Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.61


__ADS_3

Rossi dan Edgar sudah tampil sangat rapi. Rossi dibalut oleh dres berwarna biru sederhana, tidak terlalu glamor. Dan Edgar juga memakai kemeja berwarna biru, warna yang sama dengan Rossi.


Mobil sport Lamborghini Veneno Roadster terparkir di depan pintu masuk. Mobil Lamborghini termahal dan hanya ada sembilan unit di seluruh dunia.


Edgar keluar dari gerbang mansion itu dengan mengendarai mobil tersebut. Dia ditemani oleh wanitanya, Rossi. Mereka hendak pergi ke mansion Zeck. Edgar ingin membahas perihal kerjasama bisnis mereka di Korea Selatan.


Tak membutuhkan waktu lama, Rossi dan Edgar sampai di depan mansion Zeck. Para penjaga tidak menahannya, karena Zeck sudah berpesan jika ada orang yang ingin berkunjung langsung saja diizinkan masuk.


"Wow, aku belum pernah melihat mobil semewah itu."


"Iya benar. Menjadi penjaga seumur hidup pun, kita tidak akan sanggup membelinya."


Dua penjaga itu berbisik kagum dan iri pada mobil yang baru saja melewati mereka.


Edgar dan Rossi disambut hangat. Mereka dituntun oleh seorang pelayan ke sebuah rumah kaca yang berhiaskan bermacam bunga cantik mengelilingi setiap sudutnya.


Sebelum Zeck datang, mereka sudah disuguhkan dengan beberapa cemilan dan jus. Sambil menikmati indahnya pemandangan di dalam rumah kaca itu.


"Kenapa kamu seperti itu?" Tanya Edgar heran melihat Rossi yang tak henti memandangi setiap sudut ruangan itu.


"Tidak ada, hanya saja ruangan ini sangat indah. Aku belum pernah melihatnya dimanapun," jawab Rossi tanpa melihat ke arah Edgar yang duduk di sampingnya.


Edgar tak suka jika dia diabaikan, tanpa memikirkan pelayan yang berada tak jauh dari mereka. Edgar menarik Rossi dan menciumnya.


"Aku bisa membuatkan yang lebih besar dan indah dari ini, jadi jangan lihat lagi."


"Kamu---, mesum. Tidak melihat ada orang lain disini. Jangan sembarangan."


"Aku tak peduli."


Tak lama pelayan itu mengundurkan diri untuk pergi setelah Zeck datang. Dia tidak duduk, hanya berdiri di samping meja itu.


"Kalian--, kenapa ini memakai pakaian serba biru seperti ingin menghadiri acara saja," ejek Zeck.


"Lah, terserah kami dong mau pake baju apa. Iri bilang bos!" Rossi membalasnya tak ingin kalah.


"Sudahlah, kalian berhenti bertingkah. Aku kesini ingin membahas kerja sama yang kau kirimkan, aku tertarik," ucap Edgar mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Oh ya baguslah. Lebih baik kita membahasnya di ruang kerjaku. Disini ada orang asing yang seharusnya tidak mendengar."


"Kau?! Kenapa selalu menggangguku, ingin pergi ya pergi. Tak usah hiraukan aku, ah sudah lah. Kalian urus saja urusan bisnis itu. Aku ingin bertemu dengan kak Jane saja, dimana dia?"


"Kau bicara denganku?" Balas Zeck.


"Kau?!"


Dengan kesal Rossi pergi dari sana, Edgar tidak menahannya. Karena dia yakin Rossi akan bertemu dengan Jane. Dia tidak sendirian, lagi pula itu mansion Zeck. Rossi akan baik-baik saja.


Edgar pergi dengan Zeck.


"Jangan memanjakannya, kamu lihat. Dia bahkan tidak memandang umur jika berbicara," kata Zeck membela diri.


"Kapan aku memanjakan nya, seharusnya kamu yang mengendalikan mulut jahil mu itu. Selalu saja tidak berhenti menggoda orang," balas Edgar padanya.


"Aku tidak bermaksud menggodanya, tapi sejak dulu. Dia itu sangat menyenangkan di ganggu."


"Sejak dulu? Apa dia hidup bersamamu di Korea sebelum ke kota S?"


"Tidak. Tidak, dia tidak bersamaku. Mana mungkin aku membawa orang sakit yang hampir sekarat. Aku tidak punya waktu sebanyak itu untuk mengurusnya."


"Kau tidak tahu?"


Sebelum membahas kerja sama yang akan mereka jalani kedepannya. Edgar dan Zeck membahas Rossi, Edgar menyimak dengan begitu serius. Akhirnya dia tau, apa yang membuatnya terasa familiar saat pertama kali bertemu dengan Rossi. Jantung Olivia.


Sementara itu, Rossi tiba di depan kamar tempat Jane berada. Rossi mengetuk pelan pintu itu karena pelayan yang menuntunnya kesana berpesan jika Jane sedang tidak sehat. Tapi tidak ada yang menyahut dan tidak ada respon apapun.


"Kak Jane, apa kamu ada di dalam?" Tanya Rossi sedikit cemas. Cukup lama Rossi menunggu, tapi tetap tidak ada jawaban.


'kenapa tidak ada yang menyahut dari tadi, pintu ini malah terkunci,' pikir Rossi.


Seorang pelayan datang menghampiri Rossi.


"Maaf nona, apa terjadi sesuatu?" Dia bertanya dengan hati-hati.


"Aku sudah menunggu cukup lama disini, tapi tidak ada yang membukakan pintunya. Apa kak Jane ada di dalam?"

__ADS_1


"Tentu saja nona, nyonya Jane tidak pernah keluar dari kamar," jawabnya.


'nyonya?' pikir Rossi. Tapi dia tidak akan membahas itu, Rossi memikirkan Jane. Dia khawatir jika terjadi sesuatu.


Pelayan itu tersadar, bagaimana jika kejadian kemarin terjadi lagi dan akan membuat tuannya marah besar. Dengan cepat dia pamit pada Rossi dan bergegas ke ruang kerja Zeck.


Rossi hanya heran melihat sikap pelayan itu, kekhawatiran nya semakin bertambah. Dia cemas jika memang terjadi sesuatu pada Jane.


Edgar dan Zeck sedang sibuk membahas kerjasama mereka. Zeck memperlihatkan beberapa berkas penting pada Edgar, mereka terlihat begitu serius. Pelayan yang baru saja datang takut untuk mengadu. Dia berbalik pergi menemui kepala pelayan.


Di tengah kesibukan Edgar dan Zeck, kepala pelayan yang semalam berurusan dengan Zeck masuk ke ruangan itu. Semoga saja kali ini dia akan tetap hidup, dan tidak sekarat seperti semalam.


"Maaf tuan, saya mengganggu waktu anda. Nona jane--," dia ragu menyebutkannya. Entah bagaimana cara menyampaikan nya.


"Kenapa?" Tanya Zeck langsung menutup berkas yang ada di tangannya.


"Nona Jane tidak membukakan pintu lagi tuan,--"


Mendengar kalimat tersebut, Zeck meninggalkan Edgar dan bergegas pergi dari ruangan itu.


'Ha? Ada apa dengannya? Dia tidak pernah seperti itu pada makhluk yang bernama wanita. Apa dia--, sepertinya dia memang sudah jatuh cinta. Sungguh Joshua yang malang, dia tidak akan punya kesempatan kali ini,' pikir Edgar.


Edgar tidak ikut, dia hanya duduk dan melihat lagi berkas yang ada di tangannya.


Tidak sampai satu menit, Zeck sudah berada di depan kamarnya. Dengan cepat membuka kunci pintu itu, dia langsung ke kamar mandi karena tidak melihat sosok Jane. Dia takut jika Jane tergeletak lagi di lantai.


Tepat saat Zeck membuka pintu kamar mandi, Jane berdiri di depannya dengan hanya memakai handuk. Dia baru selesai mandi.


Zeck masuk dan langsung memeluk Jane, sangat erat.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba masuk seperti ini," kata Jane sedikit tidak nyaman. Dia belum terbiasa dengan kehadiran Zeck.


"Tidak. Hanya ingin memeluk nyonya ku saja. Itu apakah boleh?" Zeck melirik ke bibir Jane.


Melihat tatapan Zeck, Jane langsung melepaskan pelukan itu. Dia menjadi gugup, tanpa sengaja matanya bertemu dengan mata Rossi yang mengintip di sudut pintu.


Pipi Jane memerah, Zeck menyadari ada sesuatu yang aneh muncul di kamar itu. Dia menyeringai dan berniat untuk bertingkah lagi. Zeck berbalik arah dan melihat Rossi mengintip mereka.

__ADS_1


Rossi menyadari tatapan Zeck, dengan cepat dia pergi dari kamar itu.


--***


__ADS_2