Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.48


__ADS_3

Rossi dan Edgar kembali tiba di lantai atas, tempat semula mereka bertemu di gedung itu. Edgar menurunkan Rossi di sofa dengan sangat hati-hati. Rossi menjadi penurut sejak Edgar memungut sepatunya yang tergeletak di lantai, sambil Rossi masih berada di pelukannya.


Tidak mengerti bagaimana hati seorang wanita, kadang keras kepala. Namun juga terkadang begitu cepat berubah.


Selama disana, Edgar tidak mengganggu Rossi. Lebih tepatnya dia tidak memberikan hukuman apapun pada Rossi. Mereka hanya serius pada insiden yang terjadi, ditemani dengan segelas anggur untuk masing-masing nya. Perlahan Rossi mulai memahami situasinya. Dan mengenai rencana pertunangannya dengan Joshua, Rossi akan membatalkannya.


"Kenapa tidak memberitahukannya padaku sejak awal? Jika aku tahu, aku pasti akan mempersiapkan diri dengan baik," ucap Rossi sedikit kesal.


"Ayahmu melarangnya, dia tidak ingin merusak debut mu. Dan lagi pula, bukankah ada aku bersamamu," kata Edgar dengan penuh maksud di wajahnya.


"Berhentilah merayuku tuan tampan, aku sedang tidak mood untuk meladeni rayuan mu."


"Apa yang kamu lihat? Sedari tadi kamu tidak henti melihat ke seberang, apa kamu melihat laki laki lain?" Ucap Edgar kesal.


"Ya," jawab Rossi tersenyum manis padanya.


"Kamu berani?!"


Dengan cepat Edgar merangkul Rossi dan memeluknya erat.


"Hei. Tenang lah dulu, aku bisa mati kehabisan nafas tau," bela Rossi ingin melepaskan diri dari pelukan Edgar.


"Aku tidak akan membiarkan mu melirik pria lain selain aku," ketus Edgar.


"Kamu jangan mengatur ku, bagaimana jika aku memintamu untuk melupakan kakak ku, apa kamu bisa memenuhinya?"


Mendengar pertanyaan itu, pelukannya jadi melemah. Edgar tidak menjawab apapun, dengan mudah Rossi melepaskan dirinya.


'Aku sudah tau jawabannya,' batin Rossi.


"Sudahlah. Aku tidak akan membahasnya denganmu, aku ingin menemui ayah," ucap Rossi berdiri dari sofa empuk itu setelah menghabiskan anggurnya dalam sekali teguk.


"Tunggu," Edgar menahan tangan mungil Rossi.


Merasakan ada sesuatu yang menggenggam tangannya, Rossi sempat terdiam beberapa detik. Tangan itu membuat hatinya berdebar. 'Tidak, aku tidak boleh seperti ini,' batinnya.


"Apa?"


"Jika nanti aku bisa menjawab semua pertanyaan mu mengenai dia, apa kamu akan sepenuhnya percaya padaku?" Tanya Edgar tanpa mendongak ke atas melihat Rossi yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Rossi singkat.


"Jika begitu--," Edgar bangkit dan menarik Rossi menghadap ke arahnya. Sangat dekat, Edgar menciumnya. Mata Rossi sempat melotot terkejut, Edgar tiba tiba menciumnya di saat seperti itu.


"Saat kamu menanyakannya lagi ketika kita bertemu, aku akan menjawab semuanya. Aku pastikan yang aku jawab saat itu kebenarannya," ucap Edgar memeluk Rossi dalam pelukan nya.


"Aku-- Aku akan menunggu," jawab Rossi sambil mendorong pelan tubuh Edgar menjauh darinya. Edgar tak ingin menahan Rossi terlalu lama, dia tidak ingin membohongi perasaannya.


Rossi bergegas pergi dari sana, namun langkahnya terhenti di ambang pintu.


"Edgar, menunggu hal yang tidak pasti itu membuang waktu. Jika saat itu aku sudah lelah untuk menunggu, maafkan aku."


Rossi pergi dari sana, air matanya mengalir tanpa henti di pipinya. Dia ingin lari sejauh mungkin dari sana, sampai tidak ada yang dapat menemukan nya. Cukup jauh Rossi berlari, Rossi terduduk lemas di lantai dingin lorong yang kosong. Dia menangis sekeras-kerasnya, air matanya tak tertahankan.


"Kenapa? Kenapa menjawab pertanyaan ku saja kamu tidak bisa. Apa sesulit itu untuk melupakannya, atau aku memang tidak lebih baik darinya dalam pandanganmu, hiks hiks hiks,"


"Kakak. Maafkan aku, aku begitu egois. Bahkan aku begitu serakah ingin mengambil semuanya darimu, hiks hiks hiks,"


"Sampai kapan aku harus hidup seperti ini, dan kenapa-- kenapa kau memberikan jantungmu dan membiarkan aku hidup seperti ini, hiks hiks hiks, jika tahu akan begini, aku tidak ingin hidup."


"Berhenti lah jadi anak cengeng, kamu harus tetap hidup dengan baik. Apa kamu akan menyia-nyiakan?"


"Apa aku berlari terlalu jauh, aku bahkan seperti melihat pria yang tadi aku kejar," ucap Rossi sembarangan.


"Haha. Ya kamu berhasil menangkap ku, sekarang bangun," dia ingin menarik tangannya lagi dari Rossi. Namun terlambat, Rossi dengan kuat menarik tangan itu sehingga membuatnya terjatuh dan terduduk di hadapan Rossi.


"Apa kau anak kecil, menarik orang lain seperti itu. Kau pikir bisa seenaknya--," ucapannya terhenti saat melihat wajah Rossi yang riasan wajahnya sudah berantakan. Dia terlihat begitu tragis.


Rossi terlihat seram dengan di sekitar matanya yang perlahan mulai menghitam karena riasannya.


"Dasar wanita, merepotkan," dia mengambil ponsel yang berada di saku nya. Menelepon seseorang.


Tut. Tut.


Panggilan terhubung.


"Sarah, kau dimana? Sudah kembali ke sini?" Dia bertanya dengan nada yang sedikit kesal.


"Sudah, hah? Tunggu, siapa ini?" Tanya Sarah heran.

__ADS_1


"Itu tidak penting, cepatlah ke lantai atas. Dan bawa wanita cengeng ini kembali ke Italia, biar aku yang mengurus sisanya," perintahnya pada Sarah yang berada di seberang panggilan.


"Kak Zeck? Kau kah ini? Bagaimana bisa--"


Tut… panggilan berakhir.


"Apa? Dia mengakhirinya, pria sok itu!" Ketus Sarah kesal. Dengan cepat Sarah bergegas ke lantai atas.


"Jadilah anak baik. Duduk disini, tunggu orang menjemput mu, dan berhenti menangisi hal yang tidak penting," ucap Zeck sebelum pergi menjauh dari Rossi.


"Dia pergi, bahkan dia juga meninggalkanku, huaaa," Rossi kembali menangis, "tidak ada yang memperdulikan ku, hiks hiks hiks."


Tak lama Zeck menghilang dari sana, Sarah tiba dan berlari ke arah Rossi, dia langsung memeluknya.


"Apa yang kamu lakukan, kamu menangisi apa? Apa ayahmu baik baik saja?"


"Tidak ada yang baik baik saja, hiks hiks hiks."


"Berhentilah menangis, dimana pria itu. Dia bahkan pergi meninggalkanmu," ucap Sarah sambil menyipitkan matanya geram.


"Kakak, dedek ingin kita pulang..," pinta Rossi memelas manja pada Sarah. Mendengar ucapan itu, Sarah rasanya ingin memuntahkan isi perutnya.


"Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini, apa yang dia lakukan padamu?"


Sarah membawa Rossi pergi dari sana, dan juga pergi dari gedung itu. Dia tidak mungkin tetap membiarkan Rossi yang seperti hantu itu berada disana.


Zeck masih berada di sekitar situ, dia hanya bersembunyi di sudut lorong yang lain. Menunggu Sarah datang dan membawa Rossi pergi.


"Huh, dia sangat merepotkan. Kenapa paman bisa punya anak secengeng itu, atau para wanita memang serapuh itu?" Ucap nya pelan.


Dia mulai melangkah pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti saat ponselnya tiba tiba berdering.


"Ya?" jawabnya sambil melangkah lagi.


"Tuan. Kami sudah berhasil membawanya ke Italia, dan dia sekarang sedang berada di mansion anda," ucap wanita di seberang panggilan itu.


"Bagus, jaga dia baik baik."


Zeck tersenyum puas, terlihat menyeramkan dengan wajah putih pucatnya itu.

__ADS_1


--***


__ADS_2