Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.8


__ADS_3

Di gudang belakang villa.


Edgar duduk di atas kursi kayu bercat kuning pudar. Ia memakai kemeja hitam polos yang sedikit basah terkena air hujan saat pergi dari villa menuju gudang. Itu adalah gudang kecil yang berisi banyak perkakas didalamnya. Sementara itu jarinya tak henti memainkan pisau yang dia ambil dari laci meja di sudut gudang.


Gudang itu terlihat menyeramkan tanpa pencahayaan yang bisa menerangi seluruh ruangan. Hanya ada satu lampu pijar kuning yang bersinar diatas dua orang pria yang di ikat di satu tiang. Cahaya lampu menampakkan tubuh mereka yang sudah berlumuran darah dan babak belur.


Edgar bangkit dari kursinya kayu sehingga menimbulkan bunyi berderit. Ia berjalan mendekati mereka. Dengan angkuh dan menatap tajam. Edgar memulai permainannya.


"Dari gang mana?" Tanya Edgar dengan tatapan mengintimidasi.


Namun mereka hanya diam, tak ada yang menjawab pertanyaan pria itu.


"Bagus sekali. ternyata kalian ingin bermain bersamaku."


Edgar menyeringai seram.


Perlahan dia mendekatkan ujung pisau runcing yang mengkilap itu di leher salah satu dari mereka. Mengajukan pertanyaan yang sama padanya. Tapi pria dengan luka tembak di lengannya itu tetap tak ingin menjawab. Edgar memulai permainannya.


Dia menyayat tipis kulit leher pria itu. Mengalirkan darah segar dua sayatan yang dibuat Edgar di lehernya. Dia mulai merasa perih dan ngilu.


"Bunuh saja aku," ujar pria itu dengan berani menatap mata Edgar.


"Hahaha. Tidak semudah itu berurusan denganku," jawab Edgar dengan wajah tak puas.


Edgar kembali memainkan pisaunya di leher pria itu, perlahan turun bermain di dadanya. Sudah banyak sayatan yang terdapat di tubuh pria itu. Tapi dia masih tidak ingin menjawab pertanyaan sederhana dari Edgar. Dan malah memilih untuk mati.


"Baiklah. Kau, bawa dia keluar," ucap Edgar yang jarinya sudah berhenti bermain.


Muncul seorang pria dari balik kegelapan. Menyeret pria yang sudah tak berdaya itu keluar. sementara Edgar kembali ke kursi kayunya.


"Kotor."


Edgar melempar pisaunya. Berjalan ke sudut gudang dan membuka laci meja disana. Ia mendapati banyak pisau dengan berbagai ukuran. Edgar malah kecewa melihatnya. Ia menutup kembali laci itu. Melihat tang kecil di atas meja. Dia tersenyum dan mengambil tang itu. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan di luar. Hanya satu tembakan.


Di bawah cahaya lampu, terlihat jelas seseorang yang gemetar ketakutan. Edgar berjalan mendekatinya.


"Apa kau juga ingin bermain denganku?" Tanya Edgar dengan senyum manis di wajahnya.


"T-tidak. T-tol-long-- bunuh saja aku," jawab nya sambil menggeleng tak karuan melihat tang kecil yang dipegang oleh Edgar.


"Ahh. Aku lelah. Gery bermain lah dengannya dan jangan sisakan satu kuku pun sampai dia bicara," suruh Edgar sambil melempar tang kecil pada seorang pria berbadan tegap yang berdiri di kegelapan.

__ADS_1


Edgar keluar dari gudang itu. Beberapa langkah menjauh dari sana. Dia mendengar suara teriakan yang begitu mengesankan telinganya. Dia kembali ke villa, berjalan dengan langkah lebar di bawah gerimis hujan.


Sudah tengah malam dan dia sampai di villa dengan kemeja nya yang berlumuran darah. Percikan kecil darah itu menyebar karena terkena air hujan. Ia langsung masuk ke kamarnya, melewati kamar Rossi yang berada di sebelahnya.


Di ruangan gelap yang hanya disinari rembulan redup dari luar jendela, tanpa cahaya lampu. Edgar membuka perban yang menutup luka di punggungnya. Berdiri menghadap cermin dan menggantinya. Lilitan itu terlihat berantakan.


Ting.


Sebuah pesan masuk di telepon Edgar yang berada di atas meja samping tempat tidur. Tertera di sana pesan itu dari Jecky, sahabatnya. Dia memberikan informasi bahwa yang berniat menembak Rossi adalah orang suruhan Mike.


Edgar mengumpat kesal. Dia harus menjalankan rencananya segera. Ia mulai menekan tombol dan berbunyi nada sambung.


"Umumkan pertunangan ku dengan Rossi pada publik besok pagi," perintah Edgar.


"Baik tuan," jawab wanita di seberang telepon.


Edgar mematikan panggilan itu.


'Olivia. Di manapun kamu berada, ku harap kamu mengerti maksudku mengumumkan ini," batin edgar


Jika pamannya sampai di kota S lebih awal. Itu berarti dia sudah mempunyai rencana licik untuk menjatuhkan kepemimpinan Edgar di Eagle. Berdasarkan ketentuan yang berlaku di Eagle, ketuanya harus memiliki istri sesudah 3 tahun pengangkatannya. Sedangkan Edgar masih belum menemukan kekasihnya dan tak ingin menjalin hubungan dengan wanita lain. Mike memanfaatkan kondisi itu untuk melengserkan Edgar dan mengajukan anak nya, Fares untuk menggantikan.


Di atas tempat tidur berwarna biru gelap, seorang pria terbaring gelisah dengan mata yang masih terbuka menatap langit-langit. Dia tidak bisa tidur, setiap menutup matanya muncul bayangan wanita nya tengah tersenyum bahagia berada di dekatnya.


Edgar menghampiri Rossi.


"Cepatlah bangun," kata Edgar berbisik sambil membelai rambut wanita itu.


'Andai saat itu, aku bisa melihat Olivia. Meskipun dia terbaring seperti ini' pikirnya.


"Selamat malam."


Edgar mencium lembut kening Rossi. Ia keluar dari kamar itu dengan perasaan kecewa dan sedih mengingat kekasihnya.


Edgar duduk di sofa coklat di kamarnya, menikmati secangkir kopi yang dibuatnya sendiri. Di bawah cahaya malam menerangi tubuh pria itu. Dia menghidupkan komputernya dan mulai sibuk dengan tabel tabel yang tertera di layar monitor. Tepat jam dinding menunjukkan pukul 4 dini hari. Edgar tertidur dengan layar komputer yang masih menyala.


Pagi hari sekitar pukul tujuh. Rossi terbangun. Ia mengigau memanggil nama "Julian" beberapa kali. Sehingga membangunkan Sarah yang tertidur di sampingnya. Melihat Rossi yang sudah sadar. Sarah bergegas mencari vegan untuk memeriksa Rossi kembali.


Vegan memeriksa Rossi dengan begitu tenang.


"Dia sudah baik-baik saja," ucapnya.

__ADS_1


Sarah mengangguk paham. Sarah merasa lega jika Rossi baik baik saja, jika tidak dia tidak akan sanggup melaporkannya pada ayah Rossi.


Di ruangan sebelah.


Seorang pelayan mengetuk pintunya dan mengatakan bahwa Rossi telah bangun. Edgar yang habis mandi langsung bergegas keluar dan menghampiri kamar sebelah.


Dia langsung memeluk Rossi yang duduk lemah diatas tempat tidur. Semua orang yang berada di sana terkejut melihat Edgar yang hanya memakai handuk itu. Vegan menahan tawanya. Lalu ia mengajak Sarah dan semua orang yang berada disana untuk keluar terlebih dahulu.


"Bisakah kamu melepaskan ku," pinta Rossi.


"Lemah. Itu saja kamu pingsan satu malam," ketus Edgar dan melepas pelukannya.


Tak lama kemudian. Sudah lama mereka bersama. Tiba tiba Sarah masuk dan memegang ponsel di tangannya.


"Rossi. Apa kamu akan menikah? Kenapa tidak memberitahukannya padaku?" Tanya Sarah tergesa-gesa.


Rossi menyerngit heran, dan menjangkau ponsel Rossi. Ia langsung menatap Edgar.


"Apa ini?" Tanya Rossi bingung.


"Ya begitu. Kamu adalah wanitaku mulai sekarang," jawab Edgar.


"Apa?" Rossi dan Sarah menyahut bersamaan.


Edgar mengecup kening Rossi tanpa berkata apapun. ia berjalan keluar dari kamar itu.


Vegan yang sedari tadi berdiri di luar. Mendorong Edgar duduk di kursi yang berada di dekat kamar itu, membuka perban yang terlilit berantakan di tubuh Edgar.


"Membalut ini saja tidak beres. Berantakan seperti biasa," ejek vegan padanya.


Edgar tak menjawab. Edgar sering terluka dan mengganti perbannya sendiri.


"Apa berita itu benar?" Lanjut vegan.


"Tentu saja," jawab Edgar secepat mungkin.


"Apa kamu menyerah?"


"Tidak, ini hanya sampai aku menemukannya," lanjut Edgar serius.


"Benarkah? Aku tidak yakin. Kita lihat saja nanti." Vegan selesai dengan perban itu.

__ADS_1


Siangnya, Rossi dan Sarah berkemas untuk pergi. Sedangkan Edgar sudah pergi sejak pagi. Mereka tidak bertemu. Edgar juga tidak berpamitan pada Rossi.


--***


__ADS_2