Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.52


__ADS_3

Markas utama geng eagle di Italia.


Joshua baru keluar dari sebuah ruangan dalam bangunan itu, dia berjalan dengan begitu terburu buru. Tepat di pintu masuk, langkahnya terhenti karena seseorang menghalanginya. Itu Edgar. Dia berdiri tepat di ambang pintu keluar.


"Apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu terburu-buru seperti ini?" Tanya Edgar pada Joshua yang berdiri di hadapannya.


"Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu," ucap Joshua lanjut berjalan melewati Edgar.


"Ada apa dengannya, aku tidak pernah melihatnya secemas itu," lanjut Edgar heran.


Joshua pergi dengan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia akan pergi ke sebuah mansion besar di kota itu. Sebuah tempat yang dia temukan, berkat bantuan komputer geng eagle yang bisa melacak setiap kamera cctv di setiap sudut kota. Dia berhasil menemukan keberadaan Jane.


Edgar masih penasaran, apa yang dicari oleh Joshua hingga membuatnya seperti itu. Dengan cepat Edgar masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi layar monitor komputer yang masih menyala. Ada layar yang sangat besar, dan juga beberapa layar seukuran komputer biasa.


"Apa yang dicari oleh Joshua?" Tanya Edgar mendekat pada seorang pria yang duduk di depan salah satu monitor.


"Selamat datang tuan Edgar," ucapnya langsung berdiri, "tuan Joshua tadi melacak keberadaan seorang wanita. Apa anda ingin mengetahui nya? Saya masih menyimpan dimana tempatnya."


"Wanita?" Edgar menyerngitkan keningnya.


Dengan cepat pria itu duduk kembali dan jarinya mulai mengetik keyboard dengan begitu cepat. Jarinya sangat lihai, entah sudah berapa lama dia melatih jarinya itu. Muncul sebuah peta di layar, dan juga dilengkapi dengan nama tempat di setiap lokasinya.


"Mansion Mafioso? Ini mansion Zeck. Untuk apa Joshua mencarinya? Dan ini tempat keberadaan seorang wanita. Apa mungkin kekasihnya? Aku tidak tahu jika Joshua punya kekasih, dan lagi pula Zeck punya banyak wanita. Tapi selama ini dia tidak pernah membawa wanita manapun ke mansion itu. Siapa wanita yang dia cari?" Tanya Edgar lagi pada pria itu.


"Wanita itu bernama Jane tuan, Jane Gabriela," jawabnya.


"Oh Jane," Edgar menyeringai kecil. "Kupikir hatinya tidak akan goyah dan berpaling pada wanita lain, tapi sejak kapan? Dan kenapa Jane bisa berada di mansion Zeck."


Edgar keluar dari ruangan itu, dia tersenyum lega. Joshua tidak terlalu larut dan menutup hatinya untuk wanita lain. Edgar melihat jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul tiga sore. Pertemuan itu akan di mulai setengah jam lagi.


"Aku harus segera kesana, dan membuktikan cintaku padanya," ujar Edgar dengan senyum bahagia di wajahnya.


Setelah berpikir keras semalaman, Edgar akhirnya memutuskan untuk melupakan Olivia sepenuhnya. Dan memulai percintaannya yang baru.


Edgar menghidupkan layar ponselnya dan mencari nomor kontak seseorang untuk dihubungi. Jeck.

__ADS_1


Tut. Tut ..


Panggilan terhubung.


"Jeck, siapkan banyak bunga mawar dan beberapa kelopak bunga yang indah. Jangan lupa untuk buket mawar khusus nya. Aku ingin menyatakan cintaku hari ini," ucap Edgar dalam panggilan itu.


"Apa? Kamu belum menyatakan cintamu selama ini? Aku tidak salah dengarkan. Seorang Edgar mulai bertingkah, jadi selama ini hanya tidur dan bermain-main dengan nya? Wah wah, kamu sudah banyak berubah ya," ejek Jeck padanya.


"Aku tidak pernah bermain-main dengannya! Lagi pula aku tidur dengannya bukan sekedar itu saja, tapi rasa nyaman. Kau tahu, semakin aku menghabiskan waktu bersama nya. Dia menjadi begitu berarti bagiku, jadi aku sudah memutuskan untuk melupakan Olivia dan memulainya dengan Rossi," jelas Edgar.


"Baguslah. Aku ikut senang mendengar nya, kamu tenang saja. Persiapannya akan sangat-sangat romantis dan membuat siapapun tidak bisa melupakan nya."


"Oke."


Panggilan berakhir. Jeck mengumpat di tempat dia berada, 'apa sulitnya mengatakan terimakasih,' batinnya.


Edgar keluar dari bangunan itu dan masuk ke dalam mobilnya. Dia melaju di jalanan sore dengan begitu santai, tak ingin terlihat terburu-buru.


Sementara itu Joshua sudah tiba di depan gerbang besar mansion Mafioso milik Zeck Alexandra. Namun dia dicegah masuk oleh dua penjaga gerbang itu.


"Biarkan aku masuk, aku ingin menemui seseorang," ucap Joshua padanya.


"Aku-- aku ingin menemui Jane, dia pasti ada disini kan?"


"Jane?" Penjaga itu melihat ke arah temannya sebelum menjawab, "Maaf tuan, disini tidak ada wanita bernama Jane, silahkan anda pergi dari sini."


"Tidak. Dia ada disini, pasti dia berada disini. Sebelum aku menemuinya, aku tidak akan pergi dari sini," ucap Joshua masuk kembali ke dalam mobilnya dan menunggu disana.


Selama bisa menunggu dengan baik, tidak akan terjadi masalah. Joshua tidak ingin memaksa masuk yang akan membuatnya berada dalam masalah. Dia juga sudah menyelidiki pemilik mansion itu, yang membuat sadar jika dia tidak bisa sembarang bertindak.


"Apa menurutmu kita menghubungi tuan Zeck saja?" Bisik penjaga itu pada teman yang berada di sampingnya.


"Ya, kupikir juga begitu. Jika di lihat, sepertinya dia memang tidak akan pergi dari sini."


"Ya, sepertinya begitu. Tuan Zeck sudah lama tidak kembali kesini. Bahkan saat kembali, sudah ada wanita yang menunggunya disini. Pasti wanita itu yang dicari lelaki ini, aku akan menghubungi tuan Zeck. Kamu awasi dia, oke?"

__ADS_1


"Oke."


Kedua penjaga itu kembali masuk dari balik gerbang, salah satunya mengawasi Joshua. Dan satu lagi berniat untuk menghubungi tuannya.


Tut. Tut..


Panggilan terhubung.


"Ya, ada apa?" Jawab Zeck dari seberang panggilan itu.


"Maaf tuan, saya ingin melaporkan jika ada seorang pria yang datang kesini dan mencari seorang wanita bernama Jane," jawab sang penjaga.


"Biarkan saja dia masuk dan suruh dia untuk menungguku," lanjut Zeck.


"Baik tuan."


Zeck tersenyum puas, dia menyeringai seram. Dia sedang berada di markas lion. Bersiap untuk menghadiri pertemuan antara geng lion dan geng eagle. Namun dia malah berbalik ke berjalan keluar. Rossi yang datang bersamanya, menghalangi langkah besar pria itu.


"Tunggu Zeck, kamu ingin kemana? Pertemuannya akan dimulai sebentar lagi," ucap Rossi di hadapannya.


"Zeck?" Pria itu mengangkat alisnya tidak suka.


Sebelum berangkat, Rahel sudah berpesan agar mereka akur dan tidak memulai masalah. Dan juga Zeck menegaskan pada Rossi jika usianya lebih tua dari wanita itu di depan Rahel, ibu Rossi. Rossi terpaksa menurut karena itu perintah ibunya.


"Baiklah," ucap Rossi memutarkan matanya, "kak Zeck yang tampan, kamu ingin kemana?"


"Bagus. Anak pintar. Aku ada urusan, jadi kamu urus rapat itu. Ingat rencana yang sudah aku sampaikan padamu tadi."


"Iya. Iya. Memangnya kamu punya urusan yang begitu penting?"


"Tentu saja. Ada seorang pria yang ingin merampas calon istriku, aku pergi. Bye," kata Zeck sebelum berjalan melewati Rossi.


"Calon istri?" Gumam Rossi heran, "ternyata dia masih belum menikah, haha."


Rossi masuk ke ruangan rapat, sudah ada beberapa orang disana. Dan juga Edgar sudah duduk tegak di sebuah kursi yang menghadap ke meja bundar, yang sejajar dengan tempatnya.

__ADS_1


"Maaf, aku terlambat. Baiklah mari kita mulai," ucap Rossi sambil duduk di kursinya.


--***


__ADS_2