
Di dalam dan luar villa la Lamia, terjadi banyak tembakan. Edgar dan Rossi selalu berjalan beriringan. Mereka tak berpisah atau pun berpencar selama proses eksekusi berlangsung. Banyak anak buah dari Demian yang tewas, karena itulah tujuan penyerangan itu.
"Rossi, tetaplah berada di dekat ku," kata Edgar sambil meluncurkan satu tembakan. Setiap tembakannya tidak ada melesat satu pun. Semuanya tepat sasaran, banyak musuh sudah tumbang.
"Oke."
Mereka berdua berpapasan dengan Joshua dan Damian. Edgar mengacungkan pistolnya, tepat ke arah Joshua.
"Apa yang kau lakukan Jo? Aku tidak menyangka kau bisa berpaling secepat ini," ucap Edgar kesal.
"Bukan urusanmu, menyingkirlah dari jalanku," balas Joshua dengan mengacungkan juga senjatanya pada Edgar.
Tak lama kemudian, muncul sekelompok orang mengepung Edgar dan Rossi. Mereka adalah anak buah Damian.
"Biar anak buahku yang mengurusnya, kelihatannya kita memang tidak bisa menang. Mereka akan mengulur waktu, ayo kita pergi." Damian dan Joshua lekas pergi dari sana, mereka melangkah dengan begitu terburu-buru. Langkah yang lebar.
Edgar dan Rossi.
Mereka harus menghadapi sepuluh orang bersenjata yang berdiri membentuk formasi lingkaran, dengan Edgar dan Rossi sebagai pusatnya.
"Jangan menembak, jika kita tidak menembak mereka juga tidak. Turunkan," ucap Edgar serius. Rossi mengangguk paham.
Edgar dan Rossi berjongkok dan meletakkan senjata mereka di lantai, dengan sekejap mengangkat tangannya ke atas. Mereka kembali berdiri dengan punggung yang menempel. Lingkaran itu mengecil.
"Dalam hitungan ketiga mulai menyerang. Satu, dua,.. tiga!"
Dengan cepat Edgar mengangkat tubuh Rossi dan memutarkan tubuh wanita itu. Tepat kaki nya yang panjang, membuat semua senjata yang ditujukan pada mereka jatuh ke lantai.
"Sekarang!"
Rossi dan Edgar kembali mengambil senjata mereka. Menembak semua orang yang mengepung, langsung tewas di tempat. Membunuh dengan membabi buta dengan kerjasama yang baik.
Mereka berdua pergi dari sana, dan berlari sekencang mungkin untuk mengejar Joshua. Tepat di depan villa, Joshua dan Demian sudah berada di samping mobil.
'Maaf Jo,' batin Edgar.
Dor.
Sebuah tembakan. Edgar menembak. Dengan akurat melukai lengan Joshua.
__ADS_1
"Ahh." Joshua meringkuh kesakitan. Dia tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Dengan lengan yang mengeluarkan banyak darah seperti itu, mustahil jika dia yang mengemudi.
"Ganti posisi, biar aku yang mengemudi." Damian berbicara tegas dengan Joshua. Dan kepercayaannya mulai terbentuk. Joshua berada di pihaknya. Posisinya berganti, Damian yang berada di kursi kemudi. Joshua berusaha menahan darah itu dengan tangannya. Walaupun tidak akan menghentikan pendarahan tersebut.
Mobil itu melesat dengan cepat keluar dari pekarangan villa itu. Setiap tembakan yang diluncurkan pada mereka, selalu terpantul kembali. Mobil Anti peluru.
Di depan villa, Rossi terkejut saat Edgar menembak Joshua. Itu tidak ada dalam rencana.
"Edgar, apa yang kau lakukan? Kau menembaknya," ucap Rossi cemas.
"Tenanglah, tembakan itu tidak akan membunuhnya. Hanya lecet sedikit, dia akan baik-baik saja."
"Benarkah? Bagaimana jika sasaran mu salah?"
"Tidak mungkin, tembakanku tidak pernah meleset. Tunggu, kau berani mencemaskan pria lain?"
"Tidak. Aku--"
Edgar langsung membungkam Rossi dengan mulutnya. Bibir yang sedari awal sudah memanggilnya. Rossi langsung tersadar, tidak mungkin mereka akan seperti itu di sana.
Dengan kuat, Rossi mendorong tubuh Edgar menjauh darinya.
Edgar tertawa kecil mendengarnya.
"Baiklah, jika begitu. Kita cari tempat yang cocok," goda Edgar padanya.
Edgar menundukkan kepalanya, dan berada di leher jenjang Rossi. Dia menggigit kecil kulit nya, membuat wanitanya sedikit mengerang.
"Hei, apa kalian masih punya waktu untuk memadu kasih disini?"
Tiba-tiba seorang pria muncul dengan banyak percikan darah di bajunya dan beberapa orang mengikuti langkahnya dari belakang. Entah apa yang sudah dia lakukan, bahkan Rossi dan Edgar tidak tersentuh oleh darah seperti itu. Sedikit, hanya beberapa titik darah.
Rossi langsung menarik dirinya menjauh dari Edgar.
"Apa yang sudah kau lakukan? Menyembelih seseorang?" Tanya Edgar heran melihat darah itu.
"Hanya bermain," jawabnya santai. Itu Zeck, pria kejam tanpa ampun jika berurusan dengan musuhnya yang tak beda jauh dengan Edgar, "Cruel Lion" itu adalah julukannya di geng lion sejak usia nya masih remaja. Sedangkan Edgar dijuluki "Fierce Eagle" sejak kecil.
"Apa dia bisa di percaya?" Tanya Zeck yang menatap lurus kedepan, tempat terakhir mobil Joshua sebelum menghilang.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sangat mengenalnya," jawab Edgar dengan penuh keyakinan.
Rencana pertama berhasil, Joshua sudah berada di pihak Damian. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk melancarkan rencana selanjutnya.
Semua anggota geng lion dan geng eagle pergi meninggalkan villa itu tanpa membersihkan sisa pertempuran mereka. Lagipula itu villa Damian, biar dia saja yang mengurusnya.
Edgar kembali bersama dengan Rossi, tidak pulang ke rumah besar. Edgar membawa Rossi ke mansion nya. Dan Zeck juga kembali ke mansionnya.
Drrt. Drrt.
Ponsel Zeck bergetar di laci mobilnya. Sebuah panggilan masuk. Tanpa menghentikan mobilnya, dia menjawab panggilan itu dengan menggunakan alat kecil di telinganya dan kembali fokus mengemudi.
"Ya?" Zeck menjawab panggilan itu.
"Tuan, saya tidak tahu harus bagaimana. Nona Jane mengunci diri di kamar, dia tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk. Dan juga, nona Jane belum makan apapun sejak dia kembali. Saya takut jika nona Jane akan melakukan hal yang membahayakan," kata seorang wanita di seberang panggilan.
Dia menjelaskan situasi tempat dia berada. Mendengar hal tersebut, Zeck mengakhiri panggilan itu segera. Kecepatan mobilnya berubah drastis. Mobil Zeck melaju begitu cepat. Sangat cepat di jalanan malam yang sepi.
Di tempat lain, Damian memarkirkan mobil Joshua di depan sebuah bangunan yang cukup besar. Sebuah mansion. Banyak penjaga disana, itu pasti kediaman Damian selama ini.
Setibanya disana, Joshua langsung diobati. Dan dia istirahat di kamar yang sudah disiapkan untuknya. Tak berselang beberapa menit setelah dokter dan satu perawat pergi dari kamar itu, seorang wanita masuk dengan membawakan makanan dan minuman. Joshua mengenalnya.
"Bibi Agnes? Kenapa anda berada disini?" Tanya Joshua heran. Wanita itu adalah ibunya Gaby, adik dari Artha Venatrio.
"Tidak usah menanyakannya. Makan dan minumlah lalu istirahat," ucap wanita itu setelah menaruh makanan Joshua di atas meja.
Damian masuk dan merangkul Agnes di depan Joshua, dia mencium wanita itu.
'apa ini?' batin Joshua kesal.
"Biarkan saja dia istirahat sayang," kata Damian penuh kasih padanya.
"Ayah, apa maksudnya ini. Kenapa bibi agnes ada disini bersamamu? Kamu memanggilnya dengan sebutan sayang." Joshua bertanya.
"Ah anakku, kamu tidak mengerti perasaan orang tua. Sudahlah, kamu tidur saja dan istirahat. Kami tidak akan mengganggumu," jawab Damian berlalu pergi dari sana bersama Agnes.
Joshua berniat untuk menghubungi Edgar mengenai hal tersebut, tapi bagaimana mungkin. Bisa saja ruangan itu sudah dipasang beberapa penyadap. Lagi pula Edgar pasti sibuk, memadu kasih dengan Rossi.
--***
__ADS_1