
Di sebuah gedung apartemen di kota S.
Di atas tempat tidur mewah yang dihiasi bunga mawar di atasnya. Seorang pria yang berbadan telanjang sedang menikmati setiap sentuhan lembut yang menjalari tubuhnya. Dua wanita berada di samping kanan dan kirinya. Memanjakan pria itu dengan jari lentik mereka. Mike.
Tok. tok. tok.
Seorang pria memasuki ruangan itu diikuti oleh seorang wanita di belakangnya. Dia hanya terbalut pakaian transparan yang memperlihatkan bra dan ****** ***** yang dia kenakan, menampakkan badannya yang montok. Pria yang berada di atas tempat tidur tak henti menatapnya dengan penuh *****. Tapi dia hanya memanggil dua wanita.
"Siapa wanita cantik ini?" Mike bertanya pada bawahannya tanpa menatap nya. Tatapannya hanya tertuju pada tubuh wanita yang berdiri itu, sangat tidak sabar untuk mencicipinya.
"Tuan. Ini adalah Vera, saya melihat nya berdebat dengan nona Rossi hari itu saat di bar. Bahkan mereka terlihat tidak baik," jelas seorang pria padanya, "Mungkin dia berguna dalam rencana kita."
Mike bangkit dari tempat tidurnya, berjalan mendekat ke wanita itu.
"Sayang. Apa kamu ingin bermain dalam permainanku?" Mike membelai wajah Vera dengan lembut dan jarinya berakhir di ujung rambut pirang wanita itu.
"Ya. Selama aku bisa membalasnya," ujar Vera.
"Manis sekali. Sepertinya kamu punya dendam yang dalam padanya," Mike menatap Vera dengan penuh kegilaan, "Jadi maukah kamu menemani ku malam ini?"
Vera membalasnya dengan senyum nakal di bibirnya. Dengan agresif Mike mencium Vera dan perlahan membuka kain penghalang transparan yang mengganggu penglihatannya.
"Bawalah mereka keluar. Aku ingin bersama dengannya malam ini," perintah Mike pada bawahannya.
Pria berjas hitam itu keluar bersama dua wanita yang sudah tidak berbusana. Kedua nya menatap tajam pada Vera, dan berjalan dengan kesal keluar dari ruangan itu.
Mike menghabiskan malamnya bersama Vera.
Matahari sudah tenggelam di ujung pantai, hanya menyisakan bayangan merah ke jingga an di langit. Berbalut awan yang mulai mengikuti warnanya. Rossi menatap pemandangan tepi pantai dengan begitu bahagia.
Mobil putih mengkilap terparkir di depan gerbang kediaman Edgar. Gerbang itu terbuka dengan lebarnya, seakan tahu akan kedatangan tamu.
Sarah melajukan mobilnya masuk dan berhenti di dekat air mancur yang hanya tersisa bongkahan beton yang warnanya sudah menghitam, seperti habis dibakar.
"Terimakasih Sarah," Rossi memeluk Sarah dari balik bangku depan mobil itu.
__ADS_1
"Ah. Sudah lama sekali kamu tidak memelukku."
"Apa sih, setahu ku aku selalu melekat padamu setiap hari," Rossi memutarkan bola matanya ke atas, "Eh tunggu dulu. Dari mana kamu tahu tempat ini Sarah, aku bahkan belum pernah pergi dengan mu kesini sebelumnya."
"Hah? Itu aku.. Aku mengikutimu malam itu saat dua pria menjemputmu, khawatir denganmu jadi aku mengikutimu dari belakang," Sarah menjawab bohong.
"Benarkah?" Rossi merasa heran, karena saat itu motor yang dinaikinya berboncengan dengan Willy melaju sangat cepat.
"Ya. Bukankah ada seorang pria lagi, jadi aku bersama dengannya ke sini," padahal malam itu Sarah dan Jeck berada di rumah, mereka duduk di sofa tanpa berbicara satu kata pun. Jeck hanya duduk sambil memejamkan matanya menunggu seseorang menjemputnya sedangkan Sarah sibuk dengan ponselnya. Bermain game.
"Oh gitu. Okelah," Rossi pun keluar dari mobil. Dan berjalan menjauh dari Sarah.
"Huh!" Sarah menghembuskan nafas lega. Kebohongannya tidak terbongkar.
Selama Rossi berada di kediaman Edgar. Sarah selalu mengawasi nya dari jauh dan terus berada di sekitar mansion itu. Sampai saat di bar pun, Sarah hampir saja menampakkan dirinya untuk melindungi Rossi. Untung saja langkahnya ditahan oleh Vito, rekan nya yang selama ini berada tidak jauh dari Rossi dan Sarah.
Pintunya terbuka.
"Nona Rossi," Bi Yona terkejut melihat kedatangan Rossi, "Silahkan nona."
"Bibi. Apa Edgar ada di sini?" Rossi memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan muda tidak ada disini nona. Sudah hampir 3 hari dia tidak pulang kesini, saya pikir tuan muda bersama nona," jawab bi Yona.
"Hmm tidak. Dia tidak bersamaku."
Tiba tiba seorang pria muncul entah dari mana. Ia berdiri tegak di hadapan para wanita yang sedang mengobrol itu.
"Maaf nona. Saya terlambat memberitahu. Tuan Edgar sedang tidak berada di tempat saat ini, dia berpesan kepada nona agar menunggu nya," Willy menunduk hormat.
"Hmm begitu. Baiklah jika dia tidak disini, aku pamit pergi," Rossi berpamitan dan menarik tangan Sarah keluar.
"Kenapa kita tidak memberitahukan saja jika tuan muda mengurus bisnisnya? Nona Rossi pasti merindukannya," ujar bi Yona pada Willy, "Tuan muda memang selalu seenaknya."
"Ya, mungkin dia tidak hanya mengurus bisnis," Willy menjawab singkat.
__ADS_1
Sarah melajukan mobilnya di jalanan malam, tidak banyak kendaraan yang melintas. Hanya tersisa beberapa saja. Rossi terlihat murung.
"Mau bersenang senang dengan ku?" Ajak Sarah.
"Kemana?" Rossi menjawab lemas.
"Ikut saja."
Sarah mempercepat laju mobilnya.
Di depan bangunan terpasang papan bercahaya yang bertuliskan "Adrelyn". Sarah memarkirkan mobilnya. Dengan tidak sabaran dia menarik Rossi untuk segera memasukinya. Rossi melangkah dengan penuh keraguan. Mereka melewati seorang wanita yang duduk dari balik pembatas kaca. Memasuki sebuah ruangan.
Komputer yang monitornya menyala berjajar dengan rapi memenuhi ruangan itu. Para penggunanya menatap layar itu dengan penuh keyakinan, keyakinan untuk bisa memenangkan persaingan yang semakin lama semakin menegangkan.
"Game? Sarah kamu ingin aku bersenang senang dengan bermain game?" Rossi menaikkan alisnya, "Sarah. Kita bukan anak kecil lagi, berhentilah bermain game."
"Rossi. Ini bukan game biasa, kau tahu. Pasti menyenangkan setelah memainkannya," Sarah menarik Rossi terduduk di depan monitor, "Jika kau bisa mengalahkan ku kali ini, aku akan memenuhi semua permintaanmu."
"Benarkah? Termasuk bertemu dengan orang tua ku?" Rossi menanyakan hal yang tidak mungkin dikabulkan oleh Sarah.
Tanpa terduga, Sarah mengiyakan keinginan Rossi dengan penuh keyakinan. Ia langsung memulai permainannya. Tapi Rossi masih ragu dengan jawaban Sarah padanya.
"Apa kau ingin membodohi ku lagi Sarah!?"
"Rossi fokuslah pada musuh mu itu, aku berjanji. Jika aku tidak mengabulkannya kamu boleh membenciku selamanya. Oke?" Sarah meyakinkan.
Rossi menjadi berambisi untuk mengalahkan Sarah, ia sangat yakin jika Sarah berani berkata seperti itu. Melupakan kesedihannya akan Edgar.
Lama waktu berlalu, akhirnya Rossi berhasil mengalahkan Sarah. Walaupun sebenarnya Sarah hanya mengalah. Keinginan Rossi akan tetap terwujud meskipun dia menang atau kalah.
"Ah. Aku menang. Kamu harus menepati janjimu," kata Rossi tegas, "Aku ingin ke toilet."
"Ya. Ya pergilah. Ada di pojok ruangan ini." Sarah kembali memulai permainannya. Rossi sudah berjalan menjauh darinya.
Tepat saat Rossi masuk ke toilet, ada yang memukulnya dari belakang. Pukulan itu membuatnya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
--***