Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
THE PRICE OF SINCERITY


__ADS_3

PENGUMUMAN ❣️



Harga Sebuah Ketulusan 🥀


Max Miller di tinggalkan oleh tunangannya sesaat setelah dia melingkarkan cincin berlian 1,2 carat di jari manis wanita itu. Sejak saat itu, dia menjadi pria brengsek yang tidur dengan wanita mana pun yang dia mau. Dia tampan dan kaya raya, wanita mana yang sanggup menolaknya. Dan Jane adalah pengecualian.


Jane Morgan, wanita berusia 25 tahun. Seorang model papan atas di Los angeles. Wanita cantik dan sexy, dan juga wanita yang punya masa lalu. Kenangan di masa lampau yang masih menghantui dan melekat padanya sebagai sebuah trauma. Hingga dia bertemu dengan Max, seorang pria yang ternyata adalah sesuatu di hidupnya di masa sekarang. Atau mungkin bisa menjadi masa depannya. Tapi seketika semuanya berubah.


~~".... Tidak bisa menetapkan harga mu?! Biar ku perjelas, Max. Kau tidak bisa membayar ketulusan dengan uangmu." Jane masih menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. ~


Apakah ketulusan pantas di nilai dengan uang?


Happy Reading Honey 🥰

__ADS_1


Ditunggu kehadirannya yaa🫶🌹


#Gairah Sesaat


“Se—sesak. Aku tidak bisa—nafasku.”


Melihat wajah Jane yang memucat dan tubuh wanita itu yang melemah membuat Max langsung menghentikan kegiatannya. Dia langsung berdiri dan berjongkok di samping Jane. Wanita itu menutup matanya sangat erat. Dan tidak bisa bernafas dengan benar. Max memegang tangannya. “Lihat aku,” pinta Max.


Max mengucapkannya beberapa kali, tapi Jane tidak juga membuka matanya. Hingga Max menyelipkan tangannya di leher Jane dan mengangkat kepala wanita itu untuk mengarah padanya.


Akhirnya Jane membuka matanya meski hanya sedikit, tapi itu sudah cukup bagi Max.


“Sekarang tarik nafasmu perlahan, tarik dengan hidung mu dan keluarkan lewat mulut. Perlahan.” Max kembali memberikan perintah pada Jane. “Lihat aku, jangan tutup matamu, Jane.” Dia kembali berkata begitu mata Jane akan kembali menutup. “Tetaplah seperti itu dan atur nafasmu. Oke. Ikuti aku, perlahan saja. Tarik…buang…”


Beberapa menit berlalu dan akhirnya Jane bisa tenang. Max menyandarkan tubuhnya yang masih bertelanjang dada di sofa dekat Jane berbaring. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan menatap langit-langit ruangan sebentar sebelum menutup mata.

__ADS_1


“Tidak, aku-aku, … dia, itu…”


Gumaman tak jelas yang didengarnya dari mulut Jane membuatnya memandang wajah wanita itu, tatapannya tak bisa berbohong jika dia belum merasa puas. Tapi dia sungguh tidak bisa melanjutkannya. Apakah dia terlalu terburu-buru untuk melakukannya tanpa tahu apapun tentang wanita itu? Untuk sekarang jika disuruh memilih untuk mencari tahu tentang Rose atau Jane, dia akan memilih Jane.


#Percaya Padamu


“Mengkhawatirkan ku? Bukankah kau sudah tau semuanya? Apa kau tidak jijik melihatku? Aku—.”


Max langsung mendekat pada Jane, memeluknya dan berkata, “Aku tidak akan bertanya, dan jangan mengatakan apapun. Semua sudah berlalu dan aku percaya padamu. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa.”


Aku percaya padamu.


Tiga kata itu terus terngiang-ngiang di pikirannya sejak Max menyebutnya. Air mata Jane keluar tanpa aba-aba, dia menangis di pelukan pria itu dan membuat kaos yang di pakai oleh Max menjadi basah karenanya. Untuk pertama kalinya, dia mendengar tiga kata yang sangat ingin dia dengar selama ini ‘Aku percaya padamu’.


❤️🩵💛🩵💚🩵🧡🩵💙🩵💜🩵🤎🩵🖤🩵🩶🩵🤍🩵🩷❤️

__ADS_1


__ADS_2