
Ya sudah cukup lama Edgar dan Joshua tidak mendengar kalimat itu. Dan sekarang kalimat itu diucapkan oleh Rossi. Wanita yang baru hadir di dalam kehidupan mereka. Bagaimana bisa dengan kalimat yang sama persis. Apa karena jantung itu?
Joshua DeVille' Stevenson. Anak dari Demian DeVille' Stevenson dan istrinya Rosemary Allover. Demian adalah kakak laki-laki dari Jerome Stevenson. Pemimpin geng aegle saat itu.
Demian dan Rosemary meninggal di tempat saat terjadi kecelakaan beruntun. Saat itu usia Joshua masih sangat kecil. 5 tahun. Beruntung nya dia baik baik saja. Hanya tergores sedikit pecahan kaca. Rosemary memeluk Joshua begitu erat agar anaknya tidak terbentur atau pun terluka parah nantinya.
Seharusnya Joshua lah yang menjadi pewaris geng Eagle, menggantikan ayahnya Demian. Tapi sejak kecil Joshua tidak terlalu tertarik untuk memasuki dunia gelap itu. Dia lebih suka untuk berbisnis.
Jadi dia mengundurkan diri sebagai pewaris dan meminta pada pamannya, Jerome. Untuk mengurus kepemimpinan di geng aegle. Lagi pula Jerome punya seorang putra yang bisa dijadikan penerus nantinya. Edgar Julian Stevenson.
Saat usianya 15 tahun. Dia pergi bersama Edgar yang saat itu berusia 13 tahun untuk meneruskan sekolah mereka di Amerika serikat.
Tapi hanya berselang beberapa waktu. Joshua meminta untuk kembali dan bersekolah di Italia saja.
Sekolah Menengah Atas terbaik di Roma, Italia. Joshua menjadi populer di sana. Tentu saja sebagai ketua OSIS. Selalu populer. Dia sudah berada di kelas 3. Saat itu lah dia mengenal Olivia untuk kedua kalinya. Olivia siswi baru.
Kisah cinta SMA. Terkadang memang tidak berakhir disana. Joshua tidak sempat menyatakan perasaannya. Selama itu, Olivia menganggap Joshua sebagai sosok seorang kakak. Kak Jo. Akhirnya Joshua mengurungkan niatnya. Dia bertekad setelah dia menyelesaikan kuliahnya dan membuat sebuah perusahaan besar dia akan menjadikan Olivia sebagai pendampingnya.
Siapa sangka dia terlambat. Saat Joshua mencari Olivia di Paris. Ke kampusnya. Dengan buket mawar biru di tangannya. Dia melihat Olivia tertawa bahagia bersama seorang pria. Sangat dikenalnya. Edgar Julian Stevenson. Sepupunya. Anak dari pamannya. Joshua mulai melangkah mundur disana.
Olivia tidak pernah menunjukkan wajah seperti itu padanya. Dia menggenggam erat buket bunga itu di tangannya. Hampir membuat kelopak bunga nya gugur.
"Permisi. Maaf. Saya melihat anda cukup lama mengamati mereka, apa anda ingin menemui seseorang?" Seorang wanita tiba tiba muncul entah dari mana. Jane Gabriela. Sahabat Olivia.
"Tidak. Tidak ada. Aku hanya lewat saja."
Jane melihatnya seakan tak percaya. Hanya lewat saja dengan membawa sebuket mawar biru? Aneh.
"Ini untuk mu saja." Joshua memberikan bunga yang seharusnya untuk Olivia pada gadis yang hanya berbicara dengannya. Sontak membuat Jane terkejut. Ada apa? Dia dapat buket bunga.
"Hmm.." sangat harum. Bunga dari pria tampan selalu harum. "Tapi siapa dia?"
Tapi itu memang membuat perasaan Jane berdebar. Dia belum pernah mendapat buket dari seorang pria. Apalagi pria tampan. Itu lah yang dia pikirkan.
Esok hari. Tanpa di sengaja. Takdir memang ingin mempertemukan mereka. Joshua sedang makan siang. Hanya sendiri.
__ADS_1
"Kak Jo. Apakah itu kamu?" Olivia berhenti di sebuah meja di pojok sebuah cafe. Cafe Barrieta.
Dia tidak sendiri. Ada seorang pria di sampingnya. Olivia bersama Edgar.
Tangan mereka terpaut mesra. Sangat hangat. Cukup lama tatapan Joshua tertuju pada tangan itu. Hingga akhir nya dia tersadar.
"Ya. Olivia.." Joshua tersenyum. Bukan senyum manis, hanya senyum yang dipaksakan.
"Joshua. Kenapa kamu bisa ada disini? Kupikir kamu sibuk di los angeles- mengurus bisnismu," ucap Edgar sedikit terkejut.
"Oh itu. Aku hanya ingin liburan saja. Ingin bergabung? Aku hanya sendiri," ajak Joshua.
"Ya tentu." Olivia menarik Edgar untuk segera duduk.
"Sayang. Kenapa kamu bisa kenal dengan Joshua? Apa kalian--," kata Edgar sambil melihat keduanya berurutan.
"Oh aku mengenalnya dulu. Dia seniorku saat di SMA," jawab Olivia sambil mengangkat tangannya untuk memesan memanggil pelayan cafe itu.
Cukup lama mereka berbincang. Joshua pamit untuk pergi. Dia tidak ingin mengganggu kekasih itu menikmati makan siang mereka. Tentu saja, itu menyakiti hatinya.
Saat pemotretan, Olivia sangat dekat dengan Joshua. Tanpa sengaja dari kejauhan, Edgar melihat mereka. Sontak api kecemburuan melesat dalam benaknya.
Buk.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Joshua. Joshua membalasnya, sudah lama dia sangat ingin memukul Edgar. Hanya saja dia tidak ingin memukul sepupunya itu tiba-tiba. Yang sudah di anggap nya sebagai adiknya selama ini.
Mereka berkelahi. Cukup lama, namun Edgar menyadari sesuatu yang aneh dari tatapan Joshua. Seakan dia ingin melepaskan amarahnya pada Edgar. Untung saja ada Olivia. Tentu hanya Olivia yang berani melerai mereka.
Sejak saat itu, hubungan kedua nya perlahan renggang. Setiap bertemu mereka selalu menatap tajam, bahkan hampir selalu berkelahi. Hanya karena masalah sepele saja. Selama itu menyangkut mengenai Olivia. Termasuk hanya sekedar makanan bahkan hal sepele lainnya.
Perkelahian terakhir mereka di hadapan Rossi.
Mereka meributkan masalah pemotretan Olivia. Olivia harus ke los angeles- untuk itu. Dan Edgar tidak setuju. Mereka kembali berdebat dan berujung perkelahian kembali.
Wajah mereka sudah lebam memerah. Tak henti saling memukul.
__ADS_1
"Apa lagi yang kalian ributkan. Berhenti!" Olivia gagal melerainya saat itu. Hingga dia meninggikan suaranya.
"Apa kalian tidak mendengarku? Kenapa kalian begitu kekanakan," ucap Olivia. Kalimat yang selalu bisa menghentikan keduanya.
Edgar sudah bosan. Dia muak. Dia harus menyelesaikan kesalahpahaman itu segera.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Aku akan menunggumu di depan kampus Olivia. Siang ini," Edgar langsung mengakhiri panggilan itu. Tanpa menunggu ada balasan dari seberang teleponnya.
Siang hari.
Edgar menghidupkan rokoknya, menghisapnya perlahan. Dia duduk di kap mobilnya, menunggu. Aura dirinya membuat semua mata wanita yang melihatnya terpesona.
Tak lama kemudian, Joshua datang dengan mobilnya. Dia menghampiri Edgar. Berusaha untuk santai dan tidak ingin memulai perkelahian. Joshua duduk di samping Edgar.
Seakan akur. Edgar berbagi rokok dengan Joshua. Ya mereka terlihat sangat menawan bersanding berdua seperti itu.
"Apa kamu menyukainya?" Edgar memulai pembicaraan.
"Ya. Sudah lama." Joshua menghidupkan pemantik pada rokoknya.
"Jadi kamu sudah melihat nya sekarang bukan. Dia bahagia dengan ku. Bisakah kita berhenti berdebat. Dan kamu melepaskannya."
Cukup lama Joshua terdiam.
"Apa kau bisa berjanji akan selalu menjaganya dengan baik? Dan tidak akan menyakitinya?"
"Pasti. Tanpa kau minta pun aku akan melakukannya."
"Kau harus ingat siapa dirimu. Banyak orang yang ingin membunuhmu dan mengambil posisi itu. Pikirkan juga bagaimana Olivia nanti. Itu akan berbahaya untuk nya. Lagi pula kamu bahkan belum bisa mendapatkan informasi tentangnya bukan?"
"Ya. Dan dia juga ingin aku menunggu sampai dia menyelesaikan kuliahnya."
Joshua menepuk lembut bahu Edgar sebelum pergi. "Aku akan melepaskannya."
Sejak saat itu Joshua kembali ke los angeles- dan tak pernah muncul lagi di kehidupan Olivia.
__ADS_1
--***