
Pukul 02.14 dini hari.
Mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan salah satu hotel berbintang di kota S. Hotel xx. Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa seorang pria keluar dari mobil itu. Ia bergegas masuk dan langsung menaiki lift. Melewati setiap orang yang menunduk hormat padanya.
Di depan kamar 449.
Edgar berdiri disana. Ia menarik nafas panjang sebelum membuka pintu itu.
Pintu terbuka.
Seorang pria dengan rambut pendek pirang tengah terbaring di atas tempat tidur, dia membalut tubuhnya dengan selimut hangat. Di sudut lain, seorang pria duduk di depan komputer yang masih menyala. Dia memperhatikan layar monitor tanpa berkedip sekali pun.
Edgar menghampiri Jeck yang duduk tegak di depan komputer.
"Bagaimana?" Tanya Edgar sambil menarik kursi yang berada di depan cermin.
"Carel sudah berhasil memecahkan kodenya, namun biodata mengenai Olivia kosong. Tidak ditemukan, berkas itu tidak berisi apapun," jawab Jeck serius.
"Tidak mungkin. Mana mungkin Mr. Hans mengunci berkas kosong."
Edgar masih meragukannya.
"Kamu bisa melihatnya sendiri."
Jeck menggeser monitor itu ke arah Edgar.
Edgar membuka berkas itu berulang kali, tapi berkas itu memang kosong. Jeck membenarkan kembali letak layar itu ke arahnya.
"Oh ya. Mengenai wanita mu, Rossi. Apa kamu mengenalnya saat di Paris?" Tanya Jeck.
Edgar mengernyitkan alisnya, kembali berpikir.
"Entahlah. Aku tidak pernah bertemu dengannya di Paris. Tapi dia memang terasa familiar saat pertama kali melihatnya," jawab Edgar.
"Kamu tahu. Dia adalah lulusan modeling di Universitas yang kamu sponsori saat di Paris dan dia lulus dari sana dengan tahun yang sama dengan Olivia," ujar Jeck menjelaskan.
Edgar kembali berpikir, apakah memang dia pernah bertemu dengan Rossi sebelumnya atau tidak.
"Oh iya satu lagi, dia lahir di Italia dan pindah kesini tak berselang beberapa hari dari insiden saat itu. Ya mungkin itu hanya kebetulan," lanjutnya.
"Jadi maksudmu Rossi mengenal Olivia?" Tanya Edgar memastikan.
"Ya kemungkinan besar begitu."
Edgar mengangguk paham. Akhirnya setelah tiga tahun dia bisa menemukan petunjuk mengenai kekasihnya. Walaupun informasi yang didapatkan itu masih belum bisa mempertemukan dia dengan kekasihnya.
__ADS_1
Edgar mondar mandir tidak jelas di kamar itu. Dia berusaha keras untuk kembali mengingat sesuatu selama dia di Paris. Berharap ia mendapatkan petunjuk, tapi memang tidak ada ingatan apapun mengenai Rossi.
Pukul 04.49.
Jeck sudah tertidur di samping Carel yang sudah sebelum Edgar tiba, dia tidur di sana. Sedangkan Edgar tertidur di kursi dengan layar komputer yang masih menyala.
Di mansion tepi pantai.
Cahaya matahari pagi menembus masuk dari celah tirai jendela besar. Sudah terdengar suara burung yang bernyanyi merdu tak henti di atas dahan pohon besar di seberang jendela. Suara itu berusaha membangunkan putri tidur yang masih tenggelam dalam mimpinya.
"Apa kamu menyukainya?" Kata seorang pria yang merangkul tubuh seorang wanita di sampingnya.
"Ya. Sangat indah," jawab wanita itu tersenyum manis padanya.
Mereka menghabiskan waktu bersama di bawah pohon besar di puncak bukit yang menampakkan banyak gedung tinggi dari sana. Mereka berbaring menatap langit yang begitu biru, dihiasi gerombolan awan yang tersenyum hangat pada mereka.
Pukul 08.04
Seorang wanita masuk ke ruangan yang dipenuhi oleh banyak boneka di setiap sudutnya. Dia perlahan melewati boneka itu dan membuka tirai jendela hingga cahaya mentari pagi berhasil masuk melewati kaca besar yang terpasang di kamar itu.
Rossi. Yang masih terbaring di tempat tidur tanpa mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya hanya berbalut selimut berwarna gelap. Perlahan mata bulat itu terbuka, menyerngit sambil mengedipkan matanya.
"Nona. Anda sudah bangun."
Seorang wanita tersenyum hangat menyambutnya.
Rossi termenung heran.
Rossi ingat dengan jelas kalau di rumah besar itu hanya ada ia dan Edgar di dalamnya.
'Bagaimana mungkin tiba tiba ada Bi Yona di sini,' pikir Rossi.
"Ah iya. Saya baru sampai pagi ini nona. Maaf tidak menyambut Anda semalam."
Bi Yona tersenyum.
"Bibi jangan seperti itu, saya hanya tamu disini," jawab Rossi sopan sambil mendorong tubuhnya untuk bangkit.
"Tidak nona, anda adalah wanita yang pertama kali dibawa oleh tuan muda kesini. Itu berarti anda istimewa."
Wanita itu kembali tersenyum.
Rossi menatapnya tidak percaya, tidak mungkin seorang tuan muda keluarga kaya dan sukses tidak memiliki kekasih disampingnya. Selagi rossi bergelut dengan pikirannya, Bi Yona sudah keluar dari ruangan itu.
Tatapan mata Rossi terpana melihat dirinya di kelilingi banyak boneka imut dari yang kecil hingga yang besar, seakan dia sedang berada di taman boneka. Sangat manis.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, dirinya langsung berlari pada tumbukan boneka empuk yang berada di sudut ruangan itu. Dia memeluk satu boneka besar dengan tubuhnya yang telanjang. Rossi sangat senang, seperti anak kecil.
"Aaaa, Bear kenapa kamu bisa ada disini."
Rossi memeluk erat boneka beruang besar yang berada paling ujung.
Itu adalah boneka yang sangat dia inginkan, dia membawanya ke tempat tidur. Rossi memeluk boneka itu dengan erat dan kembali bersembunyi di balik selimut lembut yang sudah menghangati tubuh mungil nya semalaman.
Di kamar 449 hotel xx.
Edgar terlihat sempurna, terlihat dari pantulan dirinya di depan cermin, dengan pakaian rapi berjas hitam. Dia bersiap-siap untuk meninggalkan hotel itu.
"Apa kamu ingin ke markas?"
Jeck yang masih terbaring bertanya lemas menatap punggung Edgar yang membelakanginya.
"Tidak, aku akan kembali ke mansion," jawab Edgar sambil mengencangkan dasinya.
"Dasar, ya urus saja kekasih barumu itu-."
Jeck kembali menarik selimut nya hingga menyembunyikan dirinya.
Tak lama Edgar keluar dari kamar itu, seorang pria muncul dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Terlihat jelas dia memiliki tubuh yang bagus, memang badan model tak pernah mengecewakan.
"Dimana dia?" Tanya Carel dengan memperhatikan sekeliling ruangan itu dengan seksama.
"Sudah pergi."
Jeck menjawab lirih. Dia masih mengantuk.
"Dasar si picik itu. Tidak tahu terima kasih," ketusnya kesal.
Edgar dengan wajah yang cerita, membuatnya semakin berkarisma. Ia selalu menjadi pusat perhatian dimanapun. Dengan cepat dia meninggalkan parkiran hotel itu dengan mobil hitamnya melaju di jalanan kota yang mulai disibukkan dengan orang orang yang berjalan di sepanjang trotoar.
Di tempat lain.
"Apa semuanya sudah siap?" Ujar pria pada sekelompok orang.
"Sudah tuan," jawab mereka serentak.
Pria itu menyuruh mereka pergi dan tersenyum licik. Dia kembali menikmati kopi panas yang sudah dihidangkan untuknya. Mike akan melaksanakan rencananya.
'Aku akan lihat bagaimana dia akan mengatasinya kali ini,' pikirnya.
Edgar sudah mengatur penjagaan yang ketat di mansionnya, banyak orang berjaga di setiap sudut.
__ADS_1
--***