
Satu jam sebelum Rossi diculik, di tempat lain. Mansion Mafioso milik Zeck. Jane keluar dari kamar nya dengan hanya memakai piyama putih, dia hendak ke bawah untuk mengambil minum. Dia haus, Zeck juga sudah dua hari tidak pulang dan berbicara dengannya. Sejak dia merah besar malam itu pada Joshua.
"Kenapa dia belum juga kembali, apa dia baik-baik saja sekarang?" Tanya Jane pada udara malam yang masuk melalui ventilasi di ruangan itu. Dia berada di dapur, mengambil air mineral yang ada di dalam lemari pendingin dan menuangkannya ke gelas kaca yang berada di atas meja.
Dia belum pernah mengelilingi atau melihat sudut rumah besar itu, tak ada salahnya jika berjalan-jalan untuk melihat. Ternyata rumah itu memang lebih besar dari pada kediaman Joshua di Los Angeles.
Ada satu ruangan yang pintunya tidak terkunci, bahkan tidak tertutup. Masih ada celah diantaranya.
"Aahhh," terdengar suara erangan dari dalam ruangan itu. Suara wanita.
Cukup ragu Jane berjalan kesana, tapi dia tidak akan membiarkan jika ada orang yang berbuat senonoh di rumah itu. Itu mansion Zeck, mana mungkin ada orang asing atau pun pelayan dan semacamnya yang akan melakukannya di tempat itu. Apalagi ruangan itu terlihat mewah, jelas dari bentuk pintunya.
Dengan rasa penasaran dan keraguannya, Jane mengintip di celah pintu.
Bum.
Dia melihat ada seorang wanita yang duduk di atas tubuh seorang pria. Jane mengenalnya, wajah pria itu cukup baik untuk diingat dalam memorinya. Zeck Alexandra, dia yang berada di bawah wanita itu. Tanpa berbusana.
Prang!
Tangan Jane gemetar, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gelas yang ada di tangannya langsung terjatuh dan pecah berkeping-keping. Serpihannya berserakan di sana sini, suara itu pasti membuat siapapun yang mendengarnya langsung ingin kesana. Jane berjongkok dan ingin membereskan nya.
Hanya berselang beberapa detik, Zeck sudah berdiri di ambang pintu dengan menggunakan handuk kecil di pinggangnya. Dia menatap Jane dengan tatapan yang belum pernah dirasakan Jane, dia seperti akan membunuhnya.
"Ashh," tanpa sengaja, karena terkejut dengan sosok pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Jane melukai jari lentiknya dan pecahan kaca runcing yang ada di lantai.
Tanpa aba-aba apapun, Zeck langsung berjongkok dan meraih tangan Jane. Dia menyerngit kesal dan menarik Jane masuk, di atas tempat tidur seorang wanita tengah menutup tubuhnya dengan selimut. Tapi Zeck tidak meliriknya sedikitpun.
Dengan gerakan tangan yang cepat, Zeck membuka beberapa laci seperti mencari sesuatu. Dia mengambil plester yang ada di dalam kotak, yang berada pada laci kedua sebuah meja.
Zeck menjilat tangan Jane, Untung saja tidak ada pecahan kaca yang berdiam di sana.
__ADS_1
Tubuh Jane berespon jilatan Zeck, terlihat jelas jika tubuhnya seperti di setrum sesuatu.
"Apakah sakit?" Tanya Zeck lembut padanya. Ekspresi pria itu juga sudah berubah.
"Tidak. Tidak, tidak sakit. Aku--," Jane melirik pada wanita yang memperhatikan mereka sejak tadi. Dia terus menatap ke arah Jane, dari tatapan itu jelas jika dia tidak suka ada Jane disana. "Aku akan pergi."
"Pakai ini dulu," ucap Zeck sambil memakaikan plester di jari tengah Jane. "Lain kali jangan terluka lagi, pecahan itu saja kamu tidak bisa menghindarinya. Keluar!"
Dengan cepat Jane menarik tangannya dan hendak pergi, tapi tangan Zeck tidak kalah cepat dari itu. Dia menarik Jane dan membuatnya berada dalam pelukannya.
"Kenapa kamu malah pergi?"
"Kamu menyuruhku keluar. Aku juga tidak ingin mengganggu kalian."
Zeck tersenyum geli mendengarnya, suasananya hatinya kembali membaik. Seharusnya dia pulang dan tidak berkeliaran dengan wanita malam di luar sana. Sudah ada wanita di mansion nya, yang bisa membuatnya tenang.
"Kau, keluar!" Ucap Zeck pada wanita yang berada di atas tempat tidur. Tatapan Zeck langsung berubah padanya, Untung saja wanita itu sadar diri akan statusnya. Di bergegas pergi dari sana.
"Aku juga akan pergi," ucap Jane saat berusaha melepaskan diri dari pelukan Zeck.
"Siapa yang mencari mu, aku hanya ke bawah untuk mengambil minum dan tak sengaja melihat--," Zeck tiba-tiba menciumnya.
"Lupakan, kamu tidak melihat apa-apa," ucap Zeck tersenyum manis menatap ke arah Jane. Namun Jane tidak membalas perkataannya. Dia hanya diam.
"Kenapa? Ingin mencobanya?" Kata Zeck ingin menggoda Jane.
"Aku-- tidak,--" belum selesai Jane berkata, Zeck mengangkat Jane dan membuatnya dalam gendongannya. Mereka pergi dari kamar itu.
"Tempat ini kotor, lebih baik kembali ke kamar mu."
Zeck membawa Jane kembali ke lantai atas, kamar mereka. Dan pintu tertutup. Zeck menghempaskan tubuh Jane di tempat tidur, dan langsung menindihnya.
__ADS_1
"Hei. Ada apa ini, kenapa kamu tiba-tiba disana dan menatap ku seperti itu," kata Jane penuh kecemasan. Zeck menatap nya dengan seringai kecil, tentu saja Jane takut jika Zeck melakukan sesuatu padanya.
"Sayang, bukankah kamu sendiri yang datang kepadaku," ucap Zeck sambil menunduk dan berbisik di telinga wanitanya.
"Aku tidak ada seperti itu."
Zeck tidak memperdulikannya dan melanjutkan gerakannya, dia mulai menelusuri leher jenjang Jane dan menciumnya kecil.
"H-hh-hentikan. Zeck…," ucapnya lirih.
Tanpa sadar, Jane menangis. Air matanya turun perlahan dan membasahi bantal itu. Zeck menyadarinya, seketika ekspresi nya langsung berubah. Dia terlihat tak suka dan sangat marah.
"Apa kamu menangis karena pria itu?" Tanya Zeck emosi.
"Aku tidak menangis karenanya, sungguh. Aku--"
"Aku tidak ingin mendengar apapun, malam ini kamu milikku dan aku juga akan menjadi milikmu. Dan kedepannya juga seperti itu, mulai sekarang. Aku melarangmu untuk memikirkan pria lain. Hanya aku."
Zeck memulai kembali kegiatannya, dia tidak menghiraukan ucapkan Jane yang terus berusaha untuk memintanya berhenti. Seorang Zeck tidak mungkin berhenti. Hanya melakukannya dalam satu jam saja, Jane tertidur lemas. Zeck terlalu berat memberikan hukuman padanya.
Hukuman? Itu lebih seperti pengakuan cinta bagi Zeck. Sebelumnya dia tidak pernah menghentikan setiap malam nya dengan wanita, itu kali pertama. Dia lebih memilih Jane. Wanita yang bisa membuatnya tenang. Seharusnya dia mengatakannya dengan cara yang baik dan romantis.
Kring. Kring.
Ponsel Zeck berdering, dia baru selesai mandi. Tertulis di sana "Julian". Zeck tidak pernah mengubah nama kontak. Dia tidak punya waktu senggang untuk mengubahnya menjadi "Edgar".
"Ya? Kenapa kamu menghubungi ku? Tidak seperti biasanya. Aku tidak ada waktu untuk membahas bisnis denganmu malam ini," kata Zeck menjawab panggilan tersebut.
"Aku menghubungimu bukan karena bisnis, Rossi dibawa oleh mereka. Aku sudah mengirim lokasinya padamu."
"Sial. Brengsek itu!?"
__ADS_1
Zeck mematikan panggilan tersebut dan langsung bergegas keluar dari kamar itu tanpa menghampiri Jane. Dia terlihat marah besar.
--***