Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.33


__ADS_3

Menetap dan melepaskan. Menjadi keputusan yang selalu ada dalam sebuah hubungan.


"Rossi," ucap Edgar dan Joshua serentak. Mata mereka beralih menatap Rossi. Dengan cepat Edgar langsung menghampiri wanitanya.


"Ikut denganku," kata Edgar sambil menarik Rossi untuk mengikutinya.


"Tidak. Kami sudah ada kencan hari ini." Joshua menahan Rossi.


"Apa hak mu. Dia kekasihku."


"Dia tunangan ku."


Mereka saling menatap. Sementara tiap tangan Rossi berada dalam genggaman mereka. Tatapan Edgar dan Joshua memunculkan aliran listrik berkekuatan tinggi. Sangat tajam. Rossi hanya mematung di antara mereka. Siapa aku. Dimana aku.


Tiiiiit.


Sarah muncul tiba-tiba dengan motornya. Setelan jaket kulit berwarna hitam, celana jeans biru gelap. Helm hitam di kepalanya. Sangat serasi dengan motor besar berwarna hitam itu.


"Cepat naik," pinta Sarah dari balik helm yang masih menutupi wajahnya.


Rossi berhasil lepas dari genggaman kedua pria. Dia bergegas naik ke motor Sarah. Menjauh dari aliran listrik yang hampir meledak.


"Pegangan yang erat," ujar Sarah. Dengan cepat Rossi memeluk tubuh Sarah.


Brum. Brum..


Sarah melambaikan dua jarinya kepada Edgar dan Joshua yang masih berdiri di tempat semula. Dengan cepat. Motor itu hilang dari pandangan keduanya.


Angin mulai bergerak membawa dedaunan ke tengah jalan. Cukup kencang. Suasananya menjadi canggung. Apalagi yang akan diperebutkan disana. Daun?


"Ingin balapan?" Joshua menaikkan alisnya. Menantang Edgar yang terlihat masih tidak rela Rossi pergi lagi darinya, tatapannya tertuju pada ujung jalan. Tempat terakhir bayangan Rossi melesat dari pandangannya.


"Oke. Siapa takut."


Mereka berdua kembali ke mobil masing-masing. Dengan ancang-ancang yang pas. Keduanya memulai balapan. Wiiii.


Ya satu mobil menyalip dengan gesit di putaran pertama. Edgar memimpin. Terlihat senyum kemenangan di wajah Edgar. Belum ada yang bisa mengalahkan nya dalam balapan. Orang itu belum lahir.


Di penghujung balapan, Joshua memperlambat mobilnya. Edgar sedikit heran. Tapi dia tidak peduli, dengan kecepatan tinggi dia masih melajukan mobilnya mengejar kekasih, Rossi.


Tepat di bawah pohon besar. Joshua memarkirkan mobilnya. Ada panggilan masuk di ponselnya, itu dari sekretaris nya. Pasti penting.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Joshua setelah memasang alat pendengar di telinganya.


"Tuan. Kami sudah mendapatkan informasi mengenai nona Olivia. Tapi…" Wanita di seberang panggilan itu terlihat ragu untuk memberitahukannya langsung. Dia tidak yakin apakah tuannya akan senang mendengar informasi itu.


"Tapi? Apa yang kau katakan." Joshua menjadi emosional.


"Nona Olivia.. Dia... Maaf tuan dari informasi yang kami dapatkan nona Olivia sudah.. meninggal. Dan kami juga sudah memastikannya." Akhirnya sekretaris itu berhasil memberitahukan berita yang tidak pernah ingin didengar oleh tuannya.


"Apa?! Kirim lokasinya sekarang!" Joshua melepas kan alat pendengar itu dengan aliran kemarahan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia membuang alat pendengar itu entah kemana.


Sepanjang jalan. Joshua hampir hilang kendali.


'Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Dia tidak mungkin pergi sejauh ini dari ku,' batin Joshua.


Dia sangat gelisah. Dia hampir hilang akal dan menjadi gila.


Wanita yang selama ini dia tunggu. Bahkan tidak sempat untuk menjadi miliknya. Dia sudah pergi jauh dari kehidupannya. Sangat jauh. Bahkan berbeda dunia.


Di pekuburan.


Joshua terduduk lemas di samping nisan granit yang dihiasi bongkahan mika. Dia menangis. Sudah lebih dari 20 tahun sejak terakhir kali dia menangis. Saat itu dia kehilangan kedua orangtuanya. Dan sekarang dia kehilangan wanita yang sangat dicintainya.


Bahkan dia belum sempat memberitahukan isi hatinya. Takdir memang kejam. Tidak ada seorangpun yang bisa melarikan diri dari takdir.


"Jane. Kenapa kamu ada disini?" Joshua mengalihkan pandangannya dari nisan itu pada wanita yang berjongkok di sampingnya.


"Aku ada pemotretan di dekat sini. Dan sekretaris mu menelpon ku untuk segera datang kesini." Matanya tertuju pada tulisan di nisan itu. Olivia Alexandra. Sahabatnya.


"Aku tidak menyangka, aku bahkan tidak bisa bertemu dengannya untuk yang terakhir kali," ucap Jane sambil mengelus nisan itu dengan ujung jari lentiknya.


Mereka sedang dalam suasana berduka. Jane memang merasa sedih, dia kehilangan sahabatnya. Namun dia juga merasa tenang. Dia tidak akan lagi hidup di bawah bayangan Olivia saat bersama dengan Joshua.


Ya. Dia menyukai Joshua. Sejak pertama kali mereka bertemu di sudut kampus, Paris. Saat Joshua hendak menemui Olivia.


Jane Gabriela. Wanita yang menjadi sahabat Olivia sejak kuliah di Paris. Dia selalu bersama dengan Olivia, sehingga dia juga sering bertemu dengan Joshua. Tapi Joshua tidak pernah meliriknya, dia selalu memperhatikan Olivia.


Jane bisa menyadari perasaan itu dari tatapan Joshua pada sahabatnya. Dia berpikir untuk tetap menyimpan perasaan itu, dia tidak akan punya kesempatan. Jika dia mengatakannya saat itu, pasti hubungan mereka tidak akan sedekat sekarang.


'Aku tidak akan mengampuninya,' batin Joshua. 'Dan wanita itu, aku akan mengambilnya darimu bagaimanapun caranya.'


Di sebuah cafe yang tak jauh dari kota. Rossi dan Sarah mencari tempat duduk yang nyaman. Ya pojok selalu menjadi pilihan.

__ADS_1


Mereka mulai memesan, selama menunggu Rossi masih memikirkan mereka berdua. Edgar dan Joshua. Sebenarnya apa yang membuat mereka seperti itu.


"Oh ya Sarah. Apa kamu tahu sesuatu mengenai mereka?" Rossi bertanya setelah coklat panasnya terhidang kan di hadapannya.


"Siapa? Yang memperebutkan kamu tadi?" Sarah menatap Rossi dengan wajah menggoda. Lalu tertawa.


"Sarah aku serius. Jangan bercanda. Lagipula untuk apa mereka memperebutkan ku." Rossi membela diri.


"Entah lah aku juga tidak tahu. Tapi kalau Joshua, aku mengenalnya. Dia senior Olivia dulu saat SMA dan Edgar--."


"Dia kekasihnya." Rossi memotong perkataan Sarah, dan tiba tiba dia meneguk habis coklat panas itu.


"Hei pelan pelan. Kamu menghabiskannya dengan sekali teguk. Dia siapa? Bukankah dia kekasihmu," tanya Sarah bingung.


"Tidak. Itu hanya kesalahan. Dia tidak mencintaiku."


"Berani nya kamu bilang itu kesalahan." Edgar tiba tiba berada disana. Dia menarik tangan Rossi sehingga membuatnya berdiri dari kursinya. "Aku mencintaimu."


Dengan agresif Edgar mencium bibir Rossi di tempat itu juga. Membuat mata Sarah terbelalak. Bukan hanya Sarah, tapi semua orang di cafe itu.


Ciuman itu mulai melemah. Rossi mendorong tubuhnya mundur.


"Apa yang kau lakukan," ucap Rossi sambil menutup mulutnya.


Tanpa ada jawaban. Edgar langsung menarik Rossi keluar dari sana. Meninggalkan Sarah sendirian. Tak berdaya, kekuatan Rossi tidak cukup untuk melepaskan genggaman pria itu. Lagi pula tubuhnya ingin mengikuti Edgar.


Edgar mendorong Rossi masuk ke dalam mobilnya. Edgar menindih wanita itu di bawahnya. Dengan cepat dia mencium Rossi. Begitu dalam dan lama.


Rossi berusaha mendorongnya. Dia tidak bisa seperti itu. Itu akan menyakiti keyakinannya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya dia berhasil.


"Apa kamu tidak merindukanku?" Edgar mulai kesal.


"Bukan begitu. Hanya saja aku--," Rossi belum selesai dengan perkataannya tapi Edgar sudah kembali menciumnya.


"Kamu hanya milikku. Bahkan pria itu tidak berhak mendekatimu dan mengambil wanitaku seenaknya."


"Edgar lepaskan aku. Aku bukan milikmu." Rossi mendorong Edgar menjauh dan dia perlahan bisa duduk dengan benar. 'Aku bukan pengganti.'


"Rossi. Aku mencintai mu. Apa itu tidak cukup!?" Edgar sudah menggila. Itu siang bolong. Apa yang dia lakukan, bahkan dia menjadi sangat agresif dari terakhir kali mereka bercinta.


Edgar kembali mencium Rossi dan membuat wanita itu menjadi tak berdaya. Tubuhnya menginginkan lebih. Tapi hatinya-- masih pilu.

__ADS_1


'Aku hanya ingin mendengar kamu mengatakannya sekali saja. Jika hanya aku. Hanya aku seorang,' batin Rossi.


--***


__ADS_2