
Dua hari berlalu.
Joshua berada di Los Angeles, dia sibuk dengan pekerjaannya. Dalam dunia bisnisnya, dia perlahan mulai membiasakan diri tanpa ada Jane di dekatnya. Masalah kontrak Jane di perusahaan nya pun, Joshua tidak mengakhirinya.
Jauh di dalam hatinya, dia masih menunggu kedatangan Jane. Walaupun dia tahu, wanita itu tidak akan menjadi miliknya. Tapi setidaknya, dia masih bisa bertemu.
Joshua sudah mengatakan semua hal yang dia ketahui tentang Damian pada Edgar. Termasuk hubungan gelap Demian dengan Agnes, adik perempuan dari ibu Edgar. Setelah itu, Joshua memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan dunia mafia. Termasuk Damian.
Sehari sebelum dia berniat meninggalkan Italia, Joshua sudah menekankan dengan tegas pada Damian jika dia tidak akan ikut dalam rencana ayahnya itu. Namun Damian tetap membiarkan Joshua jika suatu saat dia kembali dan ingin bergabung. Karena Damian juga ingin mewariskan hasil rencana nya itu pada Joshua, yaitu menguasai semua geng di dunia mafia.
Dengan keputusan Joshua tersebut, Damian sempat curiga padanya. Karena dia bertemu dengannya bukan ingin bergabung, tentu saja membuat Damian berpikir keras, sebenarnya apa tujuan anaknya itu. Dibalik hal tersebut, Joshua meyakinkan Damian jika dia bertemu hanya ingin memastikan jika ayahnya masih ada dan beberapa alasan lainnya.
Joshua mengingat kembali perkataan Jane terkait dengan insiden tiga tahun yang lalu. Dia masih penasaran siapa yang menembak Olivia saat itu, dan tersangka utamanya adalah Damian. Ayahnya sendiri.
Edgar sudah menerima semua perkataan Joshua dan tersimpan dalam memori otaknya. Termasuk kejadian saat itu, dalangnya masih belum diketahui. Edgar memiliki pemikiran yang sama dengan Joshua, yaitu Damian.
Sementara itu, Rossi akan menjadi model ambassador produk baru di Paris, dia akan berangkat ke sana dua hari lagi. Sebelumnya, geng lion dan geng eagle sudah mengatur pertemuan untuk menyusun rencana kembali.
"Rossi, dimana Zeck? Kenapa dia tidak ada kabar sejak malam itu?" Tanya Hans pada putrinya, Rossi yang berada disampingnya. Mereka berada di markas besar geng eagle. Untuk mendiskusikan rencana selanjutnya.
"Aku tidak tahu ayah, kata kak Jane dia juga tidak kembali ke mansion nya," jawab Rossi.
"Hah, bocah itu. Dia pasti bertingkah sekarang," gumam Hans.
Pertemuan itu dipimpin oleh Hans dan Jerome, sementara Rossi dan Edgar hanya sebagai pendengar. Pertemuan itu tidak lama, karena hanya membahas persiapan. Mereka tidak akan menyerang Damian.
Geng lion dan geng eagle akan menunggu Damian bertindak, selama itu mereka akan terus mengawasi dan memperkuat kekuatan serta kemampuan setiap anggota mereka.
Hari sudah malam, Rossi tidak kembali ke kediaman Alexandra bersama ayahnya, dia pergi dengan Sarah untuk membeli beberapa perlengkapan. Sementara Edgar tetap berada di markas eagle, mengatur dan mengawasi latihan anggotanya.
Di pusat perbelanjaan, Rossi dan Sarah selalu bersama kemanapun. Membeli ini dan itu, cukup banyak yang mereka beli. Keranjang belanjaan mereka langsung penuh.
"Sarah, apa kamu ingin bersembunyi beberapa bulan? Kamu membeli begitu banyak makanan." Rossi heran dengan semua makanan yang ada di keranjang nya. Sarah yang memilih dan Rossi yang membawa keranjangnya, mereka sudah terbiasa seperti itu.
"Untuk emergency saja, bagaimana jika nanti tengah malam kita lapar dan tidak ada cemilan? Hoh Rossi ku, itu sangat menyiksaku," balas Sarah sambil mengambil lagi beberapa cemilan di rak.
__ADS_1
"Huh. Kamu ini, badan saja yang kurus. Tapi lambung mu seperti kantong Doraemon." Rossi menghela nafas menyerah dengan tingkah Sarah. Lagi pula dia juga sudah terbiasa.
Mereka selesai berbelanja dan waktunya ke kasir untuk membayar semua tagihan itu, yang hampir semuanya adalah makanan.
"Sarah, kamu antri sendiri yah. Aku mau ke toilet," ucap Rossi.
"Hah? Kamu ingin duluan yah?" Sarah menatapnya tidak percaya.
"Ayolah, mana mungkin aku meninggalkan mu. Tenang saja, aku tidak akan pergi. Oke?"
"Oke deh, jangan lama-lama yah."
"Oke."
Antrian yang cukup panjang dan melelahkan, seharusnya mereka tidak berbelanja di sana. Antrian di tempat itu memang selalu panjang, cukup memakan banyak waktu.
"Hai. Kebetulan sekali kita bertemu disini," ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di samping Rossi. Mereka berdua berdiri di depan kaca lebar yang memanjang. Itu Clara. Tunangan Geralderd yang dilihatnya saat pesta di Paris.
"Hmmmm. Hai," balas Rossi singkat.
Pertanyaan itu membuat Rossi sempat terdiam sejenak, tapi itu tidak akan berpengaruh padanya.
"Ya, sangat menyenangkan. Kenapa? Kamu iri karena tidak bisa memilikinya?"
Rossi sudah tau semuanya, data yang dia terima saat itu begitu lengkap. Bahkan Clara menyukai Edgar saja terdapat dalam laporan itu.
"Apa maksudmu?"
"Tidak ada, aku pergi. Malas sekali meladeni wanita munafik sepertimu."
"Apa?"
Sshh.
Clara melayangkan pisau ke Rossi, untung saja hanya tergores sedikit di pipinya. Rossi menghindar dengan cepat.
__ADS_1
"Kau pikir bisa memilikinya selamanya? Hanya aku yang boleh bersamanya, hanya aku!"
"Apa kau sudah tidak waras?! Tiba-tiba menyerang ku."
Rossi hendak melawannya tapi kepalanya terasa sangat pusing, tubuh Clara muncul berbayang banyak dalam penglihatannya.
'Ah kepalaku, pisau itu. Aku tidak waspada,' batin Rossi.
Hanya berselang beberapa detik, Rossi jatuh pingsan. Pisau yang dipegang oleh Clara sudah diolesi bius yang sangat tajam. Terkena sedikit saja, efeknya sudah langsung bekerja. Melihat Rossi yang tak sadarkan diri, Clara mengangkat pisau itu tinggi dan bersiap untuk menusuk Rossi. Dia berniat untuk membunuhnya.
Tepat saat dia akan melayangkan pisau itu, seorang yang memakai masker tiba-tiba muncul dan menahan tangannya. Itu Agnes.
"Apa kau sudah gila? Damian membutuhkannya hidup-hidup. Turunkan pisau mu," ucap Agnes mengintimidasi.
Clara hanya menurut, karena dia butuh Damian untuk mendapatkan Edgar. Walaupun itu mustahil, tidak akan pernah terjadi. Dia terlalu terobsesi dan begitu mudah untuk di tipu.
Sudah hampir setengah jam, akhirnya Sarah selesai dengan antrian panjang itu.
"Dasar, dia membohongi ku dan menyuruhku mengantri sendirian. Huh, dia pasti sedang enak-enak nya duduk manis di mobil menungguku," ucap Sarah kesal.
Sarah tiba di mobil, tidak ada siapapun. Dia mencoba menghubungi Rossi tapi tidak ada jawaban. Tidak ada salahnya jika dia melihat keberadaan Rossi melalui GPS untuk memastikan.
"Apa? Dimana ini, kenapa dia sangat jauh. Sial, aku kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. Bagaimana mungkin aku bisa selengah ini," ucap Sarah kesal.
Dia keluar dari parkiran bangunan itu dan dengan kecepatan tinggi mengikuti keberadaan Rossi yang terus bergerak.
"Aku tidak menyangka jika mereka bertindak secepat ini. Tidak bisa, aku harus segera menghubungi Vito."
Sarah memasang alat kecil menggantung di telinganya, dia menekan tombol yang ada di alat tersebut. Yang langsung menghubungkan nya dengan Vito.
"Vito, aku kehilangan Rossi lagi. Ada yang membawanya pergi, dan juga hubungi Edgar," ucap Sarah sambil mengemudi, "oh ya satu lagi, jangan sampai mr.hans tau tentang ini. Aku sedang berusaha mengejar Rossi."
"Oke. Tapi nanti jangan bertindak sendirian, tunggu kami datang," balas Vito padanya.
"Oke."
__ADS_1
--***