Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.14


__ADS_3

Di kamar mandi.


Di ruangan mewah berlapiskan emas di beberapa tempat. Seorang wanita dengan tubuh telanjang berada di dalam genangan air bathtub yang sudah tumpah keluar. Di pintu masuknya berdiri seorang pria dengan raut wajah cemas.


Ia langsung mendekati bathtub, mengangkat seorang wanita yang berada di dalamnya. Dengan cepat dia membawanya keluar dari dalam sana.


"Apa kamu sudah mati."


Edgar panik


Dia menggoyangkan tubuh wanita itu dalam dekapannya. Ia berusaha membangunkannya. Namun Rossi tidak merespon apa pun.


Edgar membaringkan tubuh Rossi di atas tempat tidur dan kembali berusaha membangunkannya.


"Hei bangun."


Edgar menepuk lembut pipi rossi.


***


Di balkon.


Sepasang kekasih sedang menatap ke langit malam dengan mesra, wanita itu menyandarkan kepalanya ke dada pria itu. Di bawah cahaya bulan, mereka terlihat begitu romantis. Senyuman manis tercermin dari wajah mereka tak kunjung sirna.


"Apa kamu bisa memegang janjimu padaku?" Tanya wanita berambut panjang.


"Tentu saja. Aku akan menepati janjiku," jawab pria itu.


"Bagaimana jika suatu saat aku menghilang. Apakah kamu akan menungguku?"


"Pasti, kenapa? Apa kamu ingin pergi dariku?"


"Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya bertanya."


Mereka berciuman dengan mesra. Dan wanita itu kembali mengajukan pertanyaan pada kekasihnya.


"Apa kamu akan setia padaku jika aku mati dan--," kalimatnya tidak selesai.


Pria itu kembali menciumnya.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


Ia menjawab dengan cepat.


Mereka bercinta dengan begitu panas disana.


***


"Rossi. Rossi."


Edgar tak henti membangunkannya.


Perlahan mata wanita itu terbuka, Edgar langsung memeluknya. Menempelkan kepala Rossi ke dadanya.


"Kupikir kamu tidak akan bangun," ucap Edgar.


Di dalam pelukan itu, Rossi tersenyum.


'Hangat,' batinnya.


"Mungkin aku tertidur," balas Rossi tak tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


"Bodoh," ketus Edgar.


Edgar melepaskan pelukannya, menjauh dari tempat tidur. Ia berjalan ke kamar mandi.


"Gantilah bajumu. Temani aku ke klub malam ini dan ya lain kali jika ingin berendam harus bersamaku," ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi.


Rossi mengangguk paham, karena dia tidak bisa menolak perintah pria pemarah itu. Dia memilih gaun berwarna merah yang ada di lemari besar di kamar itu. Semua pakaian didalamnya penuh dengan pakaian yang Rossi kenakan tadi siang. Edgar benar benar membeli semuanya.


Ia berdiri di depan cermin besar panjang yang berada di samping lemari itu. Matanya tak henti menatap pantulan dirinya di cermin. Baju itu sangat pas berada di tubuhnya.


Tiba tiba dia melihat seorang pria di belakangnya dari pantulan cermin. Dia hanya memakai celana, terlihat jelas bentuk dada dan perutnya. Rossi menatapnya puas.


'Ternyata badannya sebagus itu," pikir Rossi.


Edgar menyadari bahwa Rossi memperhatikannya ia menatap wanita itu, sehingga Rossi langsung mengalihkan pandangannya, kembali fokus pada dirinya di cermin. Pria itu berjalan mendekat padanya. Ia memeluk Rossi dari belakang.


"Kenapa? Ingin menyentuhnya?" Goda Edgar.


"Tidak. Untuk apa? Lagipula aku sudah sering melihat yang seperti itu," balas Rossi


"Apa?"


Edgar langsung membalikkan tubuh wanita itu menghadap ke arahnya.


Rossi menatap mata pria itu. Tatapannya sangat berapi api, sangat mengintimidasinya. Sepertinya dia membuat seekor singa keluar dari kandangnya.


"Ha? Tidak. Aku hanya bercanda, aku baru pertama kali melihatnya."


Rossi menenangkan singa itu dengan kebohongannya. Tidak mungkin Rossi belum pernah melihatnya, banyak model pria yang dia temui.


Edgar melepaskan tangannya dari lengan Rossi, dan menjauh darinya.


'Kenapa dia memasang wajah seperti itu, seperti cemburu saja.. Tunggu, apa dia cemburu?' batin Rossi.


Bar Correia.


Lampu sorot berlari kesana kemari menghampiri semua orang yang berada disana. Edgar dan Rossi memasuki sebuah ruangan bernuansa ungu. Sudah tersedia dua botol wine di atas meja. Rossi duduk di samping Edgar.


"Apa kamu ingin mencari wanita disini?" Tanya Rossi padanya.


"Haha. Apa kamu cemburu?"


Edgar menyeringai.


"Cemburu? Tidak. Tentu saja tidak."


Rossi menggeser tubuhnya menjauh dari Edgar.


Tak lama kemudian, seorang pria berumur yang rambutnya sedikit beruban bersama dengan seorang wanita cantik dan sexy memasuki ruangan itu.


"Keponakanku. Sudah lama kita tidak bertemu," kata pria itu. Mike Stevenson.


Edgar hanya diam tak menanggapi.


"Berhentilah bersikap dingin pada pamanmu. Aku membawa hadiah untukmu. Kuharap kau menyukainya," lanjutnya.


Wanita itu mengedipkan matanya, menatap Edgar dengan tatapan menggoda.


"Ho kau pikir aku gila wanita?" Ketus Edgar padanya.


Pria tua itu berusaha tersenyum. Dia melirik ke arah Rossi, menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Menyadari itu Edgar langsung menghalangi pandangannya.

__ADS_1


"Katakan saja, apa maumu," lanjut Edgar kesal.


"Tenang saja. Aku hanya ingin bertemu denganmu, dan memberi hadiah ini untukmu. Tapi sepertinya kau sudah ada wanita malam ini," ujar Mike.


"Dia tunangan ku," jawab Edgar singkat.


Mike menyeringai, meragukan akan hal itu.


"Jadi kamu sudah berhenti mencari kekasihmu itu, siapa namanya.. ha iya-- Olivia," ucapnya.


Sontak nama itu membuat Rossi terkejut.


'Itu adalah nama yang disebut Edgar tadi siang," pikirnya.


Terlihat kekesalan di wajah Edgar. Dia mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarahnya.


"Willy, bawa Rossi ke ruang sebelah."


Perintah Edgar pada pria yang sudah berada di belakangnya sejak tiba.


Willy mempersilahkan Rossi untuk keluar dan ikut bersamanya. Ia hanya bisa menurutinya, dan pergi dengan perasaan kecewa campur aduk.


Di ruang sebelah.


Willy meninggalkan Rossi sendirian di dalamnya, dan dia berjaga di depan pintu itu. Sedangkan Rossi duduk di atas sofa merah yang hanya ditemani cahaya lampu di setiap sudut ruangan itu.


'Jadi dia memiliki kekasih. Lalu kenapa dia ingin bertunangan dengan ku. Huh. Kenapa aku merasa sedih, dia bahkan tidak pernah menyatakan perasaannya padaku,' pikirnya.


'Apa aku terlalu larut dalam perhatian dan kasih sayang nya, sehingga aku tidak sadar akan status dalam hubungan ini,' lanjutnya.


Tanpa dia sadari air matanya mengalir keluar.


Tak lama kemudian terdengar suara ribut dari depan pintu ruangannya. Rossi menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya dan merapikan kembali riasan wajahnya yang mulai pudar. Ia keluar dari ruangan itu seperti tidak terjadi apa-apa.


"Vera.?"


Rossi mengerutkan dahinya melihat seorang wanita bar yang berdiri di hadapannya.


"Oh Rossi. Ternyata aku tidak salah lihat, yang tadi keluar dari sana adalah kamu."


Dia tertawa kecil.


"Apa maumu?" Ketus Rossi.


"Aku melihatmu dengan sedih keluar dari dalam sana, apa kamu sudah dibuang oleh kekasih barumu itu? Aku merasa prihatin. Seharusnya kamu sadar diri sejak awal, mana mungkin orang besar seperti Mr. Edgar ingin menjadikanmu yang hanya seorang model sebagai tunangannya apalagi istrinya. Sungguh kasihan," lanjut wanita itu.


"Terimakasih Vera. Kamu begitu peduli padaku." Rossi tersenyum lebar.


"Apa kau tau kekasihmu itu memiliki banyak wanita? Dia bahkan membawa banyak wanita ke kamarnya. Bagaimana bisa seorang pria bejat seperti dia menjadi Presdir. Sungguh kotor," lanjutnya.


Plak.


Sebuah tamparan mendarat di pipi Vera. Dia langsung terdiam dari semua omong kosong yang keluar dari mulutnya.


"Kau menamparku?" Ucapnya sambil memegangi pipinya yang membengkak.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menamparmu?"


Rossi tersenyum manis.


"Kau. Kau. Kau akan menyesal," ucap wanita itu berjalan menjauh meninggalkan Rossi.

__ADS_1


--***


__ADS_2