
Siang menjelang sore. Matahari mulai bersembunyi dari balik awan, membuat kota kecil Yvelines menjadi redup. Mendung. Perlahan turun sedikit demi sedikit air hujan yang membuat rumput yang tumbuh di depan kediaman Geralderd menjadi basah.
Di atas kursi mewah empuk berwarna ungu gelap yang menghadap ke luar jendela. Seorang pria duduk dengan suasana hati yang sangat bagus. Tak henti tersenyum, dia sangat menikmati suara tembakan pistol yang berada di bawah lantai nya sambil menikmati secangkir kopi di tangannya.
Tak lama kemudian, suara itu terhenti. Menandakan pertempuran itu sudah berakhir. Pastinya ada banyak jasad di rumah itu, atau hanya dua? Tidak mungkin.
"Periksalah," ucap Geralderd, "dan bawa jasad pria itu kesini. Aku tidak sabar melihatnya dan melemparnya ke markas eagle."
"Baik tuan." Pria yang berada di belakangnya perlahan membuka pintu.
Dor.
Sebuah tembakan mendarat tepat di kening pria itu. Tubuhnya langsung tumbang. Namun tembakan itu tak membuat Geralderd beranjak dari singgasana nya. Dia malah meneguk kopinya hingga habis. Menandakan pertunjukannya sudah selesai.
Dari balik kursi besar berwarna ungu gelap.
"Haha. Apa kamu punya seribu nyawa? Bahkan dengan puluhan anak buah ku tidak bisa membunuhmu," Geralderd perlahan bangkit dari kursinya, "kenapa kamu malah kesini? Bukankah kamu akan pergi."
Hanya hitungan detik Edgar sudah berada di hadapannya, mencengkram kerah baju ungu yang dikenakan Geralderd.
"Aku akan memintanya sekarang. Informasi apa yang kau punya," Edgar mempererat genggamannya. Membuat pria itu sedikit terangkat.
"Hei santai. Lepaskan aku dulu," Geralderd masih bisa tersenyum di situasi itu.
Cukup lama Edgar baru melepaskan kerah baju pria itu.
"Hah. Begini kan lebih enak, tapi bukankah aku sudah mengatakan padamu tadi di bawah jika aku memberitahukannya padamu. Apa yang akan kau berikan sebagai gantinya." Geralderd merapikan kembali kemejanya, namun itu sudah sangat kusut di atasnya.
Perlahan Edgar mengangkat tangannya. Dia mengacungkan pistol yang sedari tadi berada di tangannya tepat di kepala Geralderd.
"Jangan coba-coba bermain trik dengan ku Gerald. Apa kau lupa, kau berhutang dua nyawa padaku. Mungkin ini saat yang tepat untuk menagih hutang itu. Jeck tidak ada disini, jadi aku bisa mencari alasan untuk membunuhmu."
"Apa? Jeck tidak ada disini? Apa maksudmu? Dimana dia?" Geralderd menjadi cemas, "apa dia terluka?"
Geralderd beranjak ingin pergi menemui adiknya namun Edgar menahannya. Geralderd sangat menyayangi adiknya, begitu juga Jeck. Namun mereka hanya terpisah karena beda jalan dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"Sebaiknya kau beritahukan sekarang. Selama aku masih berbaik hati padamu." Edgar mendekatkan ujung pistol ke pelipis Geralderd.
"Kau!?" Geralderd menjadi lemah, "Baiklah. Tapi turunkan dulu tanganmu."
Suasananya menjadi lebih tenang. Edgar dan Geralderd mulai santai.
"Kekasihmu. Olivia, dia adalah putri dari ketua geng Lion, Mr.Hans."
Dia perlahan berjalan ke mejanya, membuka laci yang berada di sana. Sedangkan Edgar terkejut dan berdiri mematung setelah mendengarnya. Geralderd mengambil sebuah berkas dengan map yang masih utuh belum terbuka.
"Kau bisa melihatnya sendiri." Geralderd menyerahkan berkas itu pada Edgar. Dan langsung dibuka olehnya.
Dalam berkas itu terlihat jelas bukti yang sangat meyakinkan jika Olivia memang putri dari sahabat ayahnya. Tapi kenapa? Ayahnya pasti tahu soal itu. Kenapa dia tak memberitahukannya pada Edgar.
"Tidak mungkin." Edgar hampir saja menghancurkan bukti itu dalam genggaman tangannya. Namun dia harus memastikannya lagi sendiri. Dengan cepat dia membalikkan badannya dan berjalan pergi.
Di ambang pintu
"Jeck baik baik saja. Dia hanya tergores, sebaiknya kamu tidak usah menemuinya."
Tengah malam, Kota S.
Suara burung hantu dan angin malam bersatu memenuhi ruangan gelap di bangunan besar yang sudah terbengkalai. Hanya bulan yang memantulkan cahaya nya melalui celah celah yang terdapat disana.
Banyak orang berjaga di sekitar bangunan itu, di dalamnya pun ada beberapa pria bersenjata.
"Lepaskan dia dari kursi," perintah seorang wanita pada pria yang berada tak jauh darinya.
"Apa yang kau inginkan Vera?" Rossi masih berusaha melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya.
Dengan senyum licik, Vera berjalan mendekati Rossi. Dia menarik rambut Rossi dan menyeretnya beberapa meter dari tempat semula. Hingga Rossi terduduk menempel pada dinding.
"Kau tahu Rossi. Seharusnya kau berkencan dengan pria yang biasa saja," Vera mengambil cambuk yang diberikan seorang pria padanya.
"Apa maksudmu?" Rossi berbalik menatap mata Vera tanpa berkedip.
__ADS_1
"Oh kamu tidak tahu apapun mengenai pria itu? Sungguh kasihan. Kau tau Rossi, Sepertinya kekasihmu itu mempunyai banyak musuh. Dia bahkan tidak bisa menjaga kekasihnya dulu, dan sekarang kau terjerat dengannya, haha."
Vera bersiap mengangkat cambuk di tangannya, ingin melayangkannya pada tubuh Rossi.
Dor.
Sebuah tembakan mendarat tepat di lengan Vera, membuat cambuk yang berada di tangannya terjatuh dan badannya tumbang. Keluar banyak darah dari sana.
Dor. dor. dor
Banyak tembakan di luncurkan oleh beberapa orang dari atas motor dan disusul sebuah mobil memasuki bangunan itu. Terjadi banyak tembakan, membuat Rossi menjadi ketakutan dan menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian tembakan itu berhenti, seorang wanita turun dari mobil dan menghampiri Rossi. Dan dengan cepat tali yang mengikat tangan Rossi terbuka.
"Sa-sarah. Kamu.. kamu kenapa memegang senjata itu. A-apa maksud ini.. Siapa mereka..," Rossi memandang pada jajaran manusia yang berada di atas motor.
"Aku akan menjelaskannya nanti Rossi, kita harus pergi secepatnya dari sini."
"Ta tapi.. Sarah..," Rossi memanggilnya lirih dan tidak sempat meneruskan perkataannya. Sarah sudah menopang nya untuk segera masuk ke dalam mobil dengan cepat mobil itu melesat pergi keluar dari bangunan itu.
"Siapa yang menyuruhmu. Dari geng mana?" Vito mengacungkan pistolnya kepada Vera yang sudah sekarat memegangi tangannya yang tak henti mengeluarkan darah.
"Tuan. Tuan tolong selamatkan aku, aku.. Tangan ku..," Vera sangat kesakitan dan dia tak henti menangis.
Namun Vito adalah pria kejam, dia tidak akan berbalas kasih selama orang itu membuat masalah, meskipun itu seorang wanita.
"Cepat katakan!" Vito bersiap untuk menarik pelatuknya.
"Tuan. Tuan Mike. Dia.. Dia yang menyuruh ku. Tolong.. Tolong selamatkan aku..," Vera tak henti memohon.
Dor.
Sebuah tembakan di luncurkan, Vito ternyata masih berhati baik. Dia membantu Vera untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Berselang beberapa menit kemudian. Willy datang bersama kelompoknya. Namun yang dia lihat hanya jasad orang orang yang masih segar. Baru terjadi pertempuran disana.
"Sial. Aku terlambat. Ini adalah wanita yang berdebat dengan nona Rossi di bar," Willy mendekati mayat Vera, "Tapi dimana nona Rossi?"
__ADS_1
--***