
Tempat yang indah dan nyaman untuk berkenalan. Meja dan kursi di bawah bangunan kecil beratap kaca, berdinding beton dengan hiasan bunga yang menjalar di permukaannya. Bukan dinding, hanya empat tiang penyangga yang menahan atapnya agar tidak jatuh.
Rossi dan Joshua duduk disana. Sedikit canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Tak jauh dari bangunan itu, seorang pelayan berjalan mendekat dengan membawa nampan perak yang bertengger dua cangkir dan sebuah ceret di atasnya, serta beberapa cemilan dessert.
Pelayan itu menghampiri Rossi dan Joshua. Menyajikan hidangan untuk menemani mereka. Dia menyelinap di tengah tengah kecanggungan itu. Di balik itu, udaranya sangat harum. Bunga bermekaran di sekitar mereka. Sangat subur dan terawat.
Tiga hari yang lalu.
Hans dan Joshua bertemu di sebuah restoran. Awalnya mereka hanya ingin membahas mengenai bisnis, tapi Hans memanfaatkan kesempatan itu. Dia berniat untuk menjodohkan Rossi dengan Joshua.
"Maaf Mr. Hans, tapi pertunangan?" Joshua sedikit terkejut dengan permintaan yang tiba-tiba itu. Dengan siapa? Dia bahkan baru kembali ke negara itu.
"Ya. Sebagai seorang ayah. Saya pasti menginginkan pasangan yang terbaik untuknya. Saya pikir kamu pantas dengannya," Hans meyakinkan, bahwa dia tidak bermaksud lain. "Tapi saya tidak akan memaksakan permintaan ini. Mungkin seorang kekasih?"
"Kekasih? Oh tidak Mr Hans saya belum memilikinya," bayangan Olivia terlintas di benaknya, apa mungkin dia bisa memilikinya?! "Saya akan sangat mempertimbangkannya."
"Baiklah. Bagaimana jika saya mengundangmu untuk datang ke rumahku?"
"Tentu. Tentu saja. Saya pasti akan datang." Joshua tersenyum, "terimakasih Mr Hans."
Di bawah atap kaca.
Angin berhembus menunjukkan kepekaannya. Menghampiri keduanya.
"Nona Rossi Alexandra," ucap Joshua sambil mengambil secangkir teh dari wadahnya di atas meja. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Hmm.. Kurasa tidak tuan, aku baru kembali ke sini.."
"Oh jangan terlalu kaku, panggil saja Joshua atau Jo. Biar lebih nyaman." Joshua meletakkan kembali cangkir itu di wadahnya. "Lalu dimana kamu sebelumnya?"
"Di kota S. Aku seorang model di sana," jawab Rossi.
"Benarkah? Kamu seorang model. Pantas saja, auramu sangat kuat. Bagaimana jika kamu menjadi model ambassador produk baru ku?" Joshua menjauhkan tubuhnya dari Rossi bersandar ke sandaran kursi. "Ya sudah lama sejak terakhir kali aku memilih nya."
Selama ini hanya Olivia yang menjadi model ambassador semua produknya. Selain dia, Joshua tidak akan mau.
"Terimakasih atas tawarannya, Joshua," Rossi tersenyum.
Kring. kring.
__ADS_1
Tiba tiba ponsel Joshua berdering.
"Maaf. Aku ingin menjawabnya." Joshua menunjukkan ponsel nya pada Rossi, membuktikan bahwa memang ada panggilan masuk.
Tak berselang lama pembicaraan mereka selesai. Dan Joshua sama seperti sebelumnya. Hangat. Ekspresinya tidak berubah. Mungkin kabar baik?
"Nona Rossi. Aku minta maaf tidak bisa menemanimu lebih lama, aku harus pergi segera. Tolong sampaikan maaf ku pada Mr. Hans." Joshua bergegas pergi dari sana. Rossi mengangguk paham. Orang penting seperti nya pasti banyak urusan.
Tak jauh dari perumahan mewah itu. Sebuah sungai terbentang, cukup panjang. Dihiasi pepohonan di sepanjang alirannya. Seorang pria tiba tiba muncul dari balik pepohonan. Menikmati angin yang berhembus menggerakkan setiap dedaunan pohon.
Joshua berdiri disana. Urusan penting? Di sungai?
"Sudah lama sekali, sejak terakhir kali aku disini. Apa dia masih sering kesini."
Ingatan masa lalu.
Joshua, 14 tahun. Dia menikmati pemandangan indah dan kesejukan angin di tepi sungai dari ketinggian. Dia bersandar di atas dahan pohon besar yang kokoh. Perlahan, dia menutup matanya. Merasakan angin yang datang menghampiri nya.
Tak lama kemudian, sebuah teriakan minta tolong yang sangat nyaring. Membangunkannya dari kenikmatan itu. Dari atas sana, dia melihat seseorang di sungai. Seorang gadis yang hampir terbawa arus sungai.
"Tolong.."
"Cepatlah. Jangkau kayu ini," Joshua berusaha membuat kayu itu dekat dengan gadis mungil itu agar mudah diraih olehnya.
Setelah melewati ketegangan. Mereka berhasil. Joshua berhasil menyelamatkan gadis itu.
"Lain kali jangan bermain di tepi sungai. Itu berbahaya." Joshua mengulurkan tangannya pada gadis itu, berniat untuk membantunya berdiri. Namun gadis itu hanya duduk, dia tak berani untuk menjangkau apa lagi memegang tangan itu.
"Oke. Baiklah, tetap saja duduk disana." Joshua menarik kembali tangannya dan duduk di samping gadis itu.
Tiba tiba gadis itu berdiri.
"Terimakasih." Dia membungkuk dan bergegas berlari meninggalkan Joshua yang terdiam melihatnya.
Olivia kecil, 12 tahun. Adalah tahun ketiga dia diadopsi oleh Hans dan Rahel. Awalnya dia hanya ingin berkeliling sekitar perumahan itu. Tapi malah tergelincir di sungai dan hampir hilang terbawa arus, untung saja bertemu dengan Joshua.
Sejak saat itu, Olivia sering ke sungai. Dan tanpa sengaja, juga bertemu lagi dengan Joshua. Itu membuat mereka dekat. Tapi Olivia tidak boleh menyebut nama nya pada sembarang orang. Itu pesan ayahnya. Hans Alexandra.
Sudah hampir satu tahun. Olivia merasa akrab dengan Joshua, dia akhirnya menyebutkan namanya. Tapi bukan Olivia, melainkan Anna. Nama yang sebelumnya menjadi identitas gadis itu sebelum berada di keluarga Alexandra.
__ADS_1
Tepat sebelum ulang tahunnya yang ke tiga belas. Joshua tidak lagi muncul di sana. Olivia menyusuri sepanjang sungai itu, tidak ada siapa pun. Dia tidak merasakan lagi kehadiran Joshua. Sejak saat itu, Olivia tak punya teman. Sedangkan Rossi masih terbaring di tempat tidur dengan banyak selang yang terhubung ke tubuhnya. Hingga Sarah datang ke rumah itu.
"Tuan," ucap seorang wanita menghentikan lamunannya. Dia melangkah mendekati Joshua membawa beberapa berkas di tangannya.
"Ya. Informasi apa yang kamu dapatkan mengenai Olivia?" Tanya Joshua sambil mengeluarkan tangan dari dalam saku celananya.
"Ini tuan." Dia memberikan berkas itu.
Joshua melihat nya cukup lama. Kemudian dia tertawa sendiri. Membuat wanita yang berdiri di sebelah nya menjadi takut.
"Kamu selalu membawa cerita yang bagus. Pantas saja aku merasakan kehadiran Olivia saat dengannya. Ternyata gadis tadi adiknya." Joshua tersenyum. "Apa Edgar tahu soal ini?"
"Mungkin dia mengetahuinya tuan, beberapa Minggu yang lalu dia berkunjung ke sana." Wanita itu menjelaskan.
"Apa dia bertemu dengan Olivia? Aku tidak melihat wanita lain di rumah itu. Jika dia kakaknya, bukankah yang seharusnya di jodohkan dengan ku adalah Olivia?"
"Maaf tuan. Kami belum mendapatkan informasi apapun mengenai itu."
"Baiklah. Terus gali informasi dan selidiki juga. Apakah Rossi yang berada di sana sekarang adalah wanita yang sama atau tidak."
Wanita itu mengundurkan diri untuk pergi. Sedangkan Joshua masih ingin disana.
'Jika nanti kita bertemu lagi, apa kamu akan memilihku. Olivia,' gumamnya.
Di ruang kerja Hans.
Rahel masih terlihat heran, dia masih tidak mengenal pemuda itu. Tapi Hans mengatakan jika dia mengenalnya.
"Hans bukankah katamu pemuda yang akan kamu jodohkan dengan Rossi itu,.. aku mengenalnya? Tapi pemuda tadi, aku tidak mengenalnya."
"Ayolah sayang. Apa ingatanmu sudah mulai pudar. Itu dia. Anak laki-laki yang kamu bilang ingin menjodohkannya dengan Rossi kecil kita. Yang dibawa Jerome kesini saat Rossi kecil. Ingat?"
"Apa? Dia anak laki-laki itu?" Rahel terkejut. Pemuda itu adalah anak laki-laki yang dulu dia inginkan untuk putrinya.
"Ya." Hans mengecup kening istrinya dan kembali fokus pada komputernya.
Saat itu Joshua dan Rossi tidak sempat bertemu. Dengan keadaan di luar dugaan, Rossi tiba tiba muntah darah dan jatuh pingsan. Sehingga Jerome Stevenson dan Joshua DeVille' Stevenson kembali pulang.
--***
__ADS_1