
Edgar kembali ke mansion nya sendirian, ia mengemudikan mobil hitamnya sendiri. Edgar meninggalkan anak buahnya. Willy yang masih berada di depan bar menunggu taksi melewati jalan itu.
Edgar mengemudi dengan ugal ugalan. Edgar menjadi tidak fokus, dia tidak mengerti kenapa dia bisa merasa kehilangan setelah Rossi pergi meninggalkannya di bar. Seketika ia teringat akan Olivia yang masih tidak bisa ia temukan.
"Apa aku memang tidak bisa melupakanmu Olivia. Sebenarnya kamu dimana?" Edgar mempercepat laju mobilnya.
Edgar sampai di mansion nya. Dia mengendarai mobilnya mengelilingi air mancur tinggi yang berada di depan rumah besar itu. Ia memutari nya beberapa putaran, kemudian menjauh mengambil ancang-ancang dan dengan kecepatan penuh ia menabrakkan mobil itu ke air mancur.
Air mancur dengan patung angsa di atasnya, sekarang hanya tersisa puing puing beton putih yang berantakan. Airnya tumpah ke segala arah. Mobil hitam itu hancur, kaca depannya retak. Edgar yang masih berada di dalamnya hanya diam tak bergerak. Berusaha menenangkan pikirannya.
Banyak orang berlari dari segala penjuru rumah besar itu.
"Tuan muda," teriak bi Yona dari teras rumah.
Ia berlari menghampiri mobil yang mulai mengeluarkan gumpalan asap putih, sedangkan tak ada yang keluar dari mobil itu.
"Tuan. Tuan muda, tolong keluarlah. Tuan." Bi Yona tak henti memukul kencang kaca di sebelah Edgar.
Pria itu tak peduli, dia malah menghidupkan musik dengan keras dan kembali menutup matanya. Edgar bersandar ke bangku empuk di belakangnya, menikmati musik klasik yang memenuhi setiap sudut di dalam mobilnya.
Pintu mobil itu tidak bisa dibuka, Edgar menguncinya. Dengan kepanikan yang berantakan, Bi Yona mengeluarkan ponselnya dan langsung menelpon Jeck, sahabat Edgar.
"Tuan Jeck. Segera lah ke mansion. Tuan muda, dia menabrak air mancur dan tidak ingin keluar dari mobilnya," kata bi Yona. "Tolong cepatlah."
"Apa? Dasar pria gila." Jeck langsung mengakhiri panggilan itu.
Ia mengendarai motor besarnya secepat mungkin, bahkan membuatnya menjadi tak terlihat melaju di jalanan malam.
Sebuah motor berhenti tepat di samping mobil Edgar.
"Ada apa dengannya?" Tanya Jeck yang baru turun dari motornya.
"Aku tidak tahu, aku pikir tuan hanya iseng memutari air mancur tapi tiba tiba dia melajukan mobil nya ke air mancur," jawab Bi Yona yang masih cemas.
Jeck menarik nafasnya. Dia yakin jika Edgar seperti itu pasti mengenai kekasihnya. Olivia
"Edgar. Hei. jangan seperti anak kecil, keluar lah sekarang. Apa kau ingin mati sebelum bertemu dengan Olivia?" Kata Jeck. Namun Edgar tak merespon apa pun.
__ADS_1
"Bagaimana dengan wanita baru mu? Apa kamu tidak menginginkannya lagi? Dia cantik dan ya badan nya bagus. Apa kau ingin memberikannya padaku?" Lanjut Jeck.
Tak berselang beberapa detik, Edgar langsung keluar dari mobil nya. Berjalan masuk ke rumah dan melewati Jeck yang tiba tiba terdiam berada di samping mobil itu.
"Tetaplah disana jika kalian ingin mati." Perlahan Edgar menghilang dari hadapan semua orang yang mencemaskan nya.
Mereka yang mengelilingi mobil itu dan berdiri di sekitar air mancur yang sudah hancur beranjak pergi dan kembali pada posisi mereka semula.
Bi Yona dan Jeck mengikuti Edgar masuk ke dalam rumah.
Bum!
Tak lama kemudian, mobil itu meledak mengeluarkan kobaran api. Willy yang baru sampai disana, terkejut. dengan cepat dia langsung menyuruh semua orang yang berjaga memadamkan api itu.
Di ruang kerja Edgar.
"Apa kau sudah tidak waras?" Kata Jeck. "Jika kau ingin mati seharusnya di tempat yang tidak ada orang. Merepotkan."
Edgar tidak menghiraukannya, dia mengambil dua botol anggur dari dalam lemari kaca yang berada di ruang kerja itu. Membawanya ke balkon.
Dengan satu gerakan, ia meminum habis sebotol anggur tak bersisa. Jeck yang melihatnya menjadi cemas, dia mengambil botol itu dari tangan Edgar. Sudah kosong.
Tak lama waktu berselang, Edgar kembali masuk. Jeck langsung bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Edgar. Menarik pria mabuk itu ke sofa.
"Sebaiknya kamu istirahat saja," bujuk Jeck.
"Ah. pergi, aku ingin sendiri." Edgar melepaskan genggaman tangan Jeck darinya. Ia berjalan ke lemari dan mengambil 3 botol anggur dan berjalan kembali ke balkon.
"Apa? Lagi?" Jeck tak bisa menahan pria itu untuk tidak minum.
Jeck berpikir keras, memikirkan cara menyudahi kegilaan pria itu.
'Ya Rossi. Dia pasti bisa menghentikan pria ini,' pikirnya.
Jeck langsung bergegas mencari Bi Yona, untuk segera menghubungi Rossi. Tapi ternyata bi Yona tak mempunyai nomor telepon Rossi, Jeck kembali menanyakan alamat rumah wanita itu, dan tidak ada yang tahu.
"Jeck. apa kamu ingin menemui nona Rossi?" Seorang pria berjalan mendekat dari ambang pintu. Pakaiannya berbau asap, dengan diikuti beberapa orang yang dibelakangnya.
__ADS_1
"Ya. Apa kamu tahu alamat rumahnya? Aku harus cepat membawanya kesini, Edgar menggila di atas. Aku tidak bisa menahannya."
"Ikut aku," ucap Willy tegas. Jeck mengikutinya dari belakang.
Willy dan Jeck bergegas pergi dan mengendarai motor besar yang terparkir di depan rumah. Mereka melaju cepat di bawah setiap lampu jalan yang menyinari jalanan yang mereka lewati bersama.
Tok. tok. tok
Rossi sudah tertidur lelap, sedangkan Sarah masih terjaga sambil bermain game di ponselnya. Tiba tiba dia mendengar suara di bawah, langsung mengintip dari balik tirai kamar Rossi. ada motor yang terparkir di depan rumah.
"Siapa itu?" Sarah melirik pada jam bulat yang menempel di dinding "Sudah tengah malam."
Pukul 00.24
Ketukan itu masih terdengar dan suaranya makin jelas. Sarah membukakan pintu itu, terlihat dua pria dengan yang satu berkulit putih dan satunya berkulit gelap. Mereka menatap Sarah bersamaan, membuat tekanannya menjadi berat.
"Ya?" Sarah berusaha mengeluarkan suaranya.
"Nona Sarah, kami ingin menjemput nona Rossi untuk ikut bersama kami sekarang," pinta Willy
"Kamu.." Sarah berpikir, " Oh ya, kamu yang bersama mr.edgar saat itu."
"Benar nona. Jadi bisakah kami membawa nona Rossi sekarang?" Willy berlaku sopan.
Sarah memperhatikan raut wajah kedua pria itu.
"Rossi.. dia sudah tidur sih. Tapi biar aku coba bangunkan." Sarah berjalan kembali ke atas dan meninggalkan dua itu di ambang pintu.
Sarah merasa ragu untuk membangunkan Rossi, karena terakhir dia bertanya mengenai Edgar. Rossi tidak ingin membahasnya, hubungan mereka seperti nya tidak baik. Namun melihat dua pria itu yang masih menunggu, sepertinya mereka sangat membutuhkan Rossi. Sarah memihak pada dua pria berbadan tegap itu, dan membangunkan Rossi.
"Rossi. Bangun lah." Sarah menarik selimut yang menutupi tubuh Rossi.
Langsung membuat wanita itu terbangun, namun masih enggan untuk membuka matanya.
"Ada dua orang pria dibawah, mereka bilang kalau mereka menjemput mu ke rumah Edgar." Sarah menggoyangkan tubuh Rossi.
Mendengar nama Edgar disebut, matanya langsung terbuka dan menatap serius ke arah Sarah.
__ADS_1
--***