Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.43


__ADS_3

Edgar berada di kantornya, gedung tinggi menjulang dengan kaca besar yang berkilau karena terpapar sinar matahari. Dia sibuk dengan berkas berkas yang berada di hadapannya. Hingga seorang wanita masuk menghentikan kegiatannya.


Sekretaris nya, dia menunduk hormat sebelum menyampaikan laporannya.


"Tuan. Kita sudah berhasil menekan saham perusahaan Adeliano, tapi harga nya langsung melonjak lagi semalam. Seperti nya ada perusahaan lain yang membantunya tuan. Ini diagram saham perusahaan Adeliano beberapa hari yang lalu dan mengalami perubahan yang drastis dalam semalam," ucapnya sambil menyerahkan sebuah iPad kepada Edgar.


Suasana nya menjadi sedikit menakutkan, Edgar tersenyum seram melihat diagram yang muncul di layar iPad itu.


'Aduh, habis sudah. Apa tuan akan marah lagi.' batin sekretaris itu. Dia teringat saat terakhir kali mereka gagal untuk menjatuhkan harga saham sebuah perusahaan lain. Saat itu Edgar marah, dia melontarkan semua amarahnya.


"Apa yang kalian kerjakan selama ini. Menjatuhkan perusahaan kecil saja kalian tidak becus. Gelar apa nya, kalian bahkan tidak punya klasifikasi untuk itu," kata Edgar sambil melempar beberapa berkas yang sudah dibacanya. "Dalam 12 jam, jika tidak bisa mengurusnya. Kalian semua tidak usah datang lagi ke perusahaan ku. Tidak berguna."


Kembali ke saat sekarang.


"Haha. Jadi dia yang membantunya, mereka pikir berurusan dengan pria seperti Geralderd itu mudah. Sungguh bodoh. Mereka menggali kuburan nya sendiri." Edgar tertawa seram sebelum meletakkan iPad itu di atas mejanya.


Sekretaris itu tidak berani menjawab, dia takut jika Edgar akan mengamuk lagi dan bisa saja dia melempar iPad itu padanya.


'Bagaimana ini,' pikirnya.


"Baiklah. Kalian bekerja cukup bagus. Kau boleh pergi, dan langsung pergilah ke bagian personalia. Aku akan menaikkan gaji kalian."


"Ya?" Sekretaris menjadi heran, apa dia tidak salah dengar. Edgar tidak marah sedikitpun, malahan berbaik hati menaikkan gaji.


"Kenapa? Kalian tidak ingin kenaikan gaji?"


"Tentu. Tentu saja ingin tuan. Terimakasih, saya ijin undur diri," kata sekretaris itu menunduk hormat sebelum pergi.


'Ada apa dengan tuan Edgar hari ini,' pikirnya.


Edgar sendirian dalam ruangannya. Namun di wajahnya masih terdapat senyum seringai menandakan dia puas dengan apa yang sudah terjadi.


"Haha. Aku tidak menyangka ini," ucap Edgar kembali mengambil iPad yang berada di atas meja, melihat lagi laporan diagram di dalamnya. "Tapi setidaknya, Adeliano tidak akan berani bertingkah sekarang."


Kring. Kring.


Ponsel Edgar berdering, tak jauh berada dari komputer nya.


[Mr. Hans] tertulis di layar itu. Hans Alexandra, ayah Rossi menghubungi nya. Dia sempat tidak percaya.


"Halo. Mr Hans?" Ucap Edgar menjawab panggilan itu.


"Edgar Julian Stevenson, aku sengaja menghubungi mu secara pribadi. Aku akan ke Paris beberapa hari lagi untuk melihat debut putriku. Aku ingin bertemu dan membicarakan sesuatu denganmu setelah debutnya berakhir. Anak buahku akan menghubungimu lagi. Dan untuk sekarang, kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Terimakasih."

__ADS_1


Tut. Tut.


Panggilan berakhir, Hans mengakhiri panggilan itu.


"Dia bahkan mematikan panggilan ku. Aku belum menjawab apapun. Dia pasti masih salah paham denganku, namun untuk apa Mr Hans ingin bertemu disini. Sebaiknya aku mendatangi nya saja ke Italia. Lagipula aku juga ingin ke makam Olivia."


Edgar bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan itu. Di perjalanan keluar dari perusahaan nya dia menelepon seseorang. Langkah nya selalu disambut orang para karyawan yang selalu menunduk hormat padanya.


"Atur keberangkatan ku ke Italia hari ini," kata Edgar sebelum mengakhiri panggilan itu.


Di tempat lain, Rossi dan Sarah kelelahan setelah cukup lama menembak. Sebenarnya mereka hanya ingin istirahat saja. Rossi menikmati angin dingin yang datang menghampirinya, karena tempat itu bisa dibilang berada di atas bukit. Pepohonan nya pun masih rindang di sekitar sana.


Ting.


Sebuah pesan baru masuk di ponsel Rossi.


[Nomor tidak dikenal: 1 pesan baru]


Rossi baru selesai menghabiskan sebotol air mineral, kening nya menyerngit heran melihatnya. Karena nomor telepon nya tidak sembarang orang dapat menghubungi nya.


'Siapa ini,' pikir Rossi heran.


Dengan botol air yang masih berada di tangannya, Rossi memegang ponselnya di tangan yang satu lagi.


:12.34


"Hah. Astaga, aku lupa," ucap Rossi sambil membuang botol kosong itu ke tempat sampah yang tak jauh darinya.


"Ada apa?" Tanya Sarah mendekat pada Rossi sambil membawa sebotol air mineral yang masih utuh di tangannya.


"Kita harus pergi sekarang, kamu anterin aku ya." Rossi menarik tangan Sarah untuk segera pergi dari sana.


"Hah. Kemana?"


"Ikut saja."


Di perjalanan.


Rossi sengaja membuka jendela kaca mobil, dia tidak ingin melewatkan kesejukan angin yang terus bergerak kesana kemari. Terkadang membawa dedaunan dalam arusnya. Setidaknya Rossi bisa menenangkan pikirannya sejenak.


"Kemana? Apa kamu ada janji dengan seseorang?" Tanya Sarah melirik singkat ke arah Rossi sebelum kembali fokus pada jalanan yang berada di hadapannya.


"Kitsune Cafe, Palais Royal. Ya ada seseorang, tapi nanti kamu tunggu di mobil saja yah. Menurutku bukan ide yang bagus jika kamu ikut denganku."

__ADS_1


"Hmmm. Baiklah, tapi memangnya kamu ingin bertemu dengan siapa hingga aku tidak bisa menemani mu?" Sarah bertanya lagi, cukup banyak pertanyaan yang sudah dia siapkan. Untuk diluncurkan pada Rossi.


"Joshua."


"Apa? Wah, ingin bertemu saja harus berdua. Apa kalian berselingkuh? Oh atau kalian ingin membahas bagaimana pertunangan kalian nantinya." Sarah sedikit menyeringai, karena dia tau Rossi tidak pernah menginginkan pertunangan itu.


"Jangan menggodaku Sarah. Itu tidak akan menjadi obrolan yang panjang dengannya."


Tak lama kemudian, Sarah memarkirkan mobilnya di parkiran dan tetap duduk di dalam sana menunggu Rossi. Sementara Rossi melangkah menjauh darinya, memasuki sebuah cafe. Kitsune Cafe.


Cafe yang bagus, dengan untaian lampu menggantung di setiap sudutnya. Dihiasi dengan beberapa tanaman di pojok dinding. Dan vas kecil cantik di setiap meja. Rossi melihat jam tangannya, menunjukkan pukul 13.08. Dia terlambat delapan menit.


Matanya tertuju pada seorang pria yang duduk di meja paling ujung cafe itu. Joshua.


"Maaf aku terlambat," ucap Rossi mengambil posisi duduk yang baik.


"Ya tidak masalah, aku sudah terbiasa menunggu. Itu minuman mu. Ku pikir wanita akan suka dengan jus strawberry," jawab Joshua melirik pada segelas minuman di hadapan Rossi. Ya selera yang cukup bagus.


Mendengar jawaban itu Rossi sempat heran. Tapi ya sudah lah, dia tidak akan memperdulikan nya dulu.


"Jadi apa yang kamu rencanakan?" Rossi langsung ke inti pembicaraan mereka, tak ingin memperpanjang waktu. Penjelasan singkat dan jelas. Itu sudah lebih dari cukup.


"Kamu sangat agresif langsung menanyakannya padaku. Dan itu juga berarti kamu memang mendengar semuanya kemarin." Terselip seringai kecil di wajahnya. "Maaf membuatmu juga harus menyaksikan kedramatisan cintanya."


Rossi hanya mengangguk tidak ingin berkomentar apapun mengenai kisah cinta orang lain. Dia lebih baik memikirkan kisah nya sendiri.


"Baiklah. Aku akan menjelaskannya, sebenarnya aku setuju untuk bertunangan denganmu karena ingin mengambilmu darinya. Dan memang tidak pernah berniat untuk menjadikanmu milikku. Tapi beberapa hari setelah itu. Seseorang mengirim pesan dan mengaku sebagai ayahku, itu tidak mungkin. Sangat mustahil bagiku."


"Hmmm ya, aku tidak akan mempermasalahkan pertunangan itu, tapi ayahmu?" Tanya Rossi.


"Ya. Ayahku sudah meninggal lebih dari 20 tahun yang lalu. Jadi sepertinya ada konspirasi disini, dia mengatakan ingin aku meneruskan geng eagle menggantikannya dan agar aku menjalin pertunangan itu denganmu, karena kamu dari geng lion. Jadi aku ingin kamu ikut dalam rencana ku, bertunangan lah dengan ku."


Hening. Sempat terjadi keheningan disana. Rossi cukup heran mendengar perkataan yang terakhir.


"Bertunangan? Bukankah kamu bilang tidak ada niat untuk hubungan seperti itu?"


"Ya memang tidak seperti itu. Mendekat lah." Pinta Joshua sambil mendekatkan wajahnya ke arah Rossi. Begitu juga Rossi, mereka menjadi cukup dekat.


Tidak terlalu lama. Joshua selesai dengan kalimatnya. Dan Rossi mengangguk paham dan menyetujui rencana Joshua.


"Baiklah. Aku hanya ingin membicarakan itu denganmu," kata Joshua bangkit dari kursinya. "Oh ya. Aku tidak ingin siapapun tau mengenai ini, termasuk Edgar. Dan satu lagi, kuharap kamu memikirkan lagi untuk berhubungan dengannya." Joshua sempat tersenyum sebelum berlalu pergi.


Rossi hanya mengangguk sebagai respon dari perkataan Joshua, dan dia memang belum yakin dengan keputusan nya untuk tetap bersama Edgar.

__ADS_1


--***


__ADS_2