Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.56


__ADS_3

Air sungai mengalir dengan tenang, tidak ada makhluk fana pun yang dapat mengganggu ketenangan alam saat itu. Tumbuhan di sekitarnya masih tumbuh dengan begitu hijau. Ekosistem sungai yang terjaga, dan udara yang tidak tercemar. 


Joshua, dia berada di pohon. Dengan santainya bersandar pada batang pohon besar yang berada disana. Dia memejamkan matanya, sambil menikmati angin sejuk yang berhembus menghampirinya. Membuat pikirannya tenang sejenak.


"Mau ikut denganku?" 


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari bawah ranting besar tempat Joshua berada yang mengganggu ketenangan pikirannya. Itu Edgar, dia dengan usil melempar Joshua dengan ranting kecil.


"Pergilah, jangan menggangguku," balas Joshua tak berpaling melihat ke arah Edgar.


"Ayolah, tidak akan jauh. Kita hanya akan berjalan sedikit saja, dan kita sampai."


"Memangnya kamu ingin kemana?" Tanya Joshua lirih.


"Ke rumah sebelah, hehe," jawab Edgar tertawa kecil.


"Hilih, ingin pacaran saja kenapa mengajakku. Pergilah sendiri, aku tidak ikut."


"Ada Jane disana, yakin tidak ikut denganku?" Goda Edgar. 


"Jangan membohongi ku, untuk apa dia berada disana."


"Ya sudah kalau tidak mahu, jangan menyesal nantinya."


Edgar pergi dari sana dengan langkah lambat. Tak terduga, ternyata Joshua sudah berada di belakangnya. 


"Ayo, aku ikut hanya karena tidak ada kerjaan saja." 


"Terserah alasanmu apa," lanjut Edgar.


Hanya berselang beberapa menit, Joshua dan Edgar sampai di kediaman Alexandra. Mereka memasuki rumah besar itu dengan santai dan tenang. Tidak ada penjaga yang menahannya, dan pintu rumah itu juga terbuka lebar.


Edgar dan Joshua mendengar suara tembakan dari arah ujung rumah itu, mereka dengan cepat melangkahkan kaki ke sana. Terlihat tiga wanita sedang bercanda ria dengan memegang pistol masing-masing.


"Kak Jane, jangan gemetar seperti itu. Santai saja, rileks," kata Rossi menuntun Jane untuk menembak dengan benar.


"Ah aku tidak bisa, tangan ku selalu gemetar," ucap Jane ringan sambil meletakkan senjata itu. 


"Istirahat lah dulu Jane, kami tidak akan membebani mu, di sebelah sana bunganya bermekaran. Akan sangat indah, kamu lihatlah dulu. Aku akan Rossi akan menyusul," ucap Sarah padanya. 


"Hmmm.. baiklah, aku akan menunggu," balas Jane sambil berjalan menjauh dari mereka. Dia pergi ke taman bunga yang berada bersebelahan dengan lapangan tembak itu.


"Ayo Rossi, beberapa tembakan lagi," ajak Rossi pada Sarah.

__ADS_1


"Hayuk," ucap Rossi setuju.


Tak jauh dari mereka, Edgar dan Joshua berjalan mendekat. Edgar langsung mengejutkan Rossi dengan memeluknya dari belakang, sedangkan Joshua malahan berlalu pergi menyusul Jane yang sudah hilang dari pandangan mereka.


"Hah Edgar, apa yang kamu lakukan disini. Jika ayah melihatmu lagi disini, dia pasti akan marah," kata Rossi melepaskan diri dari pelukan Edgar. 


"Tak apa, dia tidak akan marah lagi," ucap Edgar memeluk Rossi lagi.


Angin berhembus menghampiri tubuh Sarah, satu daun mendarat di atas kepalanya. Dia mematung dengan begitu estetik. 


"Kenapa kalian selalu pamer kemesraan di depanku, sangat tidak sopan seperti itu di depan seorang jomblo tau!" ketus Sarah kesal.


Belum sempat Rossi menjawab, Edgar sudah membungkam mulutnya. Dengan lembut, dia mencium Rossi tepat di depan Sarah.


"Ah sudahlah. Kalian menjengkelkan, lebih baik aku menyusul Jane saja." 


Sarah berlalu pergi meninggalkan mereka, melangkah ke taman bunga mawar tempat Jane berada. Tepat di balik pohon yang daun lebatnya sudah digunting berbentuk kotak, Sarah memundurkan langkahnya kembali dan bersembunyi di baliknya. Dia melihat Joshua menggenggam tangan Jane.


"Wah. Seperti nya ada pertunjukan seru, aku menonton dari sini saja," ucap nya dengan sorotan mata yang tak sabar menanti.


Tak jauh dari dua ayunan yang berdiri kokoh disana, Joshua menahan satu tangan Jane untuk menghentikan langkah wanita itu. 


"Joshua? Kenapa kamu ada disini? Dan--," Jane melirik ke arah tangannya yang di genggam oleh Joshua.


"Aku-- aku kesini menemani Edgar, dan tak sengaja melihatmu, jadi aku menyusulmu," jawab Joshua sedikit linglung.


"Hmmm.." 


Jane menguatkan hatinya, dia menjauh dari Joshua dan duduk di ayunan. Tak memulai pembicaraan. Cukup lama hening. Hingga Joshua lah yang duluan berbicara. 


"Lebih baik batalkan pernikahanmu dengannya," ucap Joshua mendekat.


"Memangnya kenapa? Lagi pula, menikah atau tidak nya aku dengannya tidak ada hubungannya dengan mu."


"Jane, aku hanya tidak ingin kamu terluka. Awalnya aku mengira kamu akan bahagia, tapi dia memang tidak baik untukmu. Tidak akan membuatmu bahagia."


"Kamu peduli denganku?"


Pertanyaan itu membuat Joshua tidak berkata lagi. Dia hanya terdiam menatap Jane. Sementara itu Sarah dengan serunya menguping di balik pohon kecil berdaun lebat itu.


Di waktu yang sama, Zeck tiba di lapangan tembak dan menyapa Rossi dan Edgar yang sedang mesranya bercanda ria sambil menembak. Edgar menunjukkan kemampuan menembaknya, dia sangat cepat dan lihai.


Dia berlari dan mulai menembak, semuanya tepat sasaran yang membuat Rossi terkagum melihatnya. Namun Zeck hanya tertawa kecil melihatnya. 

__ADS_1


"Permisi, maaf mengganggu kalian tuan dan nyonya Edgar. Apa kalian melihat wanitaku? Dia setinggi nyonya ini, cantik dan manis. Terakhir kali aku meninggalkannya disini," kata Zeck.


"Bodoh, aku bahkan tidak tahu wanita mana yang kau maksud," ucap Edgar tertawa kecil melihat sikap Zeck.


"Ah membosankan, tidak asik bermain denganmu. Rossi dimana Jane? Kenapa kamu tidak bersama dengannya?" 


"Oh kak Jane, dia pergi ke taman bunga. Itu di sebelah, bersama Sarah." Rossi menjelaskan.


"Oke, kalian lanjutkan saja." 


Zeck melangkah pergi menuju taman bunga, dia mengernyitkan keningnya saat melihat Sarah yang seperti penguntit.


"Kenapa mereka diam saja? Apa mereka berbisik-bisik?" Tanya Sarah pada angin lalu.


"Siapa yang berbisik-bisik?" Ucap Zeck di telinga Sarah, yang membuat wanita itu terkejut.


"Astaga, apa kamu hantu? Tiba-tiba ada di belakangku," kata Sarah sambil mengusap dadanya.


Zeck tidak membalas ucapan Sarah, tapi matanya tertuju pada Jane dan Joshua. Zeck menyeringai melihatnya.


"Apakah seru?" Tanya Zeck.


"Tidak, tidak. Belum ada yang seru, mereka hanya mengobrol dari tadi," jawab Sarah spontan.


'kenapa aku harus berbicara dengannya,' batin Sarah kesal dengan dirinya sendiri.


Zeck pergi menjauh dari pohon kotak tempat Sarah bersembunyi dan muncul di tengah-tengah Jane dan Joshua. 


"Sayang, ayo kita kembali. Aku yakin kamu masih lelah karena semalam," ucap Zeck percaya diri.


Jane mengernyitkan keningnya bingung, dia tidak mengerti apa yang Zeck bicarakan. Tak berselang beberapa detik, Zeck menarik tangan Jane sehingga membuatnya berdiri dari ayunan dan hendak membawanya pergi. Tapi Joshua menahan Jane. 


Angin bertiup cukup kencang membawa wangi bunga mawar yang mekar, cukup mengganggu hidung setiap makhluk yang berada disana. Zeck menyeringai. 


"Apa waktu yang aku berikan semalam tidak cukup untuk kalimat perpisahan kalian?" 


"Aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan pria seperti mu, kau tidak baik untuknya," balas Joshua.


"Oh ya? Aku tidak baik? Lalu siapa yang baik untuknya? Kau?!" Zeck menyunggingkan senyumnya.


Sarah masih berada di balik pohon berbentuk kotak, dia tak beranjak dari sana sedikitpun. Malah menjadi lebih antusias.


"Wah. Wah. Ini akan seru," ucap Sarah semangat.

__ADS_1


--***


__ADS_2