Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.36


__ADS_3

Paris, ibukota Perancis. Yang terletak di sungai Seine. Terbentang jembatan Pont de la Concorde di atas sungai itu, di Utara Perancis, jantung region Ile-de-France.


Sebuah villa yang terletak di tengah kota Paris. Sebuah bangunan yang cukup besar dan dikelilingi pepohonan hijau. Tak lupa ada satu kolam renang disana. Menyempurnakan hiasan bangunan itu.


"Sarah. Apa sebelumnya ada yang tinggal disini?" Rossi melangkah memasuki vila itu dengan koper merah muda di tangannya. Melihat sekelilingnya, cukup banyak hiasan yang disukai wanita. Kebanyakan bernuansa merah. Seperti Ruby.


"Ya. Olivia dulu tinggal disini selama kuliah, aku pernah kesini. Tapi tidak terlalu sering , karena aku harus berlatih dengan kakak ku saat itu. Mungkin semacam kunjungan," jawab Sarah sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Hmmm begitu, apa dia tinggal sendiri?" Rossi mulai menyusuri setiap sudut nya. Tidak terlalu besar, tapi cukup besar jika hanya ditempati oleh satu orang.


"Setahuku dia tinggal sendiri." Sarah menatap langit-langit rumah itu sambil mengingat sesuatu. "Oh ya. Dia punya sahabat wanita, dia juga sering kesini."


"Benarkah? Siapa?" Ucap Rossi sambil duduk di sofa yang sama tempat Sarah berbaring.


"Ah aku lupa, mungkin namanya Jane. Seingat ku itu namanya. Tapi.. kenapa kamu bertanya? Apa kamu menemukan sesuatu?" Sarah langsung terduduk di samping Rossi.


"Tidak. Aku hanya bertanya." Rossi penasaran dengan apa yang ada di lantai atas. Seakan memanggilnya. "Aku ingin ke atas dulu."


"Oke. Kalau begitu aku ingin tidur." Sarah kembali berbaring dan perlahan menutup matanya.


"Tidur terus. Ntar malam begadang lagi main game." Rossi mencibir sambil melangkah menaiki tangga. "Tapi kenapa tidak tidur di atas saja? Bukankah kita bisa berbagi tempat tidur?"


"Tidak tidak. Aku hanya ingin tidur sebentar. Kamu ke atas lah dulu," pinta Sarah.


"Baiklah. Selamat tidur siang tuan putri." Rossi tersenyum panjang dari lantai atas. Memandangi Sarah yang terbaring di sofa.


Rossi sempat terdiam di depan pintu sebuah kamar. Ya itu kamar Olivia. Orang yang sudah memberikannya kehidupan, membuatnya bisa berdiri disana.


"Huh." Rossi menghela nafas panjang sebelum membuka ruangan itu. Entah kejutan apa yang ada di dalam. Sesuatu yang membuatnya sedih? Atau senang?


"Wow," kata Rossi. Dia tidak pernah menyangka jika kamar seorang wanita akan seperti itu. Tidak ada hiasan mencolok, hanya beberapa lukisan yang tergantung di dinding dan beberapa vas kecil di atas meja. Sangat sederhana. Tidak ada debu, semuanya bersih. Pasti sudah ada yang membersihkan ruangan itu sebelum mereka datang.


"Apa ada sesuatu yang hilang disini?" Rossi terhenti di depan dinding yang berbekas bingkai foto. "Kemana fotonya?"

__ADS_1


Rossi kembali melihat di sekitar. Seketika bayangan itu muncul. Bayangan seorang wanita yang mondar mandir kesana sini di ruangan itu. Dia terlihat terburu buru dengan senyum manis tidak hilang dari wajahnya. Dia terlihat menantikan sesuatu. Sesuatu yang istimewa.


Rossi tersenyum. Dia yakin itu Olivia. Dia tidak menyangka akan melihat bayangan Olivia sejelas itu di hadapannya. Terasa nyata. Senyum itu sangat terasa nyata.


Rossi perlahan duduk di kursi yang berada di depan meja belajar Olivia. Terlihat cukup banyak majalah mode disana.


'Dia sangat menyukai modeling? Di rumah aku juga melihat beberapa majalah mode,' batin Rossi sambil mengambil salah satu majalah dan mulai membukanya. Sedikit berdebu.


"Uh-huk." Debu itu membuat tenggorokan Rossi terasa sedikit gatal. Rossi ingin meletakkan kembali majalah itu. Ada sesuatu.


"Buku harian?" Ucap Rossi sambil menghapus sedikit debu yang menempel pada sampul nya. "Apa aku boleh membacanya."


Rossi ragu. Dia tidak yakin untuk membacanya. Masih terbayang di benaknya. Apa dia punya hak untuk membaca buku itu. Pasti buku itu sangat rahasia.


Ting. Ting.


Bel berbunyi dua kali. Terdengar cukup nyaring sampai ke lantai atas. Sarah terbangun dari tidurnya dan Rossi juga terhenti lagi lamunannya.


"Ya.." Sarah berjalan ke arah pintu sambil mengucek matanya.


Pintu terbuka. Seorang wanita cantik, dengan dres pendek setinggi lutut menampakkan kaki jenjangnya yang tinggi. Dia tersenyum hangat pada Sarah.


"Hai." Dia menyapa Sarah dengan melambaikan tangannya.


"Jane..," ucap Sarah. Akhirnya matanya terbuka seluruhnya.


"Ya. Sarah, aku pikir kamu lupa dengan ku. Boleh aku masuk?" Jane berkunjung kesana setelah penjaga villa itu meneleponnya jika ada yang datang ke villa itu. Jane menjadi penasaran, sudah lama tidak ada yang kesana. Jadi dia memutuskan untuk berkunjung ke sana.


"Oh ya tentu." Sarah membuka lebar pintu itu dan mempersilahkan Jane untuk masuk dan duduk.


"Apa terjadi sesuatu Sarah?" Jane melihat sekelilingnya, sangat bersih dari terakhir kali dia kesana. Sangat berdebu.


"Tidak ada, hanya saja menemani seseorang." Sarah mengambil sebotol air mineral dari tas nya. "Maaf kami baru sampai, jadi hanya ada ini."

__ADS_1


"Eh tidak apa. Aku hanya ingin berkunjung kesini. Tapi kami? Kamu tidak sendirian?" Tanya Jane sambil membuka botol minuman yang diberikan Sarah padanya.


"Itu… Aku datang bersama Rossi. Adik Olivia."


"Hah? Benarkah? Adik Olivia ada disini. Dimana dia?" Jane sedikit terkejut. Selama ini Olivia sering membahas adiknya, hanya Jane yang tau jika Olivia punya adik. Bahkan Edgar dan Joshua tidak mengetahuinya. Karena mereka sangat dekat. Sahabat.


"Tuh dia muncul," kata Sarah sambil menunjuk ke arah tangga. Rossi melangkah menuruni tangga.


Rossi dan Jane bertatapan. Cukup lama, hingga Jane melambaikan tangan menyapa Rossi. Dia berjalan mendekat ke arah Rossi yang berdiri di ujung anak tangga terakhir.


"Hai. Aku Jane," ucap Jane sambil mengulurkan tangannya pada Rossi. "Jane Gabriela," lanjutnya.


"Halo. Rossi Alexandra." Rossi menjabat tangan itu. Mereka berdua tersenyum hangat.


Rossi, Jane dan Sarah berbincang cukup lama di ruang tamu. Hari hampir gelap. Jane akhirnya pamit untuk pulang, ada hal yang harus diurusnya. Tapi bukan hal semacam itu, hanya tentang Joshua. Dia ingin menjemput Joshua di bandara.


"Kenapa tidak menginap disini? Biar kita bisa mengobrol lebih lama kak Jane." Rossi memelas sedih saat Jane berpamitan pergi. Dia memegang erat tangan Jane agar tidak pergi "Lagi pula kan sudah hampir gelap."


"Rossi. Aku bukannya tidak mau, hanya saja aku harus menjemput seseorang. Dia sudah hampir tiba di bandara. Nanti kita akan pergi bersama. Oke?" Jane tersenyum hangat pada Rossi. Ya dia memang baik. Wajar jika dia masih selalu mengingat Olivia.


"Hmmm. Baiklah..," Rossi akhirnya setuju membiarkan Jane pergi.


Pesta itu akan diadakan 2 hari lagi. Dan debut Rossi untuk memulai lagi karirnya di dunia modeling masih 5 hari lagi. Ya cukup banyak waktu untuk bersenang-senang.


"Sarah. Apa kamu tahu dimana kak Jane tinggal?" Tanya Rossi sambil membereskan pakaiannya ke dalam lemari.


"Entahlah. Aku tidak tahu, aku tidak terlalu dekat dengannya." Sarah melengkungkan bibirnya ke bawah, sedikit mencibir.


"Kenapa? Dia sangat baik. Dan ya sangat bersahabat," lanjut Rossi.


"Mungkin. Sepertinya memang begitu." Sarah seperti menyembunyikan sesuatu.


--***

__ADS_1


__ADS_2