
Di depan gedung, Sarah berdiri dengan menopang tubuh Rossi di bahunya. Waktu yang pas sekali, mereka bertemu dengan Joshua yang saat itu juga hendak pergi dari sana.
"Sarah, apa yang terjadi dengannya?" Tanya Joshua heran melihat tubuh Rossi yang seakan seperti mayat hidup. Begitu lemas.
"Aku tidak tahu, sekarang aku ingin mengantarnya pulang. Tapi Vito kenapa sangat lama," jawab Sarah sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Vito.
"Ya sudah, aku saja yang mengantar kalian," ucap Joshua sambil membukakan pintu mobilnya dan membantu Rossi masuk ke dalam sana.
Dengan cepat mereka melesat dari sana, dan Joshua tidak menanyakan apapun pada Sarah perihal Rossi selama perjalanan. Dia hanya fokus mengendarai mobilnya.
Tak berselang beberapa menit, mobil Joshua terparkir di depan villa Montorgueil.
"Biar aku bantu," Joshua menawarkan diri untuk membantu Sarah membawa Rossi ke dalam villa.
Kring. Kriingg.
Ponsel Joshua berdering sebelum dia keluar dari mobilnya. Panggilan dari sekretaris nya di los angeles-.
"Ya. Ada apa?" Jawab Joshua saat menerima panggilan itu. Joshua mengkode pada Sarah untuk menunggu sebentar. Dia ingin berbicara dengan orang yang meneleponnya.
"Maaf tuan. Kami kehilangan nona Jane, setelah mengantarkan anda dari bandara tadi siang. Sekelompok orang menghentikan mobil kami dan membawa nona Jane pergi. Kami sudah berusaha mengejar dan menghentikan mereka, tapi kami gagal, saya sebagai penanggung jawabnya pantas dihukum tuan," jelas nya di seberang telepon.
"Sial. Ada apa sebenarnya," ketus Joshua sambil memukul setir mobilnya, "cari di semua tempat. Kalau bisa juga periksa setiap penerbangan di bandara internasional, aku curiga orang itu membawa Jane keluar dari los angeles-." Tanpa mendengar jawaban dari seberang, Joshua sudah mengakhiri panggilannya. Sarah hanya melihat heran ke arah Joshua.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Jane?" Tanya Sarah cukup berhati-hati.
"Tidak, tidak terjadi apa-apa. Oh ya, biar aku yang menggendong nya masuk," lanjut Joshua.
Saat tiba di dalam villa itu, Joshua sempat termenung sebentar setelah membaringkan Rossi di atas sofa.
'Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku kesini,' batin Joshua.
"Kamu ingin bermalam disini? Mengingat sudah tengah malam," kata Sarah pada Joshua.
"Sepertinya aku tidak bisa, ada sesuatu yang harus aku urus malam ini," jawab Joshua sambil kembali melihat ke layar ponselnya.
"Hmmm. Baiklah, terima kasih," ucap Sarah diiringi dengan senyum di wajahnya.
"Ya. Kalau begitu aku pamit pergi dulu."
"Oke."
Dengan cepat Joshua berada di mobilnya, dia melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan villa itu.
Ting.
Sebuah pesan baru masuk ke ponselnya, itu dari sekretaris nya.
__ADS_1
[Vivi: Kami sudah menemukannya tuan, keberangkatan atas nama nona Jane. Berangkat dari sini ke Italia tadi sore, tuan]
[Joshua: Read✔️✔️]
"Italia? Kenapa dia bisa kesana, insiden sekarang terjadi di sini, di Paris. Lalu kenapa Jane di bawa ke Italia?" Joshua memutar balik kan mobilnya menuju ke bandara, "Mereka pasti orang yang berbeda."
Setibanya di bandara, Joshua menelepon Edgar. Nomor telepon Edgar sudah di keluarkan nya dari daftar hitam.
"Halo, Edgar?"
"Ya? Apa aku tidak salah menjawab telepon,?" Jawab Edgar dengan nada sedikit mengejek.
"Jika tidak butuh, aku juga tidak akan menghubungi mu."
"Cepat saja katakan ada apa, aku ada urusan penting disini."
"Aku ingin memakai markas eagle di Italia, tidak akan lama," pinta Joshua pada Edgar.
"Untuk memakai markas saja, kamu izin padaku. Apa kamu memang sudah tidak menganggap hubungan keluarga lagi? Dan juga, kamu masih tetap sebagai bagian dari geng eagle. Jangan mengatakan hal konyol padaku," lanjut Edgar.
"Ya,ya. Terserah kamu saja."
"Memangnya kamu ingin mengurus apa?"
"Bukan urusanmu, urus saja masalahmu disana, bye."
Joshua mengakhiri panggilannya, sementara di seberang telepon tempat Edgar berada. Dia sedang berhadapan dengan penembak itu. Tapi sayangnya dia bunuh diri dengan meminum racun, saat sudah tertangkap.
Tiba-tiba Jeck datang mendekat padanya, dengan menyodorkan foto pada Edgar.
"Dia memang memakai tato yang mirip dengan lambang dari geng eagle, tapi terdapat perbedaan pada beberapa bentuknya. Kau bisa melihatnya sendiri," jelas Jeck.
Edgar tak butuh lama untuk mengetahui perbedaan itu, lambang nya sangat jelas berbeda dalam pandangannya.
Berselang tak lama, seorang pria masuk diantara mereka. Dia menatap Edgar dengan tatapan tak suka. Itu Zeck, Zeck Alexandra.
"Kenapa kamu begitu yakin dia bukan dari orang mu? Bisa saja kamu yang menyuruhnya untuk menembak tetua geng lion," ucapnya santai, "dan mengambil alih geng lion dari putrinya."
"Kau?! Siapa kau tiba-tiba masuk dan menyalahkan ku," Edgar menatapnya tajam.
"Oh aku?"
Zeck mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Namun Edgar tidak menerimanya, bahkan menatap sinis pada Zeck.
"Haha. Sungguh malang sekali, aku tidak menyangka dia akan menangisi pria seperti mu," Zeck mengalihkan pandangan diiringi seringai di sudut bibirnya.
"Apa maksudmu?" Edgar langsung meledak, dia mencengkram kemeja Zeck dan menatap nya begitu ganas.
__ADS_1
Namun melihat perlakuan Edgar padanya, dia malah tersenyum lebar. Dan--
Puk.
Zeck menendang Edgar. Tendangan itu menjadi awal dari perkelahian mereka.
'Aku akan membuatmu membayar karena sudah membuatnya menangis,' batin Zeck.
'Brengsek ini, dia berani menendangku,' pikir Edgar.
Mereka cukup lama berkelahi, hingga Jeck dan anggotanya berhasil untuk menahan keduanya. Tidak ada yang menang dan kalah. Mereka seri.
Zeck tersenyum puas, walaupun wajah tampannya harus menerima beberapa pukulan dari Edgar. Begitu juga Edgar, dia juga tersenyum.
"Pukulan yang bagus," ucap Zeck cukup puas dengan Edgar.
"Ya, tendangan yang kuat," balas Edgar.
"Selamat datang brother," Edgar memeluk Zeck. Mereka berpelukan.
"Akting mu lumayan juga," balas Zeck pada Edgar.
"Dan kamu Jeck, senang bertemu lagi denganmu," lanjut Zeck.
Edgar dan Zeck pergi meninggalkan ruangan itu. Mereka berbincang di tempat lain, sementara Jeck yang akan mengurus si pelaku penembakan itu.
Pertama kali mereka bertemu di Korea yaitu saat pertemuan bisnis. Edgar dan Zeck menjadi dekat karena mereka memiliki hobi yang sama yaitu tinju. Sejak saat itu mereka menjadi saling mengenal dan terkadang juga sengaja bertemu untuk memperkuat hubungan bisnisnya.
Mereka berbincang cukup lama tentang masing-masing, hingga Zeck mengubah topik pembicaraan.
"Apa kau ingin bermain-main dengannya?" Tanya Zeck serius.
"Siapa?"
"Rossi, aku tidak akan hanya menendangmu jika aku melihat nya menangis lagi," lanjut Zeck.
"Apa maksudmu, dia menangis? tapi bagaimana kamu mengenalnya?" Tanya Edgar bingung.
"Tentu saja aku mengenalnya, dia putri dari pamanku. Mana mungkin aku tidak tahu, aku di besarkan olehnya. Walaupun dia mungkin tidak akan mengenalku, ini sudah lama sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Sebelum dia koma saat itu."
"Oh ya, aku hampir lupa jika Mr Hans pamanmu. Tapi mengenai Rossi, koma? Kapan?"
"Ah lupakan, aku tidak akan membahasnya. Kau cari tahu saja sendiri. Aku hanya ingin memperingatkan mu, jika kau tidak serius dengannya. Tinggalkan dia sekarang, jangan membuatnya menjadi wanita yang mengharapkan kasih sayang palsu darimu," kata Zeck dengan tegas.
"Aku tidak main-main dengannya," jawab Edgar.
"Aku akan menantikan bukti dari ucapan mu, kau tahu kan jika aku tidak pernah main-main dengan perkataan ku. Tapi sepertinya aku harus pergi sekarang, ada sesuatu yang harus aku urus. Sampai nanti."
__ADS_1
Zeck pergi meninggalkan Edgar. Sementara Edgar masih berada dalam keraguan cinta nya. Dia tidak yakin apa itu sudah menjadi cinta atau masih berada dalam perasaan nyaman.
--***