
"Sayang, kamu harus fokus." Kata seorang pria dengan rambut sedikit berantakan.
Berbicara di telinga wanita berambut panjang sebahu. Mereka berada di lapangan tembak. Fokus pada papan tembak yang berada di seberang.
Dor. Dor. Dor.
Hanya satu yang tepat sasaran. Wanita itu terlihat kesal. Dia memanyunkan bibirnya. Pria lainnya yang duduk di bangku panjang pojok sambil menikmati minumannya hanya tertawa melihat dari kejauhan.
***
"Tetap di posisi," ucap seorang wanita pada sekelompok pria yang berada dalam persembunyian di balik tiang beton. Bersiap untuk menembak. Suasananya mencekam. Terjadi banyak tembakan. Lengan wanita itu tertembak.
Tiba tiba Rossi terbangun dari tidurnya. Nafasnya keluar tak karuan.
"Ternyata hanya mimpi."
Rossi memegang kepalanya. Yang sudah basah karena keringat dingin dikarenakan mimpi itu. Mimpi itu terasa nyata, dia merasakan denyut di lengannya.
Langit biru pun berubah gelap. Awan hitam mulai berkumpul dari segala arah. Menggumpal untuk menghasilkan air dalam jumlah besar. Tak lama kemudian hujan turun dengan begitu deras. Membasahi tubuh Rossi yang masih berbaring menghadap langit.
Ia bangkit. Dan bersiap berlari secepat mungkin. Lalu langkahnya terhenti di sebuah pondok beton dengan cat berwarna kuning yang sudah mulai terkelupas dan permukaannya rusak. Ada bangku dan meja yang layak disana.
"Kenapa hujan. Padahal tadi langitnya sangat biru," ucap Rossi.
Rossi memasang raut wajah kecewa. Ia langsung duduk di bangku itu tanpa melihat sekitar nya. Namun sedikit aneh, permukaan bangku itu tidak rata. Rossi meraba raba apa sebenarnya yang berada dibawah pantatnya. Tapi tatapan matanya mengarah lurus ke depan.
Hingga tangannya menyentuh sesuatu yang sedikit menonjol.
Tiba tiba kursinya bangun.
Tentu bukan. Ada seseorang yang tidur disana. Seorang pria. Ia terbangun. Membuat Rossi terkejut.
Namun tak berdiri hanya bergeser sedikit dari posisi awalnya.
"Apa kamu menyukainya?"
Pria itu tersenyum.
Memeluk erat tubuh basah wanita itu. Suara dan senyuman itu sangat familiar. Dia adalah Edgar.
"S-suka apa?"
Rossi menjawab gugup.
Edgar tertawa. Ia memanyunkan bibirnya ke arah 🐣 celananya. Seketika rossi langsung melirik ke sana. Tangannya tidak jauh berada di dekat 🐣 Edgar. Langsung menarik tangannya. Wajahnya langsung memerah.
__ADS_1
"Mau?" Goda Edgar padanya.
"Tidak!" jawab Rossi cepat.
Rossi hanya memakai memakai kaos merah muda polos usai pemotretan tadi. Air hujan sudah berhasil membasahi tubuhnya. Membuat baju itu melekat ke kulitnya. Terlihat jelas bra yang dia kenakan renda bunga. Begitu juga belahan diantara dua bukit kembar itu.
Edgar melonggarkan pelukannya. Berusaha menahan dirinya. Karena ia sadar bahwa tempat itu tidak aman. Dia merasa ada yang mengintainya sejak pemotretan berakhir.
Rossi langsung berdiri. Menutupi tubuh yang sudah basah itu dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian ada sinar kecil berwarna merah bergerak gerak di sekitar dada Rossi. Edgar melihatnya.
'Sial. Tidak sempat.'
Edgar mengumpat dalam hatinya. Tiba tiba memeluk wanita itu.
Dor.
Sebuah peluru mendarat di punggung Edgar. Mengalir darah dari sana. Rossi langsung terkejut. Matanya melotot. Tiba tiba Edgar mengeluarkan pistol dari balik kemejanya. Menarik Rossi untuk menunduk.
Edgar perlahan mulai mengintai asal tembakan itu dari celah celah yang ada di balik bangku.
"Tetap disana."
Edgar menahan Rossi agar tak beranjak dari posisinya.
"Tapi punggungmu berdarah," ucap Rossi yang cemas melihat darah yang terus mengalir membasahi kemeja pria itu.
'Apa itu,' batinnya.
Tak lama kemudian datang beberapa orang yang membawa senjata di tangan mereka, menghampiri Edgar dan Rossi.
Mereka saling menembak cukup lama sedangkan Rossi terduduk di lantai. Suara tembakannya menyatu dengan bunyi hujan deras yang menghantam atap pondok itu.
Kepala Rossi mulai sakit. Terbayang di kepalanya ada banyak orang berpakaian hitam memegang senjata. Ada seorang wanita diantara mereka. Cantik. Berambut panjang lurus yang diikat begitu erat. Dia memberikan perintah dengan menggerakkan tangannya. Sedikit kabur. Kepalanya semakin sakit. Begitu sakit. Rossi pingsan tak sadarkan diri.
"Rossi. Rossi," ucap Edgar dengan lantang.
Suara nya menggema dengan begitu jelas. Ia berusaha membangunkan Rossi. Namun tidak berhasil.
"Sial." ketus Edgar.
Edgar kembali pada pertarungannya. Mulai melepaskan satu persatu peluru dari senjatanya.
Setelah beberapa lama mereka saling menembak. Akhirnya Edgar dan anak buahnya berhasil menembak dua orang yang berada di dalam rerumputan panjang itu. Mengikat mereka.
Edgar menggendong Rossi. Membawanya dengan secepat mungkin ke villa miliknya di dekat lokasi itu.
__ADS_1
"Edgar. Luka mu.." ucap seorang pria padanya.
Jeck menghampiri edgar yang tengah dilanda emosi itu. Dia adalah sahabat Edgar sejak kecil dan mereka selalu bertarung bersama jika terjadi hal hal seperti tadi. Seharusnya mereka bertiga, satu lagi Joshua. Namun terjadi kesalahpahaman antara Edgar dan Joshua sehingga mereka bertengkar hebat dan memutuskan hubungan.
"Minggir." Ketus edgar.
Ia begitu tergesa gesa. Tak menghiraukan luka nya. Dia malah mengkhawatirkan Rossi yang tidak terluka sedikitpun. Melangkah lebar dan cepat, hingga kedua nya basah kuyup dibawah desiran hujan yang bertambah lebat.
Dari ujung rerumputan sudah terlihat villa besar bertingkat dengan banyak lampu di sekitar atapnya. Rerumputan berubah menjadi taman bunga. Edgar sampai di depan villa.
Dengan tergesa-gesa edgar menendang pintu masuknya begitu kuat.
"Vegan. Vegan."
Dia berteriak tak karuan.
Edgar membaringkan Rossi di sofa coklat yang berada di tengah ruangan itu. Tak lama kemudian muncul pria berjas putih menghampiri mereka dengan lari kecil. Melihat Rossi yang terbaring disana, dia langsung memeriksa wanita itu.
Vegan. Dia adalah dokter pribadi Edgar sekaligus sahabatnya. Yang selalu ada setiap ada situasi mendadak seperti tadi. Usai memeriksa Rossi dia malah tertawa. Membuat Edgar kesal dan mencengkram kerah bajunya.
"Dia kenapa?" Tanya Edgar.
"Tenanglah, dia hanya pingsan," jawab Vegan kembali tertawa kecil.
Singa malam itu melepaskan genggamannya dan mulai tenang. Dia terduduk di ujung sofa. Melihat kemeja belakang Edgar yang sudah berwarna merah, Vegan langsung mengambil tindakan dan mengobati pria pemarah itu. Lalu menyuruh beberapa pelayan membawa Rossi ke kamar.
"Siapa wanita tadi?" Vegan bertanya penasaran.
"Bukan siapa-siapa," jawab Edgar singkat.
"Haha. Kau pikir aku bodoh, aku bisa melihat betapa kau mencemaskan nya," lanjut Vegan.
Edgar hanya terdiam. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa bisa begitu mencemaskan Rossi. Padahal mereka baru bertemu beberapa kali dan dia juga tidak tahu asal usul wanita itu.
Sudah pukul 8 malam. Namun Rossi masih tidak sadarkan diri. Ada Sarah duduk di samping tempat tidur itu. Menunggu Rossi sadarkan diri. Dia dihubungi oleh seorang pria bahwa Rossi pingsan dan berada di villa itu.
Sarah sebenarnya adalah orang suruhan ayah Rossi yang ditugaskan untuk selalu berada di sisi putrinya. Menjaga Rossi. Namun seiring berjalannya waktu. Mereka menjadi begitu dekat. Dan menjadi sahabat baik.
"Kenapa dia masih belum sadar?"
Edgar memandangi Rossi dari celah pintu.
"Tunggu saja. Mungkin tengah malam atau besok dia bangun."
Vegan menjawab santai sambil menepuk bahu Edgar. Lalu berjalan pergi.
__ADS_1
--***