Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.15


__ADS_3

Prang.


Berserak pecahan kaca di lantai. Seorang wanita terlihat panik mencari tempat aman untuk bersembunyi. Edgar memegang pistol di tangannya, mengarahkannya tepat di kepala Mike.


"Aku hanya bercanda. Kenapa kamu begitu emosional. Aku tidak akan menyentuhnya," kata Mike santai masih menikmati segelas anggur di tangannya.


"Kau pikir aku bisa mempercayai kata katamu." Emosi nya tak tertahankan saat Mike memprovokasinya mengenai rossi.


Di depan pintu.


Rossi mendengar sesuatu pecah di ruangan Edgar berada. Dia bergegas masuk ke sana. Terlihat bahwa Edgar sudah berdiri tegak dengan memegang gun di tangannya. Rossi langsung menghampirinya. Sedangkan seorang wanita dengan panik bergegas keluar dari dalam sana.


"Edgar. Apa yang terjadi? Kenapa kamu memegang senjata itu."


"Kenapa kamu kembali. Aku sudah menyuruhmu untuk berada di sebelah," kata Edgar "Sial. Tetap berdiri didekat ku."


Rossi menurutinya dan berdiri di belakang tubuh Edgar.


Tak lama kemudian, sekelompok orang berbaju hitam memasuki ruangan itu. Mereka bersenjata. Mengarahkannya pada Edgar dan Rossi.


"Sangat disayangkan. Kau bahkan hanya membawa satu anak buah bersamamu."


Mike menyeringai. Melihat Willi yang sudah terpojokkan di sudut pintu.


Mike berdiri di hadapan Edgar. Menantang pria itu untuk menembaknya. Tiba tiba Edgar tertawa melihatnya. Menurunkan senjatanya dan kembali duduk manis di sofa. Edgar menarik tangan Rossi, dan membuatnya berada dalam pangkuannya.


'Ada apa dengan bocah ini,' batin Mike


"Sepertinya kau kalah lagi hari ini paman," ujar Edgar. "Karena aku selalu menang."


Ucapan Edgar membuat Mike menyerngit tak mengerti.


Tak lama kemudian beberapa titik berwarna merah mendarat di tubuh Mike bersamaan. Dan salah satunya mendarat di matanya, membuat dia sadar bahwa ia menjadi sasaran tembakan. Mike mengepalkan tangannya.


Dengan kesal dia menyuruh anak buahnya yang sudah berada di depan pintu untuk menurunkan senjatanya.


"Jadi bagaimana paman? Apa ingin terus berada disini bersamaku. Atau keluar dalam keadaan utuh."


Edgar menggodanya. "Aku akan menikmatinya jika kamu tetap disini."


"Kau! Cih."


Mike melangkah keluar dengan kesal.


"Ingat aku tidak main main dengan perkataan ku tadi," ucapnya di ambang pintu. Dia keluar dengan diikuti beberapa orang di belakangnya.

__ADS_1


Rossi masih berada di pangkuan Edgar. Ia terdiam disana, mencerna kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya.


"Apa sangat nyaman berada dalam pangkuanku?" Edgar tersenyum nakal. Membuat Rossi langsung bangkit dari sana.


"Tidak. Tapi bisakah kamu menjelaskan padaku apa yang terjadi?"


"Ya itu yang terjadi, kenapa? Kamu takut sayang?"


Edgar menarik Rossi lagi dan menghempaskan nya di sofa. Ia menahan wanita itu di bawahnya.


"Kamu!" Rossi kesal dengannya dalam keadaan seperti itu dia masih ingin bercanda.


Edgar mulai mencium nya. Seketika rossi langsung teringat pada wanita yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Rossi mendorong tubuh Edgar menjauh darinya, kali ini berhasil. Edgar tidak seagresif sebelumnya.


Dengan wajah yang memerah karena nafasnya tertahan. Rossi berusaha untuk melontarkan pertanyaan itu pada Edgar.


"Apakah Olivia itu kekasihmu?"


Pertanyaan itu membuat Edgar mematung. Dia bangkit dari tubuh Rossi. Berjalan ke arah jendela besar yang ada disana. Ia tak menjawab pertanyaan Rossi.


"Jika benar, kenapa kamu mengumumkan pertunanganmu dengan ku," lanjut Rossi


"Dan memperlakukanku dengan sangat baik," kata katanya yang terakhir terucap pelan.


Edgar tak ingin menjawab. Ia tak mungkin mengatakan bahwa dia hanya memanfaatkan Rossi dalam rencananya.


'Dia bahkan tidak mengejarku dan tidak ingin menjelaskan,' pikir Rossi di dalam mobil.


"Oh ya. Aku memang bukan siapa siapa sejak awal."


Tak berselang beberapa waktu. Rossi tiba di depan rumahnya. Rumah itu terlihat sangat sepi, seperti tak berpenghuni. Ia membuka pintunya, tidak ada siapa pun yang menyambutnya. Bahkan bi Lana tidak ada disana.


Rossi menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang sudah beberapa hari dia tinggalkan.


'Kenapa aku begitu bodoh,' pikirnya. Rossi tidak bisa tenang. Dia ingin menelepon Sarah, sahabatnya.


"Dimana ponselku."


Rossi mencarinya dimana dimana, namun tidak menemukannya. "Hm sepertinya tertinggal di rumahnya."


Rossi mendekat pada pojok ruangan itu, mengambil gagang telepon yang berada di atas meja, ia menelepon Sarah.


"Sarah, bisakah kamu kesini sekarang?" pinta Rossi lemas.


"Rossi? Kamu memakai telepon rumah. Apa terjadi sesuatu?" tanya Sarah dengan nafas memburu. Namun Rossi tak menjawab lagi. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan nya. Sarah menjadi cemas dan mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


'Ada apa dengan anak ini,' batin Sarah bergegas menaiki mobil dan melaju dengan cepat di jalanan malam.


Tak lama kemudian Sarah sampai di rumah Rossi. Dia langsung menghampiri Rossi di kamarnya. Tidak ada siapapun disana, kamar itu kosong. Namun terdengar pancuran air dari kamar mandi, Sarah bergegas ke sumber suara itu. Terlihat bayangan kabur seseorang wanita dari balik kaca yang berembun terkena air. Sarah menghela nafas lega.


Beberapa saat kemudian, Rossi keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama tipis merah muda sedangkan rambutnya ditutupi handuk putih kecil. Matanya tertuju pada wanita yang duduk di tempat tidurnya, dia tengah menatap tangannya yang terluka. Rossi langsung menghampirinya.


"Sarah apa yang terjadi, bagaimana kamu bisa terluka?" Tanya Rossi cemas. "Sini biar aku yang mengobatinya."


Rossi mengambil kotak p3k yang berada di laci seberang tempat tidur.


"Ini.. Ini aku tidak sengaja terkena.. hmm .. properti di kantor tadi saat bergegas kemari." Sarah menjawab ngawur.


"Kantor? Sarah ini sudah malam. Mana ada orang di kantor jam segini."


Rossi menyipitkan matanya curiga.


"Bukan, aku.. aku mengambil barangku yang tertinggal. Dan tidak sengaja tersenggol sesuatu saat itu."


"Hmm. Kamu sangat tidak hati hati Sarah."


Rossi selesai menutup luka itu dengan kapas.


Ia membuka balutan handuk di kepalanya, berjalan ke dekat pintu dan mematikan lampu kamarnya. Tanpa berkata lagi, dia langsung berbaring di tempat tidur dengan rambutnya yang masih basah.


"Rossi. Apa kamu akan tidur seperti itu?"


Sarah menaikkan alisnya heran. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil pengering rambut yang berada di atas meja.


"Apa terjadi sesuatu?" Ucap Sarah sambil mengeringkan rambut Rossi.


"Tidak. Aku hanya merindukanmu," jawab Rossi pelan dari atas bantal nya. Sarah sangat tidak mempercayainya.


"Benarkah. Lalu kemana kekasih barumu? Apa kalian bertengkar?" Kata Sarah "--atau dia menyakitimu?"


Seketika Sarah menghentikan kegiatannya dan menunggu jawaban Rossi penasaran.


"Bukan seperti itu. Hanya saja aku tidak ingin membahasnya," jawabnya lirih. "Sarah apa ayah atau ibuku menghubungimu?"


"Ya. Ayahmu berpesan padaku untuk menjagamu."


Sarah menaruh kembali alat pengering itu di meja. "Dan dia bilang sangat merindukanmu."


"Ah. Bohong, kamu hanya mengatakan hal yang sama tiap aku bertanya Sarah. Aku bosan, tak bisakah kamu mengatakan alasan lain jika mereka memang tidak memperdulikan ku."


Sarah hanya terdiam tak lagi menjawab. Rossi menjadi kesal, seharusnya dia tidak bertanya. Rossi menarik selimut dan menutupi dirinya.

__ADS_1


'Hanya dua Minggu lagi Rossi, bersabarlah,' bisik Sarah pelan.


--***


__ADS_2