
Kerlap kerlip bintang di langit mencairkan suasana. Rossi menarik nafas panjang, meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Dia melirik ke arah pria yang berada di sampingnya, cukup lama.
"Aku tau, aku tampan. Tapi tatapanmu bisa melubangi wajahku." Edgar tersenyum puas. Dia menyadari jika Rossi tak henti menatapnya.
"Tidak. Siapa yang menatap mu, aku hanya berpikir," ucap Rossi sambil mengalihkan pandangannya kembali ke pemandangan kota malam.
"Berpikir? Apa kamu memikirkan pria lain?" Ujar Edgar langsung menarik Rossi berhadapan dengannya.
"Mana mungkin aku sempat memikirkan pria lain, bukankah pria yang berdiri di depanku ini sudah cukup memenuhi semua pikiranku?" Kata Rossi diiringi dengan tawa kecil.
"Wah. Ternyata wanitaku bisa merayu. Kamu tau, rayuanmu itu tidak mempan padaku." Edgar merangkul pinggang Rossi dan mendorongnya menempel ke tubuhnya.
"Tapi jika dengan tubuhmu, aku bisa mempertimbangkannya." Edgar tersenyum nakal.
"Mesum. Disini banyak orang," Rossi melepaskan dirinya dari dekapan Edgar. Beranjak ingin pergi, "Aku akan kembali."
"Kemana?"
"Toilet."
"Tunggu," Edgar mencium Rossi lama berniat untuk menggoda wanitanya. Tapi Rossi berusaha untuk mendorong tubuh Edgar menjauh darinya. Tentu saja berhasil. Pria itu juga ingin melakukan sesuatu.
"Cepatlah kembali." Edgar menyelipkan sesuatu ke dalam tas mungil Rossi. Sebuah lipstik.
"Apa ini?" Tanya Rossi heran.
"Hadiah kecil. Kamu bisa memakainya disaat mendesak. Dan jika terjadi sesuatu, ada tombol disana. Jika kamu menekan nya, itu akan langsung terhubung dengan ku," jelas Edgar.
"Hmmmm.. baiklah, terimakasih." Rossi tersenyum senang menerimanya, 'dia sangat peduli denganku,' batin Rossi.
Rossi pun pergi meninggalkan Edgar sendirian di balkon. Tak berselang beberapa menit, Edgar mengambil ponselnya berniat untuk menelpon seseorang.
Panggilan terhubung.
"Clara Adeliano, selidiki apa yang dia lakukan disini. Suruh beberapa orang untuk mengawasinya. Jangan terlewatkan satu pun." Edgar langsung mengakhiri panggilannya.
Di sudut lain di bangunan mewah itu, ada dua orang di balkon. Mereka seperti sedang bertengkar, suara seorang wanita menghentikan langkah Rossi yang baru saja kembali dari toilet. Rossi mengenal suara itu.
"Kak Jane dan Joshua?" Rossi bersembunyi dari balik dinding tidak jauh dari sana. Berniat untuk menguping pembicaraan mereka.
"Ada apa denganmu Jo, aku tidak menyangka jika tunanganmu adalah adik Olivia. Kenapa? Apa karena dia mengingatkan mu pada nya? Jadi kamu memutuskan untuk bertunangan. Apalagi yang harus kulakukan agar kamu bisa menganggapku sekali saja." Jane menangis.
Mendengarnya Rossi seakan ingin kesana untuk menenangkan Jane. Tapi langkahnya langsung terhenti saat Joshua mengeluarkan suaranya.
"Aku tidak menyukainya. Aku sudah mengatakannya padamu jika aku bertunangan dengan nya karena aku membutuhkannya dalam rencana ku. Berhentilah membahasnya Jane, dan buanglah perasaan mu itu. Sangat mengganggu."
"Kau berbohong. Kamu menatapnya lama saat Edgar membawanya ke mobil. Tatapan itu sama dengan bagaimana kamu menatap Olivia. Apa aku salah?" Jane sedikit menaikkan volume bicaranya.
"Konyol. Berhentilah bicara omong kosong, dan menjadi sok tau apapun yang aku lakukan. Kau bahkan tidak tahu apa-apa," kata Joshua setelah meneguk habis segelas bir di tangannya.
__ADS_1
"Tidak tahu apa-apa? Hmmmm.. Apa tidak ada yang bisa ku lakukan untuk membuatmu menatapku?"
"Ada. Apa kamu bisa membunuh seseorang?" Kata Joshua dengan seringai di wajahnya.
"Apa?"
"Ya. Membunuh seseorang, mungkin bermain dengan pistol. Bisa?" Joshua akhirnya menatap ke arah Jane. Berjalan mendekat padanya. Menatap mata Jane yang memerah karena menangis.
Jane terdiam. Dia tidak mengerti maksud Joshua padanya. 'Ada apa dengan Joshua hari ini,' batin Jane.
"Pikirkanlah. Jika kamu bisa melakukannya, aku akan mempertimbangkanmu," ujar Joshua sambil melangkah pergi melewati Jane.
Rossi menjadi deg-degan, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
'Joshua punya rencana? Berhubungan denganku? Apa mungkin ini mengenai geng lion. Aku harus mengatakannya pada Ayah,' pikir Rossi.
Dengan cepat Rossi pun juga pergi dari sana, kembali kepada lelakinya yang berada di balkon lain. Namun langkahnya tiba tiba terhenti saat seseorang memegang tangannya. Rossi tidak ingin langsung meliriknya, dia mengambil lipstik yang diberikan Edgar padanya dari dalam tas.
"Simpan saja. Aku tidak akan menyakitimu." Suara seorang pria.
"Joshua?" ucap Rossi langsung berbalik ke arah sumber suara itu.
Joshua melepaskan tangan Rossi. Kemudian bersandar ke dinding.
"Kenapa? Kamu mendengar semuanya bukan?" Kata Joshua sambil menyunggingkan senyumnya.
"Tidak. Aku baru saja disini. Aku tidak mendengar apapun." Rossi mengelak nya.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Aku yakin kamu mengerti. Tapi sebaiknya sekarang aku pergi dan kamu kembali kesana. Dia mungkin akan mengamuk jika kamu membuatnya menunggu begitu lama. Sampai jumpa," kata Joshua dan berlalu pergi menghilang dari balik dinding lain.
"Ada apa dengannya," ucap Rossi heran.
Tapi perkataan Joshua benar, dia sudah cukup lama meninggalkan Edgar. 'Entah apa yang dipikirkan pria pemarah itu sekarang,' gumam Rossi. Rossi pun berbalik untuk kembali pada lelakinya.
Buk.
Tiba tiba Rossi menabrak sesuatu, seseorang.
"Aduh. Hidungku." Rossi mengelus hidungnya yang sedikit ngilu berbenturan dengan sesuatu. Dagu seseorang.
"Masih merasakan sakit, kupikir kamu sudah tiada begitu lama di toilet," kata Edgar dengan nada kesalnya.
"Apa kamu tidak bisa bicara manis denganku, kenapa begitu emosional. Aku bahkan hanya sebentar, tidak lihat bangunan ini begitu besar. Mana mungkin aku langsung tau dimana toiletnya."
Edgar mendorong tubuh Rossi ke dinding, menempelkan nya disana. Mengunci Rossi dengan tangannya. Dia menatap mata Rossi tajam, ingin memastikan apa kekasihnya berbohong atau tidak. Tapi mata itu sangat bulat dan bersinar, akan sama saja dia berbohong atau tidak bagi Edgar.
Edgar hendak mencium Rossi.
__ADS_1
Dor.
Terdengar suara tembakan dari ruangan pesta. Suara itu mengejutkan Rossi, dan kesempatan yang bagus untuk Rossi mengalihkan kegiatan yang akan dilakukan Edgar padanya.
"Suara apa itu?" Tanya Rossi bergeser perlahan.
"Panggilan." Edgar mendorong tubuhnya menjauh dari Rossi. Memegang tangan Rossi dan menariknya.
"Hah. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini," ucap Rossi saat Edgar mulai melangkah kan kakinya. Membuat Rossi juga harus ikut melangkah.
"Ikut saja. Sepertinya akan ada pertunjukan bagus di sana."
Di ruangan pesta.
Geralderd berdiri di lantai atas dengan didampingi oleh seorang wanita di sampingnya. Clara Adeliano.
"Malam ini. Aku akan mengumumkan jika aku Geralderd akan bertunangan dengan Clara. Dan para tamu sekalian, kalian sebagai saksi cinta kami," kata Gerald lantang di sana.
Geralderd memasangkan cincin permata indah di jari manis wanitanya. Dia mencium Clara di depan semua orang.
Edgar dan Rossi berhenti di dekat tiang beton di sudut ruangan itu. Tidak bergabung dengan kerumunan. Mendengar pernyataan Geralderd, Edgar mengangkat alisnya heran.
'Apa yang sedang mereka mainkan,' pikir Edgar.
"Oh jadi wanita yang tadi itu kekasihnya. Mereka terlihat sangat cocok," kata Rossi sambil bersandar di bahu Edgar.
"Ya. Serasi." Edgar mengelus lembut kepala Rossi.
"Hei, rambutku bisa berantakan. Kamu tau, Sarah sudah susah payah menatanya untukku," ucap Rossi merapikan rambutnya. Dia kembali menatap ke lantai atas. Geralderd dan Clara. Tak sengaja dia melihat kotak yang dipegang oleh pria itu. Membuatnya teringat dengan kotak yang dia temukan di mansion Edgar saat di Italia.
"Ha iya aku--."
"Kamu juga ingin kita seperti mereka?" Tanya Edgar. Tanpa Rossi meneruskan perkataannya, mulutnya sudah dibungkam oleh Edgar dengan bibirnya.
Edgar melepaskan ciumannya, dan langsung menggendong Rossi dalam pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan. Banyak orang disini. Turunkan aku," pinta Rossi.
"Acaranya akan berakhir. Kita pulang sekarang." Edgar tersenyum puas melihat wajah Rossi yang memerah. Mereka keluar dari gedung itu melalui pintu lain.
Di lantai atas. Clara melihat jelas Edgar dan Rossi berciuman dan pergi dengan begitu romantis. Dia menggenggam erat tiang besi penyangga di lantai itu. 'Wanita ****** itu, kalian adik kakak sama saja,' batin Clara.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Geralderd heran melihat perubahan raut wajah Clara yang tiba-tiba. Yang awalnya tersenyum bahagia berubah menjadi suram.
"Bukan urusanmu," jawab wanita itu singkat. Dia tiba-tiba berbalik dan berjalan menjauh dari Geralderd.
"Oke. Terserah, tapi ingat jangan coba-coba bermain di belakangku. Kau tau apa yang akan terjadi bukan?" Kata Geralderd sambil berjalan ke salah satu pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Dia mengambil segelas anggur dan duduk di sofa ungu.
Perkataan itu membuat langkah Clara sempat terhenti sejenak. Tapi dia tidak menjawab, hanya meneruskan kembali langkah nya pergi.
__ADS_1
--***