Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.71


__ADS_3

Tepat pukul sembilan pagi, Geralderd tiba di rumah sakit Vegan. Rumah sakit yang cukup besar, dia butuh waktu lama untuk sampai ke ruangan Jeck berada. Tapi itu tidak masalah baginya, dia sudah seperti orang gila semenjak berangkat dari Paris beberapa jam yang lalu.


Sebelumnya saat di Yvelines, Paris. Kediaman Geralderd dijaga ketat oleh beberapa orang. Bahkan awalnya dua anak buah Edgar tidak diizinkan masuk, hingga mereka mengatakan jika ada seseorang yang membunuh Jeck. Geralderd yang mendengar nya dari monitor di ruang khusus kediamannya langsung keluar dari zona nyaman.


Dia dengan terburu-buru menghampiri anak buah itu.


"Apa yang kau katakan? Dimana Jeck?" Tanya Geralderd tiba-tiba muncul di tengah perselisihan di depan gerbang.


"Kami kesini ingin mengembalikan seorang wanita, tuan Edgar meninggalkan pesan jika wanita ini membunuh Jeck."


"Wanita ini?" Gumam Geralderd heran.


Tak lama waktu berjalan, salah satu anak buah Edgar itu menarik seorang wanita keluar dari mobil. Wanita itu terlihat ketakutan setengah mati karena Geralderd langsung menatapnya tajam.


"Clara, apa yang kau lakukan. Jangan bilang jika kau yang membunuh Jeck?"


"Aku-- aku tidak membunuhnya. Sungguh, Gerald dengarkan aku. Aku tidak mungkin membunuh orang, aku tidak berbohong," kata Clara yang langsung menyambar kaki Geralderd begitu pria itu mengajukan pertanyaan padanya.


"Dia?" Tanya Geralderd sedikit tak percaya pada dua orang pengantar itu.


"Ya." Mereka menjawab serentak.


Seketika raut wajah Geralderd langsung berubah menyeramkan. Dia meremas dagu wanita itu yang membuatnya berbekas disana. Geralderd mendongakkan kepala itu ke arahnya.


"Jawab aku! Apa yang lakukan disana?"


"Aku-- aku--"


"Jawab!" Geralderd menguatkan tenaga di setiap jarinya.


"Aku ingin memiliki Edgar!"


Semua orang terkejut mendengar pengakuan yang keluar dengan jelas dari mulut Clara. Namun berbeda dengan Geralderd, dia malah tertawa seram dengan berkacak pinggang di sana.

__ADS_1


"Hahaha, kau wanita!? Begitu serakah!" Ucap Geralderd menarik keras rambut Clara. "Kau yang mencari masalah denganku."


"Kalian boleh pergi," kata Geralderd pada dua anak buah Edgar.


Geralderd kembali masuk ke kediamannya sambil menyeret Clara dalam genggamannya tangannya. Dia menyeret wanita itu melalui perantara rambutnya. Seakan rambut itu akan segera putus dari kepala kecil itu, Geralderd tidak menghiraukan kicauan yang keluar dari mulut wanita itu.


Tepat saat berada di lantai yang berada setelah anak tangga terakhir menuju lantai atas, Geralderd melepaskan rambut Clara. Dia bersorak dari sana pada anak buahnya yang berada di pintu masuk.


"Seret dia ke ruang bawah tanah, kalian boleh melakukan apapun padanya selama dia menderita. Tapi jangan biarkan dia mati, aku belum mengizinkannya."


"Tidak Gerald, aku tau jika aku salah. Aku-- aku adalah tunanganmu. Bagaimana mungkin kamu bersikap seperti ini padaku." Clara menjadi hilang akal. Dia lupa siapa dirinya di mata Gerald.


"Tunangan? Kau sungguh menganggapnya seperti itu, sangat tidak tahu diri! Kau pikir aku bertunangan denganmu atas dasar apa? Cinta? Hahaha jangan bodoh, aku hanya menginginkan semua saham Adeliano menjadi milikku. Dan sekarang, semuanya sudah menjadi milikku, ayah bodohmu itu bahkan tidak bisa mengelola sahamnya dan menjualmu padaku. Sekarang aku tidak butuh kalian lagi!"


"Dijual? Tapi ayah ku bilang jika ini kerja sama perusahan, kau jangan mengada-ada. Ayahku tidak mungkin menjualku untuk perusahaan. Dia sudah mengelola perusahaan itu selama ini dan menghasilkan banyak keuntungan. Kau bicara omong kosong."


"Hahaha. Dasar wanita bodoh, kau pikir ayahmu sehebat itu? Dia kaya hanya karena menipu, klasifikasi kekayaan itu didapatkannya dari semua klien. Dia hanya pion bagi mereka untuk mengambil sumber daya perusahaan mu, dan sekarang semua itu sudah menjadi milikku. Ayah dan anak sama saja. Seret dia!"


Clara tidak henti meronta-ronta hingga hilang dari penglihatan Gerald.


"Kau juga harus membayar apa yang kau lakukan pada adikku," ucap Gerald menaiki anak tangga.


Beberapa menit setelah itu barulah dia berangkat ke Italia. Dia tidak perlu membeli tiket pesawat atau semacamnya. Gerald punya pesawat pribadi yang bisa digunakan kapanpun dia mau.


Sebelum dia masuk ke ruangan Jeck, Vegan sudah menjelaskan bagaimana keadaan Jeck. Hal tersebut membuat Gerald panik dan langsung saja masuk ke ruang Jeck sebelum Vegan menyelesaikan kalimatnya.


Pintu terbuka, mata Gerald tak berkedip sekalipun. Begitu juga Jeck yang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat dengan begitu santai, tiba-tiba terkejut melihat Gerald yang pucat pasi. Keadaannya menjadi hening seketika.


"Kau!?" Gerald berbalik badan dan dengan cepat mencengkram baju Vegan. "Kau bilang dia mengalami luka serius, lihat! Dia baik-baik saja."


"Hei, aku belum selesai menjelaskannya. Aku akan mengatakan jika dia sudah baik-baik saja, tapi kamu malah langsung masuk. Itu bukan salahku, seharusnya kamu berterima kasih padaku. Huh."


Di ujung lorong, terlihat seorang pria dan wanita sedang berjalan bersama dengan begitu mesra. Mereka menuju ke ruangan Jeck dirawat, itu Edgar dan calon istrinya, Rossi.

__ADS_1


Melihat ada keributan di depan pintu Jeck, mereka mempercepat langkah kakinya. Edgar tersenyum puas melihat pria yang sedang memarahi Vegan.


"Hahaha, apa ini? Kau sangat cepat sampai disini ya," kata Edgar santai begitu dirinya berdiri di samping Geralderd.


"Bagaimana tidak, dia mendaratkan pesawatnya tanpa izin di atas gedung ku. Membuat keributan saja," balas Vegan sambil membenarkan kembali pakaiannya.


"Kau brengsek! Menjaga bocah itu saja kau tidak bisa." Pandangan Geralderd beralih menatap Edgar.


"Untuk apa aku menjaganya, tidakkah kau lihat. Dia sudah cukup umur untuk menikah. Kau saja yang terlalu mencemaskan nya, kakak yang baik."


Geralderd tidak membalasnya, dia berjalan dengan sok keren, tangan di saku celana. Dia mendekat ke arah Jeck berada. Geralderd menatap Jeck cukup lama hingga menghembuskan nafas panjang sebelum mulai berbicara.


"Mulai sekarang, aku Geralderd akan bergabung lagi dengan geng eagle dan--" Gerald berbalik menatap Edgar yang berdiri di ambang pintu. "Dia di bawah pengawasan ku."


"Terserah kau saja, ayo sayang kita pergi. Sepertinya kita tidak dibutuhkan lagi untuk menjenguk orang sakit itu."


"Hei Edgar, tunggu. Kau sahabat yang tidak setia."


Edgar pergi bersama Rossi tanpa menjawab apapun begitu juga dengan Vegan, dia langsung pergi setelah menutup pintu.


"Hehe. Kakak Ger, kenapa kau menatapku seperti itu," ucap Jeck sedikit takut saat Gerald menyipitkan matanya.


"Kau bodoh," Gerald mengetuk kepala Jeck dengan kepalan tangannya. "Bisa seperti ini hanya karena ditembak seorang wanita."


"Kau juga bertunangan dengan wanita itu."


"Itu berbeda, dasar bodoh."


"Siapa yang bodoh!?"


Geralderd dan Jeck menghabiskan waktunya bersama dalam beberapa jam di ruangan itu. Jeck sudah seperti anak nakal yang dimarahi tanpa henti oleh orang tuanya. Tapi itu bukan masalah, dia senang. Bisa berada dalam keadaan seperti itu bersama kakaknya. Lagi.


--***

__ADS_1


__ADS_2