
Rossi dan Edgar duduk berhadapan dengan Zeck dan Jane di ruang tamu. Ruangan yang cukup besar jika disebut sebagai ruang tamu. Mereka bercanda gurau sebelum pergi dari mansion itu. Hingga mendekati akhir percakapan.
"Jadi bagaimana? Kulihat kalian begitu cocok, sangat serasi. Tidak ingin langsung menikah saja?" Tanya Rossi penasaran.
"Menikah? Bagaimana sayangku? Ingin segera melangsungkan pernikahan denganku?" Zeck meraih tangan Jane dan mengecup nya lembut.
"Hmmm.." Jane hanya bergumam, jujur saja dia masih belum siap untuk menikah. Apalagi setelah menghabiskan tiga tahun bersama Joshua, tiba-tiba menikah dengan orang lain.
"Baiklah, aku akan menunggu saat wanitaku sudah siap. Kalian tenang saja. Lagi pula jika aku menikah, aku tidak akan mengundangmu," ucap Zeck pada Rossi.
"Kamu?! Kak Jane.., ada apa dengannya? Dia seperti memiliki dendam pribadi denganku." Rossi mengadu pada wanita yang duduk tersipu malu di samping Zeck.
"Sudahlah Rossi ku sayang," Edgar merangkul Rossi dan membuatnya berada dalam dekapan pria itu. "Dari pada mengurus hubungan mereka, lebih baik kita pergi dan mengatur tanggal pertunangan kita."
"Pertunangan?"
"Ya. Kamu sudah meninggalkan ku saat itu, padahal aku sudah mengatur pertunangan kita."
"Kamu saat itu tidak serius denganku, kamu hanya--"
Edgar mengecup singkat bibir merah muda Rossi.
"Sekarang berbeda, kamu wanitaku satu-satunya dan hanya akan menjadi satu-satunya."
Tatapan mereka bertemu cukup lama, Rossi malah tersipu mendengarnya. Wajahnya memerah.
"Sampai kapan kalian akan pamer kemesraan disini? Jika bisa aku akan membuat peraturan baru disini untuk melarang bermesraan dan sebagai sanksinya, aku akan mendenda seharga Lamborghini yang terparkir di depan," ucap Zeck menyeringai kecil.
"Oh ya? Kamu ingin bertaruh lagi denganku?" Balas Edgar.
Sebelumnya Edgar dan Zeck juga pernah memperebutkan beberapa mobil mewah, dan Zeck selalu kalah.
"Oke! Saat pameran akhir bulan ini. Aku yang akan membawa mobil utamanya, dan mengalahkanmu. Jika aku menang, kamu harus menghadiahkan mobil kesayangan mu. Bagaimana?"
"Oke. Siapa takut, tapi jika aku yang menang. Villa mu yang di Korea Selatan menjadi milikku."
"Oke. Deal."
__ADS_1
Jane dan Rossi hanya termenung menyaksikan taruhan pada pebisnis kaya itu.
Hari sudah malam, Rossi dan Edgar juga tidak ingin berlama-lama disana. Edgar kembali mengemudikan mobil sport Lamborghini Veneno nya di jalanan malam. Lampu jalan membuat mobilnya tampak seperti bintang yang baru saja jatuh. Begitu bersinar.
Ting. Ting.
Sebuah pemberitahuan masuk bersamaan ke ponsel Rossi dan Edgar. Rossi mengecek ponselnya, sedangkan Edgar hanya fokus mengemudi.
[Pertunangan pebisnis kaya Korea Selatan dengan model papan atas Los Angeles akan dilangsungkan dua hari lagi]
"Wow. Dia bertindak sangat cepat," ucap Rossi kagum saat membaca berita yang baru saja terbit itu.
"Siapa?" Tanya Edgar penasaran dengan sesekali melirik singkat ke arah Rossi.
"Zeck dan kak Jane akan bertunangan dua hari lagi," jawab Rossi.
"Secepat itu, kupikir akan butuh waktu lama. Ternyata dia sudah berpikir dewasa."
Rossi terlihat murung, dia menatap ke luar jendela mobil dengan begitu sedih. Entah apa yang dipikirkan nya. Edgar menyadari jika ada yang mengganggu wanitanya. Dia menepikan mobilnya dan memarkirkan nya di jalan sepi.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Edgar serius.
"Siapa bilang kita akan ke rumahmu."
Edgar langsung menarik tubuh Rossi untuk mendekat padanya. Wajah mereka berdekatan. Sangat dekat. Edgar mendorong lembut kepala Rossi ke arahnya dan mencium Rossi dalam. Cukup lama.
"Setelah masalah Demian selesai, aku akan langsung menikahimu. Tidak ada pertunangan," ucap Edgar dengan penuh keyakinan. Matanya memancarkan kasih sayang dan ketulusan. Edgar menciumnya lagi, mereka berciuman dengan begitu mesra.
Pada waktu yang sama. Seorang pria terlihat galau, pikirannya campur aduk. Dia merasa marah, sedih dan cemas namun juga terlintas rasa tenang. Dia tidak tahu ada apa dengan dirinya.
Joshua duduk di balkon kamar nya, memandangi foto seorang wanita yang ada di layar ponselnya. Matanya tidak berkedip sekali pun dan jarinya tidak henti menggeser layar itu untuk melihat beberapa foto. Wanita yang sangat cantik, itu Jane.
"Ternyata kamu memang ingin menjalin hubungan dengannya. Aku hanya bisa berharap kamu bisa bahagia dengan keputusanmu," kata Joshua pada foto itu.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, Damian datang menghampiri nya. Duduk di samping Joshua.
"Apa dia kekasihmu?" Tanya Damian sambil menyodorkan segelas anggur pada Joshua.
__ADS_1
"Tidak. Dia bukan siapa-siapa, hanya model di perusahaan ku," jawab Joshua cepat. Dia menyimpan kembali ponselnya.
"Jangan berbohong. Walaupun aku tidak ada bersama mu selama ini, tapi aku tahu jika putraku sedang jatuh cinta. Katakanlah padaku, ada apa? Kamu tidak bisa memilikinya?"
"Hmmm., Baiklah. Lagipula aku tidak tahu ingin berbagi cerita dengan siapa. Dia--, dia akan bertunangan dengan orang yang baru dikenalnya. Dan aku--,"Joshua terdiam.
"Kenapa? Lanjutkan saja," ucap Damian menunjukkan kepeduliannya.
"Aku tidak pantas memilikinya, bahkan selama ini dia selalu ada disampingku. Tak pernah pergi dari sisiku sedangkan aku selama itu tidak membalas cintanya. Sekarang aku merasa-- kehilangan."
"Kamu mencintainya?"
"Hmm.. aku tidak tahu. Mungkin-- ya."
"Jika kamu mencintainya belum terlambat untuk membuatnya menjadi milikmu, aku dulu juga sepertimu. Sempat kehilangan ibumu sebelum dia menikah denganku, tapi aku tidak menyerah dan bisa memilikinya lagi."
"Apa itu mungkin? Dia bahkan tidak lagi menghubungi ku," jelas Joshua kecewa.
"Itu tidak masalah, kamu hanya harus membuatnya menjadi milikmu jika itu keinginanmu. Sudahlah, bukanlah lusa kamu akan kembali ke los angeles? Istirahatlah."
Damian pergi meninggalkan Joshua sendirian dengan kegalauan nya. Joshua kembali dengan ponselnya, dia memandangi foto Jane tanpa henti.
Damian meninggalkan sebotol anggur penuh di samping Joshua, entah apa tujuan pak tua itu. Dengan pikiran nya yang kacau, Joshua menghabiskan sebotol anggur itu dalam hitungan detik.
Dia mengirim pesan pada Jane.
[Joshua: Jane.. Apa kamu sungguh akan bertunangan dengan nya?]
[Joshua: Aku akan kembali ke los Angeles- lusa.]
[Joshua: Jika kamu ingin kembali bersamaku ke Los Angeles, aku akan menjemputmu.]
Semua pesannya terkirim pada Jane, namun tidak ada dibaca oleh penerimanya. Joshua menunggu, dia mengambil lagi sebotol anggur yang berada di atas meja kamarnya dan kembali duduk di balkon.
Sudah hampir tengah malam tetap tidak ada balasan. Hingga tepat pukul satu dini hari, pesan itu dibaca. Namun tidak dibalas, hanya dilihat.
"Kamu bahkan tidak lagi menghiraukanku, jika begitu.. aku tidak punya cara lain untuk membuatmu kembali padaku," ucapnya sebelum meneguk habis setengah anggur di dalam botol.
__ADS_1
Langit malam ikut bersedih dengan kegalauan yang menimpa Joshua, perlahan gerimis hujan turun. Membuat suasananya menjadi kelam, seharusnya dia sadar lebih awal. Tapi malah jadi seperti sekarang, Jane tidak lagi ada disampingnya. Bahkan dia sudah menjadi milik pria lain.
--***