Model Kesayangan Sang Mafia

Model Kesayangan Sang Mafia
BAB.68


__ADS_3

Dini hari, di depan ruangan Rossi dan Jeck masih berjaga beberapa orang di sekitar sana. Mereka menunggu instruksi selanjutnya dari Edgar. Namun Edgar masih belum kembali, dia berada di markas eagle.


Tepat nya di dalam salah satu ruangan pelacaknya, yang dipenuhi banyak monitor komputer. Tak pernah mati sekalipun, meskipun aliran listrik padam. Edgar berada disana, dia sedang mengamati sebuah mansion yang cukup besar, matanya tak henti menatap setiap sudut rumah besar itu dengan seksama. Dia tak ingin terlewatkan satu celah pun.


Pagi hari, akhirnya Edgar selesai menyusun rencananya. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati satu orang yang berada di pojok kursi paling sudut.


"Adakan pertemuan dengan geng lion siang nanti," perintah singkat padanya.


"Baik tuan."


Di bawah cahaya matahari yang meneranginya, Edgar berdiri di depan markas besar geng eagle. Dia menatap langit yang menyambutnya dengan hangat, hatinya terasa tentram. Edgar masih tampak energik dan berkarisma meskipun tidak tidur semalaman.


Dengan mobil sport biasa yang dibawanya kesana, Edgar kembali mengemudikannya di jalanan kota pagi menuju mansion nya sebelum pergi rumah sakit Vegan.


Pada waktu yang sama di mansion Mafioso milik Zeck, terlihat seorang wanita sedang berdiri di balkon kamar sambil menikmati segelas jus milk strawberry panas. Dia menatap pekarangan indah itu dengan rasa kagum. Sayangnya dia terlambat menyadari keindahan mansion yang ditinggalinya.


Cukup lama setelah dia berdiri disana sebuah mobil masuk melalui gerbang depan. Tatapannya tertuju pada pria yang keluar dari dalam mobil itu, bajunya terlihat kusut. Terakhir kali saat dia pura-pura tidur, dia melihat jika itu bukan baju yang pria itu kenakan.


Sebelumnya Zeck pergi meninggalkan kamar itu memakai kemeja berwarna biru dan sekarang kemejanya berganti dengan warna tosca. Jane juga mendengar percakapan Edgar dan Zeck di telepon.


"Apa terjadi sesuatu dengan Rossi? Ah tidak, Zeck terlihat baik-baik saja. Itu berarti Rossi juga baik-baik saja bukan. Hmmm, aku merasakan gejolak aneh setiap membayangkannya," kata Jane sebelum menghabiskan minumannya. Dia sempat teringat saat Olivia di culik dan ditembak di depan matanya.


Jane masih berdiri di balkon, dia menyambut dengan hangat cahaya mentari pagi yang menghampirinya. Matanya juga dimanjakan oleh pemandangan mansion itu. Tentu saja dia tidak ingin pergi dari sana.


"Kamu menungguku?"


Tiba-tiba sesuatu memeluknya dari belakang, bau nya sedikit aneh. Jane tidak tahu bagaimana mengutarakan itu bau apa.


"Aku tidak menunggu mu, apa Rossi baik-baik saja?"


"Ya dia baik-baik saja, tapi darimana kamu tau?"


"Oh itu, aku tidak sengaja mendengar percakapan mu di telepon semalam."


"Hmmm."

__ADS_1


Mereka terdiam cukup lama dan suasananya menjadi lebih canggung karena Zeck tidak melepaskan pelukannya.


"Sampai kapan kamu akan memelukku?" Tanya Jane memecahkan keheningan.


"Sampai aku puas," Zeck tersenyum lebar.


"Apa kamu tidak takut wanita mu itu akan marah? Kamu sudah mengusirnya semalam," kata Jane menyingkirkan keraguannya.


"Wanitaku? Hanya kamu wanitaku, dia hanya untuk bermain saja."


"Bermain? Zeck," Jane melepaskan pelukan itu dan mendongakkan kepalanya menatap mata Zeck. "Apa semalam kamu juga hanya bermain denganku?"


Jane menatap Zeck tanpa berkedip, pria itu malah tertawa kecil. Zeck menarik tubuh Jane hingga berada dalam pelukannya.


"Aku tidak berani hanya bermain dengan wanita yang kucintai, semalam aku terlalu emosi dan lepas kendali lagi. Maafkan aku sayang," ucap Zeck membelai lembut kepala Jane.


"Hanya emosi tapi kamu bercinta dengan wanita lain, bagaimana jika nanti kamu seperti itu lagi. Apa kamu--,"


"Aku tidak akan pernah seperti itu lagi, aku berjanji. Kamu adalah wanita yang sangat berarti bagiku. Kamu tau Jane, tidak ada wanita yang bisa membuatku nyaman selama ini, hanya kamu. Dan jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkan ku."


"Menikahlah denganku."


Seketika ungkapan itu membuat wajah Jane memerah, angin pun terasa berhenti berhembus. Dan cahaya matahari seakan hanya menyinari pria itu dalam penglihatan mata Jane.


'Dia melamarku?' batin Jane. Namun wanita itu hanya diam tak menjawab sedangkan Zeck sudah tak sabar menunggunya.


"Kamu diam, berarti jawabannya 'YA'."


Jane mengangguk dan mengecup singkat bibir Zeck. Tentu saja Zeck tidak akan menerima sebuah kecupan kecil, bibirnya menghampiri Jane dan menciumnya dalam dan lama, tidak ada penolakan. Jane menerima semua gerakan Zeck. Tak lama setelah kegiatan itu berakhir, wajah Jane masih memerah. Dia tersipu malu.


"Kamu--- kamu mandilah dulu, aku mencium bau aneh dari tadi." Jane berjalan melewatinya dan langsung bergegas keluar dari kamar itu. Jane merasa tubuhnya tiba-tiba memanas, dan tidak menyangka jika dia yang mencium Zeck duluan.


Sementara itu, Zeck pergi ke kamar mandi dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Dia terlihat sangat bahagia. Baru pertama kali dia merasa sebahagia itu.


Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, Rossi duduk di atas tempat tidur pasien. Dia sendirian, Sarah tiba-tiba pergi saat Rossi bangun dan tidak kembali lagi. Rossi sudah merasa baikan, namun Vegan masih tidak ingin membiarkannya keluar dari kamar itu. Dia bosan.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian, seorang pria masuk ke kamar itu membawa sekotak makanan di tangannya. Dia berjalan dengan begitu angkuh, namun tetap berkarisma. Edgar Julian Stevenson.


"Makanlah, aku yang membuatnya. Khusus untukmu." Edgar membukakan kotak itu dan memberikannya pada Rossi. Bau sup itu memang harum, tapi rasanya masih belum bisa dipastikan. Seingat Rossi sebelumnya Edgar sudah hampir meledakkan dapur.


"Hmmm cukup enak untuk pemula," kata Rossi setelah memakannya sesuap.


"Hanya cukup enak? Kalau tidak enak bilang saja," balas Edgar tiba-tiba cemberut. Walaupun itu sangat tidak cocok dengan wajah tampannya, ya bagaimanapun dia akan tetap tampan meskipun seperti itu.


"Enak kok, apa Bi Yon membantumu?" Tanya Rossi, membuat Edgar terdiam. Dia tidak ingin berbohong. "Sayang.." lanjut Rossi dengan suara kecilnya.


"Iya. Iya, Bi Yon membantuku. Tapi itu sungguh aku yang memotong dan dan memasukkannya ke dalam panci itu. Aku yang memasak, dia hanya membantu sedikit."


"Haha. Baiklah, kenapa kamu seperti itu. Aku baru pertama kali melihatmu bertingkah seperti ini."


Rossi meneruskan suapan nya, Edgar terus menatapnya. Dia seperti menginginkan sesuatu sebelum pergi.


"Apa itu sungguh enak?" Tanya Edgar saat Rossi menyuap satu sendok lagi. Rossi hanya mengangguk karena mulutnya berisi. Dengan cepat Edgar langsung menciumnya dan mengambil makanan itu dari mulut Rossi.


"Ya memang enak," ucap Edgar tersenyum puas melihat wajah Rossi. Dia tampak seperti kelinci kecil baginya, yang wortelnya sudah dirampas.


"Edgar….!?"


"Hehe, tetaplah disini dan jangan kemanapun sebelum Willy menjemputmu," kata Edgar berjalan menjauh darinya.


"Willy? Aku sudah lama tidak melihatnya."


"Oh saat itu, aku memberinya cuti. Sudahlah aku pergi dulu."


Rossi tahu kemana Edgar akan pergi dan apa yang akan dia lakukan. Pastinya, pria itu tidak akan mengizinkannya untuk ikut. Tepat di ambang pintu Rossi menghentikan langkah Edgar.


"Edgar,." Ucapnya lirih, namun Edgar tak berbalik melihat ke arahnya. "Jangan terluka."


Pria itu tersenyum mendengarnya, tapi tidak menjawab dan berlalu pergi.


--***

__ADS_1


__ADS_2