Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.50


__ADS_3

Pukul 07.24


Beberapa orang berjaga di sekitar villa Montorgueil, tempat Rossi dan Sarah berada. Pagi itu cuaca nya mendung, bahkan matahari tidak muncul sedikit pun. Hanya awan gelap yang memenuhi langit pagi, cuaca itu membuat tidur Rossi begitu nyenyak.


"Rossi. Rossi, bangun. Cepat lah berkemas," ucap Rossi sambil menggoyangkan tubuh Rossi.


"Ah apa sih, aku masih ngantuk," balas Rossi kembali menarik selimutnya menutupi seluruh tubuh sampai kepalanya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu ayahmu?"


Sarah menarik selimut itu, sehingga terlepas dari tubuh Rossi. Mendengar Sarah yang mengatakan mengenai ayahnya, Rossi menjadi tersadar dan perlahan mulai duduk di tempat tidur.


"Hooaaa. Apa ayah ku baik baik saja Sarah?"


"Ya. Dia baik baik saja, bahkan sekarang sedang menunggumu di bandara," jawab Sarah.


"Bandara?"


Seketika mata Rossi terbuka lebar melihat Sarah yang mengemasi barang-barang nya. Semua pakaian, makeup, perhiasan, senjata, dan keperluan yang dimiliki Rossi. Sudah dikemas oleh Sarah ke dalam koper dan beberapa tas.


"Sarah, ada apa ini? Kenapa kamu berkemas? Apa kamu akan meninggalkan ku?"


"Astaga Rossi, apa kamu masih belum sadar," ujar Sarah. Dia mengambil handuk yang tak jauh darinya, melemparkan handuk itu tepat di wajah Rossi, "sana mandi! Aku akan menjelaskannya padamu setelah mandi."


"Iya. Iya. Aku mandi," dengan langkah lemas dan tubuh yang sempoyongan, Rossi pergi ke kamar mandi.


Pukul 07.45


Rossi dan Sarah sedang dalam perjalanan ke bandara, hanya tersisa lima belas menit lagi sebelum pesawat mereka berangkat. Mobil Sarah melaju dengan kecepatan tinggi yang membuat mereka cepat tiba di bandara.


"Kenapa kalian begitu lama?"


Hans bangkit dari kursinya, menatap kearah Rossi. Melihat ayahnya yang berdiri tepat di depannya, Rossi bergegas mendekat padanya.


"Ayah, kenapa kamu pulang lebih awal denganku? Luka mu pasti belum sembuh," manja Rossi pada ayahnya.


"Tidak apa apa sayang, ini hanya luka kecil bagiku," balas Hans santai sambil mengelus kepala anaknya.

__ADS_1


Rossi yang mendengar perkataan ayahnya, hanya mengangguk sebagai tanda dia mengerti keadaan ayahnya.


"Sudah, ayo kita berangkat," ucap Hans pada semua orang yang berada di sekitarnya.


Pada saat yang sama di Italia, tepatnya di mansion Zeck Alexandra. Terlihat jelas betapa mewah dan elegannya bangunan itu. Walaupun hanya bertingkat tiga, tapi luas nya bahkan membuat setiap orang harus memandang jauh melihat ujung pekarangannya.


Zeck masuk ke mansion itu dengan disambut dua pelayan, yang satu sebagai tempat jasnya dan satu lagi membawa satu nampan perak berisikan segelas jus kesukaan tuannya. Sungguh tuan rumah yang begitu di manjakan.


"Dimana dia?" Tanya Zeck pada seorang pria berjas hitam yang berdiri di ujung tangga.


"Dia berada di kamar nya tuan," jawab pria itu sambil menunduk hormat.


"Kerja bagus."


Zeck melangkah dengan suasana hati yang gembira, dengan segelas jus di tangannya. Entah itu karena orang yang berada di kamar atau karena dia sudah lama tidak menginjak kan kakinya di mansion besar nya itu.


Pintu terbuka.


Terlihat seorang wanita yang tidur di tempat tidur bernuansa keemasan dan di tutupi oleh selimut tebal yang begitu halus dan lembut. Zeck mendekat padanya dan meletakkan minuman itu di atas meja dekat tempat tidur.


"Apa dia menangis semalaman, matanya menjadi seperti ini. Dan masih tersisa bekas air mata di wajahnya," ucap Zeck duduk di samping wanita itu.


"Siapa kamu?" Ucap nya langsung duduk dan memegangi selimut itu dengan erat.


"Haha. Apa aku terlihat begitu menakutkan? Aku tidak akan menyakitimu, belum. Tapi--" Zeck mendekat padanya. Membuat wanita itu ketakutan dan menutup matanya.


"Kamu terlihat begitu menyedihkan jika terus seperti ini, maukah kamu mencoba denganku? Mungkin kamu akan bisa merasakan bahagia," goda Zeck sambil mengangkat dagu wanita itu menghadap tepat di depan wajahnya.


"T-tidak, menjauh dariku," bentak nya.


Melihat wajah wanita itu, Zeck menyeringai kecil. Dia bangkit dari sana dan berjalan menjauh dari nya.


"Jane Gabriela, seorang model papan atas di los angeles-. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan, haha, sungguh gadis yang malang," kata Zeck santai sambil berdiri menghadap ke luar jendela.


"Apa maksudmu? Bagaimana bisa kamu tahu tentang ku dan juga-- dia--?" Ucap Jane yang ketakutannya bertambah.


"Tidak penting aku tahu dari mana, tapi aku membawamu kesini untuk mengeluarkan mu dari kehidupan yang menyedihkan itu, menikahlah denganku."

__ADS_1


Zeck berbalik ke arah Jane, dan memberikan jus yang seharusnya untuk nya pada Jane.


"Minumlah," ucap Zeck sambil mengulurkan tangannya memberikan minuman itu. Sementara Jane masih termenung mendengar kalimat yang di katakan oleh seorang pria yang baru saja dia temui.


Jane tidak berani mengambil gelas itu, bisa saja ada obat atau semacamnya di dalam minuman itu.


"Kenapa? Kamu takut jika aku memasukkan sesuatu ke dalam sini?" Tanya Zeck.


Jane tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya. Tak melihat ke arah Zeck, melihat wanita itu bertingkah di depannya. Zeck minum seteguk jus itu.


"Lihat, jus ini aman. Lagipula aku tidak akan membunuh calon istriku bukan?" Goda Zeck kembali sambil memberikan minuman itu pada Jane.


Jane memang haus, dan lagi pula semalaman dia menangis dan tidak ingin minum atau makan apapun yang diberikan orang rumah itu padanya. Akhirnya Jane mengambil jus itu dan meminumnya habis.


"Kamu menghabiskannya, berarti kamu setuju menikah denganku," kata Zeck tersenyum hangat padanya. Zeck mendekatkan wajahnya pada Jane, wajah mereka begitu dekat.


Zeck menatapnya tanpa berkedip dan Jane juga berbalik menatapnya. Tiba-tiba dengan lembut Zeck mencium pipi Jane, membuat wanita itu mematung.


"Selamat datang nyonya Zeck," ucap Zeck tersenyum manis. Dia berjalan mundur dan pergi ke kamar mandi.


Zeck sudah menghilang dari ruangan itu, juga tak lagi terlihat dari pandangannya. Jane masih mematung tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, sempat hatinya bergetar memikirkan pria yang baru ditemuinya itu.


Namun dengan cepat perasaanya kembali berbalik pada Joshua, pria yang dia tangisi semalaman dan memikirkan 'apakah dia akan mencari ku?'


Beberapa menit kemudian, Zeck keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Melihat itu Jane langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Tubuh pria itu sangat menggoda.


Zeck tertawa kecil melihat tingkah Jane, dia berjalan mendekat dan mengelus lembut kepala Jane.


"Aku ada urusan hari ini, jadi baik baik lah di sini. Kamu nyonya di sini, lakukan saja apapun maumu," ucap Zeck padanya.


Jane masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.


'Apa aku bermimpi?' batin Jane.


Tak berselang lama Zeck selesai dan pergi dari sana. Jane melihat kepergian Zeck dari kamar itu, terlihat betapa indahnya pekarangan mansion itu. Luas dan indah.


"Apa aku boleh berhenti untuk mencintai nya?" Tanya Jane pada diri sendiri sambil melihat mobil Zeck keluar dari gerbang besar bangunan itu.

__ADS_1


--***


__ADS_2