
Dengan satu gerakan saja, semua berkas yang ada di atas meja termasuk vas-vas kecil kesayangannya. Semua nya berserakan di lantai karena Zeck menyingkirkan semua itu dengan tangannya.
Semua orang yang berada disana, menunduk ketakutan.
"Apa kalian tidak bisa mengurus wanita kecil saja, dimana otak kalian? Tidak bisa berpikir kenapa dia bisa seperti itu," ucap Zeck begitu marah.
Tak ada yang berani menjawabnya, entah apa yang akan terjadi jika ada yang berani menjawab.
Kepala pelayan akhirnya angkat bicara, seorang wanita.
"Maaf tuan. Ini kelalaian saya. Setiap kali waktu makan, nona Jane tidak pernah menghabiskan makanannya, bahkan sesekali kami ingin mengganti makanan lagi. Dia tidak memakannya, bahkan tidak menyentuh makanan itu, dan--"
Zeck mencekik wanita itu dengan satu tangannya, mengangkatnya di udara. Dia hampir kehabisan nafas karena melayang. Mungkin akan tiada sebentar lagi jika tidak dilepaskan.
"Dan tidak ada yang memberitahukan nya padaku," kata Zeck geram.
__ADS_1
"Ampun tuan, maafkan saya."
Zeck menghempaskan nya ke lantai.
"Aku akan mengampuni kalian kali ini, tapi jika ada hari lain. Jangan harap bisa melihat matahari esok hari," ucapnya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Semua orang ketakutan, mereka serasa sudah hampir mati karena sesak menahan nafas melihat tuannya yang begitu menyeramkan saat marah. Dan juga pakaian Zeck yang berlumuran darah membuat mereka tambah ketakutan.
Zeck kembali ke kamarnya, dia membersihkan diri sebelum tidur. Zeck tidak tidur kasurnya, tapi di sofa, Zeck takut jika nanti dia akan mengganggu dan mengusik istirahat Jane.
Malam terasa berlalu begitu cepat, matahari sudah membuat langit berwarna ke-jinggaan. Dia akan segera terbit, untuk menyinari setiap sudut kota itu.
Cahayanya menyentuh mata Jane, membuatnya terbangun. Wajahnya tidak sepucat kemarin, dan pelayan juga sudah memasangkan baju pada tubuh Jane.
Jane terbangun dengan tangannya yang masih terpasang kan selang infus. Dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi, dia merasa pusing kemarin dan tiba-tiba pingsan sehabis mandi.
"Kenapa aku ada disini," ucapnya pada diri sendiri. Dia melihat ke sekitar ruangan itu, dan tatapannya terhenti pada sosok pria yang sedang tidur di sofa.
"Apa dia yang--, ah sudah lah. Lebih baik aku memberikan selimut padanya," kata Jane lembut.
Jane tidak memperdulikan dirinya, dia mencabut selang infus itu dari tangannya. Dia sudah merasa baik-baik saja. Dengan tubuh yang masih terlihat lemah, dia berjalan dengan begitu lunglai ke arah Zeck sambil membawa selimut dan menutupi tubuh Zeck dengan kain lembut itu.
Tiba-tiba Zeck menangkap tangan Jane, dengan begitu erat. Dia mengigau.
"Tidak, jangan bawa dia. Tidak, tidak boleh."
Jane merasakan sakit di pergelangan tangannya, Zeck menggenggamnya begitu kuat.
Jane berusaha menahan sakit itu, dia merendahkan tubuhnya dan mengelus wajah Zeck.
"Tenanglah, tidak ada yang membawanya pergi dari mu," bisik Jane begitu lembut dan sangat menenangkan.
Zeck terbangun, wajah nya dan Jane sangat dekat. Mata mereka bertemu cukup lama, hingga Zeck melepaskan tangannya dan mendorong kepala Jane padanya. Dia mencium Jane.
Cukup lama Jane tidak merespon karena dia terkejut. Itu--, itu ciuman pertamanya. Yang selama ini dia simpan untuk Joshua. Malah diambil oleh seorang pria yang baru bertemu dengannya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
--***