
Di mansion Edgar, tak banyak yang berubah sejak terakhir kali Rossi berada disana. Semua nya tetap sama, hanya saja tidak ada Edgar disana saat Rossi datang. Dia sudah sampai di mansion itu sejak pukul sembilan malam. Willy yang menjemput dirinya di rumah sakit.
Dini hari, sekitar pukul satu. Rossi berdiri di depan jendela besar yang terbuat dari kaca. Dia hanya memakai piyama tipis berwarna biru terang, membuatnya tampak seperti peri malam di bawah cahaya rembulan. Rossi tidak bisa tidur, dia masih menunggu Edgar.
Tak lama lagi menunggu, Rossi melihat mobil Edgar dari balik jendela kaca yang kemudian disusul oleh sebuah mobil yang cukup besar di belakangnya. Rossi belum pernah melihat mobil itu sebelumnya. Dia menjadi gelisah, terpikir dibenaknya jika terjadi sesuatu pada Edgar.
Dengan langkah kecil yang terburu-buru, Rossi bergegas keluar dari kamar itu dan menuruni setiap anak tangga dengan cepat. Sesaat kakinya berdiri di tangga terakhir, tubuhnya tidak berani bergerak lagi. Dengan kedua matanya yang terbuka lebar, dia melihat sesuatu memasuki pintu besar mansion itu.
Seorang pria yang berlumuran darah terbaring mengenaskan di atas tempat tidur beroda. Yang dilengkapi dengan tiang infus di sampingnya. Rossi seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang ditunggunya sedari tadi, malah kembali kesana dalam kondisi yang tidak pernah terbayangkan olehnya.
"Tidak. Ini tidak mungkin," gumam Rossi sebelum berlari sekencang mungkin ke tempat tidur tipis itu.
Rossi langsung memeluk tubuh Edgar yang berlumuran darah, seakan hanya darah yang dilihat oleh mata Rossi disana. Air matanya langsung mengalir begitu deras. Dia tidak menerima hal yang datang itu.
"Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak terluka, tapi kamu.. hiks. Hiks. Hiks, kamu kembali seperti ini," tangis nya semakin menjadi-jadi.
"Dia kenapa? Kenapa kalian semua hanya diam saja, dia seperti ini. Kalian, hiks. Hiks. Hiks." Rossi membentak orang yang datang bersama Edgar. Namun mereka menunduk, diam tak berani menjawab apapun.
Rossi kembali memeluk Edgar dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Dia masih menangis.
"Edgar, bangun. Buka matamu. Kamu sudah berjanji padaku. Hiks. Hiks. Edgar, kamu--," ucapannya terhenti saat sebuah tangan menyentuh dan membelai kepalanya. Sontak sentuhan itu membuatnya langsung mendongakkan kepalanya menatap ke wajah Edgar. Pria itu tersenyum padanya.
"Tenanglah, aku tidak akan mengingkari janji ku padamu," kata Edgar tersenyum lebar.
"Hah? Kamu tersenyum? Ini--," Rossi dengan cepat melepaskan pelukannya dari tubuh Edgar.
Dengan senyum di wajahnya, Edgar bangkit dari sana dan menatap Rossi penuh kasih sayang. Rossi meraba tubuh Edgar dan memang tidak terdapat luka satupun, pria itu baik-baik saja. Rossi langsung menjauh dan berbalik pergi menaiki anak tangga lagi dengan cepat. Rasanya dia akan meledak jika tetap berada disana.
__ADS_1
Sementara Edgar langsung mengejar langkah Rossi, tepat di pertengahan tangga. Edgar menarik Rossi dan membenam wanita itu dalam pelukannya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah," ucap Edgar lembut sambil tangannya mengelus kepala Rossi. Pelukan itu begitu nyaman, Rossi sudah menunggu pelukan itu sedari tadi. Tapi Edgar malah kembali seperti itu. Untung saja, Edgar sadar jika Rossi tidak nyaman dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Kamu keterlaluan, bagaimana mungkin kamu berbuat seperti itu sebagai candaan. Aku tidak tahu harus bagaimana jika itu sungguhan, aku--,"
Edgar langsung membungkam mulut Rossi dengan ciuman lembut.
"Aku minta maaf, aku terlalu bersemangat ingin memberikan kejutan untukmu. Sayang, jangan menangis lagi. Lihat aku, aku baik-baik saja."
Dengan jarinya yang panjang dan besar, Edgar menghapus air mata yang masih tersisa di pipi Rossi. Mata wanita itu langsung memerah, Edgar merasa sangat bersalah. Seharusnya dia memang tidak mengikuti saran Zeck.
'Pria itu!' batin Edgar kesal pada Zeck.
"Aku-- aku takut kehilangan kamu," kata Rossi lirih sebelum memeluk Edgar kembali dan menyandarkan kepalanya di dada Edgar. Mata Edgar langsung berkilauan dan jantungnya berdegup kencang. Tak lupa wajahnya melukiskan senyum kebahagiaan.
Perlahan Edgar melepaskan pelukan Rossi, dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Dengan kaki panjangnya, salah satunya turun dua buah anak tangga sekaligus. Edgar berjongkok di hadapan Rossi sambil menyuguhkan kotak indah yang bersemayam sebuah cincin berlian berpermata indah.
"Will you marry me?"
Edgar melamar Rossi malam itu juga, wajahnya dipenuhi dengan aura kebahagiaan. Udara di sekitarnya pun seakan mendukung mereka, merasa sedang mendorong keduanya untuk saling berdekatan.
"Waaah.." ucap semua orang yang berada disana bersamaan.
Rossi menangis lagi, namun bukan air mata kesedihan. Kehilangan yang dirasakannya beberapa menit yang lalu. Dia menangis karena terlalu bahagia, tidak tahu lagi bagaimana mengungkap kebahagiaan tersebut.
"Yes, i Will."
__ADS_1
Jawaban Rossi membuat Edgar langsung berdiri dengan semangat. Dia mengambil cincin itu dari kotak tersebut dan memasangkannya di jari manis Rossi. Ukuran yang pas dan terlihat begitu cantik berada di tangan Rossi. Mereka kembali berpelukan.
"Cium. Cium. Cium."
Para penonton yang masih setia menyaksikan kisah cinta mereka bersorak tak sabar. Mereka juga merasakan bahagia dengan hal tersebut. Hati mereka ikut berdebar menyaksikannya. Apalagi itu dini hari, keadaannya menjadi spesial.
Masih berada di anak tangga yang sama, Edgar menunduk dan mencium Rossi. Ciuman penuh cinta mereka membuat hati semua orang yang berada disana luluh seketika.
Edgar tak ingin mereka menjadi bahan tontonan lagi, dengan lengan kekarnya. Dia menggendong Rossi ke kamar nya. Langkahnya begitu lebar, dia sampai dengan cepat dan menutup pintu itu rapat-rapat. Terkunci.
Malam berlalu begitu singkat, bahkan Edgar tidak melakukan apapun pada Rossi. Hanya tidur sambil berpelukan, dan hanya sebatas itu. Pagi menghampiri mereka begitu cepat, cahaya matahari mulai memasuki ruangan itu menembus jendela kaca.
Di dalam kelembutan selimut yang menutupi tubuh keduanya. Mereka masih berpelukan dan seakan terbenam di dunia masing-masing. Tapi Rossi bangun lebih awal dari Edgar.
Tanpa melepaskan pelukannya, Rossi membelai wajah tampan Edgar dengan penuh cinta. Dia tersenyum bahagia melihat wajah Edgar yang tertidur itu.
"Kamu terlihat sangat tampan ketika seperti ini," ucap Rossi sebelum pria itu terbangun. Saat matanya terbuka, dia langsung dimanjakan oleh wajah pria yang dicintainya. Pagi yang begitu bahagia.
Mata Edgar perlahan mulai terbuka dan Rossi masih tetap menatapnya, dia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Sayang, kamu sudah bangun," ucap Edgar berusaha menyadarkan dirinya.
"Ya. Aku bangun lebih awal dari mu bukan, biasanya setiap aku bangun kamu bahkan tidak ada lagi disamping ku."
Rossi memainkan jari lentiknya di dada bidang Edgar, dia membentuk beberapa bulatan kecil. Edgar mempererat pelukannya. Membuat dagunya menempel dengan kepala Rossi.
"Mulai sekarang, kamu akan lebih sering melihatku setiap bangun tidur. Apa tidak masalah?"
__ADS_1
"Masalah? Tentu saja tidak."
--***