Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.54


__ADS_3

Ruangan yang begitu besar dan luas untuk perbincangan antara dua orang. Hanya ada Joshua dan Jane. Sebelum pergi, Zeck sudah menyuruh pelayan dan penjaganya untuk membiarkan mereka berdua. Lagi pula Zeck bisa melihat mereka melalui monitor cctv di lantai atas.


Joshua kembali duduk di tempatnya setelah selesai berbicara dengan Rossi di telepon, disusul oleh Jane yang duduk berseberangan dengannya.


"Joshua, apa kamu kesini untuk--"


"Aku tidak akan lama-lama dan mengganggu waktumu dengannya, aku hanya ingin menanyakan pertanyaan yang sama. Kejadian saat itu."


"Tapi Jo, aku sudah mengatakannya padamu. Dan sekarang kamu kesini hanya untuk itu?"


"Ya, aku tahu kamu berbohong saat itu. Jadi sekarang jujurlah padaku dan aku tidak akan mengganggumu lagi," lanjut Joshua.


Perkataan itu membuat hati Jane sedikit sakit, walaupun dia sudah merasakan sakit yang lebih dari itu. Dengan sekuat tenaga dia menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Baiklah. Aku akan jujur padamu, saat itu ada seseorang yang menghubungi ku dan mengatakan jika Olivia dalam bahaya, jadi aku pergi ke alamat yang dia kirim. Disana seseorang memberikan pistol padaku dan memprovokasi ku untuk menembak Olivia,"


"Apa? Jadi kamu yang menembaknya?"


"Tidak, bukan aku. Sungguh, aku tidak akan berani untuk menembaknya. Lagi pula dia sahabatku, ada seseorang yang berada di balik lorong tak jauh dari tempatku berada. Dia menembak saat itu, dan Olivia.. ya hanya itu yang aku lihat. Aku sudah mengatakan semuanya. Jadi apa kamu kesini--"


"Baiklah. Aku akan pergi," ucap Joshua bangkit dari sofa itu dan hendak melangkah pergi.


"Tunggu Jo," Jane dengan cepat menahan tangan Joshua.


Joshua berhenti sejenak, dia menarik nafas panjang tanpa menarik kembali tangannya dari genggaman Jane.


"Apa kamu akan menikah dengannya?" Tanya Joshua sebelum Jane mengatakan sesuatu.


"Aku--," Jane tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak tahu menjawab apa, jika dia menjawab 'iya' maka dia akan menikah dengan pria yang tidak dia kenal, dan jika jawabannya 'tidak', apa itu akan mengubah sikap Joshua padanya. Pasti tidak.


"Baguslah jika iya," lanjut Joshua.


Mendengar kalimat itu, Jane melemahkan genggaman tangannya dan perlahan terlepas dari tangan Joshua. Hati nya terasa sangat sakit.


'dia kesini memang hanya ingin tahu mengenai Olivia, bukan untukku. Seharusnya aku tidak berharap lebih,' batin Jane.


"Aku akan pergi. Semoga pernikahanmu bahagia," kata Joshua sambil berlalu pergi.


Tepat sesaat Joshua menghilang dari penglihatannya, pergi dari rumah itu tanpa dirinya. Jane tidak bisa lagi menahan air matanya, sangat sakit. Dadanya sangat sesak, hingga akhir pun Joshua memang tidak meliriknya.

__ADS_1


"Hiks. Hiks. Hiks..,bodoh. Kau bodoh Jane, apalagi yang kamu harapkan darinya, hiks. hiks. hiks..," Jane tak berhenti menangis.


Zeck yang berada di lantai atas, menarik nafas panjang dan melangkah menuruni tangga. Dia menghampiri Jane segera.


Dengan cepat Zeck merangkul tubuh Jane sehingga berada dalam dekapannya. Zeck memeluknya erat.


"Menangis lah, aku tidak akan menghentikannya," ucap Zeck lembut.


Selama ini Zeck tidak pernah selembut itu pada wanita, karena setiap wanita yang bersamanya tidak ada yang baik. Zeck hanya mengencani wanita malam.


Dia tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan yang serius, tapi Jane. Wanita yang hanya bertemu beberapa menit dengannya, dapat membuatnya berubah drastis seperti itu.


Pelukan itu sangat hangat, namun Jane malah terus menangis. Bahkan tangisnya semakin menjadi-jadi. Zeck mengelus kepala Jane lembut, berusaha untuk menenangkannya.


Di tempat lain, mobil Joshua berhenti di depan sebuah restoran. Walaupun restorannya indah dengan begitu banyak pernak-pernik yang menarik, tidak banyak orang disana. Tepat saat Joshua memasuki bangunan itu, seorang wanita melambaikan tangan padanya. Joshua menghampirinya. Itu Rossi.


"Maaf, membuatmu harus menunggu," kata Joshua saat duduk berhadapan dengan Rossi.


"Tidak, aku tidak menunggu lama. Lagipula aku juga tidak sendirian," balas Rossi sambil melirik pada pria yang berada di sampingnya, Edgar.


Edgar memasang wajah tak suka, sangat jelas jika dia tak ingin berada disana. Tapi apalah daya nya, begitu posesif. Dia tidak akan membiarkan wanitanya berdua dengan pria lain.


"Aku butuh bantuanmu dalam rencana besok malam," jawab Rossi.


"Baiklah, apa rencananya?"


Rossi dan Joshua mengobrol cukup lama, sedangkan Edgar tidak berkata sedikitpun. Dia hanya mendengarkan dan tak henti menatap ke arah Joshua. Pembicaraan mereka berhenti sejenak saat seorang pelayan mengantarkan makanan yang di pesan oleh Edgar. Tentu saja hanya untuk dua orang, dia tidak memesankan apapun untuk Joshua. Kekanak-kanakan.


"Oke, aku sudah mengerti. Tapi lain kali, jika ingin membicarakan sesuatu jangan mengajaknya," ucap Joshua berbalik menatap Edgar.


Rossi kembali melirik pada Edgar, dia tertawa kecil melihat bagaimana ekspresi pria itu saat menatap Joshua.


"Dia seakan sudah siap menerkam ku jika aku mendekat sedikit lagi padamu," ucap Joshua menyeringai kecil dan beranjak pergi dari sana, "aku pergi, nikmatilah makan malam kalian."


"Kamu sungguh kekanakan," ucap Rossi pada Edgar.


"Biarkan saja, membicarakan itu saja harus bertemu langsung. Mengganggu saja," balas Edgar kesal.


"Nih. Aaaaa makan," kata Rossi sambil menyodorkan sesendok makanan pada mulut Edgar. Seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya yang manja.

__ADS_1


Joshua kembali ke mobilnya dan pergi menuju kediaman Stevenson. Jaraknya tidak jauh dari restoran tersebut. Dia berniat untuk bermalam di sana.


Setibanya Joshua disana, kedatangannya disambut hangat oleh ibu Edgar. Artha Venatrio.


"Hai kak Jo," ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Ya," jawab Joshua singkat dan berjalan melewatinya. Itu Gaby, sepupunya dan Edgar. Putri dari adik Artha Venatrio yang bernama Agnes.


"Apa para pria yang bermarga Stevenson itu selalu arogan, mereka selalu saja seenaknya. Menyebalkan," ucap Gaby kesal.


"Sudahlah Gaby berhenti mengganggu nya dan jangan mengeluh terus. Sini bantu bibi menyiapkan makan malam," ajak Artha mencairkan suasana.


"Baiklah," Gaby berjalan mendekat ke arah meja makan.


"Oh iya, kenapa kamu tidak datang bersama ibumu. Kemana dia?" Tanya Artha.


"Hmmm.. Aku tidak tahu bi, katanya dia akan menginap di rumah kenalannya. Dia berpesan jika dia akan kemari besok," jawab Gaby.


"Oh begitu,.."


Makan malam sudah terhidang kan di meja makan, sedangkan Joshua masih sibuk dengan ponselnya di sofa tak jauh dari sana.


"Joshua. Kemari lah, berhenti sibuk dengan ponselmu. Kita makan malam bersama," ajak Artha.


"Ya, baiklah."


"Tapi dimana Edgar? Kenapa dia tidak pulang bersamamu?"


"Oh dia. Dia tidak akan pulang bibi."


"Ya benar, aku yakin dia sedang bersama kekasih barunya sekarang," kata Gaby melanjutkan perkataan Joshua.


"Kekasih baru? Kenapa aku tidak tahu, dia tidak mengatakan apapun padaku," ketus Artha kesal.


"Sudahlah sayang, dia akan segera mengenalkannya padamu," ucap Jerome yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.


Joshua terlihat tidak bersemangat, dia memikirkan Jane. Sesekali matanya melirik ke layar ponselnya, menunggu Jane menghubungi nya.


--***

__ADS_1


__ADS_2