Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.13


__ADS_3

Los Angeles, Amerika serikat.


Di belahan benua lain, seorang pria tengah menikmati minumannya di salah satu ruangan mewah yang berada dalam gedung tinggi bertingkat, yang merupakan pusat bisnis di los Angeles, California. Wilshire Grand Center.


"Jadi dia akan bertunangan?" Kata pria berjas biru gelap.


"Ya tuan. Namun hari pertunangannya belum di umumkan," jelas seorang wanita padanya.


"Siapa wanitanya?" Tanya pria itu sambil meneguk segelas wine.


"Dia adalah seorang model terkenal dan berbakat di kota S dan menurut laporan yang kita dapatkan, dia adalah model yang berada di bawah naungan perusahaan yang baru saja dibeli oleh Tuan Edgar," lanjutnya.


"Menarik. Selang seminggu sebelum pertunangan itu, atur jadwal ku agar dapat mengunjungi nya," lanjut pria itu.


"Baik tuan."


Wanita itu menunduk dan berjalan mundur untuk mengundurkan diri, dan keluar dari ruangan itu. Sementara pria yang duduk di kursinya, beranjak dari sana. Ia berjalan mendekati kaca besar mengkilap yang berada di belakang kursinya.


Pria itu berdiri tegak di depan kaca itu, menikmati pemandangan kota malam sambil menikmati segelas wine yang berada di tangannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia," ketus nya.


Dia menggenggam erat gelas wine itu, dan seketika pecah dalam genggamannya.


***


Toko busana terkenal di kota S.


"Bereskan semua pakaian yang dia kenakan tadi dan kirimkan ke alamat ini," perintah Edgar pada karyawati yang sedari awal bersama dengan Rossi sambil memberikan sebuah alamat padanya.


"Baik tuan."


Dia menunduk dan berjalan pergi bersama dengan setumpuk pakaian yang berada di sampingnya.


"Apa kamu gila? Di rumahmu saja sudah banyak pakaian, masih membeli lagi sebanyak ini."


Rossi membantahnya tak suka.


"Kamu itu wanitaku, oleh karena itu kamu tidak boleh berada selangkah pun di belakang wanita lain," ketus Edgar.


"Wanita mu? Aku bahkan tidak pernah menyetujuinya dan ya kamu juga tidak pernah mengatakan perasaanmu padaku."


Rossi meninggalkan Edgar yang terdiam mematung.


Edgar berpikir sejenak, dia tidak menyangka jika Rossi akan berkata seperti itu padanya. Karena pria itu hanya berniat untuk memanfaatkan Rossi demi kelancaran rencananya. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa dirinya merasa nyaman jika bersama wanita itu.


'Kenapa dia begitu sensitif,' batin Edgar heran.


Dia mengejar Rossi yang sudah menjauh darinya, banyak orang lalu lalang di hadapannya membuat dirinya sempat tak melihat keberadaan Rossi. Tak jauh dari pintu masuk, ia melihat seorang wanita yang akan berjalan keluar. Persis seperti seorang wanita yang dikenal nya.

__ADS_1


Tiba tiba muncul bayangan Olivia di kepalanya, wanita itu terlihat seperti kekasihnya.


"Olivia," gumam Edgar langsung menarik tangan wanita itu dan memeluknya.


Itu Rossi.


"Apa yang kamu lakukan, ini tempat umum."


Rossi berusaha melepaskan pelukan itu.


Edgar langsung tersadar dari imajinasinya, melepaskan pelukan itu. Ia berdiri seperti orang kebingungan kemudian berjalan keluar meninggalkan Rossi.


'Kenapa dia, tunggu dulu. Bukankah dia tadi menyebut vi.. vi..vi apa yah,' pikir Rossi penasaran.


Sedangkan Edgar sudah berada di dalam mobilnya, Rossi dengan cepat menyusul nya.


Selama di perjalanan kembali ke mansion, Edgar menjadi suram. Ekspresinya datar dan dia tak menghiraukan ponselnya yang terus berdering.


"Apa kamu baik baik saja?" Tanya Rossi gugup. Ia takut akan membuat keadaannya menjadi lebih buruk.


"HM."


Edgar hanya menjawab singkat.


Kring. Kring.


Melihat sikap Edgar, Rossi tak berani untuk berkomentar.


Mansion tepi pantai.


Edgar menghentikan mobilnya di depan gerbang masuk, dan menyuruh Rossi untuk turun dan kembali ke mansion sendirian. Rossi menuruti nya dan berjalan ke mansion sendirian. Sedangkan Edgar memutar balikkan mobilnya dan melajukan mobilnya ke tepi pantai.


Jarak gerbang ke mansion membutuhkan waktu sekitar 3 menit. Bibi Yona melihat Rossi yang kembali sendirian dengan memeluk tubuhnya kedinginan, angin malam berhembus sangat kencang. Dia langsung bergegas menghampiri Rossi.


"Nona, kenapa anda sendirian."


Bi Yoona mengalungkan baju hangat di bahu Rossi dan membawanya masuk.


Sesampainya di kamar, Bi Yona meninggalkan Rossi sendirian di bawah cahaya lampu kamar yang menyala menyinari ruangan yang biasanya gelap. Dia baru menyadari jika ruangan itu terlihat indah di bawah cahaya lampu. Tapi dia tidak lagi melihat satupun boneka di kamar itu.


Tak lama kemudian seorang wanita masuk membawa nampan yang dihinggapi secangkir teh hangat di atasnya.


"Nona. Silahkan."


Dia menyuguhkan minuman itu pada Rossi.


"Terimakasih."


Rossi tersenyum hangat menerima minuman itu.

__ADS_1


Tiba tiba seorang pria mengenakan pakaian serba hitam muncul di hadapan mereka.


"Maaf nona. Mengganggu waktu anda, apakah nona tahu keberadaan tuan muda?"


Willy bertanya dengan menundukkan kepalanya dan kembali berdiri tegak.


"Hmmm.. Aku tidak tahu, dia bergegas pergi setelah mengantarku."


Rossi menjawab jujur.


Willy menunduk dan pergi mengundurkan diri, dia meninggalkan rumah itu. Melajukan motor hitam yang sudah terparkir sejak malam kemarin disana.


Dari jalanan malam, ia melihat mobil hitam yang berada tepat di samping bebatuan tepi pantai. Itu adalah mobil tuannya. Willy menarik nafas lega, dia bisa menemukan tuannya.


'Kenapa kamu malah muncul seperti itu,' ketus Edgar kesal.


Dia memarkirkan mobilnya di tepi pantai.


Menikmati pemandangan laut malam dari kejauhan dan berusaha menenangkan pikirannya.


Edgar keluar dari mobil hitam nya, bersandar di sana sambil menikmati sebatang rokok yang sudah berada di antara bibirnya.


'Kupikir aku akan menemukanmu disini,' batin Edgar kecewa.


Tak lama kemudian, sebuah motor besar berwarna hitam berhenti di belakang mobilnya. Seorang pria turun dari sana dan berjalan mendekat padanya.


"Tuan muda. Apa anda baik baik saja?" Ujar Willy hormat.


"Ya. Kenapa kamu mencari ku?" Tanya Edgar. Pandangannya masih tertuju pada laut malam.


"Tuan Mike datang ke mansion tadi sore bersama dengan seorang wanita dan saat itu saya tidak bisa menghubungi anda. Jadi dia pergi setelah setengah jam menunggu, sebelum pergi dia meninggalkan pesan jika tuan akan menyesal jika tidak menemui wanita itu," jelas Willy sedikit ada keraguan.


"Menyesal?"


Edgar menyeringai seram.


Ia membuang puntung rokok yang sedari tadi dia hisap.


"Oke dia ingin bermain denganku. Ikuti saja permainannya kali ini, suruh dia menungguku di bar Correia malam ini," lanjut Edgar.


Mereka kembali ke Mansion.


'Kemana dia?' batin Edgar.


Dia sampai di kamarnya, namun tidak ada Rossi disana yang menyambutnya. Berselang beberapa menit, terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Edgar berjalan mendekati sumber suara itu. Tak ada seorang pun.


Namun matanya tertuju pada bathtub yang airnya sudah melimpah keluar dari sana. Ada segerombol rambut yang mengambang di permukaan air itu. Edgar langsung menghampirinya. Ternyata itu adalah Rossi, ia tak bergerak didalam sana.


--***

__ADS_1


__ADS_2