
Satu bulan berlalu. Waktu Rossi sudah habis, dia harus membuktikan semua kerja kerasnya selama ini. Hans sudah melihat semua kerja keras Rossi. Dan hasilnya sangat memuaskan. Dia memang pantas menjadi penerusnya. Menggantikannya menjadi pemimpin geng Lion.
Di markas Lion.
Semua orang ribut, seperti berada di pasar. Suara mereka bercampur. Bisik bisik tidak percaya dengan keputusan Hans memberikan kepemimpinan geng lion pada Rossi. Tatapan meremehkan dan tidak suka tertuju pada Rossi.
Beberapa di antara mereka berbisik-bisik.
'Bagaimana mungkin Lion dipimpin oleh gadis kemarin sore,'
'Apa dia akan memimpin kita dengan mengandalkan kecantikan dan tubuhnya itu,'
'Lihat dia, bahkan tidak ada ketegasan sedikit pun. Lemah,'
'Apa Hans sudah tidak waras memberikannya pada gadis kecil. Bahkan menembak saja tangannya pasti gemetar.'
Tak berselang beberapa detik. Keributan itu terhenti.
Dor. Dor. Dor
Beberapa tembakan di luncurkan, memecahkan semua kaca yang berada di ruangan itu. Bagaimana mungkin markas utama geng lion ada yang berani untuk menyerangnya.
"Semuanya tiarap," teriak Rossi. Rossi mengeluarkan pistol yang berada di pinggangnya. Dan mulai menembak. Semua orang disana tidak membawa senjata. Untuk apa mereka bersenjata ke markas sendiri.
Tiba tiba beberapa orang memasuki ruangan besar itu. Dengan senjata ditangan mereka.
'Tidak, aku butuh dua pistol,' gumam Rossi.
Rossi bersembunyi di balik lemari besar berkaca yang menampakkan jajaran vas antik di dalamnya. Satu orang mendekat ke arahnya.
'Ini dia,' batin Rossi.
Buk.
Sebuah tendangan keras mendarat di tubuh orang bersenjata itu, dengan kegesitan dan semua latihannya selama ini. Senjata itu berhasil di dapatkannya. Satu orang berhasil dibasmi.
Dengan dua pistol di tangannya, Rossi mulai menembak lagi. Tembakannya tidak meleset satu pun.
Mereka membalasnya. Beberapa tembakan di lancarkan, menghancurkan jajaran vas itu dan pelurunya menebus lemari kayu yang menyembunyikan tubuh Rossi.
Dia hanya punya sedikit peluru. Lawannya masih banyak. Tidak. Dia tidak akan kalah, itu adalah pertempuran pertamanya.
Dengan berani dan penuh keyakinan Rossi berlari ke arah mereka, melewati setiap peluru yang menghampirinya dengan cepat. Menarik pelatuk pistolnya, meluncurkan peluru yang tersisa di dalamnya. Kosong.
Berhasil, dia mendapatkan beberapa isi peluru di badan orang yang tergeletak karena ditembaknya tadi. Sementara para manusia yang masih tiarap, mereka terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Menyaksikan sendiri bagaimana wanita itu beraksi sendirian. Setelah kesekian tembakan. Akhirnya berakhir.
__ADS_1
Rossi meraih kerah seorang pria yang masih terlihat hidup.
"Siapa kalian?" Rossi menaikkan nada suaranya.
Sshh..
Sebuah pisau di layangkan padanya, melukai lengannya. Tapi itu tidak berpengaruh padanya. Mereka mulai berkelahi, dia dengan pisaunya dan Rossi dengan tinjunya. Cukup lama perkelahian itu berlangsung.
Di tengah kelengahan orang itu, Rossi berhasil melumpuhkan nya dan mengacungkan pistol tepat di kepala orang itu. Rossi menaikkan alisnya. Dia sudah menang.
Plok. Plok. Plok.
Tepukan tangan terdengar dari arah pintu. Hans Alexandra. Dia memasuki ruangan yang berantakan itu dengan raut wajah sangat puas.
Semua mayat nya hidup kembali. Bukan, mereka memang belum menjadi mayat. Masih hidup. Tembakan yang diluncurkan tidak membunuh mereka, mungkin hanya ada beberapa yang terluka. Karena semuanya memakai jubah anti peluru.
Rossi merasa sangat heran. Apa ini? Latihan?
"Aku tidak akan salah untuk memutuskan putri ku menjadi penerus."
"Ayah.." Rossi menurunkan senjatanya.
Semua anggotanya itu kembali berdiri dan memberi hormat nya pada Hans.
"Mulai sekarang. Geng lion akan dipimpin oleh Putriku. Rossi Alexandra."
Mereka mulai berbaur dan kembali santai, sedangkan pecahan yang sebelumnya berada disana sudah dibersihkan.
Dari kejauhan Rossi melihat seseorang di antara para penembak tadi, dia masih memegang pistol. Gerakannya mencurigakan. Dia hendak menembak. Ke arah-- ayahnya.
Dor.
Rossi duluan menembaknya. Membuat semua orang melihat ke arah sumber suara itu. Rossi.
"Rossi. Apa yang terjadi?" Tanya Hans.
"Tidak ayah. Tadi dia hendak menembak ke arahmu," Rossi berjalan pergi menjauh dari ayahnya dan mendekati orang itu. Sudah mati. Rossi menembak tepat di dadanya. Orang yang pertama kali di bunuh nya.
"Biar aku lihat." Seorang pria memeriksa tubuh orang itu, di balik bajunya ada tato. Tato harimau. Pria itu kembali berdiri dan menyampaikan bahwa orang itu berasal dari geng Tiger.
"Ternyata dia masih belum menyerah. Rossi ikut lah dengan ku," ajak Hans. Mereka pergi meninggalkan ruangan itu.
Di ruangan lain.
Hans menjelaskan beberapa hal pada Rossi mengenai geng Tiger.
__ADS_1
"Tapi ayah. Bukankah barusan kamu sudah memutuskan untuk memberikan kepemimpinan mu padaku. Kenapa dia masih ingin membunuhmu?" Tanya Rossi.
"Dia hanya mengikuti perintah siapa yang akan dibunuh. Lagipula dia tidak akan bisa berkomunikasi. Setiap panggilan di sini akan terhubung ke markas, itu akan membuat usaha nya sia-sia."
"Bagaimana dia bisa masuk ayah? Apakah ada masalah dengan keamanan?"
"Tidak. Masalahnya bukan disana. Tapi ada pengkhianat di dalam anggota Lion. Tetaplah waspada." Pembicaraan mereka berakhir dengan cukup menegangkan.
Di kediaman Hans.
Sarah berencana untuk mengajak Rossi pergi bersantai setelah lama berada di rumah dan sibuk dengan latihannya. Tapi rencana itu gagal. Rahel malah menyuruh Rossi untuk pergi bersama Joshua. Untuk saling mengenal. Awalnya Rossi menolak, namun Sarah ada rencana lain agar mereka tetap bisa pergi bersama. Jadi Rossi menyetujuinya.
Joshua menjemput Rossi dengan mobil sport merah dan sebuah kacamata yang bertengger di hidung pria itu. Tak lama mobilnya keluar dari gerbang rumah mewah itu. Sarah mengendarai motornya dan perlahan mengikuti mobil yang membawa Rossi.
Baru beberapa meter mobil itu keluar dari gerbang besar kediaman Hans. Sebuah mobil lain menghentikan mereka. Joshua kenal dengan mobil itu. Milik Edgar.
Sebelumnya Edgar menerima pesan dari Joshua.
[Datanglah ke rumah. Aku ingin memperkenalkan tunangan ku. Rossi Alexandra]
Sontak pesan itu membuat amarah Edgar berapi-api. Apa maksudnya?!
Dengan seringai di wajahnya. Joshua turun dari mobilnya di susul oleh Edgar yang juga keluar dari mobilnya.
"Mobil mu menghalangi kencan pertama ku," Joshua melepaskan kacamatanya.
Buk.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Joshua. Edgar memukulnya. Dia tidak bisa menahannya lagi.
"Haha. Apa kau merasa kesal?" Joshua menyeringai. "Setidaknya kau merasakan apa yang kurasakan saat kau merebutnya dariku."
Buk.
Joshua membalasnya. Mereka mulai berkelahi. Sementara Rossi masih ragu untuk keluar dari mobil. Dia masih tidak ingin bertemu dengan Edgar. Tapi tak bisa di pungkiri, dia merasa bahagia bisa melihat Edgar lagi.
Mereka berkelahi cukup lama. Rossi tidak bisa berdiam saja. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar.
"Berhenti," teriak Rossi.
Tapi tidak menghentikan perkelahian mereka. Rossi mendekat pada mereka.
"Apa kalian tidak mendengarku? Kenapa kalian begitu kekanakan," lanjut Rossi.
Pukulan mereka mendarat di udara. Langsung terhenti mendengar kalimat itu.
__ADS_1
{"Apa kalian tidak mendengarku? Kenapa kalian begitu kekanakan."} kalimat yang tidak asing. Diucapkan oleh seseorang beberapa tahun yang lalu pada Edgar dan Joshua.
--***