
Di sebuah villa kosong yang berada tak terlalu jauh dari pusat kota. Bangunan bertingkat dua yang dikelilingi cukup banyak orang berpakaian hitam. Mereka terlihat sedang mondar-mandir menjaga vila itu. Mungkin sekitar puluhan orang.
Di sebuah ruangan kecil yang berada pada tingkat satu bangunan itu, tampak seorang wanita sedang diikat pada kursi kayu berwarna kuning. Dia tak sadarkan diri. Sementara itu ada seorang pria yang duduk tak jauh darinya. Di atas kursi yang cukup bagus, dia sedang mengelap pistolnya. Entah apanya yang dibersihkan, senjata itu tampak tak punya debu sedikitpun.
Perlahan Rossi terbangun, walaupun kepalanya masih terasa sedikit pusing. Obat bius itu sangat cepat bekerja dan untungnya juga tersadar dari obat itu dalam waktu singkat. Rossi membuka matanya dan mendapati dirinya sedang diikat oleh beberapa ikatan tali.
"Oh, kau sudah bangun," kata seorang pria yang baru saja berdiri di hadapan Rossi.
"Kamu!? Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Rossi yang pernah bertemu sebelumnya dengan pria itu.
"Ternyata kamu sama saja dengan kekasihmu itu ya, tidak punya sopan santun. Tapi ya itu tidak masalah bagiku, aku tetap bisa membunuh wanita nya lagi."
Itu adalah Mike Stevenson, pria itu sudah bergabung dengan kakaknya yang bernama Damian cukup lama. Hanya saja dia mempertahankan tetap berada di geng eagle karena ingin melaporkan situasi di dalam geng eagle. Dan akhirnya barulah dia keluar dari geng itu beberapa Minggu yang lalu.
"Kamu lihat?!" Mike menyandarkan pistol itu di kepala Rossi dan menggesekkan senjata itu lembut di pelipisnya. "Senjata ini sudah membunuh satu orang anak dari Hans, dan sekarang sepertinya dia juga akan membunuh satu putri Hans lagi. Setelah ini, aku akan menyimpan senjata ini di dalam kotak kaca sebagai bukti atas kematian kalian berdua."
"Apa maksudmu?" Rossi menatap Mike dengan tatapan yang cukup tajam.
"Oh bukan apa-apa, kau tau. Kakakmu itu lumayan kuat bertahan hidup. Sudah disiksa beberapa kali pun tapi dia masih saja hidup. Jadi ya, aku terpaksa menembaknya untuk yang terakhir. Tepat di depan Edgar dan Hans, wah saat itu memang sangat menyenangkan. Huh sayang sekali, sekarang mereka tidak bisa menyaksikan kematianmu."
'jadi dia yang menembak Olivia saat itu, dasar pria brengsek. Dia selama ini terlalu banyak berpura-pura,' pikir Rossi.
"Kau pria keji, akulah yang akan memajang kepalamu di dalam kotak kaca setelah ini. Brengsek!"
"Hahaha. Kupikir itu tidak akan terjadi, kau yang akan duluan menyusul kakak mu! Apa ada kalimat terakhir?"
"Kalimat terakhir? Apa kamu yakin itu berlaku untukku? Bukankah seharusnya kamu yang ingin mengatakannya? Dan ya, putramu yang bernama Gio itu. Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
__ADS_1
Mike sudah putus kontak dengan putra nya sejak seminggu yang lalu, dia juga tidak tahu dimana putranya. Namun Rossi melihat dia saat debutnya di Paris, seorang fotografer. Hal tersebut sempat melihat Rossi terkejut jika anaknya bahkan berbeda jauh dari ayahnya. Dan juga Rossi sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi pria itu. Dia mendapati jika anaknya tidak sejalan dengan ayahnya itu.
"Apa maksudmu?" Mike menurunkan senjatanya dan menggenggam leher Rossi.
"Dasar pria bodoh, dia sangat malang memiliki ayah yang bodoh sepertimu."
Zzzttt.
Rossi menyetrum Mike dengan lipstik yang dikeluarkannya saat di kamar mandi di pusat perbelanjaan, ternyata mereka tidak mengambil alat itu dari tangan Rossi. Entah penjaga itu yang bodoh atau bagaimana, mereka berpikir itu lipstik biasa.
Hadiah kecil itu ternyata ada gunanya, bahkan bisa menjadi pisau. Betapa beruntungnya Rossi disaat seperti itu, jika menunggu Edgar dan yang lainnya menyelamatkan dia. Itu akan butuh waktu yang cukup lama.
"Huh. Dia bahkan sangat mudah untuk ditaklukan, apa dia benar-benar keluarga Stevenson?" Tanya Rossi menghadap pada pintu yang memisahkannya dengan ruang lain.
Rossi berniat untuk keluar dari ruangan kecil itu. Mike sudah menggantikan dia duduk di kursi kayu dengan tubuh yang diikat tali. Tentu saja Rossi tidak akan langsung membunuhnya dan menaruh kepalanya di kotak kaca. Kepala pria tua itu tidak ada berharga nya sama sekali diletakkan dalam kotak itu.
Tok. Tok. Tok
Rossi mengetuk pintu itu dari dalam dan langsung menempel di sudut dinding, hanya berjarak tiga detik. Pintu itu terbuka, dua orang masuk ke dalam ruangan itu. Rossi tidak akan dengan bodoh untuk membuang pelurunya. Dia hanya ada satu pistol dan tidak ada peluru tambahan.
Sssshhh.
Hanya dalam dua gerakan tangannya, Rossi berhasil menumbangkan dua pria itu. Dia mengayunkan pisau kecilnya tepat di setiap leher mereka. Yang membuatnya terciprat darah segar. Perlahan Rossi meninggalkan ruangan itu dan mengendap ke tempat lain.
Sialnya, dia harus menggunakan pistol itu. Alarm tiba-tiba berbunyi dan tak lama setelah itu. Banyak orang yang datang dari lantai atas dengan membawa senjata. Tempat itu tidak terlalu besar, Rossi harus susah payah menjadi tempat untuk melindunginya sejenak.
Tapi tak bertahan lama, Rossi kehabisan peluru dan dia juga sudah lelah bertarung dengan beberapa orang. Nafasnya tersengal, dia kehilangan ion tubuhnya. Keringat nya keluar cukup banyak.
__ADS_1
"Apa mereka masih lama, aku sudah lelah dan pisau kecil ini juga sudah terlalu banyak terkena darah," ucap Rossi pada dirinya sendiri.
Dor. Dor. Dor.
Terdengar banyak tembakan, Rossi merasa lega. Itu pasti orang yang di tunggunya. Mereka yang awalnya bersiap menangkap Rossi beralih mengarahkan senjatanya pada beberapa orang yang tiba-tiba masuk ke dalam villa itu dari segala penjuru, ada yang dari pintu bahkan jendela.
Hanya dalam hitungan detik, mereka semua dapat dilumpuhkan. Tapi anggota mereka yang lain mulai muncul lagi dari lantai atas, Sarah dan Vito juga tidak membawa banyak anggota. Mereka terkepung.
"Rossi, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Sarah berdiri melindungi Rossi.
"Ya, aku baik-baik saja. Kalian sangat lama," balas Rossi padanya.
Orang bersenjata mulai mengepung mereka.
"Menunduk." Terdengar seseorang bersorak dari arah pintu. Rossi dan yang lainnya berjongkok bersamaan.
Dor. Dor. Dor.
Beberapa shotgun di tembakan sekaligus, membuat semua orang yang mengepung kelompok Rossi tewas di tempat. Itu Edgar dan anggotanya. Rossi dan yang lainnya bergabung dengan kelompok Edgar. Dan tidak ada lagi orang yang muncul dari lantai atas.
Namun dekat lorong gelap yang tak jauh dari mereka berada,seorang wanita memegang pistol dan berniat hendak menembak. Targetnya adalah Rossi. Tepat saat dia akan menembak Jeck tiba-tiba berada di posisi Rossi karena akan mengambil shotgun yang diberikan Edgar.
Dor.
Jeck tertembak, sontak tembakan itu membuat semuanya langsung menatap ke arah sumber tembakan itu. Namun tempat itu cukup gelap untuk melihat penembak nya.
"Cepat bawa Jeck dan Rossi ke tempat Vegan, aku dan yang lainnya akan mengurus sisanya." Perintah Edgar sebelum berlari pergi mengejar bayangan wanita yang menembak Jeck.
__ADS_1
--***