Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.24


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di depan rumah besar bertingkat yang dikelilingi taman bunga. Taman bunga mawar di Utara, melati di selatan, bugenvil di barat dan jajaran anggrek di sebelah timur rumah itu. Seakan berada di alam bunga dengan satu istana mewah yang berdiri kokoh di tengahnya.


Dua wanita yang mengenakan baju couple berwarna biru keluar dari dalam mobil bercat silver. Salah satu nya termenung melihat rumah itu.


'Ini rumah yang dulu, tempat aku menghabiskan masa kecil ku,' batin Rossi. Hanya itu ingatan yang Rossi punya.


Kediaman keluarga Alexandra. Perumahan mewah, Italia.


"Sarah. Kenapa kita kesini? Aku pikir tidak ada lagi yang tinggal di rumah ini." Rossi bertanya pada Sarah sambil berjalan ke arah pintu masuk yang masih tertutup. Pintu yang besar. Dengan ukiran di permukaannya. Sarah mengikuti Rossi dari belakang.


"Rumah ini tidak pernah kosong Rossi. Masuklah," kata Sarah sambil memegangi gagang besar yang terdapat di sana berniat untuk mendorongnya.


"Tunggu. Aku masih gugup, bagaimana jika nanti aku membuat kesalahan atau aku.. aku..," Rossi merasa sangat gelisah. Pikirannya kacau.


"Duh. Rossi, bukankah kamu ingin bertemu dengan kedua orang tuamu. Jangan berpikir yang bukan bukan. Itu tidak perlu. Oke?" Sarah mendorong pintu besar itu. Terbuka lebar.


Rossi menutup matanya, dia takut dengan apa yang dia lihat nanti nya. Tiba tiba ada sesuatu yang mendekap tubuhnya. Seseorang memeluknya. Sangat hangat. Rossi langsung membuka matanya. Dia disambut dengan jajaran pelayan yang menunduk hormat padanya.


"Sayang. Akhir nya aku bisa memelukmu. Aku sangat merindukanmu," seorang wanita memakai dres putih kekuningan memeluk Rossi dengan sangat erat. Rahel Andreas.


"Ibu..," suara Rossi terdengar lirih, 'apa dia benar ibu ku, kenapa aku merasa dia menjadi tua lebih cepat dari ingatanku,' batin Rossi.


"Ya sayang. Ayo cepat masuk, ayahmu pasti bahagia bisa melihat dirimu," Rahel menarik Rossi bergegas masuk dan menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Tangan wanita itu tetap terkait dengan lengan Rossi. Tak ingin melepaskannya.


"Hans. Hans. Lihat siapa yang datang," Rahel terlihat sangat bahagia. Namun pria itu hanya diam dan fokus pada komputernya. Rossi yang sedari tadi berdiri dengan begitu gugup menjadi sedih begitu kehadirannya tidak berarti apapun.


"Ayah..," Rossi memberanikan diri untuk memanggil pria itu dengan sebutan ayah. Sontak panggilan itu membuat pria berumur yang rambutnya sudah beruban mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Melepas kacamatanya dan menatap Rossi dengan senyuman manis di wajahnya. Tapi tidak bergerak sedikitpun dari kursinya. Hans Alexandra.


"Apa kamu tidak akan memeluk ayah?" Hans membentangkan kedua tangannya bersiap untuk di peluk. Perlahan Rossi berjalan mendekat padanya. Memeluknya. Sangat erat. Tanpa dia sadari, air matanya mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


"Aku pikir. Kalian sudah membuangku.. hiks..hiks..," Rossi menangis. Rahel ikut memeluk putrinya dari belakang. Mereka berpelukan, hangat harmonis.


"Apa yang kamu katakan putriku. Kami tidak mungkin membuang mu. Kami sangat menyayangimu," kata Rahel, "kamu sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat."


Malam hari. Kamar Rossi.


Ruangan yang terlihat hampir mirip dengan kamar tidur nya di kota S. Hanya saja yang sekarang lebih luas dan lebih besar dari sebelumnya. Rossi duduk di atas kasur barunya dengan perasaan yang sangat bahagia ditemani Sarah di sampingnya. Kerinduannya selama ini sudah terlepaskan. Dia bisa bertemu dengan ayah dan ibunya. Namun dia masih tidak mengerti, apa dia melewatkan sesuatu?


"Sarah. Apa aku boleh bertanya padamu," Rossi menanyakan hal konyol pada Sarah. Apa yang tidak boleh ditanyakan. Sarah hanya mengangguk sedikit kesal mendengar pertanyaan itu, "apa mereka memang tinggal di rumah ini selama aku di kota S?"


"Ya. Mereka selalu disini. Menunggumu," jawab Sarah, "kenapa? Apa kamu tidak senang bertemu dengan mereka?"


"Tidak. Bukan begitu. Aku bahagia. Sangat bahagia. Tapi seingat ku mereka ada beberapa kali bersama dengan ku di kota S. Mungkin umurku remaja atau entah lah. Semuanya tampak samar."


"Benarkah? Hmm.. sepertinya aku boleh memberitahukannya padamu sekarang." Sarah menghadap pada Rossi dengan serius, "kurasa itu adalah ingatan palsu yang ditanamkan padamu saat itu."


"Ingatan palsu? Apa maksudmu?" Rossi kebingungan.


"Lalu kenapa seperti itu? Bukankah lebih baik jika mereka memang bersamaku dalam kenyataannya. Sarah aku masih tidak mengerti."


"Mereka ingin melindungimu Rossi," lanjut Sarah sebelum dia berdiri.


"Melindungi ku? Dari apa? Siapa?" Rossi masih penasaran. Namun Sarah hanya bisa bercerita sampai disana. Dia tidak berhak untuk bercerita lebih lagi. Sarah berdiri dan berjalan menjauh. "Tunggu Sarah. Kamu harus menceritakannya padaku."


"Maaf Rossi. Sebaiknya kamu tidak tahu mengenai ini. Dan jangan pernah menanyakannya pada orang tua mu. Itu akan membuat mereka sedih," Sarah menghilang dari balik pintu, meninggalkan Rossi yang masih penasaran.


Esok hari.


Di ambang pintu besar rumah itu. Terlihat dua orang berpakaian serasi berwarna hitam gelap. Diiringi oleh seorang pelayan yang membawa buket mawar putih.

__ADS_1


"Ayah. Ibu. Kalian ingin pergi kemana?" Rossi menuruni tangga dengan hanya memakai piyama putih di tubuhnya. Ia perlahan mendekat ke pintu besar itu. Membuat langkah Hans dan Rahel terhenti.


"Sayang. Kenapa kamu turun seperti ini," Rahel membelai wajah putrinya dengan lembut. "Gantilah baju mu dulu."


"Hmm.. aku hanya ingin melihat lihat Bu, tapi kalian ingin kemana?" Mata Rossi tertuju pada buket mawar putih yang berada di sebelahnya.


"Kami akan ke pekuburan hari ini," jawab Rahel lembut. "Apa kamu ingin ikut?"


"Bolehkah? Aku ingin --,"


"Tidak Rossi, kamu lebih baik di rumah saja. Istirahat. Tempatnya agak jauh nanti kamu malah kelelahan." Hans menghentikan nya.


"Hans. Kenapa? Biarkan saja Rossi ikut dengan kita. Dia bisa --,"


"Tidak sayang. Tidak sekarang, ini belum waktunya. Ayo kita pergi sekarang," Hans mengecup lembut kening Rossi. "Tetaplah di rumah. Oke?"


Hans merangkul tubuh istrinya dan membawanya keluar dari rumah itu. Mereka melambaikan tangannya pada Rossi sebelum berlalu pergi.


Dengan raut wajah kecewa Rossi berbalik kembali ke kamar nya untuk mandi. Namun langkahnya terhenti di depan pintu sebuah ruangan.


"Apa ini memang ada sebelumnya? Aku tidak ingat. Lebih baik aku lihat ruangan apa ini," Rossi membuka pintu itu. Tak dikunci.


Kamar tidur yang bersih dan rapi. Sebuah rak menempel ke dinding, terdapat beberapa buku dan majalah disana. Tidak berdebu sedikit pun. Sangat bersih.


'Ini kamar siapa,' batin Rossi. Tiba tiba matanya terhenti pada sebuah foto yang terpajang di dinding. Seorang wanita. Sangat cantik. Namun Rossi tidak mengenalnya.


Terlihat sebuah foto yang tertelungkup di atas meja dekat tempat tidur. Rossi membukanya. Foto itu. Di dalamnya ada ayah dan ibunya, tapi di tengah tengah mereka ada seorang wanita. Ya itu adalah wanita yang fotonya terpajang di dinding.


"Siapa ini?"

__ADS_1


--***


__ADS_2