Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.17


__ADS_3

Rossi berlari menuruni tangga yang berlapiskan keramik mika, ia hanya memakai piyama tipis merah muda dan kakinya yang telanjang berjalan begitu terburu buru. Dari balik piyama itu terlihat samar benda yang menopang ***********.


Dengan cepat ia sampai di anak tangga terakhir. Langkahnya terhenti melihat dua pria berdiri di ambang pintu. Bukan Edgar. Rossi merasa kecewa.


'Ternyata bukan dia. Kenapa dia menyuruh mereka kesini tengah malam begini. Apa terjadi sesuatu padanya,' pikir Rossi. Ia menjadi cemas kembali teringat kejadian di bar.


Dia melangkah mendekati dua pria itu, Willy dan Jeck. Namun hanya dua setengah langkah. Dia kembali berhenti, merapatkan kakinya. Rossi tiba tiba teringat akan wanita yang bernama Olivia, kekasih Edgar.


'Sepertinya aku tidak perlu ikut dengan mereka,' batin Rossi. "Bodohnya aku."


Dengan cepat Rossi berbalik menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya. Membuat dua pria yang masih menunggunya di ambang pintu besar itu menjadi heran.


"Kenapa dia malah kembali?" Jeck mengerutkan dahinya.


"Mungkin ada yang terlupakan. Kita tunggu saja," balas Willy santai.


Rossi menutup pintu kamarnya namun masih menyisakan sedikit celah. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Ha rossi? Kamu tidak pergi?" Tanya Sarah yang ternyata sudah kembali pada game nya.


"Tidak. Aku ngantuk," jawab Rossi. "Lagipula tidak ada hubungannya denganku."


"Hmm. Ya terserah kamu saja." Sarah menaikkan bahunya dan kembali fokus pada gamenya.


Di ambang pintu, angin malam mulai menghampiri dua pria yang berdiri disana. Ya bagi mereka angin itu biasa saja, tidak berpengaruh apa pun. Berdiri lama pun juga tidak membuat mereka lelah. Tapi kedua nya sudah tidak sabar menunggu, Rossi tak kunjung turun menghampiri mereka.


"Kenapa dia sangat lama. Hoo bagaimana jika Edgar bunuh diri dan dia sudah mati sekarang," ujar Jeck. "Apa kita akan langsung membawa jasad nya ke rumah besar?"


"Apa yang kau katakan. Dia tidak sebodoh itu untuk bunuh diri," ucap Willy tak setuju.


"Bisa saja. Tadi saja dia menabrakkan dirinya ke air mancur, kau tau.. Bagaimana jika sekarang dia mengambil pistol dan menembak kepalanya." Jeck tak henti mengeluarkan omong kosong dari mulutnya.


"Berhentilah mengoceh, lebih baik kita ke atas saja."


Dengan langkah kaki yang lebar melewati dua anak tangga sekaligus, mereka sampai dengan cepat di lantai atas. Terdengar suara samar dari salah satu ruangan di sana. Willy dan Jeck langsung mendekati ruangan itu.


'Enemy triple kill. Enemy maniac. Enemy sav--.'


"Ah sial. Lol." Sarah menggeram kesal.

__ADS_1


Tiba tiba ada yang mengetuk pintu. Sarah melirik pada Rossi, tapi sepertinya dia sudah tidur. Pikir Sarah. Sarah merasa bingung, siapa yang mengetuk pintu kamar itu. Hanya ada dia dan Rossi di rumah itu, Bi Lana pun tidak mungkin tiba tiba datang semalam itu.


Sarah berjalan mendekat ke pintu. Dua pria yang dilihatnya di bawah sekarang berdiri di hadapannya.


'Apa? Mereka masih disini?' Pikir Sarah heran.


"Nona. Apa dia sudah siap?" Tanya Jeck langsung. Sarah hanya membukakan pintu itu dan memperlihatkan Rossi yang tertidur di atas tempat tidur.


"Hmm. Dia kembali untuk tidur," Jeck menaikkan dahinya. "Nona. Tidak bisakah kamu membangunkan nya ya."


"Tapi tadi dia bilang kalau dia tidak ingin pergi," jawab Sarah polos.


"Ayo lh. Nona tidak bisakah kamu membantu kami membangunkannya? Edgar sedang menggila sekarang, bahkan tadi siang saja dia menabrak--."


"Kamu jadi banyak bicara Jeck. Kita hanya harus membawanya bukan," lanjut Willy memotong perkataan Jeck.


'Menabrak apa?' pikir Rossi dari balik selimut. Ternyata dia belum tidur. Bagaimana bisa dia tidur dengan kepalanya yang masih memikirkan Edgar.


"Apa?" Teriak Rossi yang tiba-tiba muncul dari balik selimutnya. Sarah menaikkan alisnya.


Willy menjelaskan situasi yang terjadi padanya. Rossi menjadi cemas, dan ingin berada di samping Edgar secepatnya. Ia melupakan kemarahannya.


'Ada apa sebenarnya dengan pria itu,' batin Rossi.


Rossi tiba di mansion, ia berlari ke lantai atas dan berhenti tepat di ruang kerja Edgar. Rossi terdiam berdiri di ambang pintu, ruangan itu gelap. Hanya terlihat siluet seorang pria yang terduduk di lantai balkon dengan sebotol alkohol di tangannya.


Dengan cepat Rossi menghampiri pria itu.


"Apa kamu sudah tidak waras?" Rossi mengambil botol alkohol yang berada di tangan Edgar. Membuangnya entah kemana.


"Olivia." Edgar langsung berdiri begitu mendengar suara rossi, memeluk wanita itu dengan erat "Akhirnya aku bertemu denganmu."


Dadanya terasa nyeri. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk kembali memeluk pria itu. Tapi dia tak mengikutinya.


"Edgar. Sadarlah. Aku bukan Olivia." Rossi berusaha melepaskan pelukan itu.


"Tidak. Biarkan aku memelukmu. Aku sangat merindukanmu." Edgar tak ingin melepaskan pelukannya.


Edgar mendorong tubuh Rossi masuk dan menghempaskannya ke sofa. Edgar menindih Rossi di bawahnya. Dengan agresif mencium Rossi lama sebelum menariknya kembali.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku bahkan tidak bisa menemukanmu dan malah bercinta dengan wanita lain. Maaf."


Pria itu sudah tidak sadar. Ia meracau tak jelas. Rossi berusaha menyadarkan pria itu. Dia menopang kepala Edgar dengan kedua tangannya. Memegang kedua pipi Edgar dengan lembut.


"Hei. Sadarlah. Lihat aku baik-baik. Aku Rossi. Rossi. Bukan Olivia." Tegas Rossi padanya, "Apa kamu begitu mencintainya?"


"Rossi.." Edgar mulai tersadar bahwa wanita yang berada di bawahnya bukan Olivia. Melainkan Rossi, tunangannya. Lebih tepatnya wanita yang dimanfaatkan.


"Kamu kembali. Aku pikir kamu akan pergi meninggalkan ku dan bersembunyi dariku," lirih Edgar.


"Tidak. Aku kesini hanya un--."


Rossi belum menyelesaikan kalimatnya, Edgar sudah membungkam mulut wanita itu dengan mulutnya.


"Berjanji lah padaku. Kamu tidak akan pergi dariku," pinta edgar.


"Apa kamu sadar dengan siapa kamu berbicara sekarang?"


"Ya. Rossi. Wanitaku."


Rossi tersenyum mendengarnya. Dia merasa tenang, namun dadanya tertahan nyeri.


Di dalam kegelapan mereka kembali bercinta.


***


Pukul 8.24, mentari pagi mulai menyinari seluruh ruangan. Menghampiri dua insan yang tertidur di sofa, dalam keadaan tak berbusana dan berpelukan dengan begitu mesra.


Rossi menyipitkan matanya. Cahaya itu mengganggu penglihatannya. Ia perlahan bangun dari sofa, mengeluarkan dirinya dari pelukan Edgar. Ia memungut baju hangat yang tergeletak di lantai, menutupi tubuh telanjangnya dengan itu.


Dengan perlahan, Rossi melangkah kan kakinya ke balkon yang dipenuhi botol alkohol yang berserakan. Berniat merapikannya, tanpa sengaja matanya terhenti diantara botol botol itu tertuju pada beberapa foto yang terselip di sana.


Dengan penasaran, Rossi memungutnya.


"Foto wanita. Apa ini Olivia itu?" Ucap Rossi sambil menggilirkan beberapa foto di tangannya.


Tiba tiba air matanya keluar tanpa dia sadari. Rossi merasakan ada sesuatu yang mengusik hatinya, dadanya kembali terasa sakit.


--***

__ADS_1


__ADS_2