
Malam hari, anggota geng aegle dan geng lion sudah mengepung mansion besar milik Demian. Mereka menyebar di segala penjuru, mulai dari semak-semak hingga di atas pohon.
Sebelumnya saat siang hari, pertemuan mereka berlangsung cepat. Yang dipimpin oleh Edgar dan Zeck, walaupun pertemuan itu tidak lama. Namun mereka sudah memikirkan rencananya dengan matang. Dan hanya tinggal dijalankan saja. Mereka semua berangkat di sore hari dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang saat malam tiba.
"Pagi tadi adalah hari dimana kau terakhir kali melihat matahari terbit dan juga mulai hari ini kau tidak akan pernah merasakan lagi bagaimana indahnya saat matahari itu terbenam," gumam Zeck di balik semak.
Tepat pukul tujuh malam, mereka bergerak. Dan mulai membasmi semua orang yang menjaga. Serangan itu sangat tenang, mereka bahkan tidak menggunakan satu peluru pun. Ada kejanggalan, mereka bahkan tidak merasa ada perlawanan sedikitpun. Sangat aneh.
Tepat saat Edgar dan Zeck sudah berada di dalam mansion itu, tiba-tiba muncul banyak orang bersenjata dan mulai mengepung mereka. Edgar dan Zeck bersandar punggung dengan pistol di tangan mereka.
"Ini mudah, kita akan menyebar dan bertemu di disana. Tetap pada rencana awal," kata Edgar penuh percaya diri. Zeck mengangguk setuju.
Dor. Dor. Dor
Pertempurannya di mulai, banyak dari musuh yang tewas. Namun tak banyak juga anggota geng eagle dan geng lion yang tertembak, dan tentu saja Edgar dan Zeck masih utuh. Mereka tidak tersentuh peluru satu pun.
Sudah hampir tiga jam, Edgar akhirnya bisa membuka jalan untuknya ke tempat Damian berada. Di balkon atas, hanya itu tempat yang tersisa. Damian duduk tenang di kursi empuknya, tanpa kegelisahan sedikitpun. Dia masih santainya menikmati segelas anggur di tangannya. Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Oh, keponakanku. Kau sudah sampai, lebih lama dari dugaanku," ucap nya berdiri dari kursinya dan menjatuhkan gelas anggur itu dari ketinggian. Suara pecahnya pun tidak bisa terdengar.
Dibawah langit malam, mereka berdua bertatapan dengan penuh maksud. Edgar menurunkan senjata di tangannya dan menyimpannya dalam kotak yang berada di pinggangnya, Damian bahkan terlihat tak bersenjata. Apa dia menyerah?
"Jangan terburu-buru, kita bisa berbincang dulu sebelum salah satu diantaranya kita lenyap. Tidak ada salahnya jika kita berbincang seperti layaknya keluarga bukan? Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana di panggil paman olehmu," ucap Damian berjalan mendekat pada Edgar.
"Berhenti bertingkah, aku tidak akan pernah menganggap mu sebagai pamanku. Bahkan, Mike saja aku jijik memanggilnya paman. Apalagi kau!?"
"Memang darah keluarga Stevenson mengalir dalam tubuhmu, emosimu meledak-ledak. Tapi aku heran, kenapa Joshua tidak seperti mu. Dia bahkan tidak tertarik dengan dunia mafia. Apa kalian sudah mencuci otaknya?"
"Hahaha, omong kosong. Itu semua karena ulahmu sendiri. Seharusnya kau tau jika dia membencimu."
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya, lebih baik kau ingat sendiri bagaimana saat itu kau meninggalkan nya bersama ibunya."
Damian terdiam sejenak, dia paham maksud Edgar. Saat itu dia memang pergi tanpa melihat pada Joshua dan istrinya. Sudah cukup sabar dia menunggu untuk menjadikan Rosemary istrinya, dan saat hal itu sudah didapatkan olehnya. Dia pergi meninggalkan wanitanya, bahkan juga pergi dari buah hati mereka berdua. Joshua. Saat kecelakaan itu terjadi.
'Jadi dia melihatku pergi, pantas saja saat itu dia langsung bertanya tentang kecelakaan itu padaku,' gumam Damian.
"Seharusnya kalian tetap membiarkan dia memimpin, dia adalah putraku. Dan itu berarti dialah yang menjadi ketua selanjutnya. Bukan kau!?"
"Kenapa tidak mengatakannya saja pada Joshua sebelum dia pergi? Kupikir jawaban darinya bisa membuatmu sadar apa dia menganggapmu atau tidak." Edgar membalas nya sudah mulai kesal.
Waktu terus berlalu, di dalam bangunan itu masih terdengar beberapa tembakan dan keributan. Berlangsung cukup lama. Sedangkan Edgar dan Damian masih saja berbincang.
"Supaya adil, bagaimana dengan duel? Sampai salah satu diantara kita menyerah? Aku ingin membalas perbuatanmu tiga tahun yang lalu," ucap Edgar sambil membuang pistolnya entah kemana.
"Tiga tahun yang lalu? Oh itu, ternyata kau masih mengingatnya. Aku bahkan tidak ada disana, kenapa kau membalasnya padaku?"
"Kau pikir dengan tidak ada disana, itu berarti kau tidak terlibat? Jangan konyol."
Edgar memulai perkelahian, duel diantara mereka.
Di balkon yang berbentuk setengah lingkaran, dengan persiapan diri yang baik. Kedua berduel. Edgar tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Walaupun dia sadar sedang berhadapan dengan siapa, tapi tenaga yang sekarang sudah cukup.
Usia Damian bahkan lebih tua dari ayahnya. Edgar masih punya sedikit sopan santun dalam berkelahi. Setelah cukup lama, akhirnya Edgar memenangkan duel itu dan membuat Damian tergeletak tak berdaya.
"Kau lihat bagaimana dirimu sekarang, masih ingin menguasai geng mafia. Seharusnya di ujung usiamu, kamu bersantai dan menikmati hari tua dengan tenang. Tapi malah repot-repot mengurus hal yang mustahil." Edgar bangkit dari samping tubuh Demian dan berjalan pergi. Zeck sudah berkata pada Edgar jika akhir Damian berada ditangannya.
"Aku tidak akan berhenti disini, akan aku pastikan jika nanti geng mafia akan berada dalam genggaman putraku. Ingat itu!" Ucap Demian dengan nafasnya yang tersengal dan tubuhnya yang penuh keringat.
'Putramu yang mana? Kecuali jika kau menebar itu pada beberapa wanita,' batin Edgar pergi dari balkon itu.
Zeck dan anggota yang lainnya sudah membereskan semua. Sangat bersih, bahkan tidak ada satupun yang terlewatkan. Di lorong menuju balkon, Edgar bertemu dengan Zeck.
__ADS_1
"Ku serahkan dia padamu," ujar Edgar menepuk bahu Zeck dan berlalu pergi.
Edgar tidak tahu ada dendam apa Zeck pada Damian, tapi dia tidak akan ikut campur masalah Zeck.
Di balkon masih hanya ada satu orang, dia berbaring di lantai. Dan sudah kelihatan tidak berdaya, Edgar bahkan tidak mengeluarkan seluruh tenaganya. Tapi Demian sudah tumbang. Zeck berdiri disamping tubuhnya. Mobil Edgar terlihat sudah keluar dari mansion itu.
"Haha, kau Zeck. Putra Rose dengan pria itu. Kau begitu mirip dengannya, aku--, uh-huk." Keluar darah dari mulut Damian.
Zeck mencengkram baju Demian dan mengangkat tubuh pria itu dengan satu tangannya.
"Kau tidak berhak menyebut namanya!" Kata Zeck tegas. "Melihatmu yang seperti ini, aku tidak lagi tertarik untuk bermain denganmu."
Zeck melepaskan cengkraman nya dan mulai menjauh, dia mengacungkan pistol pada nya lalu menembak tangan kanan dan kiri Damian.
Dor. Dor.
"Tangan itu sudah mengambilnya dariku," kata Zeck dengan sorot matanya yang penuh kebencian.
Zeck menatap Damian puas, pria itu sedang kesakitan dan mengeluarkan banyak darah. Sementara Zeck dengan senang hati menyaksikannya di atas kursi empuk milik Damian.
Tak lama, dia merasa bosan dan hendak pergi. Seseorang memberikan payung berwarna hitam padanya. Tak lama hujan turun, bukan dari langit. Air itu berasal dari pesawat yang mengudara di atas mansion itu, bau minyak.
"Ibu. Jika kamu hidup kembali, aku berharap kamu tidak akan bertemu dengan pria seperti dia," gumam Zeck pergi.
Zeck meninggalkan mansion itu dengan perasaan cukup puas. Dia sudah membalaskan dendamnya, dan perlahan hatinya bisa kembali tenang.
Saat berada di setengah jalan keluar dari sana, Zeck melemparkan sesuatu ke luar jendela mobil.
Buuhh. Api mulai membakar semua yang disentuhnya. Mansion besar dan luas itu habis dilahap oleh api.
Damian yang berada di balkon menyaksikan bagaimana bangunannya terbakar begitu cepat yang kemudian disusul oleh dirinya. Si jago merah melahap semuanya.
__ADS_1
--***